
Dia menarik selimut lalu menutupi wajahnya dengan selimut itu.
Akhirnya dia pun tertidur dengan lelap. Dia melupakan beban pikirannya untuk sejenak.
Raju yang sudah terbangun tidak dapat lagi tidur karena rasa kantuknya hilang begitu saja.
Akhirnya Raju keluar dari kamar, dia berdiri di pagar teras kamar.
Rumah Nick dan Gita tidak bertingkat, tapi pekarangan dan kamarnya terbilang sangat luas.
Teras kamar itu menghadap ke sebuah taman yang terdapat di belakang rumah.
Dari sana Raju menatap langit berbintang.
"Hingga kapan aku bertahan dengan sikap seperti ini? Apakah aku harus mengungkapkan apa yang sudah dilakukan oleh kedua orang tua kami merupakan kesalahan," gumam Raju.
Raju membalikkan tubuhnya, dia kini menghadap ke arah kamar.
Dari posisinya saat ini sekilas dia dapat melihat sedikit wajah Kanaya yang kini sudah membuka wajahnya.
Dari jauh Raju melihat samar-samar wajah Kanaya.
"Andai saja bukan aku yang dinikahkan dengan Kanaya, semua ini tidak akan terjadi," lirih Raju.
Lagi-lagi Raju menyalahi takdir yang telah terjadi pada mereka.
"Apakah Kania hidup bahagia dengan Raja? Apakah Raja juga bersikap dingin seperti ini pada Kania?" gumam Raju.
Saat ini Raju tengah larut dalam kekecewaannya, dia tidak bisa menerima keberadaan Kania sebagai istri Raja, saudara kembarnya.
Dia juga tidak tega berdekatan dengan Kanaya, karena dia takut Raja akan membenci dirinya.
Dilema yang ada di dalam pikirannya itulah yang membuat dirinya selalu kaku dan dingin terhadap Kanaya.
"Hei, Raju!" panggil Fahri yang baru saja selesai menelpon dengan seseorang di luar rumah.
Saat itu dia melintasi kamar adik perempuannya. Dia tidak sengaja melihat Raju berdiri di pagar teras kamar.
"Eh, Bang Fahri." Raju membalikkan tubuhnya dan menatap Fahri yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Fahri heran melihat adik iparnya masih berada di luar kamar di saat malam semakin larut.
__ADS_1
"Eh, iya, Bang. Aku sedang tidak bisa tidur, makanya aku mencoba mencari angin di sini," jawab Raju.
"Mhm, ayo ikut aku," ujar Fahri pada Raju.
Fahri mengajak Raju untuk duduk di kursi taman belakang di dekat kamar Kanaya.
"Ada apa, Bang?" tanya Raju pada Fahri heran.
"Hei, santai, Bro. Kita belum kenal lebih jauh," ujar Fahri santai.
Fahri terlihat ingin berteman dengan Raju, sejak acara pernikahan itu dia belum pernah berbicara lebih dekat dengan adik iparnya itu.
Satu hari setelah acara akad nikah, Fahri harus kembali ke Jakarta untuk melakukan pekerjaannya yang terbengkalai di sana.
Dia membantu pekerjaan Ayahnya di cafe, selain itu Fahri juga seorang pengusaha yang berkecimpung di dunia fotografi, kini dia sudah memiliki studio dan karyawan.
Meskipun usahanya tidak besar, tapi dia optimis menjadikan usahanya saat ini berkembang dan lebih maju lagi.
Selama ini, ayah Fahri sukses dalam dunia kuliner, tapi Nick tidak pernah membatasi cita-cita Putra dan putrinya.
Fahri diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri seperti apa yang kini tengah dijalaninya.
Malam ini dia baru saja sampai di kediaman kedua orang tuanya, dia sengaja pulang karena dia akan ikut ke Padang karena acara resepsi pernikahan raja dan Kanaya akan dilangsungkan 1 hari lagi.
"Mhm." Raju tersenyum kecut.
sejak dia menikah dengan Kanaya dunia terasa begitu sempit baginya, sehingga dia merasa tertekan.
"Sibuk apa di Padang?" tanya Fahri pada Raju.
Dia berusaha mencari topik pembicaraan yang bisa membuat Raju santai dan melupakan tekanan kehidupan yang baru saja dijalaninya.
"Mhm, bisnis, Bang. Biasalah, aku hanya penerus perusahaan Kakek," ujar Raju.
"Oh, bagus, dong. Perusahaan kamu pasti maju," ujar Fahri.
"Biasa saja, Bang. Namanya juga perusahaan yang sudah bertahun-tahun, tapi Alhamdulillah sudah berkembang pesat sekarang," ujar Raju.
"Boleh berbagi ilmu dalam dunia bisnis?" tanya Fahri pada Raju..
Raju mengernyitkan dahinya, dia heran kenapa kakak iparnya itu tumben meminta ilmu tentang dunia bisnis.
__ADS_1
"Aku baru saja mendirikan sebuah studio kecil-kecilan, aku bertekad ingin melebarkan sayap agar semua usahaku dapat berkembang dan lebih maju dari yang sekarang," tutur Fahri jujur.
"Wah, Bang Fahri suka fotografi?" tanya Raju menebak.
Raju memang suka dunia fotografi, tapi dia tidak memfokuskan hobinya itu menjadi dunia usaha untuknya karena kegiatannya di perusahaan saja sudah sangat padat.
"Iya, kamu juga suka fotografi?" tanya Fahri semakin bersemangat untuk bercerita dengan adik iparnya itu.
"Hehehe," kekeh Raju.
Dia mengangguk.
Setelah itu Raju dan Fahri terlibat pembicaraan yang terlihat sangat seru dalam waktu semalam mereka pun dapat saling mengenal satu sama lain.
"Kanaya itu, anak gadis yang keras kepala, tapi dalam keras kepalanya dia tidak pernah bisa membantah apa yang sudah dikatakan oleh ayah dan ibu, dia sangat patuh pada kedua orang tua kami," ujar Fahri mulai menceritakan sosok Kanaya.
Bagi Kanaya senyuman kedua orang tuanya adalah kebahagiaannya. Seumur hidupnya Kanaya tidak pernah membantah keputusan kedua orang tuanya, karena Gita dan Nick selalu memberi kebebasan pada putra dan putrinya.
Mereka tidak pernah mengekang Fahri dalam berbagai hal, tapi jika di saat kebebasan itu mendatangkan hal yang mudharat bagi putra putrinya maka di saat itu Nick dan Gita akan bersikap tegas pada kedua putrinya.
Pernikahan Raju dan Kanaya yang sudah mereka tentukan ini merupakan setelah Nick dan Gita memberi kesempatan pada Kanaya untuk mencari pria yang menurutnya pantas menjadi pasangan hidupnya.
Gita dan Nick sudah menunggu jawaban dari Kanaya selama satu tahun, karena Kanaya tidak juga menunjukkan seorang pria pun kepada kedua orang tuanya maka Gita dan Nick pun mengambil keputusan, sehingga terjadilah perjodohan mendadak ini.
Raju terus mendengarkan cerita tentang Kanaya dari sang kakak ipar.
Dia mulai tertarik pada gadis yang telah sah jadi istrinya itu.
"Gue harap, lu bisa jadi suami Kanaya yang membawa dia ke jalan yang diridhoi oleh Allah, semoga rumah tangga lu dan Kanaya bisa langgeng hingga maut memisahkan kalian nantinya," ujar Fahri penuh harap pada Raju.
Fahri menabung pundak adik iparnya, seolah-olah pria itu menitipkan kebahagiaan sang adik kepada Raju.
Raju hanya terdiam mendengar ucapan Fahri, saat ini rasa bimbang dan ragu semakin berkecamuk di dadanya.
"Udah malam, tidurlah." Fahri berdiri meninggalkan Raju.
Akhirnya Raju pun, ikut berdiri dan mengikuti langkah Fahri.
Dia pun masuk ke dalam kamar, sedangkan Fahri dia pun kembali ke kamarnya.
Raju masuk ke dalam kamar, dia melihat Kanaya yang masih terlelap. Kegalauan yang ada di dirinya semakin menjadi setelah mendengar ucapan Fahri.
__ADS_1
Bersambung...