Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, Sherly sakit


__ADS_3

Di waktu yang sama. Padahal Sherly sudah janjian sama kedua sahabatnya untuk bertemu di cafe. Makan bareng bersama lagi seperti dulu saat ia masih gadis. Rindu masa itu, sebab itulah ia meminta izin pada sang suami sebelumnya. Untunglah Alex suami yang pengertian dan sangat baik. Tentu saja di izinkan asal ingat waktu dan hati-hati saja.


Tepi semua sirna gara-gara badannya drop. Ia bahkan sangat males untuk bangun dari tempat tidur padahal matahari sudah tinggi, hp terus berbunyi panggilan telpon dari Dara.


" Halo," ucap Sherly lemas dengan suara parau.


"Eh curut. Lo di mana? Jangan bilang masih di tempat tidur?" sinis Dara.


"Hem, lo memang sahabat gue yang pintar," jawab Sherly yang masih memejamkan matanya.


"What's! Woy, lo udah gila ya? Kita mau ketemu loh. Yura udah nungguin noh dari tadi, dan elu malah enak-enakan masih tidur," omel Dara, membuat Sherly harus menjauhkan hp nya.


"Sorry banget, kayaknya lain kali aja deh. Badan gue lemes bangat sumpah! Mau bangun dari tidur aja tuh kepala rasanya pening, kayaknya gak enak badan deh," ucap Sherly, Dara pun menghela nafasnya panjang.


"Kebanyakan mantap-mantap sih lo, lemes kan," ejeknya membuat Sherly terkekeh.


"Emang lo tau mantap-mantap itu apa? Ayo lo ngaku," ledek Sherly.


"Tauk ah, sebel. Ya udah lo istirahat aja sono. Biar gue yang jemput Yura."


"Hem, sorry ya. Nanti gue telpon Yura deh. Kalian bersenang-senang lah girls," ucap Sherly.


"Iye, ya udah. Bye ...."


"Bye."


Sherly kembali melanjutkan tidurnya. Badannya benar-benar sangat lemes, kepala pusing bahkan perut rasanya mual. Dan benar saja, ia pun langsung berlari ke toilet untuk memuntahkan isi dalam perutnya yang belum di isi apa-apa.


"Ya Allah, masuk angin apa aku ya? Semalam aku gak tidur pakai baju sih. Mana selimutnya di tarik terus sama mas Alex."


Sherly mencuci mukanya yang nampak pucat. Kepala masih saja terasa pusing. Perlahan ia berjalan kembali ke tempat tidurnya.


Sherly mengambil hpnya lalu menekat nomor suaminya.


Sementara itu, Alex sedang rapat di kantor dengan suasana sangat menegangkan. Para karyawan yang ikut rapat semuanya memasang wajah tegang akibat sang atasan atau direktur perusahaan itu nampak sangat menakutkan saat sedang rapat dengan serius.


"Hp siapa dari tadi berbunyi terus? Apa kalian sudah bosen berkerja di sini, hah?" bentak Alex marah saat mendengar suara dering hp di saat lagi serius-seriusnya.


*I-itu punya Pak Alex," jawab salah satu karyawan memberanikan diri menjawab.

__ADS_1


Dengan wajah dingin Alex merogoh kantongnya lalu melihat siapa yang mau mencari masalah dengannya di saat seperti ini.


"Ehem ...." Alex berdehem mengubah ekspresinya menjadi lembut dan hangat setelah melihat nama tertera di layar hpnya tersebut.


Seluruh karyawan yang ada di sana menghela lega karena sudah terselamatkan dari cekrama yang sangat menegangkan itu.


"Halo sayang," ucap Alex sangat lembut.


Para karyawan melongo, atasan mereka bisa berubah secepat itu saat menerima telpon. Mereka yakin pasti itu dari istrinya. Terima kasih untuk ibu bos saat ini.


"Mas, kepala ku pusing. Perut aku mual. Bahkan aku gak sanggup bangun dari tempat tidur, dan sangat males untuk makan," adu Sherly dengan suara manja.


"Apa? Aku pulang sekarang." Dengan panik Alex bergegas. Ia pergi begitu saja tanpa sekata patah pun dan meninggalkan ruang rapat begitu saja.


"Eh, em ... rapat kita tunda besok," ujar Tina. Semuanya pun dapat menghembuskan nafas panjang dengan lega.


"Selamat."


*****


Dengan kecepatan tinggi Alex mengemudi supaya segera sampai di rumah. Ia sangat khawatir dengan keadaan istrinya yabg baru pertama kalinya istrinya itu sakit saat hidup bersama dengannya.


Alex terus melaju dengan kecepatan. Sesampai di apartemen ia langsung berlari menuju lift dengan tak sabaran.


"Cepat-cepat, cepet," ucapnya tak sabaran saat lift mulai berjalan menuju lantai 21. Setelah pintu lift terbuka, lagi-lagi Alex berlari dengan tergesa-gesa menuju apartemen miliknya.


Alex membuka pintu sendiri dengan kunci yang ia bawa sendiri. Setelah pintu berhasil terbuka dengan langkah lebar Alex berjalan cepat menuju kamarnya di mana Sherly berada di sana.


"Sayang, kamu gak apa-apa?" Alex menerobos masuk sambil mengebrak pintu.


"Astagfirullah Mas. Masuk itu pake salam kek, ketuk kek. Kaget tau gak," omel Sherly dengan suara lemah. Kedatangan suaminya yang tiba-tiba sangat mengejutkan dirinya yang sedang tidur lemas.


"Maaf sayang, aku panik soalnya. Kamu sakit?" Alex duduk di samping sang istri lalu mengecek suhu tubuh istrinya melalu tangan yang di tempelkan ke kening.


"Lumayan panas, kita ke rumah sakit yuk!" ajak Alex.


"Nggak deh, nanti juga sembuh kok. Kan cuma sakit biasa aja Mas, gak perlu lah sampai ke rumah sakit segala. Nanti yang ada bikin heboh dua manusia di sana," ucap Sherly menolak. Dua manusia yang di maksud tak lain tak bukan opah dan papahnya.


"Tapi muka kamu pucat banget sayang. Aku jadi khawatir, mana tadi kamu bilang muntah-muntah terus kan? Takutnya kamu kena muntaber," ucap Alex benar-benar khawatir.

__ADS_1


"Tapi aku gak berak-berak Mas. Cuma pening, perut Milas dan badan lesu, itu aja kok," bantah Sherly.


"Iya tetep aja aku khawatir, kita ke rumah sakit aja ya. Biar kamu juga bisa minum obat supaya cepat sembuh," bujuk Alex lembut sambil mengusap pucuk kepala istrinya.


"Em, nanti aja deh. Sini, bobok sini, aku mau peluk. kangen banget tau," ujar Sherly manja.


Alex hanya tersenyum lalu sekilas mengecup bibirnya. Kemudian ia membaringkan tubuhnya sehingga sang istri dapat memeluk erat.


"Ih kamu baik banget. Mandi dulu sana, aku mau muntah menciumnya." Sherly menutup hidung serta mulutnya seketika mencium aroma Alex.


Alex kebingungan, apa iya dirinya sebau itu. Alex mencium bajunya sendiri, dan bau wangi yang ia cium.


"Bau dari mana? Biasanya aku gak mandi tujuh hari tujuh malam kamu tetep mau nempel kok sama aku. Malah bilang aku masih tetep wangi dan genteng. Tapi sekarang bilang bau?" heran Alex.


Sherly menggeleng yang masih menutup hidungnya. Perutnya merasa mual, dengan cepat ia segera turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi dan muntah di closed.


Alex cemas, ia membantu Sherly memijit tengkuknya pelan.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Alex sangat khawatir, apa lagi seketika melihat wajah pucat istrinya.


"Kita ke rumah sakit, sekarang!" tegas Alex seakan tak ingin di bantah lagi.


"Tapi kamu mandi dulu, dan ganti baju. Aku benar-benar gak tahan mencium aroma tubuh kamu," ujar Sherly yang kembali menutupi hidungnya.


Alex menghela, dengan pasrah ia menuruti kemauan istrinya yang sangat aneh itu. Berbeda dari biasanya, sebenarnya ada apa dengannya? Alex sangat heran.


Setelah mandi, Alex melihat istrinya yang tertidur di shopa. Dengan wajah yang pucat serta bibir yang pucat, rambut berantakan. Alex sangat kasihan melihatnya. Tapi tetep saja wanita di hadapannya ini masih terlihat cantik di matanya.


"Kita ke rumah sakit ya." Alex menggantikan baju Sherly dengan sangat telaten.


Pelan-pelan ia membuka dan memasangnya. Setelah selesai Alex menggendongnya pelan dan membawanya menuju mobil. Secepatnya Alex melajukan mobilnya dengan tangan yang menggenggam tangan Sherly erat. Bahkan sesekali ia mengecupnya lembut.


Sesampai di rumah sakit. Alex kembali menggendong Sherly.


"Woy, anak gue kenapa? Lo apain dia sampai pingsan begitu?" tanya Angga yang melihat menantunya menggendong anaknya dengan mata terpejam. Angga sudah seuzun yang tidak-tidak saja. Dasar pak tua.


"Nanti saja bertanya nya. Coba Papah periksa keadaan Lily dulu," jawab Alex yang malas meladeni mertuanya yang tidak pernah ada habisnya itu saat berdebat.


"Iya udah cepatlah lo bawa dia ke ruang gue," ucap Angga. Alex mengangguk lalu berjalan menuju ruangan Angga untuk di periksa.

__ADS_1


__ADS_2