Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, Nyaris saja


__ADS_3

"Tolong jangan pecat saya Pak, Bu. Saya benar-benar sangat membutuhkan pekerjaan ini. Ibu saya masuk rumah sakit, saya butuh biaya untuk biaya pengobatannya. Saya janji tidak akan mecem-macem apa lagi melakukan hal yang berdosa. Saya masih punya ibu dan kedua adik saya. Saya mohon," lirih Ana memohon sembari terisak. Ia benar-benar sangat membutuhkan pekerjaan.


Sherly sangat kasihan melihatnya, ia menatap melas pada suaminya. Mungkin tidak semua manusia memiliki niat jahat, lagi pula ia percaya jika suaminya tidak mungkin tergoda dengan si penggoda walau lebih cantik dan muda darinya.


"Mas ...."


"Gak bisa! Aku gak mau ambil resiko. Dulu juga sama seperti itu, terlihat polos dan lugu, tapi nyatanya apa? Orang itu malah menggoda papah, dan nyaris merusak rumah tangga mamah dan papah. Aku gak mau lagi kejadian itu terjadi, Sherly. Stop kasihan sama orang, aku tetep akan memulangkan dia ke yayasan, dan menelpon orang yayasan sekarang juga," ujar Alex tegas. Sherly tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia menatap iba pada Ana yang lebih terisak.


"Aku akan memulangkan kamu, tapi aku tetep akan memberikan kamu gaji sebulan sebagai gantinya," ucap Alex seketika. Masih ada hati nurani memberikan gaji pada Ana yang baru memulai bekerja hari ini.


Ana kembali terisak bukan uang sebulan yang ia harapkan, tapi pekerjaan. Karena uang sebulan cukup satu kali saja ia memberikan pada ibunya untuk biaya rumah sakit. Dan kedepannya, belum tentu ia mendapatkan pekerjaan lagi secepatnya.


"Maaf ya Ana, saya bukannya gak suka sama kamu. Tapi suami saya seperti nya trauma membawa wanita muda masuk dalam keluarganya. Saya hanya bisa mendoakan saja, semoga kamu bisa secepatnya mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih bagus dan baik lagi," ucap Sherly menghibur.


Tidak bisa membatah keputusan suaminya. Ia hanya bisa berharap, semoga Ana selamanya akan menjadi gadis yang baik, polos dan lugu. Sampai ada seseorang yang mau membantu mengurangi beban dalam hidupnya.


Ana bangkit lalu menghapus air matanya, kemudian tersenyum manis pada Sherly.


"Ana ngerti kok Bu. Sekarang ini memang musimnya pelakor. Apalagi melihat suami yang gagah, tampan seperti bapak. Siapa yang tidak terpincut oleh-nya. Tapi, percayalah, Ana bukan orang yang seperti itu. Karena bagi Ana keluarga nomor satu, Ana gak mau egois sehingga menyusahkan keluarga Ana sendiri." Ana menerima dengan lapang dada.


"Ana juga mendoakan semoga rumah tangga Ibu dan bapak langgeng sampai menjadi kakek dan nenek. Tanpa ada orang ketiga yang hadir di tengah-tengah rumah tangga bapak dan ibu. Karena saya percaya dan yakin, cinta kalian mampu menerjang ombak yang akan menghantam pertahanan kalian," ucap Ana tulus.


Sherly tersenyum, ia pun memeluk Ana dan mengucapkan terima kasih padanya. Sebenarnya ia sudah merasa cocok dengan Ana. Tetapi rasa khawatirnya mertua dan suaminya membuat ia mengalah.


"Sekali lagi maaf ya, kamu masih muda dan cantik. Percayalah suatu saat kamu akan menjadi orang yang sukses dengan kerja keras mu sendiri, dan percayalah akan ada laki-laki yang akan mencintaimu apa adanya."


"Terima kasih banyak Bu. Kalau begitu Ana beresin baju Ana dulu ya, sebelum ibu Fatma datang," ucap Ana. Sherly mengangguk.


Malam harinya, ibu yayasan datang dengan wajah di tekuk malu. Alex banar-- benar kecewa pada yayasan itu karena tidak amanah.


*Maafkan saya Pak, tadinya kami memang ingin mengirim wanita paruh baya ke sini. Tapi Ana datang dan memohon supaya dia saja yang di bawa. Kami merasa kasihan karena ibunya masuk rumah sakit dan dia butuh uang untuk biaya pengobatannya," jelas ibu yayasan dengan sangat menyesal.


"Apapun alasannya, kalian tidak Isa seenaknya mengubah apapun yang sudah di pinta oleh orang tanpa sepengetahuan. Ini namanya penipuannya, apa anda mengerti!" ucap Alex tegas tak mau peduli.


"Maafkan kami Pak," ucapnya tak dapat membantah lagi.


"Saya benar-benar kecewa, padahal beberapa bulan lagi saya akan mengambil beberapa ART di tempat yayasan bunda kasih. Tapi dengan kejadian ini saya menjadi ragu untuk mengambil di sama lagi," ucap yang sudah benar-benar kecewa.


"Kami benar-benar minta maaf Pak. Kami janji tidak akan ulang lagi kejadian seperti ini," ucapnya menyesal.


Akan tetapi Alex sangat keras kepala. Jika sudah kecewa maka jangan harap bisa mendapatkan kesempatan kedua.


Ini yayasan hanya bisa menyesal, mereka pun berpamitan. Begitu juga dengan Ana. Sherly hanya bisa memberikan senyuman semangat untuk mereka, karena bagiamana pun juga mereka tetep salah karena tidak memberitahu lebih dulu dan seenaknya saja mengganti yang sudah di sesuai permintaan.


Sherly mengusap lengan suaminya, ia tau jika masa trauma itu masih menyelimuti hati dan pikiran Alex. Kejadian 10 tahun yang lalu mengenai masalah rumah tangga mertuanya ternyata berdampak pada Alex. Bisa kemungkinan menyebabkan lelaki ini menunda menikah bahkan usia yang sudah matang.


"Aku terlalu egois gak sih?" tanya Alex lirih. Sherly menggeleng sembari tersenyum.


Tidak ada salahnya untuk waspada, hati dan pikiran seseorang tidak ada yang tahu.


"Kamu sudah melakukan hal yang benar Mas. Semoga keluarga kecil kita di jauhkan dari orang-orang yang ingin berbuat jahat," ucap Sherly sembari menyandarkan kepalanya di lengan Alex yang kekar itu.


Alex tersenyum lalu mengecup pucuk kepala istrinya lembut.


"Terima kasih ya sayang. Oh iya gimana kabar dedek hari ini? Apa rewel?" tanya Alex. Sherly pun langsung tertawa.


"Emangnya dia udah lahir rewel, calon anak kita masih berusia mingguan Mas, jadi gak rewel," ucap Sherly.

__ADS_1


"Maksud aku, rewel di dalam perut yang membuat kamu muntah-muntah, gak enak badan, atau pusing, gitu sayang," Alex gemes lalu mengacak-acak rambut Sherly.


"Oh, ngomong yang jelas dong. Aku mana paham," ucap Sherly." Kalau muntah sih nggak, tapi mual ia. Dan tadi sebenarnya aku tuh tengah menahan mual tauk. Gak suka aja bau-bau keringat, contoh kayak kamu ini. Belum mandi, baik tauk," lanjutnya sambil menutup hidung.


"Dasar kamu ini. Kalau bau tapi mau peluk-peluk," ejek Alex karena Sherly masih merangkul lengannya erat.


"Nah itu dia, aku gak tahan bau keringat. Tapi aku pengen peluk kamu. Terus gimana dong?" tanya Sherly dengan nada manja. Alex tersenyum licik.


"Kalau begitu, ayo kita mandi bareng. Jadi kamu bisa peluk aku sepuasnya sembari aku membersihkan diri." Alex menggendong Sherly lembut. Dan membawanya ke kamar mandi.


"Dasar mesum, itu mah maunya kamu."


Suara tawa Alex menggema di dalam kamar mandi, sedangkan Sherly hanya bisa pasrah. Nyesel deh sudah mancing harimau yang sedang kelaparan.


*******


Sementara itu, Dara sedang berkendara roda dua di larut seperti ini. Ia baru saja pulang dari bekerja. Ia bukanlah gadis manja yang segala sesuatu meminta dari orang tua. Ia lebih memilih berkerja paruh waktu selepas dari kuliah, karena ia ingin hidup lebih mandiri lagi dan tidak ingin menyusahkan kedua orangtuanya yang sering kali tidak pernah ada di rumah sehingga membuat Dara merasa kesepian. Dengan bekerja paruh waktu cukup membuat rasa kesepiannya hilang.


Dara adalah anak tunggal. Kedua orangtuanya sibuk bekerja di luar kota. Dan itu tak membuatnya menjadi gadis yang manja seperti pada gadis seusianya pada umumnya.


Seketika Dara sedang melewati jalan yang sepi. Tiba-tiba segerombolan anak muda yang sedang mabuk datang menghadang. Karena Dara adalah seorang gadis yang lemah, ia tidak bisa bergerak sedikit pun untuk kabur dari segerombolan orang-orang itu.


"Mau apa kalian?" tanya Dara dingin memberikan diri. Padahal dalam hatinya sangat takut dan gemetar.


"Eh ada si Eneng cantik. Mau Abang temenin gak, Neng?" ucap salah satu dari mereka.


"Lepas, jangan sentuh saya!" bentak Dara marah.


"Duh, cantik-cantik tapi galak. Namun Abang suka," ucap yang satunya.


"Jangan sentuh saya! Minggir kalian semua. Atau saya teriak," bentak Dara tegas.


Akan tetapi segerombolan orang-orang itu malah tertawa tak peduli.


"Ini jalan sepi Neng, siapa yang akan mendengar teriakan-teriakan kecil suara kamu," ucapnya seraya tertawa.


Dara ingin menangis ketakutan. Dalam hatinya terus berdoa supaya Allah mau melindungi dirinya.


"Neng gak kedinginan? Abang dingin nie, mau dong di angetin."


"Lepas,. lepaskan aku. Tolong, tolong!" Dara berontak sesaat tubuhnya di pegang-pegang. Dara berteriak sembari menangis dengan tubuh yang gemetar.


"Ssstttt, anak manis jangan nangis ya. Kami gak akan menyakiti kamu kok, asal kamu jadi anak yang nurut. Nikmati aja ya sayang, Abang akan melakukannya dengan lembut."


Dara terus berontak sembari berteriak. Bahkan salah satu tangan yang memegangi tangannya Dara gigit kuat-kuat hingga berdarah.


"Kurang ajar! Beraninya kamu menggigit tangan ku?"


Orang yang di gigit itu pun menampar wajah cantik Dara. Dara pun meludahi mukanya dengan tatapan tajam.


"Aku akan membunuhmu jika kau sekali lagi melakukan itu!" teriaknya kesal.


Dara lebih baik mati dari pada harga diri di hina seperti ini. Apa lagi harus melayani nafsu para segerombolan yang tengah kelaparan pada tubuhnya ini.


Sebuah motor lewat dengan kecepatan kencang. Dara langsung berteriak meminta tolong. Tetapi motor itu berjalan begitu saja seakan tak peduli padahal sudah melihat kondisi gadis itu yang sedang di lecehkan oleh beberapa pria mabuk.


Beberapa dari mereka tertawa.

__ADS_1


"Percuma saja sayang, dia tidak akan berani menolong kamu di sini," ucap lelaki itu sambil membelai lembut kepala Dara.


Dara bungkam, benar apa yang di katakan oleh lelaki bajing*n ini. Mereka ada 6 orang sedangkan pengendara motor tadi seorang diri. Mana mungkin mau menolong dirinya, karena itu sama saja mengantarkan nyawanya sendiri.


Dara menutup matanya, ada butiran air bening kristal mengalir membasahi pipinya. Apa malam ini hidupnya akan berakhir mengenaskan seperti ini. Padahal mimpi menjadi wanita karis belum terwujud. Dan terlebih lagi meminta maaf pada kedua orangtuanya. Walau bagi Dara mereka sangat menyebalkan, tetapi mereka tetep lah kedua orangtua kandungnya.


"Mah, Pah. Maaf! Dara harap kalian bisa akur dan memiliki banyak waktu bersama anak kalian. Dara tidak menyesal karena sudah lahir dari titisan darah kalian, Dara berterima kasih karena sudah merawat dan membesarkan Dara dengan uang yang selama ini kalian kejar. Dara tau kalian lakukan semua ini demi masa depan Dara. Tetapi kalau Dara boleh memilih, Dara lebih memilih mendapatkan kasih sayang dari kalian di bandingkan uang kalian. Dara harap kalian berbagai tampa adanya Dara di sisi kalian."


Dara akan menerima semuanya jika memang sudah menjadi takdir hidupnya berakhir malam ini. Ia pasrah, karena harapan tidak ada lagi bagiannya selain keajaiban Allah yang turun tangan.


Tiba-tiba lampu bersinar terang hingga mata para gerombolan pemuda mabuk itu silau dan menghalangi cahaya lampu itu dengan tangan mereka.


"Woy, lo mau cari mati hah!" teriak salah satu pemuda itu marah.


"CK, kalua berani hadapi gue. Jangan cuma berani sama cewek aja dong," jawab si pengendara itu santai, bahkan tersenyum mengejek.


"Kurang ajar, jangan nyesel lo ya."


"Siapa? Siapa malaikat yang mau menyelamatkan aku?" Dara membuka matanya, ia terkejut melihat beberapa orang sudah tepar di lantai di sebeb kan pukulan si penyelamat nya itu.


"Devan!" Dara terkejut tak percaya jika yang menyelamatkan dirinya adalah Devan, mantan pacar sahabatnya sendiri.


Devan memang terkenal badboy, playboy, dan jago berantem. Gak di SMA dan di kampus. Dulu Dara sangat membenci cowok yang seperti preman itu yang taunya hanya tauran dan berantem saja. Tetapi, melihat kejadian ini, justru rasa benci itu menjadi suka. Ia terkesima melihat Devan yang sedang bertarung melawan beberapa anak muda yang hendak melecehkan dirinya tadi.


Devan dapat dengan mudah mengalahkan mereka sehingga Dara dapat bernapas dengan lega.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Devan sembari melepaskan jaketnya, dan menyelimuti tubuh Dara dengan jaketnya.


Dara mengangguk pelan sembari tersenyum malu dengan rona di wajahnya. Devan sangat terlihat keren malam ini.


"Terima kasih banyak Devan." lirih Dara dengan mata masih tertuju pada wajah Devan.


"Ku adalah temannya Sherly bukan?" tanya Devan yang sedikit mengingatkan wajah Dara sewaktu bersama Sherly saat ia masih pacaran dulu.


"Iya, aku Dara sahabatnya Sherly," ucap Dara.


Devan tersenyum tipis." Lain kali harus hati-hati. Di sini jalanan sepi, sebaiknya jangan keluar larut malam," nasehat Devan.


"Aku kerja sip malam. Bisanya tidak seperti ini ketika pulang. Mungkin aku lagi kena sial malam ini sehingga nyaris nyawaku melayang," jawab Dara. Devan hanya diam saja.


"Berterima kasihlah pada Allah karena nyawamu masih di berikan umur yang panjang," ucap Devan, lalu ia memakai helmnya kembali.


"Em, Devan. Kamu mau kemana?" tanya Dara.


Devan menaikan alisnya sebelah menatap Dara.


"Emangnya kamu mau tidur di sini? Gak mau pulang gitu!" ucapnya.


"Mau sih, tapi aku kayaknya gak kuat bawa motor deh. Badan aku masih lemah banget, boleh nebeng gak?" ucap Dara penuh percaya diri. Ia ingin mengenal Devan lebih dalam lagi, hatinya sudah tertarik pada lelaki di hadapannya yang ia sangat benci dulu.


Devan diam memikir sambil melirik Dara yang memasang wajah kasihan layak seekor kucing. Ia menghela napasnya panjang.


"Naiklah, tapi aku gak tanggung jawab sama motor kamu kalau ilang," ucap Devan dengan expresi datar.


Dara tersenyum lebar, hatinya sangat senang. Dengan wajah yang ceria ia naik ke motor Devan tak peduli dengan motornya sendiri.


"Kalau di lihat-lihat Devan ganteng juga ya, dan gak sejahat seperti bayangan gue. Apa dia sudah benar-benar move on ya dari Sherly?" batin Dara sembari berpengan pada baju Devan sesaat motor sudah melaju kencang menuju rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2