
"Kamu ini ngomong apa sih? Gak ngerti drh. Coba kalau lagi ngomong itu harap tenang, bisa?" ujar Adam yang sungguh tidak mengerti dengan ucapan tante nya itu.
Sherly menarik nafasnya dalam-dalam mencoba untuk tenang." Maaf ya sayang, Mamah jadi marah-marah begini," ucap Sherly sembari mengelus perutnya.
"Duduk sini, coba ceritakan. Sebenarnya ada masalah apa? Dan apa hubungannya dengan Yura?" tanya Adam pelan mengajak Sherly duduk di shopa.
Berbicara sembari duduk dengan kepala dingin itu mampu menyelesaikan masalah. Beda hal dengan memakai urat, yang ada semakin membesar-besarkan keadaan.
"Iya, tadi aku ke rumah Yura. Dia sangat sedih, wajahnya nampak murung dan terlihat pucat, dan matanya sembab. Aku yakin jika dia habis nangis terus-menerus," kisah Sherly menceritakan mengingat wajah Sahabatnya tadi.
Adam pun Mengerutkan keningnya bingung. Sudah dua hari ini memang ia tak berkomunikasi dengan kekasihnya itu, dan untuk datang ke rumahnya, ia sangat sibuk di rumah sakit sejak dirinya resmi menjadi dokter di sana. Jadi tak ada waktu untuk mampir sekedar melihat saja. Sedangkan di hubungi, dua hari inu agak susah, nomor Yura tidak aktif, itu juga membuatnya kepikiran sebenarnya.
"Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan padanya, hah?" lanjutnya bertanya penuh selidik.
"Aku gak melakukan apa-apa kok, sungguh. Emangnya dia kenapa?" tanya Adam balik membuat mood Sherly kembali buruk.
"Orang tanya, lo malah tanya balik. Nie bocah benar-benar mintak di hajar," ujar Sherly sinis.
"T-tapi aku benaran gak tau Tante. Aku udah dua hari gak berkomunikasi dengan Yura," ujar Adam dengan tubuh menciut melihat mood Sherly yang sudah mulai merah.
"Cari tau lah, awas kalau lo berani menyakiti sahabat gue." Ancam Sherly dengan tangan menarik kerah baju Adam." Pokonya lo harus temui dd ia sekarang juga, dan tanya sebenarnya ada masalah apa?" sambungnya lagi.
"I-iya, oke." Adam menelan ludahnya, mood ibu hamil sangat menyeramkan.
__ADS_1
"Om Alex ke mana sih, bini lagi mengamuk begini dia malah kabur. Cari aman lah tuh." batin Adam menggerutui Alex yang tak menenangkan Sherly.
"Dah lah, gue mau pulang. Pokoknya besok gue harus udah denger kabar kalau lo dan Yura baik-baik aja. Awas aja pokonya kalau sampai ketahuan sama gue lo main serong." Lagi-lagi Sherly mengancam Adam dengan tatapan tajam pertanda tidak main-main.
Yura adalah salah sayu sahabatnya sekarang ini, sudah cukup dengan Dara yang pergi entah kemana akibat sakit hati di tolak cintanya. Sherly tidak mau lagi sahabat satunya mengalami hal yang serupa. Tak peduli jika itu adalah keponakan sendiri, jika memang benar menyakiti sahabatnya ia tidak akan tinggal diam.
Adan mengangguk cepat, melihat Sherly keluar dari kamarnya. Adam pun menghela lega. Pikirannya kembali pada Yura.
"Sebenarnya dia kenapa? Kalau ada masalah kenapa gak mau cerita ke aku. Mana di telpon nomor g k aktif." Adam mendesah, lagi-lagi nomor Yura tidak aktif seketika ia ingin menghubungi.
Sementara itu Sherly keluar dari kamar dengan wajah cemberut. Alex yang melihatnya pun segera menghampiri.
"Sayang, udah selesai?" tanya Alex hati-hati.
"Hem," jawab Sherly singkat. Alex menelan ludahnya. Menenangkan mood istrinya yang lagi on sangat susah. Harus extra sabar.
"Kok cepet banget, nanti aja lah. Kita makan malam sama-sama," sahut Keyra.
"Iya betul itu, jarang-jarang loh kalian ke sini," lanjut Leo.
"Em ...." Alex melirik istrinya, kalau-kalau takut salah jawab.
Sherly menarik nafasnya mencoba untuk menenangkan hatinya yang tengah kesal.
__ADS_1
"Em, lain kali aja Kak. Lily lagi gak nafsu makan, mau pulang capek banget soalnya tadi habis main di rumah Yura," tolak Sherly halus, nyatanya ia memang lagi tak ingin makan. Malah ingin secepatnya pulang ke rumah karena ingin segera istirahat, marah-marah membuatnya lelah.
"Oh yaudah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya," ucap Keyra. Sherly mengangguk lalu mencium punggung tangan kakak iparnya itu.
"Kami pulang dulu ya Bang, kapan-kapan mampir ke rumah," ujar Alex seketika mencium tangan abang iparnya. Di kantor Leo boleh menghormati Alex selaku bos besar di perusahan. Tetapi di luar kantor, seorang adik iparnya tetep harus menghormati kakak dari istrinya itu, ya itu abang ipar.
"Hem, siapin aja makanan yang enak. Di jamin, bukan hanya aku yang datang, tapi para keluarga sableng lainnya bakalan datang dengan sendiri nya," ujar Leo seraya tertawa. Keyra mencubit pinggang suaminya karena malu.
Selang beberapa menit kepergian Alex dan Sherly. Adam keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapih.
"Loh, kamu nau kemana Nak?" tanya Keyra.
"Keluar bentar Mah. Mau ke rumah Yura," jawab Adam menghampiri sang mamah yang sedang mengeluarkan bahan untuk di masak dalam kulkas.
"Ya udah. Hati-hati aja di jalan ya. Dan jangan terlalu larut pulangnya. Ingat, besok kamu ada praktek pagi-pagi." Keyra mengingatkan.
"Iya Mah. Adam pergi dulu ya." Adam mencium tangan ibunya.
"Selesaikan masalah kamu dengan Yura baik-baik. Jangan sakiti dia, dia gadis yang baik," nasehat Keyra.
"Iya Mah, sebab itulah Adam mau ke sana. Adam yakin pasti ada ke salah pahaman," jawabnya.
"Iya, mudah-mudahan seperti itu."
__ADS_1
"Hem, Ya udah Adam berangkat dulu ya Mah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."-