
Lisa menggandeng tangan putrinya keluar dari kamar, Kania menuruni anak tangga secara perlahan.
Kania melangkah perlahan, dia tak sengaja melihat Raju yang duduk di samping Kanaya.
Dia membesarkan bola matanya memastikan wanita di samping pria yang dicintainya adalah sahabatnya sendiri.
Hati Kania terasa hancur saat melihat Raju duduk berdampingan dengan sahabatnya.
Mata Raja tertuju pada wanita yang kini mengenakan gaun pengantin berwarna putih, wajah sang pengantin wanita ditutupi oleh sebuah niqab sehingga Raja belum bisa melihat sosok istrinya.
Saat itu, Raju terlihat cuek dengan istri saudara kembarnya, dia tidak ingin mengetahui sosok kakak iparnya.
Namun, saat Kania melintas di depan Raju, dia melihat sorotan mata yang sangat dikenalnya.
Akhirnya Raju pun terus memandangi wajah istri saudara kembarnya hingga Raja membuka niqob yang dikenakan oleh Kania.
Wajah Raja pucat pasi saat melihat sosok istrinya dia tak menyangka wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya merupakan wanita yang dicintai oleh saudara kembarnya.
Kania kaget saat berada di depan Raja, dia melihat sosok pria yang dicintainya, tapi kebingungan mulai menyelimutinya.
Dia tidak tahu mana sosok pria yang dicintainya. Ada rasa senang dan ragu, karena saat ini dia tidak bisa membedakan antara Raja dan Raju.
Raju menggelengkan kepalanya tak percaya. Hatinya hancur lebur, takdir yang kini mereka jalani begitu rumit.
Wanita yang dinikahi saudara kembarnya adalah wanita yang dicintainya, sedangkan wanita yang dinikahinya adalah wanita yang dicintai oleh saudara kembarnya.
Jodoh mereka tertukar, mereka menikahi wanita yang tidak mereka cintai, tapi mereka terpaksa menjadi ipar dari wanita yang mereka cintai.
Raja dan Raju shock dengan apa yang saat ini ditakdirkan dalam kehidupan mereka.
Namun, saat ini mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tua, mereka tidak ingin senyuman di wajah kedua orang tuanya sirna begitu saja.
Mereka masih diam dengan takdir yang harus mereka jalani.
"Alhamdulillah, akhirnya kita jadi besan," ujar Lisa memeluk Kayla.
Begitu juga dengan Gita, mereka saling berpelukan. Sekarang kita sudah menjadi keluarga besar.
"Semoga dengan bersatunya anak-anak kita, maka kita akan saling bertemu dan hidup rukun." Gita tidak mau ketinggalan.
"Aamiin," sahut Kayla dan Lisa serentak.
__ADS_1
"Itu artinya, kini kalian juga keluarga aku," ujar Dian tidak mau ketinggalan.
"Hahaha." Empat orang sahabat itu kini tertawa bahagia.
Mereka bahagia tanpa mereka sadari putra putri mereka yang kini merasakan kesedihan karena tidak dapat bersama dengan orang yang mereka cintai.
"Ayo, makan," ajak Lisa.
Lisa dan Reza telah menyiapkan hidangan spesial dalam acara akad nikah yang sederhana dan mendadak itu.
Semua orang pun mulai menikmati makanan yang sudah terhidang, sedangkan Raja dan Kania masih sibuk pengambilan foto nikah mereka agar suatu hari nanti bisa menjadi kenangan terindah bagi mereka.
Usai berfoto, Raja bersikap dingin pada istrinya, Kania menikmati prosesi foto wedding itu dengan rasa bingung bercampur bahagia karena dia mengira bahwa Raja adalah Raju, pria yang selama ini dicintainya.
Cinta yang mereka pendam selama ini membuat mereka terjebak dalam pernikahan paksa yang direncanakan oleh orang tua mereka.
Andai saja mereka tahu bahwa wanita yang mereka cari selama ini adalah putri dari sahabat kedua orang tua mereka, maka mereka bisa memilih pasangan hidup mereka sendiri.
Bertahun-tahun mereka tidak saling bertemu, dan kini pertemuan mereka dalam keadaan yang tidak mereka inginkan.
Setelah selesai acara semua orang mulai sibuk dengan diri masing-masing. Sebagian ada yang duduk bersantai di teras Villa, sebagian lagi ada yang beristirahat di kamar.
"Baiklah, Bu," sahut Kania.
"Raja, kamu istirahat dulu, ya," ujar Lisa pada menantunya.
"Baik, Tante," sahut Raja.
"Lho, kenapa kamu panggilnya Tante, sekarang kamu kan sudah menjadi menantu ibu, jadi kamu harus panggil Ibu, sama dengan Nia," ujar Lisa mengingatkan Raja dengan statusnya saat ini.
"I-iya, Bu." Raja menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Raja," lirih Kania pelan.
Sepengetahuan Kania, pria yang waktu itu sudah membantunya bukan bernama Raja, tapi Kania juga lupa dengan nama pria baik hati yang selalu dijumpainya di perpustakaan.
Raja menoleh pada istrinya.
"Ayo," lirih Kania mengajak Raja menuju kamar Kania.
Mereka pun melangkah menuju kamar Kania yang ada di lantai 2.
__ADS_1
"Barang-barang milikku masih di kamarku, aku harus mengambilnya terlebih dahulu," ujar Raja saat mereka sudah berada di depan kamar Kania.
"Ya sudah kamu ambil saja dulu," lirih Kania.
Melihat sikap dingin Raja, Kania menyadari bahwa suaminya itu bukanlah pria yang dicintainya.
Raja melangkah meninggalkan Kania begitu saja.
"Aku yakin dia bukanlah pria yang sudah membantuku waktu itu," lirih Kania sambil mengingat kejadian bertahun-tahun sudah berlalu.
"Ya Allah, bagaimana cara aku menyelesaikan tugas ini dalam 2 hari. Sebanyak ini buku yang ada di perpustakaan, serta 5 perpustakaan yang harus aku jelajahi," gerutu Kania sambil membolak balik buku yang dipegangnya.
Raju menatap Kania yang sedang panik, gadis itu berpindah dari satu buku ke buku yang lain tanpa dibacanya.
"Maaf, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Raju dengan ramah.
Seketika Kania menghentikan kegiatannya, dia menoleh ke arah suara pria yang menyapanya.
"Maaf, Kak. Saya sedang cari tugas yang diberikan senior pada saya." Kania menjawab pertanyaan Raju.
"Apa tugas yang harus kamu kerjakan? Kamu anak baru, ya?" tanya Raju penasaran pada gadis yang ada di hadapannya.
"Iya, Kak. Saya mahasiswi baru di kampus ini," jawab Kania jujur.
"Apa memangnya tugas yang kamu dapat?" tanya Raju mengulangi pertanyaannya.
"Mhm, mencari kertas motivasi yang terselip di buku-buku yang ada di perpustakaan, tapi aku tidak dapat petunjuk sama sekali harus cari di mana, kan aku jadinya bingung, kak. Di kampus ini ada 5 perpustakaan terus di setiap perpustakaan banyak buku jadi harus aku mencari kertas motivasi itu di semua buku-buku itu." Kania mulai mengungkapkan unek-unek yang kini sedang dihadapinya.
Raja tersenyum mendengar curhatan mahasiswi baru yang kini terlihat panik.
"Idih, Kakak kenapa tersenyum? Kakak pasti ngeledekin aku, nyebelin," ujar Kania kesal.
"Bagaimana kalau aku bantuin kamu menyelesaikan tugasmu?" Entah mengapa dengan senang hati rajut ingin membantu mahasiswi tersebut.
Padahal Raju sama sekali tidak mengenal sosok Kania selama ini.
"Hah? Kakak mau bantuin aku? Serius?" tanya Kania tidak percaya dengan tawaran yang sudah diberikan oleh Raju.
"Iya, serius. Kamu enggak mau, ya?" ujar Raju hendak menarik tawaran darinya.
Bersambung...
__ADS_1