Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, hari yang sibuk


__ADS_3

Pagi hari mau menyapa, cuaca sangat dingin. Beda jauh jika di bandingkan dengan negara sendiri. Alex terus memeluk erat istrinya mencari kehangatan di sana. Sherly sebenarnya sangat malas untuk bangun, namun jam alarm sudah berdering dan ingat jika hari ini Alex harus bangun pagi karena ada kerjaan bisnis proyeknya yang sedang menanti. Harus profesional bukan?


"Mas, bangun." Sherly membangunkan.


"Malas sayang, maunya kelonan aja, dingin." Alex semakin mempererat pelukannya dengan nada malas tanpa membuka mata.


"Mas, udah janjikan semalam. Ayo bangun, jangan sampai tuan Takasi menunggu mu," ujar Sherly. Spontan Alex membuka matanya mendengar nama lelaki itu.


"Jangan menyebut namanya, aku gak suka," ucap Alex kesel dengan nama itu.


"Ya kalau gak mau aku menyebut namanya lagi, makanya bangun hari sudah mulai siang jangan malas deh." Sherly menarik paksa tangan suaminya agar segera bangun.


Alex menghela nafasnya bangkit dari tidurnya." Kiss nya mana?" Alex menunjuk pipinya sambil mengembukan pipinya dengan lidah.


Sherly tersenyum lalu mendekat. Cup, pipi kiri dan kanan, kemudian mendarat di bagian bibir cukup lama bermain di sana


"Udah ah, bangun sana buruan mandi, gosok gigi bau jigong tau," canda Sherly pura-pura bau sambil menutup hidung dan mulutnya.


"Bau jigong, bau jigong tapi doyan kan?" ledek Alex sembari mencolek-colek pinggang Sherly


"Dasar ... sana mandi." Sherly mendorong tubuh Alex agar segera mandi.


"Mandi bareng yuk!" goda Alex.


"Maaaaaas!" Sherly melotot sambil berkacak pinggang.


"Hehehehe canda mandi, galak benar sih istri ku ini." Alex berjalan menuju kamar mandi. Sherly hanya geleng-geleng memandang punggung suaminya.


"Dasar mesum," gumam Sherly dengan wajah merona. Ia menyiapkan baju untuk suami nya itu kerja. Tak lupa memesan sarapan dari hotel ini.


"Kamu gak mandi Yang?" tanya Alex di ambang pintu sambil mengeringkan rambutnya.


"Nanti aja deh, dingin" jawab Sherly sambil menyiapkan sarapan yang udah datang.


"Mandilah, kan ada air panas. seger loh," ucap Alex.


"Nanti aja lah Mas, cuaca dingin banget aku mau lanjut bobo lagi kalau udah agak siangan baru mandi," ucap Sherly sambil menyengir.


"Gak boleh kayak gitu, pokoknya harus mandi. Setelah mandi boleh kok tidur lagi," perintah Alex tegas.


"Hem, baiklah nanti aku mandi. Sekarang kamu sarapan dulu ya, aku udah siapin."


Keduanya sarapan bersama, di Jepang Sherly tak kenal makanannya. Dan untungnya ada sandwich dan susu hangat sehingga ia dapat memesan itu saja untuk sarapan pagi, kalau makan yang berat-berat rasanya perut tidak mencerna dengan baik.


Setelah sarapan selesai....

__ADS_1


"Aku berangkat dulu ya, ingat! Jangan pergi ke mana-mana apa lagi keluar sana-sini. Ini di Jepang, kamu gak tau daerah sini, tunggu aku selesai kerja setelah itu kita jalan-jalan sepuasnya," ujar Alex tegas, mencoba agar istrinya itu mau mengerti. Ini bukan Indonesia yang jika tersesat masih bisa di cari tapi negara orang yang tidak mengenal satu orang pun.


"Iya saumiku sayang, aku bakalan sabar kok menunggu. Sudah ikut aja sangat bersyukur banget," ucap Sherly pengertian, ia merapihkan baju Alex.


"Makasih ya sayang, kamu memang istri ku yang baik dan pengertian. Kalau begitu aku pamit dulu ya." Alex mengecup keningnya lembut.


"Hati-hati ya Mas, kalau kerja yang semangat. aku selalu mendoakan untuk mu dan keselamatan mu, semoga Allah selalu melindungi mu di mana pun kamu berada," ucap Sherly saat mencium tangan Alex.


"Iya sayang, makasih. Love you!"


"Love you to more Mas, dah." Sherly melambaikan tangan saat Alex berjalan sudah agak jauh bersama Naruto yang sudah menunggunya.


"Ya Allah, lindungi lah suami hamba dimana pun ia berada. Lancarkan lah segala urusannya, berilah ia kekuat agar selalu semangat dalam mencari nafkah, bawalah ia pulang dalam keadaan baik-baik saja, amin."


Sherly mendoakan suaminya agar di setiap tetes keringat nya selalu membawa berkah. Berapa pun penghasilannya kelak, Sherly selalu mensyukuri, dan Alhamdulillah karena suaminya kembali dalam keadaan sehat. Itu sudah cukup baginya.


Tak ada kesibukan yang di lakukan Sherly selain tidur, rebahan, nonton tv, baca buku. Dan sekarang ini i sedangkan baca buku, ada banyak yang ia baca. Ada tentang percintaan, hubungan intim, tentang rumah tangga yang harmonis, resep masakan dan tentang cara merawat anak dengan baik. Mengingat anak, Sherly meraba perutnya.


Ia tersenyum membayangkan ada janin di dalam sana, rasanya tak sabar dirinya di panggil mamah. Walau usia masih muda namun ia tak menyesal karena menikah muda. Justru ia bersyukur karena mendapatkan sosok suami yang sangat baik, pengertian serta sangat mencintai dirinya. Berterima kasih pada Devan, karena berkat dirinya ia bisa menikah dengan Alex.


"Semoga kamu segera hadir ya Nak, Mamah dan Papah menanti kehadiranmu," ucap Sherly yang terus mengusap perutnya.


Hari semakin tinggi, Alex sangat sibuk dengan proyek barunya. Ia tak sempat menelpon istrinya. Namun ia masih sempat mengirimkan pesan singkat yang ternyata sudah ia ketik dari pagi saat ia dalam perjalanan, ia tau pasti akan sangat sibuk hari ini. Dan benar saja seperti dugaannya.


Sayang, maaf ya sepertinya hari ini aku sangat sibuk. Mungkin nanti malam akan pulang sedikit terlambat. Kamu jangan lupa makan ya, pesan aja semau kamu di hotel itu, karena kebutuhan kita semuanya sudah di sediakan jadi gak perlu khawatir dengan harga. Pesanlah makanan yang banyak supaya kamu gak kelaparan, jangan lupa buah-buahan juga ya. Aku selalu mencintaimu istri ku.


"Aku juga mencintaimu suamiku." Sherly langsung memesan makanan dan buah-buahan.


"Makanan orang Jepang enak-enak, kalau begini mah gue bisa-bisa jadi gemuk. Huuuuf, tapi sayang banget kalau gak di makan, aaakkkkh bodok amat lah, nanti tinggal diet lagi kalau udah di Indonesia," ucap Sherly yang terus menikmati makan orang Jepang yang sudah ia pesan.


Setalah satu jam selesai makan, Sherly kembali duduk santai sambil membaca buku. Tiba-tiba bel pintu kamar hotel nya berbunyi.


"Eh, siapa yang datang?"


Karena penasaran, Sherly menghampiri dengan perlahan. Ia tak langsung membukanya, Sherly intip dari lubang kecil yang ada di pintu, terlihat jelas seorang laki-laki berpakaian seperti tukang mengantar makan dengan kotak yang di bawanya. Sherly dapat melihat jika itu adalah makanan karena nampak gambarnya berupa ayam.


"Siapa yang mengirim makanan kesini? Gak mungkin Mas Alex 'kan ya? Soalnya kalau iya masa gak kasih tau, dan juga kan tadi di pesan aku di suruh pesan sendiri kan."


Sherly yakin jika itu bukan dari suaminya, walau iya. Ia juga tidak akan membukakan pintu, waspada itu penting mending gak usah si buka dari pada dapat masalah besar. Takut juga jika itu adalah orang jahat.


"Biarlah, jika memang dari mas Alex kan salah sendiri kenapa gak kasih tau."


Sherly kembali ke shopa dan melanjutkan membaca bukunya dan membiarkan bel berbunyi terus-menerus.


Satu jam berlalu, orang yang membawa kontak itu menelpon.

__ADS_1


"Maaf tuan, seperti nya nona tidak mau membukakan pintunya untuk mengambil makanan yang anda pesan. Saya sudah menunggu sampai 1 jam di depan pintu sambil terus menekan bel," ujar orang itu.


BRAAAAK .... karena kesal, lelaki itu melempar handphonenya hingga hancur berkeping-keping.


"Hahahaha, kau semakin menarik Sherly. Aku semakin menginginkan ku," ucapnya dengan suara tawa jahatnya hingga menggema di ruangan.


Malam hari semakin larut, Alex terus fokus dalam pekerjaan nya. Tak ada kenal lelah, ia harus semangat demi masa depan keluarga tercinta.


"Alex, bagaimana hari ini! Lancar?" Tiba-tiba Takasi menghampiri.


"Eh Tuan Takasi. Apa kabar, semoga sehat selalu ya," ujar Alex menjabat tangan.


"Alhamdulillah lancar seperti jalan tol, bersyukur tidak ada halangan," lanjutnya, Alex menjelaskan tentang proyek yang ia kerjakan hari ini bersama tim-nya, dan hasilnya sangat memuaskan Takasi.


"Bagus, dari awal saya sudah yakin dengan anda Tuan Alex. Sebab itulah saya percaya untuk bekerja sama dengan perusahaan anda karena kegigihan dan tekat anda yang meyakinkan saya," ujar Takasi bangga, ia salut sebenarnya dengan kerja keras Alex.


"Hahahaha, anda terlalu memuji saya Tuan. Saya tidak lah sehebat itu," ucap Alex merendah diri sendiri.


"Hahaha, tapi kau memang hebat. Senang bisa berkerja sama dengan mu lagi. Oh iya, bagaimana kalau kita makan-makan dan minum sebentar, untuk merayakan kesuksesan untuk hari ini," ajak Takasi.


Alex melirik jam tangannya." Tapi istri saya sudah menunggu, Tuan Takasi. Kasihan jika terlalu lama ditinggal." Alex menolak, karena memang tak tenang meninggalkan istrinya sendirian di hotel.


"Istri mu tidak akan hilang atau meninggalkan mu bukan? Lagian hanya sebentar saja, dia pasti pengertian. Bilang saja aku yang mengajak," ujar Takasi membujuk.


Alex menghela nafasnya, tidak enak juga jika menolak." Baiklah, tapi saya harus menelpon nya dulu, nanti dia bisa marah," ucap Alex.


"Hahaha, seperti nya kau sangat takut pada istri mu ya," ujar Takasi dengan nada mengejek.


"Tentu saja, anda tidak akan tau karena belum menikah. Jika anda sudah memiliki istri nanti, anda akan merasakan sendiri jika istri marah itu sangat menakutkan melebihi saat berhadapan 10 preman di jalan," ujar Alex.


"Oh benarkah?" Takasi tak percaya.


"Tentu, kalau gak percaya menikahlah. Jangan terlalu lama jomblo, nanti keburu karatan dan akan bertahan 3 menit saja," ucap Alex, secara tidak sadar jika itu adalah ucapan untuk dirinya sendiri.


Takasi tertawa, mana mungkin ia seperti itu. Walau memang jomblo secara nyata. Namun secara pribadi banyak wanita di sekelilingnya, wanita panggilan yang hanya untuk membuang hasratnya. Jadi mana mungkin ia hanya bisa bertahan 3 menit apa lagi sampai karatan. Soal percintaan Takasi ahlinya.


Sesaat keduanya sudah berada di bar. Di ruangan pribadi Takasi.


"Kenapa kau tidak minum Alex, cobalah. Ini sangat enak," ujar Takasi menawari.


"Terima kasih, tapi saya harus menghormati istri saya di rumah. Saya akan meminum karena juga menghormati anda, tapi tidak banyak. Maaf," ujar Alex sopan.


"Hahahaha, kau begitu setia pada istri mu ya," ucap Takasi sambil meneguk minumannya.


"Tentu saja, untuk apa lagi saya mencari wanita lain sedangkan di rumah sudah ada yang sempurna. Cantik dan sangat menggoda, saya beruntung bisa mendapatkan istri seperti dia, saya mencintai dia dan dia mencintai saya. Kami berdua sudah berjanji akan hidup semati, tidak akan saling meninggalkan dengan keadaan apapun," ujar Alex tersenyum membayangkan wajah cantik istrinya. Ia meneguk segelas kecil minumnya.

__ADS_1


Takasi terdiam, ia mengangguk membetulkan ucapan Alex. Ia mungkin akan sangat beruntung juga jika Sherly menjadi istrinya.


"Kenapa anda belum menikah?" tanya Alex, Takasi jauh lebih tua dari umur nya.


__ADS_2