
Agne menangis sembari tertunduk malu di lantai, ia engan mengangkat kepalanya. Hati terasa sakit bak di tusuk namun tak berdarah akibat cinta sekian tahun namun tak terbalas. Dan parahnya lelaki yang di cintai mencintai wanita lain yang tak lain tak bukan keluarga sendiri. Bahkan menikah, sudah memilik anak. Sakitnya luar biasa plus malu setengah mati.
Dewi yang iba melihat adik iparnya tersebut. Ia berjongkok lalu memeluknya erat.
"Jangan menangis, ini bukan salah siapa-siapa. Angga tidak tahu kalau kamu menyukainya, dan Angga juga tidak memiliki perasaan apa-apa sama kamu, jangan menyalahkan nya. Bangkitlah, karena itu namanya kamu dengannya tidak di takdir kan untuk berjodoh Agne!" ucap Dewi mengelus punggung Agne. Dan wanita itu tetep menangis.
"Bob, gue tidak bermaksud membuat adik kamu seperti ini. Namun gue sama sekali tidak pernah memiliki perasaan apapun padanya," ucap Angga pada Bobby, ia merasa tidak enak dengan sahabat sekaligus mertua nya itu.
"Gue tau, maafkan adik gue ya. Jangan menyalahkan diri sendiri." Bobby menepuk pundak Angga lalu menghampiri adiknya yang sedang di peluk oleh istrinya.
"Lupakan perasaan kamu sama Angga, Agne. Dia adalah suami keponakan kamu sendiri, mereka saling mencintai. Mas harap kamu jangan menjadi wanita bodoh untuk melakukan hal yang merugikan orang," ujar Bobby menasehati adiknya.
"Kenapa cinta sesakit ini Mas, kenapa di sat aku mencintai nya, justru malah bertepuk sebelah tangan. Ini tidak adil untukku, Mas," isak tangis Agne merasa sesak di dada.
"Lain kali jika menyukai seseorang, langsung di ungkapkan aja jangan di pendam sampai bertahun-tahun. Ujung-ujungnya begini saat lelaki itu tidak mencintai mu dan malah menikah dengan wanita lain. Di terima atau tidak, setidaknya kamu tahu perasaannya, nah kalau begindang? Jangan mengatakan ini tidak adil untukmu. Allah maha baik karena sudah memberimu kesempatan dulu, namun kamu sendiri yang menyia-yiakannya." Bobby menjawab dengan santai.
"Sekarang sudah terlambat, jangan menggangu rumah tangga mereka. Cari lagi lelaki lain, tapi ingat. Ungkapkan saja perasaan mu jika sudah menyukainya, siapa tau lelaki itu mau mempertimbangkannya, lebih baik merendahkan gengsi dari pada merendahkan harga diri," lanjut Bobby tegas. Agne tertunduk diam.
"Sudah-sudah, kamu masuk kamar gih. Mandi abis itu kita makan malam," ucap Dewi mengelus lengan Agne. Agne mengangguk, lalu bangkit tanpa menoleh pada Sera dan Angga lagi, dan pergi begitu saja ke kamarnya.
Sera menghembuskan nafasnya pelan menatap kepergian tantenya. Ia sebenarnya sangat iba, namun Angga adalah suaminya, lelaki yang ia cintai. Dan harus menjaganya ketat agar tidak kecolongan lagi seperti sebelumnya. Pengalaman cintanya yang dulu membuatnya harus waspada sekarang. Tidak ingin lagi terjadi yang kedua kalinya, sebab itulah ia tidak mau lagi menaruh hati pada siapapun, keluarga maupun sahabat.
"Mau mandi dulu?" tanya Sera memandangi suaminya. Angga mengangguk pelan dengan senyum paksa di wajah.
"Aku temani ya."
Sera dan Angga masuk ke kamar bersama Sherly, Dewi dan Bobby menghela nafasnya berat. Niat hati ingin mengumpulkan keluarga agar lebih ramai. Siapa sangka kejadian ini justru membuat rumahnya menjadi semakin sepi.
"Aku tidak menyangka akan menjadi seperti Mas. Namun aku berharap Agne menerima kenyataan, dan berpikir dewasa agar tidak melakukan seperti Keyra dulu. Kasihan Sera Mas," ucap Dewi ketakutan, ia tidak tega jika cinta anaknya kandas lagi akibat keegoisan cinta yang tak terbalas sehingga rela melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan yang bukan miliknya.
"Kita serahkan semuanya pada yang di atas, dan kita juga jangan lepas untuk selalu menasehati Agne agar tidak bertindak bodoh. Semoga rumah tangga anak dan mantu kita tidak goyah dengan adanya cobaan."
__ADS_1
"Amin." Dewi pun mengaminkan ucapan suaminya, semoga saja tidak ada gangguan pihak ketiga dalam rumah tangga anaknya sampai akhir hayat.
Setelah makan malam yang sunyi, tak ada suara percakapan di meja makan. Membuat Bobby mendesah. Sekarang jam masih awal namun semuanya sudah menutup pintu kamar. Ia merasa bosan, benar-benar bosan.
Sementara itu, di dalam kamar Sera dan Angga. Sera yang baru saja menidurkan Sherly dan meletakan nya ke box bayi lalu menghampiri suaminya yang sedang duduk di shopa sambil memainkan hp nya.
"Hey, anak kita udah bobok?" Angga menarik tangan Sera dan duduk di pangkuannya.
"Hem." Sera menyandarkan kepalanya di dada bidang Angga dan memainkan dnegan jari telunjuknya.
"Sayang, jangan memancingku, aku malas mau mandi air dingin di malam hari," ucap Angga merem-melek merasakan getaran oleh sentuhan Sera.
"Kenapa harus mandi air dingin jika di depan mata ada?" tanya Sera membuat Angga menatapnya dalam.
"M-maksud kamu?"
Sera tersenyum lalu mengecup pipi Angga lembut.
"B-benaran?" Angga rasa tak percaya. Sera mengangguk malu-malu membuat Angga langsung mengangkat tubuh Sera fan memutar nya senang.
"Makasih sayang, aku mencintai mu." Angga langsung mencium bibir Sera penuh nafsu dan membawanya ke tempat tidur tanpa melepaskan penyatuan bibir nya.
Sesaat lagi pemanasan, Angga sedang menelusuri jenjang leher istrinya dengan tangan yang sudah menjalar Kemana-mana. Tiba-tiba, pintu di ketuk.
"Ngga, Angga buka dong. Ah elo, masih sore udah kunci pintu aja," ucap Bobby yang mengetuk pintu kamar anak mantunya sambil berteriak.
"Mas, Papah," bisik Sera karena Angga tidak mempedulikan nya.
"Biarin aja, nanti juga lelah sendiri," jawab Angga cuek, ia pun kembali melanjutkan aksinya lagi.
"Woy, Angga buka dong. Gue tau lo belum tidur! Main catur yok, bosen nie." Bobby kembali berteriak menggedor-gedor pintu sehingga membuat konsentrasi Angga buyar.
__ADS_1
"Aagggrrrrhh, mertua menyebalkan. Kenapa harus sekarang sih?" geram Angga lalu bangkit dan berjalan untuk membuka pintu dengan kesal. Sera terkekeh melihatnya.
"Apa?" bentak Angga galak membuat Bobby meloncat kaget.
"Buju buset, nie orang kenapa? Galak banget," gumam Bobby.
"Kenape lo?" tanya Bobby seolah tak memiliki dosa.
"Kampret, lo ganggu orang aja lo. Lagi serius-seriusnya juga," kesel Angga menoyor kepala meetuanya.
"Apaan sih, lagian lagi serius apaan coba? Sok sibuk banget jadi orang. Temani gue main catur yuk!"
"Main sendiri, gue sibuk. Dan jangan ganggu, awas lo kalau ganggu lagi."
"Eh sibuk apaan? Paling juga lagi nonton tv, gak bisa kelonan juga, sok sokan bilang sibuk," ejek Bobby.
Angga kembali menoyor kepala Bobby.
"Ini juga lagi mau kelonan pea. Tapi lo ganggu sialan. Sana pergi, lagi mau buka puasa nie," ucap Angga mengusir Bobby mendorongnya menjauh lalu masuk kembali dan menutup pintu. Belum juga melangkah ke tempat tidur. Namun pintu kembali di ketuk oleh Bobby.
"Buka puasa nie ye, ada maling woy, woy maling," teriak Bobby sengaja ingin menggangu sambil menggedor-gedor pintu.
Angga geram, ia kembali membuka pintu ingin menghajar mertuanya itu, namun lelaki tua itu malah berlari kencang kabur agar terhindar dari amukan.
"Emangnya enak?" ledek Bobby mengulurkan lidah nya sebelum masuk ke kamarnya. Angga menghela napasnya mencoba sabar menghadapi mertuanya yang barbar itu.
"Nasib-nasib, memiliki mertua gak ada akhlaknya memang menguji kesabaran ekstra," gumam Angga mengelus dadanya lalu kembali masuk ke kamar agar dapat kembali melakukan yang tertunda. Pada saat masuk dan menutup pintu, ia mematung dengan apa yang ia lihat.
"Tidaaaaaaaaak ...."
Sherly sedang menyusu pada ibunya dengan lahap dan mata terbuka lebar sambil melirik arahnya seolah mengejek.
__ADS_1