
Lima hari kemudian. Adam sudah di operasi matanya berkat si nenek yang ikhlas memberikan matanya untuk Adam setelah dokter Dimas meyakinkan. Walau sebenarnya keluarganya tidak setuju pada awalnya. Tetapi ia sang nenek juga sudah ingin segera pergi ke sisi sang pencipta.
Dimas juga menyampaikan, donor mata secara aturan agama juga dibenarkan oleh Majelis Ulama Indonesia. Karena, ada fatwa MUI tertanggal 13 Juni 1979 dan ditandatangani oleh Ketua Komisi Fatwa MUI saat itu KH Syukri Ghozali. Karenanya, surat pernyataan donor mata juga harus dilengkapi dengan persetujuan dari para ahli warisnya.
"Kalau ahli warisnya tidak menyetujui, donor mata tidak bisa mendonorkan matanya. Untung semuanya sudah setuju setelah saling meyakinkan satu sama lain," katanya menceritakan pada Alex dan keluarga.
Alex pun manggut-manggut." Syukurlah."
Setelah meninggal, dan apabila sudah terdaftar sebagai calon donor mata maka ahli waris wajib memberitahukan pihak Bank Mata Indonesia kurang dari 6 jam setelah calon donor mata dinyatakan meninggal dunia maka pihak bank mata Indonesia akan segera mengirimkan petugas nya untuk melakukan operasi kecil pengambilan kornea di tempat jenazah. Dibaringkan dan hanya mengambil kornea nya saja BUKAN bola matanya. Operasi kecil itu sangat cepat kurang dari 15 menit saja.
******
Alhamdulillah proses operasi berjalan lancar kurang lebih 1-2 jam. Saat ini pula Leo dan Keyra sudah pulang ke Indonesia. Tentunya keduanya sangat teramat terkejut mendengar kabar putra mereka mengalami kecelakaan bahkan kebutaan. Mereka sangat marah pada Angga dan Sera karena baru memberitahu pada mereka setelah 3 hari kecelakaan itu terjadi.
Dan yang sangat paling merasa bersalah ada Keyra. Andai ia tidak ingin pergi ke Jepang. Pasti anaknya tidak akan seperti ini sekarang, bagiamana mungkin ia bisa bersenang-senang sedangkan anaknya dalam penderitaan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Keyra tak sabaran setelah baru saja tiba di rumah sakit.
"Masih belum sadar setelah operasi," jawab Angga.
"Apa tadinya Adam sempat sadar sebelum di operasi?" tanya Leo. Angga mengangguk.
"Bagaiman reaksinya?" tanya Leo lagi.
"Entahlah. Adam tidak hanya diam saja. Tidak bicara sekata patah pun. Saat di tanya dia juga hanya menjawab seadanya saja, singkat."
Angga menjelaskan reaksi Adam setelah sadar sebelum di operasi. Lelaki itu tak menunjukan reaksi apapun, sedih atau kecewa yang sudah menimpa nasibnya yang malang. Seolah pasrah dengan keadaan, dan justru membuat Angga sangat khawatir akan hal itu.
Setelah mendengar ucapan Angga. Leo hanya bisa terdiam. Ia tau anaknya, walau terlihat biasa saja. Tetapi dalam hatinya pasti sangat terbuka, dan sedih. Namun, karena tak ingin membuat orang khawatir, hingga rasa luka yang teramat menyakitkan itu lebih baik di sembunyikan dalam-dalam sehingga tak ada yang tau. Leo sudah sangat paham sikap anaknya.
"Boleh aku melihatnya?" sela Keyra yang sedari tadi hanya menangis dalam pelukan Sera.
"Sebaiknya jangan dulu. Setelah dia sadar baru kita bisa menjenguknya," cegah Angga. Keyra pun mendesah kecewa.
__ADS_1
"Kenapa kalian baru kasih kabar sama kami? Adam sangat menderita di sana, sedangkan aku malah bersenang-senang di negeri orang." Keyra kembali protes karena telat memberikan kabar. Padahal di dalam telpon ia sudah menanyakan pertanyaan yang sama pada Angga dan Sera.
"Karena kami tidak ingin mengganggu waktu berdua kalian di sana. Sangat jarang bisa pergi ke sana. Sebeb itulah kami menunda untuk memberi kabar pada kalian," jelas Sera.
"Dan membiarkan anak aku menderita tanpa aku di sisinya? Ibu mana yang tega bersenang-senang saat anaknya tengah terluka? Jika tau begini aku gak akan pergi ke mana-mana," ucap Keyra marah sembari menangis. Bisa-bisa mereka merahasiakan hal seperti ini darinya beberapa hari. Ia sangat kecewa pada mereka.
"Key ...."
"Kalian benar-benar keterlaluan," ucapnya cepat menatap tajam.
Sera merasa bersalah. Padahal ia hanya ingin tidak mau mengganggu kesenangan yang jarang sahabatnya itu dapatkan. Apa ia salah mengambil tindakan? Sera pun hanya bisa diam sambil memandangi sahabat sekaligus menantunya itu.
"Kita duduk dulu ya," ajak Leo pada istrinya.
"Aku kesel Mas. Andai kita tidak pergi waktu itu. Pasti Adam tidak anak kecelakaan," ucap Keyra menangis dalam pelukan suaminya. Ia menyalahkan dirinya sendiri.
"Ini sudah menjadi takdir sayang. Walaupun kita tidak pergi, jika Allah sudah menghendaki. Kecelakaan pasti akan terjadi kapan saja, bahkan saat kita sedang duduk diam di sini pun bisa terjadi kecelakaan jika sudah takdirnya," ucap Leo menenangkan istrinya.
"Tapi aku kasihan sama anak kita Mas. Dia masih muda tapi sudah mengalami cobaan seperti ini." Keyra tak kuasa menangis Isak tangisnya. Ia terus menangis di dalam pelukan sang suami.
"Kita berdoa saja semoga Adam cepat sadar dan penglihatan nya kembali pulih berkat orang berhati malaikat yang sudah ikhlas mendonorkan matanya untuk anak kita," ucap Leo sangat bersyukur. Setidaknya Allah masih maha baik.
Keyra mengangguk, isakan ya mulai sedikit tenang.
Di kampus.
"Yura sama Sherly ke mana sih? Kok pada gak ada yang datang ke kampus?" gumam Dara sebel karena kedua sahabatnya tidak ada yang masuk kuliah.
Karena kesal. Dara pun mencoba menelepon Sherly.
"Halo. Eh lo di mana? Kok pada gak masuk sih?" tanya Dara sewot.
"Sorry, gue lagi di rumah sakit. Keponakan gue kecelakaan," jawab Sherly.
__ADS_1
"Ya Allah, lo yang sabar ya. Semoga keponakan lo cepet sembuh ya."
"Hem, makasih Dara."
"Oke, kalau gitu aku telpon Yura deh. Soalnya dia gak masuk juga, udah 3 hari ini loh gak masuk juga," ucap Dara.
"Kok bisa, coba nanti gue telpon juga deh," kata Sherly khawatir.
"Oke, ya udah kalau gitu gue matiin ya. Bye-bye."
"Bye."
Sherly jadi kepikiran. Tumben-tumben banget sahabat nya itu gak ke kampus. Gak seperti biasanya. Sherly mencoba menghubungi, tetapi tak ada jawaban.
"Gak di angkat, hem ... nanti coba telpon lagi aja deh."
Sementara itu Dara juga menelpon Yura.
"Halo, eh kuyuk. Lo masih idup?" tanya Dara setelah Yura menjawab panggilan telponnya yang ke sekian kalinya. Soalnya dari tadi ia menelpon gak selalu panggilan tak terjawab terus.
"Maaf Ra!" ucapnya dengan suara serak. Dara pun langsung menyipitkan matanya.
"Lo kenapa? Abis nangis?" tanya Dara cemas.
Dara kembali menitikkan air matanya." Nenek aku meninggalkan Ra. Udah 2 hari yang lalu," ucapnya sedih sambil menahan isakannya mengingat sang nenek tercinta.
"Innalilahi, sorry Yur. Gue gak tau. Lo yang sabar ya, semoga nenek di terima amala ibadahnya dan di terima di sisi Allah." Dara mengucapkan belasungkawa dengan nada sedih. Pasti sahabatnya itu sangat terpukul.
Yura menghapus air matanya lalu tersenyum kecil." Amin."
"Kamu sekarang di rumah?" tanya Dara.
"Hem, di rumah juga lagi rame untuk persiapan pengajian nanti malam," jawab Yura.
__ADS_1
"Aku ke sana ya," ucapnya. Yura pun mengiyakannya.
Dara bergegas meninggalkan kampus. Pasti sahabatnya itu sangat membutuhkan teman saat ini untuk menghibur dirinya yang lagi sedih atas perginya orang yang di cintai. Hanya dirinya yang bisa menemani Yura saat ini karena salah satu sahabat mereka juga sedang mengalami musibah. Dara harus menjadi menyematkan untuk kedua sahabatnya.