
Sera terdiam, wajahnya nampak sedih. Angga menoleh arah istrinya lalu ia bangkit kemudian mengajak Sera duduk di shopa.
"Bu, ada yang ini Angga omongin sama ibu! "
Ibu Endang menoleh pada anaknya." Ada masalah apa? "
Angga melihat arah istrinya sekilas lalu tersenyum dan menggenggam tangganya erat.
" Angga dan Sera besok akan segera pindah ke rumah baru Angga," ujarnya pelan.
Spontan Sera langsung menatap suaminya, ia nyaris tidak percaya jika suaminya itu ingin segera pindah dari rumah besok. Tentu saja membuatnya senang.
" Mas, kamu serius?" tanya Sera memastikan.
" Iya sayang, besok kita bersihin rumah di sana ya. Kamu mau, kan? "
Sera mengangguk senang, tentu saja ia mau. Karena inilah yang ia nantikan.
" Pindah? Kenapa secepat itu." Ibu Endang bukanya ingin melarang, tetapi merasa ada yang salah pada anak dan menantunya, pindah secara mendadak! Ibu Endang menatap tanya pada keduanya.
" Iya Bu, Angga sudah di telpon sama tukang di rumah. Katanya sudah rampung dan hanya tinggal membersihkan sisa-sisa kayu-kayu nya saja, jadi Angga dan sera akan membersihkan besok," jelas Angga.
" Tapi, apa tidak kecepatan, nak? "
" Tidak Bu, Angga dan Sera sudah sepakat tadi malam. Dan sudah memutuskan untuk pindah besok!"
Ibu Endang menghela, kalau sudah begini apa boleh buat. Ia juga tidak dapat melarang, anak dan menantunya berhak menentukan kehidupan mereka sendiri. Walaupun dalam hati tidak rela tetapi yang dapat ia lakukan hanyalah mendukung apapun keputusan mereka.
Sera melepaskan tangan dari tangan Angga lalu ia pindah duduk ke dekat ibu mertuanya.
"Ibu jangan khawatir, Sera dan Mas Angga bakalan sering-sering kok main ke sini, nginep di sini," bujuk Sera menghibur.
Ibu Endang tersenyum lembut lalu mengusap rambut panjang Sera," Janji ya, ibu tunggu loh. "
Sera mengangguk sembari tersenyum, ibu Endang adalah ibu kedua baginya. Tak ada pilih kasih antara ibu kandung dan mertua, karena bagi Sera semuanya sama.
Sementara Keyra dan Leo hanya diam menyimak saja. Tak ada salah satu dari keduanya yang membuka suara. Hanya saja satu yang tak pernah luput dari salah satu mereka, ya itu pandangan mata, pandangan mata Leo selalu tertuju kearah Sera. Keyra diam-diam memperhatikan suaminya, ada raut wajah kesal di sana.
__ADS_1
Ibu Inem meneruskan membuat sarapan yang belum selesai di masak tadi, Sera dan Angga pun pamit masuk kedalam karena Angga harus bersiap-siap pergi ke rumah sakit.
Sesampai di dalam kamar, Angga sedang membuka bajunya hendak mandi. Sera yang baru masuk pun langsung memeluk suaminya dari belakang. Sontak Angga terkejut, ini baru pertama kali istrinya itu inisiatif apa lagi memeluk dari belakang. Angga pun mengelus tangan Sera lembut.
"Ada apa, hem? "
" Nggak ada, hanya saja kamu keren." ujar Sera menyandarkan kepalanya di punggung belakang Angga.
" Aku seneng besok kita pindah, terima kasih ya mas," lanjutnya pelan. Angga tersenyum lalu memutar balik tubuhnya dan menangkup kedua pipi istrinya.
" Apapun demi istriku, pasti aku lakukan selagi aku mampu. Aku pasti akan melindungi kamu sayang, tidak akan aku biarkan siapapun yang menyakitkan kamu apa lagi membuat kamu sedih. "
Mata Sera berkaca-kaca haru, andai sejak awal ia bertemu dengan Angga. Mungkin sudah lama juga meraka menikah.
" Aku mencintaimu, mas." Sera langsung menghambur kedalam pelukan suaminya.
" Aku lebih mencintai kamu sayang. Jangan pernah pergi meninggalkan aku, bahkan hanya dalam pikiran pun tidak akan aku izinkan, "
" Lagian siapa juga yang mau meninggalkan kamu mas, yang ada aku malah rugi dan bodoh kalau sampai itu terjadi, berarti sam aja aku menyia-nyiakan suami yang super baik dan penuh sayang seperti kamu. "
" Jangan pernah, ingat itu! "
" Oh, sebenarnya memang belum rampung sih. Mas bohong aja sama ibu agar di kasih izin kita pindah besok!" ujar Angga sambil menyengir.
" Lah, terus gimana dong? kalau masih belum rampung?" Sedikit rasa kecewa dalam hati Sera.
" Tenang sayang, kalau kita menambahkan duit di dalamnya mereka bakalan menyelesaikannya dalam sekejap. Mas bakalan atur semuanya, jadi gak perlu khawatir ya. Pokoknya besok semuanya udah beres dan kita hanya perlu membersihkan nya saja dan merapihkan barang -barang kita. Baru deh kita bisa tidur nyenyak di sana! "
" Iya mas." Sera kembali tersenyum lebar merasa senang.
Angga merasa gemes, tak tahan jika tidak mencium bibirnya yang mungil itu. Angga pun langsung melahapnya rakus hingga Sera kualahan menyeimbangi nya.
" Mas, kamu sengaja ya mau membunuhku?" Sera hampir kehabisan nafasnya.
"Hehehe maaf sayang, khilaf! "jawab Angga seraya tanpa dosa.
Sera mengerucutkan bibirnya sebel, Angga tertawa.
__ADS_1
"Mau ikut mandi gak?" goda Angga.
"Nggak! "
" Hahahaha, ya Allah gemes banget sih istriku ini. Yaudah kalau begitu aku mandi dulu ya... kamu telpon mamah gih, kasih tau kalau malam ini kita menginap di sana! "
" Hah, seriusan? "seru Sera girang.
" Iya sayang, seneng banget ya? "
" Iya mas, aku kangen banget sama mamah. Udah lama kita gak nginep di sana. "
Angga tersenyum mengusap pucuk kepala istrinya," pulang dari kerja kita langsung kesana, kamu siap-siap aja ya? "
" Oke mas, yadah sana mandi aku siapin kamu baju. "
Angga tersenyum lalu berjalan menuju kamar mandi. Sera menyiapkan baju kerja suaminya. Lalu ia keluar dari kamar untuk membuatkan kopi namun pada saat hendak menuruni anak tangga tiba-tiba tangannya di tarik. Sontak Sera kaget dan langsung menatap siap pelakunya.
"Leo! apa-apaan kamu ini? "ucap Sera menahan suaranya. Ia takut jika suaminya tahu, bukan bermaksud menyembunyikan apa-apa tetapi demi agar mereka tidak berkelahi karena bisa saja Angga emosi pada anaknya.
Leo menarik kuat pergelangan Sera, dan menatapnya dalam.
" Leo, lepaskan! "ingin berteriak memaki, tetapi tak ingin mengundang perhatian seisi rumah.
" Kenapa kamu tiba-tiba meminta pindah? apa karena kejadian tadi malam? "ujar Leo dengan nada dingin.
" Kenapa?... bukanya tadi kamu udah denger sendiri kalau rumah kami sudah rampung, lalu apa masalahnya? "jawab Sera ketus, dan terus berusaha melepaskan tangannya.
" Dan satu lagi, tentang tadi malam tidak ada yang terjadi di antara kita, bukanya itu wajar seorang anak menolong ibunya yang sedang dalam bahaya? dan aku mengucap terima kasih banyak, berkat kamu aku tidak terluka, "
Leo menatap sedih, entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu. Namun terlihat jelas raut tidak rela harus berpisah.
" Sera, aku minta maaf mengenai tadi. Aku tidak bermaksud memarahi kamu, aku..... "
" Kenapa harus minta maaf, bukanya itu sudah seharusnya kamu lakukan sebagai seorang suami? jika itu terjadi padaku pasti papah kamu bakalan melakukan hal yang sama. Tidak perlu di besar-besarkan karena semuanya itu sudah biasa! permisi. "
Sera pergi meninggalkan Leo, tekat untuk segera pindah semakin yakin dan menjadi tidak sabar ingin cepat -cepat segera pergi dari rumah ini. Rasa tidak nyaman semakin menjadi dalam hatinya, apa lagi sikap Keyra yang tak dapat di artikan membuatnya jadi serba salah.
__ADS_1
Dan tanpa di sadari oleh keduanya, ternyata seseorang melihat dan mendengar percakapan mereka. Tangannya mengepal kuat tatapan matanya begitu tajam melihat kearah mereka berdua.