Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, kemarahan Sherly


__ADS_3

Hari semakin larut, tapi tanda-tanda akan kedatangan sang suami masih belum kelihatan. rasa lelah dan kantuk mulai menyapa, setiap detik wanita itu selalu menguap bahkan sampai air mata kantuknya mengalir.


"Udah jam 10, tapi kenapa kamu masih belum pulang Mas. kemana dulu kamu?" Cemas Sherly resah. Ia duduk pun sampai tak tenang, wanita itu mondar-mandir di depan pintu. Bahkan sesekali mengintip dari luar jendela kalau-kalau suaminya pulang.


Tapi semuanya nihil, jam semakin berputar, tetepi Alex masih juga belum kunjung pulang membuat Sherly semakin cemas. Ia mencoba untuk menelpon, tapi nomor Alex tidak aktif membuat hati Sherly kembali resah.


"Ya Allah, kemana kamu mas? Semoga gak kenapa-napa." Ingin rasanya berteriak memanggil nama suaminya karena terlalu cemas. tetapi Sherly tidak mungkin melakukan itu karena akan mengganggu pengguna apartemen lainnya, apa lagi hari sudah larut.


Sherly kembali duduk, ia merebahkan dirinya di shopa dengan air mata sesekali meneteskan karena khawatir. Tak biasanya Alex pulang selarut ini. Biasanya selarut-larutnya pulang paling mentok jam 10 malam. Tapi sekarang sudah jam 11 tentu saja membuat hati seorang istri resah di landa gelisah menunggu sang suami yang tak kunjung pulang-pulang.


Karena tak kuasa menahan rasa kantuknya, Sherly pun tertidur di shopa dengan alas bantal tanpa adanya selimut.


Berapa jam kemudian, pintu apartemen terbuka. Seseorang laki-laki masuk dengan wajah yang begitu kusut dan nampak terlihat sangat lelah. Seketika sudah masuk, ia menyalakan lampu dan terkejut melihat sosok wanita tidur di shopa. Dengan lengkah cepat lelaki itu menghampiri.


"Astagfirullah sayang. Kok tidur di sini sih?" Ujarnya sembari menghela napasnya panjang menatap wajah sang istri.


"Di luar dingin, kamu bisa saja masuk angin nantinya. Apa kamu menunggu ku?" Lirihnya sendu mengusap lembut pipi Sherly perlahan.


"Maaf, maafkan aku ya." Alex mengangkat tubuh Sherly pelan-pelan, dan membawanya masuk ke kamar.


"Mas, kenapa kamu belum pulang?"


Alex terhentak, ia menoleh arah istrinya yang hendak beranjak ingin pergi ke kamar mandi. Alex mengerutkan keningnya karena sang istri masih terpejam kedua matanya. Apa tadi mengigau? Alex pun kembali duduk di sampingnya dan memandangi wajahnya yang damai dalam tidur yang nyenyak.


"Kamu sampai mengigau gara-gara menunggu terlalu lama ya. Maaf ya sayang, gara-gara ada masalah di kantor aku sampai mengabaikan kamu, mengabaikan calon anak kita. Aku benar-benar minta maaf," sesalnya lirih. Alex mengecup keningnya lembut.


" Maafin Papah ya Nak, Papah gak bisa menemani kamu ke rumah sakit tadi. Papah benar-benar minta maaf," lanjutnya lirih sembari mengelus perut istrinya yang sudah sedikit menonjol itu.


Alex mencari hasil USG tadi di dalam laci, ia membuka buku KIA dan melihat hasil catatan dokter di sana. Alex juga melihat hasil dari foto USG calon anaknya. Matanya berkaca-kaca melihat foto tersebut.


"Ya Allah anakku, sudah semakin besar kamu Nak. Semoga kamu sehat selalu di dalam perut mamah ya Nak. Kalau gak ada Papah, kamu yang harus menjaga Mamah," ucap Alex berbicara pada foto hasil dari USG anaknya tersebut. Bahkan air mata lelaki itu sudah mengalir di pipi penuh haru. Ia pun mengecupnya dengan mata yang terpejam.


Setelah beberapa saat, Alex juga sudah membersihkan dirinya. Ia merebahkan dirinya di tempat tidur di samping sang istri yang masih tertidur dalam lelap tanpa mengetahui jika sang suami sudah pulang.


Alex memiringkan tubuhnya menatap kembali wajah istrinya dan mengelusnya pelan.

__ADS_1


"Selamat malam istriku, semoga mimpi indah ya," bisiknya lalu memeluknya perlahan tidak terlalu erat supaya tidak pengap dan tidak membahayakan anak dalam kandungan.


Alex ikut memejamkan mata dengan pikiran yang terus melayang ke kerjaan yang tak ada habisnya.


*****


Pagi hari, Sherly terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat dirinya sudah ada di dalam kamar. Ia pun mengingat-ingat jika semalam ia tertidur di shopa, lalu jika dirinya berada di kamar itu artinya ada seseorang yang memindahkan. Sherly yakin jika itu adalah suaminya, ia pun menoleh ke arah samping, tetapi tempat tidur itu kosong. Lalu di mana Alex? Sherly bergegas bangkit dari tempat tidur untuk mencari keberadaan suaminya, apa mungkin sudah kembali lagi ke kantor di pagi-pagi buta seperti ini? Pikiran Sherly pun kemana-mana.


"Mas, kamu ada di dalam?" Panggil Sherly mengetuk pintu kamar mandi.


Karena tak ada jawaban, ia pun membukanya. Dan ternyata di dalam kamar mandi kosong tak ada sosok suaminya di sana.


Sherly bergegas kembali mencari suaminya di ruang tv. Dengan lengkah cepat bahkan sedikit berlari ia segera menghampiri.


"Mas." Tidak ada siapa-siapa di depan tv. Mata Sherly mulai berkaca-kaca, apa suaminya sudah pergi lagi ke kantor tanpa berpamitan. Padahal ia sangat merindukan suaminya itu dari semalam.


Seketika sudah menangis sedih, indra penciumannya mencium aroma wangi dari arah dapur.


"Bau apa ini?" Sherly berlari menuju dapur karena penasaran siapa yang sedang memasak." Apa mungkin jam segini bi Ira sudah datang?" Batin Sherly, karena rasanya tidak mungkin ART nya itu sudah datang di jam 6 seperti ini.


"Mas." Sherly langsung menghabur kedalam pelukan suaminya dengan erat.


"Hey, kenapa hem?" Tanya Alex meletakan spatula di tangan dan mematikan kompor gas nya lalu mengusap punggung sang istri dengan heran.


"Kamu ke mana aja, aku semalam nungguin kamu tau gak," ucap Sherly menangis. Alex tersenyum lalu membalas pelukannya.


"Jangan menangis lagi ya, ayo kita duduk dulu," ajak Alex duduk di kursi meja makan.


Sherly masih menangis mengeluarkan unek-uneknya karena lelah menunggu nyaris semalaman.


"Maaf kan aku ya, aku lebur tadi malam. Dan hp aku low jadi gak bisa kasih kabar ke kamu." Alex mencoba menjelaskan.


"Tapi kenapa sampai larut banget, jam berapa kamu pulang tadi malam?" Tanya Sherly sembari mengusap air matanya.


Alex menghembuskan nafasnya perlahan." Jam 1," cicitnya pelan.

__ADS_1


"Apa? Jam 1, kamu ngapain aja sih sampai selarut itu? Kerjaan apa yang sampai membuat kamu menjadi gak ingat mau pulang, sampai gak ingat istri di rumah yang lagi mengandung. Sibuk apa?" Bentak Sherly kesal dengan Isak tangisnya.


Alex hanya diam saja dengan wajah sendu menatap sang istri.


"Jawab Mas! Sibuk ngapain aja.kamu di kantor, sudah beberapa hari ini aku perhatikan kamu selalu pergi pagi dan pulang malam. Telpon gak ada, wa gak ada kalau aku gak yang memulai. Sampai segitunya kamu gila kerja hingga melupakan istri Mas."


Sherly terus mengeluarkan unek-uneknya kekesalannya. Selama ini ia hanya bisa diam dan mencoba mengerti dengan kesibukan suaminya. Tetapi rasa penasaran mulai menghantui karena tak ada sedikitpun Alex bercerita tentang permasalahan apa tengah di hadapinya di kantor.


Apa seorang istri tidak berhak tau? Apa seorang istri hanya sebagai istri yang baik di rumah tanpa harus ikut campur masalah kerjaan suaminya? Sherly pikirannya menjadi kemana-mana.


"Maafkan aku," lirih Alex sedih. Tetapi ia tetep tidak mengatakan kesibukan apa dirinya di kantor. Lidah seakan terkunci. Dan itu semakin membuat Sherly kesal.


"Dah lah Mas, aku mungkin tidak berhak tau. Ia.aku ini bukan anak kantoran jadi wajar saja kamu gak mau kasih tau, toh aku juga gak akan bisa membantu." Sherly mengusap air matanya, lalu ia hendak bangkit dari tempat duduknya.


"Sayang kamu mau kemana? Makan dulu ya!" Ujar Alex menahan pergelangan tangannya.


"Udah gak mood lagi Mas. Kamu aja yang makan, aku ngantuk mau tidur lagi," ucapnya dingin. Alex terhayak mendengarnya, baru pertama kalinya istrinya itu berbicara dingin padanya.


"Lepas Mas, aku mau ke kamar," ujarnya masih dengan nada dingin Engan menatap Alex.


Alex menarik tangannya dan duduk di pangkuan nya. Alex pun langsung memeluknya erat.


"Maafkan aku, aku janji akan menyelesaikan masalah di kantor secepatnya. Dan berjanji akan secepatnya pulang," ucapnya lirih.


Sherly menghela kasar. Bukan ini yang ingin ia denger. Sherly hanya butuh penjelasan, siapa tau ia bisa membantu walau tidak sepenuhnya karena memang ia tidak mengerti masalah kantor. Tapi apa salahnya seorang istri tau permasalahan apa yang sedang di hadapi oleh suaminya itu. Apa ia salah jika ingin tahu?


"Katakan Mas, kamu dengan mengalami masalah apa di kantor?" Tanya Sherly sekali lagi.


Tetapi Alex masih bungkam, lidahnya benar-benar terkunci saat ini. Sherly semakin kesal, ia pun berontak dan segera berlari masuk ke kamar dan mengunci pintunya dengan tangisan kesal karena Alex tetep tidak ingin memberi tahu pada dirinya tentang masalah di kantor.


"Sebenarnya apa yang sedang kamu sembunyikan dari aku Mas?" Sherly duduk sembari memeluk lututnya di balik pintu kamarnya dengan isakannya tangis.


Sementara itu, Alex menatap pintu yang tertutup itu dengan pandangan sendu.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku."

__ADS_1


__ADS_2