
Pagi harinya, Angga keluar dari kamar sambil menggendong anaknya karena Sera lagi mandi. Angga berjalan dengan wajah kusut, masam-masam kecut. Bobby yang melihatnya pun mengerutkan keningnya bingung. Kenapa lagi sih? Batin Bobby.
"Masih pagi, wajah udah masam aja? Kurang di servis dari anak gue semalam?" tanya Bobby sambil mengunyah pisang goreng bikinan sang istri tercinta bersama secangkir kopi hitam yang menemaninya.
" Bukan kurang lagi, tapi gagal," jawab Angga sewot, ia duduk di samping mertuanya dengan wajah lesu.
"Lah, kenapa?" tanya Bobby kembali ingin tahu.
"Ini semua gara-gara elu," sinis Angga menjawab. Bobby menaikkan sebelah alisnya.
"Gue ...." Bobby menunjuk dirinya," kenapa gue yang di salahkan?" tanya Bobby heran.
"Iyalah, coba kalau lo gak gangguin gue. Lily gak akan bangun," jawab Angga ketus lalu meminum kopi milik Bobby seenaknya.
"Kopi gue woy." Bobby menoyor kepala Angga." Lagian kenapa salahin gue? Kan waktu masih panjang, Setelah Lily tidur bisa kali lanjut, ah elu otak gak di pakai sih."
Angga menghela nafasnya panjang.
" Masalahnya Lily ngajak kita berdagang, sampai jam 11 malam. Sekalinya dia udah tidur, eh Sera nya malah ikutan tidur juga. Ya mana gue tega membangunkan dia untuk ngajak buka puasa," cerita Angga kesal jika mengingat semalam.
Perasaan resah gelisah, hasrat belum terpenuhi membuatnya terbayang-bayang. Mencoba menenangkan namun tidak bisa tenang akibat merujuk karena tidak jadi buka puasa. Ingin memaksa namun hati tidak tega, ingin meronta namun keadaan tidak bisa, pada akhirnya hanya bisa pasrah merenungkan nasib dengan hasrat terpendam sambil mengelus -elus agar si gundul udahan ngambeknya. Sembari berbaring di shopa karena tempat tidurnya sudah di ambil alih oleh anaknya.
Bobby spontan langsung tertawa terbahak-bahak sambil guling-guling di shopa memegangi perutnya yang terasa sakit akibat tak bisa berhenti tertawa.
"Jadi gara-gara itu, muka lo masam? Hahahah gue pikir apaan, tau-taunya gagal buka puasa, ngenes banget nasib lo." Bobby menyeka air matanya yang keluar akibat tawa. Ia bahagia di atas derita sahabat sekaligus menantunya itu.
Angga yang geram langsung mengambil pisang goreng di piring lalu menyumpal mulut Bobby dengan pisang goreng tersebut agar diam dan tidak terus menerus mengejek dirinya.
"Hahahaha gagal buka puasa, kasihan banget hidup lo." Bobby masih tak bisa menghentikan ejekannya dan tawanya, walau mulut penuh dengan pisang goreng sehingga ia tersedak lalu batuk-batuk.
__ADS_1
"Mampus lo, masih ketawa lagi? Mati, gue buang mayat lo ke parit," ketus Angga mengumpat mertuanya sinis. Bobby mencari air putih namun tidak ada di meja, ingin meminum kopi miliknya namun habis oleh Angga. Bobby melihat botol susu di meja, karena masih seret di tenggorokan, ia pun mengambilnya lalu menyedot layaknya anak bayi membuat Angga melotot kan matanya.
"Astagfirullah, woy susu anak gue di embat juga. Kalau doyan bikin sendiri sana. Jangan ambil punya orang," pekik Angga.
"Mertuanya mau mati bukanya di bantuin malah di teriaki, dasar mantu kurang ajar lo," ucap Bobby yang lega karena tidak lagi seret di tenggorokan, ia sudah menghabiskan sebotol susu formula punya Lily.
"Ogah, siapa suruh ngeledek gue," sahut Angga acuh. Bobby mengendus kesal.
Lalu Sherly menangis, Angga hendak mengambil susu botol di meja, ia pikir masih ada sisanya. Dan ternyata sudah kosong membuatnya menatap sinis pada Bobby yang terlihat santai.
"Lo doyan atau rakus? Pasti karena gak pernah di kasih susu murni dari sumbernya, iya kan?" ejek Angga.
"Ah elu, mentang- mentang tiap malam minum susu dari kemasan nya langsung, lalu pamer gitu? Gak pengen tuh, enakan juga susu formula nya Lily, " jawab Bobby cuek.
" Bilang aja karena gak pernah nyobain, sekarang iri tuh ...," ledek Angga tertawa mengejek.
"Dasar sableng," desi Bobby.
Keduanya terus adu mulut, padahal Sherly lagi menangis namun keduanya malah asik perang tidak penting sehingga Sera berlari dari tangga menghampiri keduanya.
"Masyaallah Papah, Mas Angga. Anak nangis bukanya di diemin malah sibuk berantem? Kalian berdua ini benar-benar ya, keterlaluan tau gak!" omel Sera marah, lalu langsung mengambil anaknya dari tangan suaminya dan menimangnya supaya tenang.
"Cup, cup. Sayang Mamah jangan nangis lagi ya." Sera menatap keduanya dengan tajam.
"Kamu Mas, dah tau anak nangis, kenapa gak di bikin susu, apa berantem gak penting itu lebih asik dari pada urusin anak yang lagi nangis?" lanjut Sera mengomeli suaminya.
"Papah juga sama!"
Keduanya tertunduk dengan wajah menyesal.
__ADS_1
"Maaf," cicit keduanya sesal dengan nada lirih.
"Ada apa ini?" Dewi datang dari arah dapur berlari mendengar suara Sera berteriak. Bahkan Manda dan Agne yang di dalam kamar pun keluar juga.
"Mamah marahin aja ayah dan mantu ini, anak nangis bukanya di diemin malah asik saling ejek," adu Sera sebel.
Dewi bertolak pinggang menatap horor pada Keduanya, lalu mengetuk kepala menantu dan suaminya itu dengan sutil di tanganya.
"Gak ayah, gak mantu sama-sama gandeng. Gak boleh ikut sarapan kalian berdua, masak sendiri kalau mau makan."
Bobby menelan ludahnya takut, ia melirik Angga sinis lalu menginjak kakinya di bawah meja karena gara-gara dia ia tidak dapat jatah makan. Bisa - bisa jatah malam juga ia tidak bisa dapatkan.
Angga pun membalasnya, ia juga sebel. Gara-gara mertuanya itu Sera jadi marah padanya. Alamat tidak buka puasa malam ini dirinya.
Agne memperhatikan dari ambang pintu kamarnya, ia benar-benar iri dengan kehidupan mereka. Jika dirinya menjadi istri Angga mungkin ia bahagia sekarang karena kakak dan suaminya sangat akur tidak ada canggung sama sekali. Namun, bayangan itu sirna sesaat kenyataannya itu tidak mungkin terjadi, lelaki yang ia sukai bertahun-tahun sudah menjadi milik keponakannya. Ia hanya bisa menerima kenyataan pahit ini, mencoba ikhlas takdir yang tak adil menurutnya.
******
Sementara Leo dan Keyra. Mereka memiliki kehidupan sendiri saat menjalani rumah tangga mereka yang masih sangat panas-panas ademnya. Mereka selalu di liputi kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan. Belajar saling memahami, belajar saling percaya belajar saling menerima kekurangan masing-masing. Karena mereka ingin hidup damai dalam kebahagiaan seumur hidup mereka bersama anak dan cucu-cucunya kelak.
"Aku sangat mencintaimu sayang, rasanya gak mau beranjak dari tempat tidur karena aku ingin selalu memeluk mu setiap saat," ucap Angga memeluk Keyra erat menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Keyra.
"Gak boleh gitu dong, kalau gak mau bangun gimana kerjanya. Nanti anak dan istri kamu makan apa kalau kamu nya gak dapat duit. Aku gak cuma makan cinta aja ya," jawab Keyra bercanda.
"Hehehe kali aja makan cinta bisa kenyang, abis aku udah kenyang banget saat makan kamu. Tapi sekarang laper lagi sih soalnya belum sarapan pagi."
"Aahh, dasar mesum ...."
****
__ADS_1
Info, maaf belum bisa liris cerita Nadira dan Vindra karena aku lagi gak punya hp sendiri. Hp aku mati total jadi saat mau up aku pinjam hp suami kalau dia lagi di rumah. Jadi gak bisa up lama -lama banyak-banyak karena hp di bawa kerja. Kalau udah bisa liris aku info lagi ya.
Oh iya, ini episode terakhir ya. Karena Season ke 2 akan up bab selanjutnya di dalam novel ini juga. Sedikit cerita. Tadinya mau di pisah, namun karena levelnya masih rendah, jadi aku gabung aja siapa tau levelnya jadi tinggi sehingga menghasilkan sedikit penghasilan agar bisa beli hp baru 🤣🤣 (curhat dikit) sebab dari itu mohon dukungannya selalu ya, biar aku tetep semangat untuk up. Like, komentar sebanyak banyaknya agar lebih semangat lagi jika rame hehehe... Sekian dari aku, terima kasih semuanya dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Love you all. 🙏🙏