Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Episode 91


__ADS_3

Satu bulan kemudian. Sejak kepergian Keyra kini Leo, Sera dan Angga hidup kembali normal. Leo sudah mengetahui kepergian Keyra karena selembar kertas yang di kirim oleh wanita itu sesudah hari keberangkatannya.


Keyra memberitahu mengenai kepergiannya dan akan berjanji untuk menjaga, merawat anak mereka dengan baik. Keyra juga mengatakan di dalam tulisan surat itu bahwa ia akan selalu mengenalkan tentang sosok ayah pada anaknya. Namun untuk beberapa tahun mereka tidak akan berjumpa sampai Keyra benar-benar bisa melupakan perasaannya terhadap Leo.


Leo hanya bisa menghembuskan nafasnya, ia menghargai keputusan Keyra dan akan menunggu kedatangan mereka untuk bertemu dengan anaknya di masa depan.


"Semoga kamu mendapat kebahagiaan di sana, Key." pesan Leo berucap lirih.


Dan sekarang seakan beban itu hilang dalam hidupnya. Ia kembali seperti sedia kala, ceria kembali walaupun tidak mungkin bisa kembali dengan cintanya yang hilang, dan Leo juga sudah melupakan perasaan itu, perasan hatinya, cintanya pada Sera. Ia kubur dalam-dalam demi kebahagiaan wanita yang ia cinta dan papahnya sendiri.


"Leo, ayo kita sarapan!" ajak sang eyang berteriak memanggil Leo dari lantai bawah sambil menyiapkan sarapan pagi mereka.


Kalau Angga dan Sera jangan coba -coba di panggil, karena pasangan suami istri itu akan keluar dengan sendirinya. Dan hari minggu ini keduanya lagi menginap di kediaman eyang Endang.


"Pagi, Bu?" sapa Sera ceria.


"Pagi sayang, eh tumben udah keluar kamar pagi -pagi? ada angin apa semalam," heran ibu Endang kepada anak. dan menantunya. Biasa mereka keluar kamar kalau belum matahari bersinar terang tepat di tengah-tengah kepala.


"Oh yaudah, kalau gitu ayo kita masuk kamar lagi sayang," canda Angga mengajak istrinya kembali ke kamar mereka.


Ibu Endang menjitak kepala anaknya itu....


"Makan, jangan banyak cincong deh," perintahnya tegas.


"Sensitif amat, Bu. Nanti cepat tua loh," sahut Angga sambil mengusap kepalanya yang lumayan sakit.


"Udah tua, mau tua gimana lagi?"


"Siapa bilang Ibu udah tua, Ibu masih cantik kok, iya kan sayang?" ledek Angga. Sedangkan Sera hanya menggeleng-geleng kepala sembari terkikih saja.


"Leo di mana? apa dia gak ikut sarapan?" Sera hanya sekedar bertanya.


"Sayang, aku di sini loh. Bisa-bisa kamu menanyakan lelaki lain di hadapan suamimu!" cemberut Angga merajuk.


Sera memutar bola matanya malas.


"Ck, yang sensitif itu kamu ... dasar lelaki tua yang cemburuan," ejek sang ibu, Angga mendesis tak suka.


"Leo masih di kamar, tadi Ibu sudah panggil. Mungkin masih bersiap -siap," jawab sang ibu pada Sera.

__ADS_1


"Oh... " Sera mengangguk. Angga kembali berdecak sebal. Ia sangat cemburu kalau Sera bertanya mengenai anaknya itu.


Padahal Sera tak ada maksud lain, ia hanya ingin menjadi ibu yang baik untuk anaknya, tidak lebih. Namun suaminya itu terlalu overtetif padanya sehingga selalu cemberut saat menanyakan tentang Leo. Apa ia salah? Kadang Sera berpikir.


"Bu, kok telor Angga gosong?" tanya Angga menatap telor ceplok nya sendiri yang warna beda. Bukan lagi putih melainkan hitam.


"Kenapa? mau protes," ketus ibu Endang menjawab. Dengan ancang-ancang tangan siap menjitak kepala.


"Eh, siapa bilang. Ini kan telor kesukaan Angga. Emmm, enak," jawab Angga cepat memakan telor ceplok yang gosong itu.


"Baguslah, kalau suka nanti di bikinin lagi. Mau?" ucap ibu Endang menahan senyumnya. Begitu pun juga Sera.


"B-boleh... " Tak dapat menolak, Angga hanya pasrah mengiyakan padahal telor itu terasa pahit.


" Inem..."


"Ngeh, Bu... " Bi Inem menjawab.


" Angga mau lagi telor seperti tadi ya, jangan lupa di gosongin, ya!" perintah ibu Endang menahan tawanya.


Bi Inem bengong, ini yang salah dirinya apa Angga. Masa telor gosong malah doyan. Kan pahit, pikir bi Inem.


"Inem, kamu denger gak sih?"


Angga mengerucutkan bibirnya berdecak sebal, ia kembali memakan telor gosong itu dengan terpaksa. Protes alamat bakalan sakit kepalanya, apa lagi kalau menolak.


" Enak Mas?" tanya Sera melihat suaminya sangat lahap dengan telor itu.


"Em, enak. banget sayang. Kamu mau?" tawar Angga, padahal dalam hati. ingin muntah karena pahit.


"Nggak ah, makasih." tolak Sera.


"Yaaaah, kok gitu. Sedikit aja ya, rasain gimana rasanya." Paksa Angga.


"Telur aku masih banyak Mas, masih utuh," jawab Sera kembali menolak sembari tertawa kecil, ia tau maksud suaminya.


Angga kembali mengerucutkan bibirnya sebel. Dan kembali memakan telor itu dengan nasi goreng sambil melirik ibunya yang mencoba menahan tawanya.


"Mas, ini telur nya sudah mateng." Bi Inem meletakan piring kecil berisi telur ceplok di atas meja dekat Angga, dan benar saja warnanya hitam pekat sesuai apa yang di pesan oleh ibunya yang jahil itu.

__ADS_1


"Sebaiknya Bi Inem pulang kampung aja deh. Biar saat goreng telur gak gosong gara-gara kepikiran anak di kampung," sindir Angga sinis.


"Ya ndak mungkin lah Mas, kan minggu kemaren Bibi baru saja pulang kampung," jawab bi Inem.


"Terus kenapa goreng telur sampai gosong?"


"Hehehe, tak tinggal ke kamar mandi, lupa matiin kompornya.Tapi Bibi ndak tau loh kalau Mas Angga doyan. Besok-besok Bibi masakin yang buanyak ya."


"Nggak perlu, makasih," sahut Angga ketus.


Bi Inem pamit ke belakang kembali, ibu Endang dan Sera tak dapat menahan tawanya. Mereka berdua tertawa ngakak sambil memegangi perut mereka, apa lagi saat ini melihat raut wajah Angga yang kesel benar-benar lucu menurut mereka.


"Sialan, benar-benar gak ada akhlaknya kalian berdua," kesel Angga menggerutu.


Leo baru saja keluar dari kamarnya, ia nampak bingung kenapa eyang dan mamah tiri nya tertawa terbahak-bahak begitu. Sedangkan melihat Angga yang nampak kesal sendiri.


"Kalian kenapa?" tanya kebingungan.


"Nggak apa-apa, makan sana jangan banyak tanya," jawab Angga sewot.


"Dih, gak jelas." gumam Leo, ia pun memakan nasi goreng yang sudah tersedia.


"Eh, kenapa ada telur gosong di dalam nasi ku?" tanya Leo heran.


"Emang kamu doang yang ada, gak liat nie punya Papah juga ada telur gosong sama seperti kamu," jawab Angga melihatkan separuh telur yang gosong itu pada Leo.


"Oh, menu pagi ini nasi goreng telur gosong, ya?" ucap Leo lugu.


Ibu Endang dan Sera kembali tertawa. Keduanya tak tahan sampai perut mereka terasa sakit sangking tak kuasanya menghentikan tertawa mereka yang terus menerus.


Angga mencoba menahan tawanya, ia bersikap seolah sedang kesal. Padahal ia sendiri yang meletakan telur gosong yang baru saja di buatan oleh bi Inem untuknya, dan Angga pun memberikan telur itu kepada Leo seakan jika mereka berdua sama-sama mendapatkan telur gosong itu bersama.


Leo yang tak tau apa-apa memakan makanan paginya, namun ia tak memakan telur gosong itu. Tentu saja membuat Angga mengerutkan keningnya.


"Kenapa gak di makan?" tanya Angga.


"Pahit lah, siapa yang suka telur gosong begitu. Kalau Papah suka ambil aja, Leo ikhlas kok."


Kedua wanita itu kembali tertawa...

__ADS_1


Angga yang kesal pun menyingkirkan telur gosong yang tinggal separuh itu jauh-jauh darinya.


"Untuk Bi Inem aja, dia suka!" jawab Angga sewot. Leo dapat dengan mudahnya menolak, tapi kenapa dirinya begitu susah sehingga memaksa dirinya memakan telur itu.


__ADS_2