Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Episode 117


__ADS_3

Abian menatap ibunya serius yang tengah memarahinya.


"Bun ...."


"Kamu selalu saja membuat Bunda marah Abian, di suruh menikah kamu selalu saja. menolak. Dan sekarang apa yang kau lakukan, mengabaikan ayahmu yang mengurus semua."


Abian menghela nafasnya panjang, ia kembali menatap ibunya.


"Kenapa lagi? Mas Abian membuat bunda marah lagi?" tanya sang adik yang bernama Riska tersebut.


"Ya begitulah, bunda mu selalu marah-marah padahal sudah tahu ada darah tinggi," heran Abian.


"Emangnya Mas habis dari mana? Sampai bunda marah begitu?" tanya Riska kembali.


"Dari rumah sakit," jawab singkat Abian.


"Hah, rumah sakit! Ngapain?" kini ibunya Abian bertanya, wanita yang bernama Fatimah itu menatap sang anak serius.


"Teman Abi habis lahiran, jadi Abi menemaninya dan menjaganya."


"Apa kau gila? Temanmu yang lahiran kenapa kamu yang sibuk? Apa dia gak punya suaminya?" tanya sang ibu menatap intens.

__ADS_1


"Dia sudah cerai, Bun. Abi kasihan padanya karena gak ada satupun keluarganya yang menemaninya," jawab Abian.


Fatimah menggeleng tak percaya menatap anaknya.


"Kau benar-benar sudah tidak tidak waras lagi Abian. Bagiamana bisa kamu sok menjadi pahlawan. Bagaimana jika para tetangga tau kelakuan kamu? Lagi pula dia itu sudah cerai dengan suami, lalu anaknya dapat dari mana? Angin."


Abian tersentak mendengar ucapan ibu yang menatapnya tak suka. Ia tahu mungkin para tetangga akan berpikir negatif tentangnya dan Keyra. Tetapi ia tidak mungkin meninggalkan Keyra terlebih lagi ia menyukai ibu dan anak itu.


"Bun, mana mungkin angin bisa membuat orang hamil. Keyra cerai waktu sudah mengandung, jadi wajar saja sekarang dia melahirkan anak dari mantan suaminya," jelas Abian.


"Astaghfirullah, Abian. Kemana pikiran akal sehat kamu Nak? Itu artinya mereka belum lama bercerai, dan kamu hadir di tengah-tengah mereka, apa kamu tidak akan di anggap sebagai orang ketiga oleh orang-orang Nak?" Fatimah menggeleng pening melihat anaknya. Apa isi di dalam kepala anaknya itu.


"Bun, bukan seperti itu ...."


"Apa? Bun, kenapa Bunda tidak bilang dulu sama Abi? Kenapa kalian melakukan seenaknya tanpa sepengetahuan Abi, Bun? Dan Abi tidak menyukai Zahra, Abi selalu menganggap Zahra adalah adik Abi sama seperti Riska!"


Abian benar-benar kecewa pada ibunya yang seenaknya saja mengatur hidupnya tanpa sepengetahuannya. Apalagi melamar seorang gadis yang ia tidak suka. Kenapa kedua orangtuanya melakukan itu padanya. Ia sudah terlanjur menyukai Keyra dan hanya Keyra yang ia inginkan.


"Apa yang tidak sukai dari Zahra Nak? Dia gadis yang cantik, baik, sholeha dan kita mengenalnya dan keluarganya. Kenapa kamu tidak menyukainya? Bukankah kalian selalu bersama sejak lama? Bahkan Zahra menyukaimu, Abian!"


Abian mengusap wajahnya kasar menatap ibunya kembali dengan sendu.

__ADS_1


"Tapi Abi selalu menganggapnya adik, Bun. Mana mungkin Abi menyukai adik sendiri. Dan lagi pula Abi sudah menyukai seseorang," ucap Abian lirih.


"Siapa yang kau suka? Apa janda itu? Denger Abian, Bunda tidak akan merestui kamu bersamanya atau wanita lain. Karena Bunda sudah sangat menyukai Zahra dan hanya dia yang cocok menjadi menantu Bunda," ucap Fatimah tegas.


Abian mengacak rambutnya, ia tidak mungkin melawan ibunya. Tapi ia tidak mencintai Zahra, gadis yang selalu ia anggap hanya sebagai adiknya saja, tidak lebih.


"Maaf Bun, tapi Abi tidak akan mau menikah dengannya, karena Abi menyukai Keyra dan anaknya. Hanya dia yang Abi ingin! Bunda, tolong kali saja, Abi tidak patuh sama Bunda. Kali ini saja, Abi membantah keinginan Bunda. Abi mohon Bun?" mohon Abian lirih menatap sendu ibunya yang keras kepala.


"Abi selalu berusaha menjadi anak yang patuh. Berusaha menuruti semua keinginan Bunda. Bahkan Abi merelakan cita-cita Abi ingin menjadi dokter hanya karena menuruti kemauan Bunda yang menginginkan Abi menjadi penerus usaha Ayah. Tapi Abi mohon kali saja, Bunda yang mengikuti keinginan Abi untuk tidak menikah dengan Zahra dan membiarkan Abi mengejar cinta Abi."


Abian bahkan berlutut du hadapan ibunya, menggenggam tangan ibunya erat. Memohon padanya agar tidak memaksa dirinya untuk menikah dengan wanita yang tak ia cintai.


Sementara itu, Keyra tengah membereskan lemari lama milik neneknya untuk ia pindahkan ke kamarnya agar baju-bajunya ia pindahkan ke lemari tak terpakai itu. Membeli yang baru sayang, sedangkan yang lama ada banyak, lalu untuk apa membuang uang hanya membeli yang tidak penting? Pikir Keyra.


Sesaat ia membongkar isi lemari itu, sesuatu jatuh. Keyra melihat dokumen yang telah usang itu dan membukanya.


"Akte kelahiran?" gumam Keyra lalu ia membacanya.


Sesaat jantung Keyra berdenyut membaca nama tertera di Akte kelahiran itu. Ia kembali membacanya seakan kurang yakin jika itu bukan namanya.


"Tidak mungkin? Ini namaku, semuanya sama tanggal, bulan dan tahun. Semuanya memang punyaku, tapi kenapa nama papah dan mamah beda?"

__ADS_1


Tangan Keyra gemetar, jantungnya semakin berkecamuk kencan. Ia menggeleng menepis pikirannya. Ia berharap jika semuanya bohong, ia berharap jika semuanya hanya kesalahan dalam tulisan saja. Keyra langsung berlari menghampiri nenek untuk meminta penjelasan.


__ADS_2