Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, rebutan.


__ADS_3

Pada akhirnya Alex mengalah. Namun sebelum pergi ia berendam pada air dingin dulu sebelum pergi agar si Ucok bisa tenang. Ini juga salahnya sendiri yang tak tanya lebih dulu, dan lagi istrinya itu sedang lagi sensitif, mungkin karena lagi PMS jadi apa-apa bawaannya pengen marah terus, cara bicara seakan menjadi galak. Namun untungnya Alex begitu sabar menghadapinya. Ia juga pernah mendengar jika wanita lagi PMS sensi nya tinggi, ibaratnya senggol dikit bacok.


"Udah selesai mandinya?" tanya Sherly.


"Iya sayang, aku berangkat dulu ya. Hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa cepet telepon aku," pamit Alex mengecup kening istrinya.


"Iye, bawel amat sih?" jawabnya ketus, Alex hanya tersenyum menanggapinya sambil terus menatap istrinya itu.


"Apaan sih, kok liatin aku gitu. Ada yang salah?" tanya Sherly merasa risih.


"Galak amat sih sayang, tapi galak-galak masih cantik aja kok," goda Alex.


"Boong banget jadi orang, bilang aja kalau aku galak dah kayak nenek-nenek. Iya kan?" tuduh Sherly.


"Ya Allah gemesnya istriku ini. Jadi makin cinta deh, sayang aja lagi dapet. Coba kalau enggak, udah aku makan deh kamu," gemes Alex sambil mencubit kedua pipi istrinya.


"Iih apaan sih, sudah sana pergi. Aku udah risih banget ini, udah pengen ganti." Sherly mendorong suaminya keluar dari apartemen.


"Cium dulu dong, biar semangat ini." Alex menunjuk sebelah pipinya sambil menahan senyum.


"Iih apaan sih Mas." Sherly malu, wajahnya sudah sangat merah.


"Mau aku berangkat gak? Kalau gak cium, aku gak mau jalan," ancamnya sambil melipat kedua tangannya di dada.


Sherly menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian ia mendekatkan wajahnya sambil menutup mata hendak mencium pipi Alex. Namun lelaki itu tersenyum licik, ia langsung menahan tengkuk leher Sherly dan ia pun mencium bibir istrinya itu.


"Ih dasar curang." Sherly memukul dada Alex. Dan Alex pun hanya tertawa membalas nya.


"Manis banget sih, terima kasih istriku." Alex langsung berjalan ke arah lift.


"Dasar." Sherly masuk lalu menutup pintu. Ia bersandar di pintu sambil menyentuh bibirnya. Ada rona di sana seketika melintas wajah suaminya di dalam pikirannya itu. Sherly pun berdebar, perasaan apa ini? Apa mungkin dirinya sudah terposna pada suaminya itu. Secepat ini kah? Sherly masih menetapkan hatinya.


******


Sementara itu, Alex mengendarai mobil sambil terus mencari di mana Indo/Alfa masih buka. Hari semakin larut, jam pun sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat. Kecil kemungkinan masih ada yang buka kecuali 24 jam.


Alex terus mencari, hingga keberuntungan nya pun berpihak padanya. Ada indo yang masih buka sampai jam 12 malam. Bergegas Alex turun dan segera membeli pesanan istrinya itu.


"Em, permisi. Kalau bagian pembalut wanita ada di mana ya?" tanya Alex tanpa malu. Ia tak peduli jika karyawan kasir Indomaret itu sedang menahan senyumnya.


"Di sebelah sana Om," tunjuk nya sopan. Alex pun mengangguk lalu langsung berjalan ke arah yang di tunjuk itu.


"Ya ampun, ganteng banget sih," puji kasir wanita itu terpesona.


"Iya, udah ganteng suami idaman pula. Pasti istrinya beruntung banget."


"Ah, boleh gak sih dapatin suami sama seperti dia? Ya Tuhan, Kiram kan kembarannya untuk ku."


"Menghayal aja lo, kerja-kerja."


"Ah elu, ganggu aja kesenangan orang aja."


Sementara itu. Alex menelusuri dari ujung ke ujung untuk mencari benda berharga bagi para wanita saat lagi datang bulan tersebut.


"Banyak banget mereknya. Ah tadi lupa maunya merek yang mana? Apa ajalah yang penting bersayap bukan?" Alex terus mencari.


"Aneh juga? Apa bedanya coba yang bersayap sama tidak? Memang lelaki tidak mengerti sama sekali." Alex menggaruk-garuk kepalanya merasa heran.


Saat tengah asik mencari, matanya menangkap satu bungkus yang ada gambar sayap di kedua pinggiran itu. Ia yakin jika inilah yang di maksud oleh istrinya.


"Akhirnya ketemu juga." Dan ternyata bukan hanya suara satu orang. Melainkan ada dua suara, Alex yakin jika seseorang di sebelah nya ini sedang mencari benda yang sama. Tanpa menunggu lama, Alex langsung mengambil bungkusan pembalut bersayap tersebut.


Saat ia menarik, tiba-tiba tertahan. Dan ternyata orang di sebelah nya itu juga mengambilnya.


"Maaf, ini punya saya karena saya duluan yang melihatnya," ucap Alex yang belum melihat ke arah orang tersebut.

__ADS_1


"Tapi saya duluan yang meraihnya," jawabannya. Alex merasa tak asing dengan suara tersebut, ia pun menoleh.


"Papah Angga?"


"Eh, elu. Ngapain di sini?" tanya Angga yang masih mempertahankan bungkusan tersebut.


"Papah sendiri ngapain di sini?" tanya Alex balik, ia pun tak mau kalah. Bahkan berani menarik bungkusan pembalut tersebut.


"Lagi buang hajat, ya lagi belanja lah. Lo kira orang-orang datang kesini mau ngapain?" ketus Angga, ia pun menarik benda itu.


"Oh, kirain mau jalam-jalan doang." Alex kembali menariknya lagi.


Angga menghela nafasnya.


"Alex, kamu tau aku ini siapa?" tanya Angga. Entah pertanyaan macam apa itu.


"Ya tau lah, pake tanya lagi. Papah adalah Papahnya istri Alex dan Papah mertua Alex," jawab Alex yang sebenarnya sangat malas menjawab.


"Tuh tau, kalau begitu bisa dong lo lepas. Lo cari aja yang lain karena gue mau cepat," ucapnya maksa.


"Maaf Pah, tapi Alex gak bisa. Nanti Lily marah," jawab Alex menolak.


"Set dah nie bocah, Badung banget." gumaman Angga." Bini gua juga bakalan marah, Bahakan lebih galak dari pada bini lo. Lo tau kan kalau ibu negara kalau sudah marah kayak apa?"


Alex menggeleng.


"Kayak singa betina, garang. Tidak ada yang bisa menandinginya. Makanya lo jangan macam-macam sama ibu negara. Cepatan lepas, biar gue bisa cepet pulang," ujar Angga.


"Tapi kalau Lily marah gimana? Soalnya cuma di sini aja yang masih buka. Mana sisa satu pula," ucap Alex.


"Ah, gue udah kenal Lily dari dia masih orok. Dia itu anak yang baik sama kayak gue. Dia pemaaf sama kayak gue. Jadi dia gak akan marah sama seperti mamahnya, percaya lah," ujar Angga. Alex pun berpikir sejenak.


"Tunggu, Alex telpon Lily dulu."


"Set dah nie bocah, kelamaan. Kalau bini gue marah terus gue di suruh tidur di luar awas ye lo," ancam Angga, Alex acuh. Ia menelpon istrinya.


"Maaf sayang, em ... pembalut nya udah habis, gimana beli yang gak pake sayap aja, mau?" ucap Alex.


"Nggak, pokonya harus yang ada sayapnya. Kamu gak akan tau gimana gak enaknya kalau gak pake sayap. Nanti kemana-mana, pokonya harus beli yang ada sayapnya, titik."


"Mana tau, gak pernah nyoba," gumam Alex." Ada sih satu, tapi di rebut sama Papah Angga." adu Alex.


"Dasar mantu sialan, kena omel pula gue pasti dari anak. Dasar laki laki takut bini," ucap Angga menggerutu.


"Pah ini Lily mau ngomong," ujar Alex menyodorkan hp nya.


"Halo sayang."


"Papah, kasih cepat pembalut itu sama Mas Alex. Kalau nggak Lily bakalan marah sama Papah."


Angga menjauhkan handphone itu dari kupingnya. Ia pun langsung matikan.


"Gak emaknya, gak anaknya. Ternyata kalau lagi sama dapet melebihi singa betina. Garang," ucap Angga mengusap kupingnya yang terasa pekak.


"Tuh kan, terus gimana dong. mana cuma satu? Kalau pulang gak bawa sesuai pesanan nya, habis lah sudah," keluh Alex.


"Huuuuf, entah apa bedanya? Yang bersayap sama nggak. Padahal sama-sama pembalut, tinggal sumpel aja kan bisa, lalu apa susahnya harus yang bersayap-sayap segala." heran Angga.


"Wanita memang sulit di mengerti, tapi maunya di mengerti, padahal sendirinya tak mau mengerti."


Alex dan Angga sama-sama mendesah.


"Huy, lo berdua lagi apa?"


Alex dan Angga menoleh.

__ADS_1


"Eh, si curut. Ngapain lo di sini? ngikuti gue," ucap Angga malas.


"Eeeh, sorry ndori tralala, trilili ya Bro. Jangan kegeera tingkat dewa banget jadi orang, siapa juga yang ngikutin situ, emangnya lo pikir gue ini cowok apaan?" ucapnya, siapa lagi jika buka Bobby. Sohibnya Angga, alias mertua tercintanya Angga.


"Ya kali," jawab Angga. Alex hanya tersenyum mendengar mereka berdua.


"Cuit-cuit. Mesrah amat lo berdua? Ampe pengan itu aja barengan," ledek Bobby saat melihat Angga dan Alex sama-sama memegang benda yang sama.


"Sirik aje lo," sinis Angga menjawab." Jangan bilang lo kesini karena bini lo lagi dapet juga?"


"Eh, kok lo tau? Jangan-jangan lo ngintip ya?" tuduh Bobby penuh selidik.


"Dasar pea, lo ke arah sini pasti mau beli pembalut kan?"


"Kok lo bisa tau lagi? Wah jangan-jangan lo benaran ngintip ya. Wah gak bisa di biarin ini."


Angga pun langsung menendang kaki sahabatnya itu.


"Pea," ucapannya kesal.


"Dah lah, males gue ribut ma lo. Mending gue langsung beli pembalut aje, terus pulang." Saat Bobby hendak mencari, ia melihat kearah bungkusan yang masih di pegang oleh menantu dan mertua tersebut.


"Lo berdua gak butuh ini kan? Gua ambil aja ya, dan kalian cari yang lain aja," ucap Bobby seenaknya, ia pun langsung dapat pelototan horor dari Alex dan Angga.


"Mimpi!" ucap keduanya kompak.


"Cih ile, menantu dan mertua. Kompak bener," ucap Bobby sambil menyengir kuda layaknya tak berdosa.


"Lagian kenapa cuma sisa satu aja sih? Dan kenapa pula bini kita harus kompakan dapetnya?" ucap Bobby.


"Mana tau, janjian mungkin," sahut Angga.


"Apa lagi musim nya kali ya," sela Alex. Keduanya pun mengangkat bahu mereka.


"Terus gimana nasib kita ini. Makin lama makin marah bini kita nanti. Gak dapat jatah gak apa, asal jangan tidur di luar kamar. Setidaknya masih bisa mimik cucu," ucap Bobby asal ceplos.


"Dasar mulut lemes, ember. Kalau ngomong asal ceplos aja, sialan," komentar Angga.


"Alah, kayak lo gak aja. Kan sekalian ajarin anak baru," jawab Bobby.


"Anak baru? Maksud nya?"


"Tuh, anak baru nikah. Biar gak boring bangat saat bini lagi dapet," ucap Bobby.


"Dasar sableng, ngajarin gak bener lo." Angga menoyor kepala mertuanya.


"Kan elu guru gendeng nya," sahut Bobby.


Saat Angga tengah lengah, Alex perlahan menarik bungkusan di tangan mertuanya itu. Setelah dapat, ia pun diam-diam menuju kasir dan segera membayar nya.


"Papah, Opah. Alex duluan ya, dah."


Angga dan Bobby melongo menatap kepergian Alex. Sesaat ia pun sadar melihat benda ditangannya kosong.


"Woy, dasar menantu durhaka, sialan. Sini lo, gue geprek lo jadi pepes ayam." teriak Angga.


"Alex, gue minta dua bungkus dong


Dari pada pulang bawa tangan kosong doang," teriak Bobby.


"Sialan ni bocah, gue juga minta


Awas lo kalau gak kasih, gue pecat lo jadi mantu gue," ucap Angga mengancam.


"Itukan ucapan gue buat lo, ikut-ikutan aja, bayar woy, bayar."

__ADS_1


Angga hanya menatap mertuanya itu malas, kepalanya semakin pening. Mertuanya saja sudah bikin dirinya sakit kepala, jangan sampai menantunya ikut-ikutan juga, sudah cukup besan saja yang jadi sableng. Bisa-bisa makin pecah kepalanya.


__ADS_2