
Leo mengemudi mobilnya terus membelah jalan, dan sampai di tempat tujuan dengan selamat. Nadira turun dari mobil, tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada Leo. Dan Leo mengangguk sembari tersenyum lalu menjalankan mobilnya kembali menuju arah parkir di loby dan membiarkan Nadira masuk lebih dulu di kantor tempat mereka bekerja.
"Nadira... gadis yang unik! "gumamnya sembari melepaskan sabuk pengaman lalu ia keluar dari dalam mobil.
" Selamat pagi! "sapa Leo pada karyawan yang lain saat masuk ke dalam kantor.
" Pagi, Leo! baru dateng? "
" Ya begitulah. "Leo duduk di ruangan kerjanya, ia kepikiran Nadira," kerja di bagian mana, ya? "
Tak lama setelah jam bekerja terus berjalan. Tiba-tiba Leo di panggil oleh atasan nya.
" Le, kamu gak lagi melalukan kesalahan, 'kan? "tanya rekan kerjanya setengah berisik.
" InsyaAllah nggak, jangan khawatir, "jawab Leo berucap santai, toh nyatanya ia memang tidak melakukan kesalahan apapun sehingga tak perlu takut.
" Siapa juga yang khawatir, GR banget jadi orang, "celetuk rekannya itu," dah sana pergi, di pecat tau rasa, lo! "
Leo tertawa, lalu ia berjalan keluar dan menuju ruangan atasannya. Sesampainya di saja Leo mengetuk pintu.
" Masuk!"jawab seseorang dari dalam. Leo membuka pintu pelan lalu sedikit membungkukkan setengah badannya memberi hormat.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak? "tanya Leo ramah.
" Iya... ini perkenalkan Nadira, mulai sekarang kamu bertanggung jawab atas kerjaan nya!"ucap sang atasan memperkenalkan Nadira pada Leo.
Leo tersenyum, lalu ia menjulurkan tangannya. Walaupun sudah sama-sama kenal namun di kantor tetep harua proporsional. Dan dapat membedakan mana waktunya kerja dan mana bukan.
Nadira membalas senyuman Leo laku menjabat tangannya. Kemudian mereka saling memperkenalkan diri.
"Baiklah, kamu boleh ikut Leo sekarang! "perintahnya kepada Nadira.
" Baik pak, terima kasih."
__ADS_1
"Kalau begitu kami permisi dulu. "Leo dan Nadira luar dari ruangan atasan mereka. Dan Leo mengajak Nadira ke ruangan kerjanya.
" Selamat bekerja, Nadira, "ucap Leo tersenyum manis menyemangati gadis yang baru ia kenal hari ini.
" Terima kasih pak, Leo, "balas nya dengan senyuman malu-malu.
Leo kembali ke tempat ruangan kerjanya, walaupun sedikit berjauhan namun mereka masih bisa saling menengok satu sama lain dengan cara menimbulkan kepala saja.
Nadira dengan semangat mulai berkerja, ia begitu cekatan dengan pekerjaan yang baru saja ia terima itu. Dan di awal hari kerja sudah mendapatkan teman di sebelahnya karena sikap nya yang ramah dan sopan, membuat siapa saja menjadi nyaman untuk berteman dengannya.
Dari kejauhan Leo diam-diam memperhatikan, ada sedikit senyuman terukir di bibir melihat nya yang begitu serius dalam melalukan pekerjaannya.
"Hoy, ingat bini di rumah! "rekan kerjanya mengingatkan.
" Aapan sih? emangnya gue kenapa? "tanya Leo kepada rekan nya itu.
" Ayoooo, ketahuan lirik -lirik anak baru itu ya, ngaku lo? "ledek Alan yang merupakan rekan kerja di sebelah.
" Kenal apa kenal.... kalau kenal boleh dong kenalin sama gue? kan lo udah punya bini. "
" Awas aje lo berani macem-macem sama dia! dan gak akan gue kasih izin dia deket - deket cowok Play boy kayak lo! "jawan Leo sinis.
" Ck, pelit amat lo... jadi curiga gue, "Alan menatap selidik pada Leo. Dan Leo hanya menghela malas.
" Woy, kerja! ngobrol aje, "tegur rekan yang satunya mengingatkan.
" Iye, bawel banget sih. "Kembali bekerja hingga jam makan siang telah tiba.
Nadira masih serius dalam kerjaannya, dan di samperin oleh Leo." Makan yuk! "
Nadira mendongak," emang udah boleh? "
Lalu Leo terkekeh kemudian mengacak-ngacak rambut Nadira gemes. Nadira sadar, ia pun menghindar walaupun wajah yang sudah berubah merah namun ia tak ingin terlalu dekat dengan lelaki yang sudah menikah.
__ADS_1
" Ini sudah jam istirahat, nanti di lanjutkan lagi kalau sudah waktunya kembali kerja! "ucap Leo.
Nadira ragu untuk menerima, namun ia bingung cara menolaknya.
" Eh Leo, lo ngapain? kita mau makan, lo mau ikut juga. "Untung salah satu rekan Nadira yang di sebelah datang menyelamatkan dirinya, jadi ia punya alasan agar tidak berdua dengan Leo, takut membawa gosip tak sedap apa lagi ia baru di kantor ini.
" Oke, bareng aja! "jawab Leo, lalu ia berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh Nadira dan temannya.
" Kalian udah saling kenal ya? "tanya Indah berisik pada Nadira.
" Dia suaminya sahabat, dari sahabatnya aku! "balas Nadira berisik juga. Indah tidak paham maksud dari jawaban Nadira.
" Aduh gimana ya jelasin nya? intinya gitulah, "lanjut Nadira, melihat raut wajah bingung dari temannya itu.
" Oh... "
Setelah mendapatkan meja saat makan siang di kantin kantor. Ketiganya duduk bersama dan Leo berhadapan dengan Nadira. Mereka sudah memesan makanan.
" Alamat rumah kamu di mana? "tanya Leo.
Em... di jalan mawar gang melati!" jawab Nadira.
"Wah kita searah dong. Gimana nanti pulangnya barengan aja! "
Nadira sempat menoleh pada Indah sekilas." Eh, nggak perlu repot - repot. Aku bisa naik taksi kok! "
" Tapi kita nanti pulangnya agak malam, agak susah mendapatkan taksi di sini... iya kan In? "ujar Leo.
" Em, bener apa yang di katakan Leo, Dir. Mending kamu pulang bareng dia aja, lagian udah saling kenal ini. "
Nadira berpikir sejenak, lumayan juga kalau nebeng, gak keluar duit buat ongkos taksi. Lumayan duitnya bisa di tabung buat pengobatan ibu. Pikir Nadira, lalu ia mengangguk setuju.
Leo tersenyum, hidupnya kembali semangat hari ini. Entah itu karena apa dan siapa. Namun begitu jauh beda dari hari - hari sebelumnya.
__ADS_1