
"Maaf," ucap Sherly.
Takasi tertegun, biasanya banyak wanita tergila ingin di cium darinya walau hanya sebatas tangan saja. Namun tidak dengan Sherly yang berbeda, Takasi berpikir mungkin karena bukan orang negara nya. Tetapi ia juga memiliki wanita di negara Indonesia dan mereka sama saja seperti wanita pada umumnya yang ia kenal. Takasi kembali berpikir, mungkin karena ada Alex di Sampang sehingga menolak ciuman hormat yang ia berikan.
"Oh maaf kan saya, saya yang lancang," ucapnya dengan wajah merasa bersalah.
Alex mengepalkan tangannya kuat, namun ia mencoba untuk tenang. Mungkin memang seperti ini cara orang Jepang berkenalan, Alex berpikir positif.
"Tuan Alex saya minta maaf, sudah menjadi kebiasaan Jepang di jaman modern ini dengan mencium tangan yang berbeda jenis," jelas Takasi.
"Iya gak apa-apa, saya maklumi. Tetapi kami bukan berasal dari negara ini. Jadi hal semacam ini sangatlah tidak sopan," ujar Alex.
Takasi tertawa lalu memanggut- manggut-manggut.
"Mari silahkan makan, makanan sudah di hidangkan. Cobalah mencicipi makanan khas Jepang, semoga kalian suka dan betah tinggal di sini," ujar Takasi menawari makanan yang memang sudah di hidangkan berbagai macam masakan khas Jepang dan sangat banyak di meja makan.
Saat Sherly melihatnya, wanita itu langsung meneteskan air liurnya tergoda dengan makanan yang nampak enak. Takasi tersenyum menatapnya.
"Hahaha, sepertinya istrimu sudah sangat tidak sabaran. Silahkan di cicipi, jangan sungkan-sungkan," ujar Takasi pada Alex.
Alex mengangguk." Baiklah, terima kasih banyak Tuan Takasi. Kalau begitu selamat makan."
"Ya, selamat makan."
Alex mengambil kan beberapa makanan untuk istrinya.
"Apa kamu mau ini?" tanya Alex menunjuk ikan salmon mentah dengan sumpit.
"Apa ini ikan mentah? Aku gak suka ah," ucap Sherly menolak, ikan mentah walau sudah mendengar dapat di makan. Namun tetap saja rasanya pengen muntah.
"Yups, kamu benar. Ikan salmon mentah ini paling enak, dan saya sangat suka. Cobalah," sahut Takasi sambil mengambilkan sepotong ikan Salmon itu ke mangkok Sherly yang sudah berisi nasi.
"Sialan nie orang, main serobot aja buat bini gue. Awas saja kalau sudah melewati batas, gak peduli serugi apa gue pada perusahaan jika lo berani macam-macam pada istri ku," batin Alex posesif, ia tak suka ada laki-laki mengambilkan makan untuk istrinya. Apalagi ia perhatikan, sedari tadi Takasi selalu mencuri-curi pandang pada istrinya.
"Tapi ...." Sherly melirik suaminya. Alex menghela, kali ini masih bisa di maafkan.
"Cobalah," ucap Alex.
Dengan ragu Sherly mengambil ikan mentah itu dengan sedikit nasi. Sesaat ia mengunyahnya, perut rasa mual, karena tak tahan ia pun memuntahkan isi di dalam mulutnya dengan tisu.
Alex menjadi tidak enak pada Takasi, lagi makan begini melihat orang memuntahkan makan di hadapan langsung. Tentu saja tidak sopan dan orang yang melihatnya pasti merasa jijik dan tidak lagi berselera makan. Namun Alex tidak terlalu menghiraukan itu, ia lebih baik mengambilkan air putih untuk istrinya.
"Maaf, maaf kan aku. Aku benar-benar gak suka, rasanya aneh," ujar Sherly lirih karena merasa tidak sopan.
"Tuan, saya minta maaf," lanjut Alex juga meminta maaf. Ia membungkukkan sedikit badannya.
"Hahahaha, tidak apa-apa. Saya mengerti, maaf kan saya juga yang memaksa saya tidak tahu jika perut kamu memang tidak bisa menerima makanan mentah," ujar Takashi biasa saja. Tak ada marah sama sekali, berbeda dengan biasanya yang gampang marah jika ada orang hanya berdehem saat ia sedang makan. Dan langsung ia suruh anak buahnya untuk memotong lidah orang itu.
"Oh iya ini, cobalah mie ramen ini. Mie ramen ini gak ada makanan mentahnya, saya jamin kamu pasti suka," sambung Takasi menyerahkan semangkok mie ramen.
Sherly langsung menelan ludahnya melihat makanan yang sangat menggoda ini. Aromanya sangat menusuk indra penciumannya.
__ADS_1
"Tuan Takasi tidak marah?" tanya Alex merasa heran. Alex sudah tahu tentang rumor beredar itu.
"Hahahaha untuk apa saya marah gak jelas, toh Sherly hanya tidak sengaja dan itu di sebabkan oleh saya sendiri. Ayo kita lanjut makan lagi ... Sherly, ayo di makan."
Alex nampak melongo tak percaya. Apa rumor itu salah? Ia terus memperhatikan Takasi dengan seksama. Tidak mungkin kan menahan rasa jijik hanya karena tertarik pada Sherly? Pikir Alex mencoba positif.
"Wah, enak banget." Lamunan Alex di buyarkan oleh suara istrinya yang sangat senang dengan makanan yang di berikan oleh Takasi.
"Hahahaha, benar kan apa yang saya bilang. Kamu pasti menyukainya, habiskan masih banyak makanan lainnya yang belum kamu cicipi," ujar Takasi bangga, merasa senang kali ini Sherly menyukai salah satu makanan khas Jepang.
"Sayang jangan terlalu banyak, ini pedas," ujar Alex mengingat kan.
"Tapi makin pedas makin enak loh Mas, cobain deh." Sherly menyuapi Alex. Mau tak mau Alex menerimanya walau sebenarnya ragu karena mie ramen itu pedas, dan ia sangat tidak suka dengan pedas.
"Ya Allah, ini pedas banget sayang. Apa kamu gila, kamu bisa sakit perut kalau makan itu terlalu banyak," ucap Alex dengan wajah merah karena kepedasan. Alex langsung meminum air putih banyak-banyak.
Takasi tertawa melihatnya." Kau sama seperti saya Sherly, saya juga suka pedas. Bagaimana kalau kita lomba? Siapa yang cepat menghabiskan mie ramen ini akan di kasih hadiah," ujar Takasi.
"Ayo, siapa takut," jawab Sherly bersemangat. Ia memang suka dengan makanan pedas. Apalagi ada lawannya dan itu membuat nya senang.
Alex melotot mendengar istrinya mengiyakan ajakan Takasi bakan terlihat senang tertawa bersama laki-laki lain di hadapannya. Alex mengepal kuat di bawah meja, cemburu, tak suka melihat istrinya tertawa, akrab dengan laki-laki lain.
"Aauuws ...." Sherly meringis saat Alex mencubit pahanya.
"Makan yang sopan, gak baik makan buru-buru seperti itu. Nanti terdesak," ucap Alex dingin.
"Ah, maafkan aku. Maaf Tuan, saya tidak sopan," ujar Sherly yang baru sadar dengan lupa dirinya. Ia terlalu terbawa suasana.
"Terima kasih Tuan, anda begitu baik. Tapi maaf, kami tidak bisa berlama-lama karena istri saya tidak istirahat setelah datang ke sini," ucap Alex sopan,.ia menghormati Takasi dengan meminum arak tersebut.
"Hahahaha, baiklah-baiklah. Saya tidak akan mengganggu bulan madu kalian berdua, tapi jangan sampai lupa proyek kerja sama kita. Besok orang suruhan saya akan menjemput anda," ujar Takasi mengingat kan.
"Anda jangan khawatir, saya tidak akan mengecewakan anda Tuan Takasi," jawab Alex meyakinkan.
"Bagus, itulah yang saya harapkan. Kalau begitu mohon kerjasamanya." Takasi bersalam dengan Alex.
"Tentu, kalau begitu kami pamit dulu," pamit Alex.
"Biar orang suruhan saya yang mengantar kalian pukang."
"Maksud Tuan pengawal yang berkacamata hitam itu?" tanya Sherly menyela.
"Oh, Naruto! Sekarang dia sedang ada tugas lagi. Jadi Sasuke yang menggantikan dirinya untuk mengantar kalian pulang," jawab Takasi.
"Hah, Naruto? Dan sekarang Sasuke! Kenapa para pemain film anime ada di sini? Jangan-jangan ada Sakura dan Hinata nya juga lagi?" gumam Sherly.
"Kamu benar, Sakura dan Hinata juga ada di sini!" sahut Takasi yang mendengar gumaman Sherly.
"Widih, bisa berkumpul begitu. Keren lah, tapi Naruto nya jelek ah, gak suka. Gak sesuai sama imajinasi aku, dah pakai kacamata hitam, rambutnya hitam pula dah lah coret dari daftar favorit aku." Lanjutnya bergumam tak suka dengan yang pengawal yang bernama Naruto tersebut.
"Kalau Sasuke gimana? Apa sama gantengnya seperti di film?" tanya Sherly dengan mata berbinar. Fans berat film Anime Naruto, dan penggemar berat Sasuke.
__ADS_1
Alex spontan mencubit pinggang Sherly lalu menatap nya horor."Dasar genit, walaupun Sasuke ganteng, tapi kamu harus liat aku seorang," tegas Alex cembokur karena Sherly menanyakan laki-laki lain.
"Iis kamu ini Mas, kamu sama Sasuke itu beda lah. Pokoknya aku mau liat Sasuke ... weeeeek." Sherly menjulurkan lidahnya lalu berlari untuk melihat seperti apa tampang Sasuke.
Takasi hanya tertawa melihat kelakukan Sherly.
"Hahahaha, istri kamu benar-benar lucu dan menggemaskan," ucapnya sambil membayangkan wajah Sherly.
"Tentu saja, sebab itulah dia menjadi ISTRI KU,' jawab Alex meneken kata istriku supaya Takasi sadar jika wanita yang ia bilang menggemaskan itu sudah bersuami.
"Hahahaha, santai saja. Saya tau dia istri anda," ucapnya sambil menepuk pundak Alex.
"Tapi kalau dia mau bersama yang lebih baik lagi, kenapa tidak? Saya gak keberatan menunggu jandanya," lanjutnya dengan terang-terangan sembari tertawa.
Alex mengepalkan." Jangan harap, Sherly tidak akan pernah meninggalkan saya," tegas Alex menatapnya tajam.
Takasi langsung tertawa." Hahahaha, saya hanya bercanda Tuan Alex. Jangan di anggap serius," ucapnya kembali menepuk pundak Alex.
"Ya, lebih baik seperti itu. Karena siapapun anda, saya tidak akan tinggal diam," jawab Alex, lalu berlalu meninggalkan Takasi yang tersenyum menyeringai sambil menatap punggung Alex.
Alex mencari istrinya.
"Sayang kamu kenapa?" tangan Alex melihat wajah cemberut samb bersandar di dingin sedang menunggu dirinya.
"Gak suka sama Sasuke yang itu, masa rambutnya pirang. Merusak kegantengan Sasuke uchiha saja," keluh Sherly karena tak sesuai imajinasi nya dengan tokoh anime yang bernama Sasuke uchiha.
"Lagian kamu ada-ada saja, nama saja yang sama tapi belum tentu orang nya juga sama. Dasar kamu ini." Alex gemes ia mencubit hidungeg mancul istrinya dengan gemes. Sherly mengerucutkan bibirnya.
"Ya udah pulang yuk, Sasuke uchiha sudah menunggu. Nanti kalau kelamaan matanya berubah menjadi merah," canda Alex sambil merangkul istrinya.
"Iih, bukan lah. Dia itu Sasuke abal-abal," elak Sherly cemberut tak suka idolanya di sama-sama kan dengan orang lain. Alex tertawa.
Aksi keduanya ternyata di lihat oleh Takasi, lelaki itu semakin tertarik dengan Sherly.
"Menarik," gumamnya menyeringai.
"Kamaru," panggil nya.
"Saya Tuan." Lelaki yang bernama Kamaru tersebut membungkukkan setengah badannya.
"Cari informasi tentang wanita itu secepatnya, jangan sampai ada yang terlewat kan termasuk barang-barang yang dia sukai," perintah Takasi tegas pada asisten nya.
"Maksud anda, wanita yang bersama rekan bisnis anda yang orang Indonesia itu?" tanya Kamaru.
"Siapa lagi," jawabnya santai.
"Hah, tapi dia istri orang Tuan! Apa saya gak salah denger? Bagaimana bisa anda menyukai wanita yang sudah bersuami?" tanya Kamaru heran, padahal tuan nya itu selalu di kerumuni banyak wanita di sekelilingnya, kenapa masih menginginkan istri orang.
"Apa kamu ingin kehilangan lidah mu Kamaru? Jika ingin, saya tidak segan-segan memotong nya sekarang juga!" hardiknya kesal.
"Lakukan saja perintah ku, dan saya mau hari ini juga." Takasi lalu pergi meninggalkan Kamaru yang mematung. Ada apa dengan tuan nya itu, biasanya lelaki itu tak pernah menginginkan wanita, karena selalu wanita yang sangat menginginkan nya.
__ADS_1