
Setelah cukup lama perjalanan, Angga dan sera telah sampai di depan rumah. Dan di sana baru saja mobil masuk kedalam halaman rumah dan itu adalah mobil Leo dan Keyra.
"Hay. "sapa Sera pada Keyra.
" H-hey."
"Kamu ini, kita udah berteman dari SMP, kenapa sekarang malah canggung sih? aku mau kita kembali lagi seperti dulu, gak pake protes! "ucapnya tegas, lalu merangkul lengan Keyra," ayo masuk. "
Keyra dan Sera berjalan lebih dulu dari kedua lelaki yang hanya memandangi mereka dari belakang dan mengekor mengikuti langkah keduanya.
" Ck, suaminya malah di tinggal, "gerutu Angga bergumam, cemburu padahal Sera menggandeng tangan seorang perempuan bukan laki-laki.
" Selamat datang di rumah menantu-menantuku."eyang Endang menyambut kedua wanita itu di depan pintu, lalu memeluknya secara bergantian.
Sera dan Keyra tersenyum lalu mencium punggung pucuk tangannya.
"Mari masuk sayang,"ajak eyang menggandeng keduanya.
"Ibu, sepertinya kau melupakan sesuatu!"ucap Angga.
"Tidak, lagi pula ibu ini masih belum terlalu tua. Daya ingat pun masih begitu kuat apa yang terlupakan? tidak ada, "jawabnya enteng.
" Tapi ibu melupakan anakmu,"rajuk nya, lagi-lagi cemburu.
"Memang nya kamu siapa?"canda sang ibu.
Angga membelalakkan matanya,"secepat itukah kau melupakan anak kesayangan mu wahai ibu negara? "protes nya.
" Sekarang kamu bukan lagi anak kesayangan ibu, karena sekarang sudah ada dua menantu yang akan menjadi kesayangan ibu. Jadi kamu menyingkir lah jauh-jauh... hus... hus.. "
__ADS_1
" Astagfirullah, ada ya ibu model begitu? "
Angga tak dapat berkutik lagi, apa lagi saat istri dan menantunya sudah di bawa masuk kedalam kamar oleh sang ibu. Tak dapat lagi ia lakukan, protes pun percuma dan hanya pasrah untuk sementara berpisah dengan sang istri tercinta, padahal ingin cepat -cepat masuk kedalam kamar, untuk kelonan.
Lain hal dengan Leo, sedari tadi ia hanya tersenyum melihat interaksi ibu dan anak tersebut. Ia benar-benar kagum pada ayahnya, walaupun usia tidak lagi muda namun masih begitu manja kepada sang ibu tanpa ada rasa malu sama sekali i, bahkan di depan kedua wanita yang baru saja menjadi bagian anggota keluarganya.
Terkadang Leo berpikir, andai ibunya masih hidup. Apakah ia akan memiliki sifat yang sama seperti papahnya, manja kepada ibu? mungkin akan seru bila di bayangkan, Leo pun tersenyum pahit teringat akan ibunya yang sudah tiada, sehingga ia merasa tak seberuntung papahnya yang masih bisa bermanja-manja hingga sampai sekarang ini.
Leo hendak melangkah, ingin memasuki kamar namun sang ayah memanggil menghentikan langkahnya.
"Leo, boleh papah bicara? "pinta Angga.
Leo mengangguk, lalu mengikuti langkah sang papah menuju arah teras di bagian luar rumah.
Angga bersandar duduk di kursi teras, sambil mengangkat satu kakinya menatap langit -langit.
" Apa yang ingin papah bicarakan? "Leo bertanya, sesungguhnya ia masih canggung untuk berhadapan dengan Angga.
" Le... seperti yang kau tau sekarang, papah sudah menikah, dan dia sudah menjadi ibu kamu. "Angga langsung berbicara pada intinya.
" Leo tau, lalu apa yang papah ingin dariku?"jawabnya.
"Sekarang ini papah dan Sera untuk sementara akan tinggal di sini, setidaknya sampai papah membeli rumah sendiri untuk kami berdua. Dan papah mohon sama kamu untuk jaga sikap, papah tau kamu masih memiliki perasaan sama Sera. Tapi bagaimana pun juga sekarang dia adalah istri papah dan sudah resmi menjadi mamah tiri kamu, dan tidak mungkin kembali lagi sama kamu! "
Hati Leo benar-benar sakit, namun ia mencoba untuk menyembunyikan perasaannya.
" Leo tau, dan Leo sadar. Leo sudah mengatakannya pada papah bukan? kalau Leo sudah ikhlas melepaskan Sera untuk papah asal kalian bahagia, Leo juga akan bahagia,"jawabannya dengan suara gemetar menahan rasa sesak di dada.
" Akan tetapi, sejujurnya Leo iri, benar-benar iri sama papah. Sesungguhnya Leo selalu memohon kepada Allah untuk memutar balik waktu kembali. Mungkin saat ini yang ada di sisi Sera adalah Leo, yang memeluknya erat menggandeng tangannya juga Leo. Tapi sayangnya Allah lebih menyayangi papah dari pada Leo! "lanjutnya mendesah merasa kasihan pada diri sendiri.
__ADS_1
Angga mengepalkan tangannya, menatap anaknya.
" Hahahaha, santai lah, pah. Itu terjadi sebelum hari pernikahan. Dan sekarang tidak terjadi 'kan? toh Sera juga sudah menjadi mamah tiri Leo, apa yang bisa Leo lakukan selain menerimanya."
Leo tertawa melihat tampang Angga yang sedang menahan amarah padanya.
"Hargailah seorang wanita, jangan pernah menyia-nyiakannya. Jangan sampai menyesal untuk yang kedua kali! "ucap Angga menepuk lengan Leo lalu berlalu masuk kedalam rumah.
Leo hanya tersenyum kikuk, bohong jika hatinya saat ini tidak terluka. Rasa cinta begitu besar pada Sera masih membekas di hatinya, melupakan seseorang tidak semudah dan segampang itu, membutuhkan waktu seumur bisa kemungkinan, Leo menghirup udara malam, menatap langit yang terang oleh ribuan bintang di angkasa.
Wajah cantik Sera masih terbayang di benak nya, seolah lukisan wajahnya nampak di antar ribuan bintang tersebut yang mengukir wajah mantan kekasihnya. Lukisan indah itu ada di dekatnya namun begitu jauh untuk ia gapai sehingga tak ada harap lagi untuk mendapatkannya. Ingin menyalahkan tapi siapa yang di salah, ingin marah namun pada siapa yang akan kena sasarannya.
"Sera... "Leo menitikkan air matanya, menyesal tak ada gunanya sekarang. Yang ia lakukan hanyalah ikhlas dan merelakan karena cinta tak harus memiliki, asal dia bahagia itu sudah cukup baginya.
" Semoga kamu dan papah bahagia, aku juga akan bahagia untuk kalian. Maaf sudah menyakitimu, kamu memang pantas mendapatkan yang lebih baik dari pada aku. Semoga kamu bahagia sayang, aku hanya berharap semoga kamu selalu bahagia. "
Leo masuk kedalam rumah, setalah beberapa saat berdiam diri di teras luar untuk memenangkan diri. Ia berjalan menuju kamarnya dan membuka pintu, ia melihat Keyra sedang mengerikan rambutnya yang hitam lebat dan panjang.
" Leo... "Keyra menghampiri suaminya.
" Hey, kamu udah mandi? "tanya Leo.
" Iya, apa kamu mau mandi? aku akan menyiapkan air untukmu. "
" Terima kasih. "
Keyra mengangguk seraya tersenyum lalu menganyunkan kakinya melangkah menuju kamar mandi perlahan.
Leo memperhatikan, lalu menghela.
__ADS_1
" Inilah wanita yang sekarang harus aku perhatikan, seorang wanita yang sekarang adalah istriku, yang sedang mengandung anakku, darah daging ku."Leo bergumam menatap Keyra hingga menghilang masuk kedalam kamar mandi.
Menerima wanita lain dalam hatinya mungkin lebih baik, tak ada salahnya mencoba untuk belajar ikhlas menerima. Walaupun kenyataannya agak sulit, tetapi ia harus tetep bertahan dalam menjalani rumah tangga bahtera tanpa adanya cinta dan berharap cinta akan datang dengan sendirinya.