Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, Kesedihan


__ADS_3

Pagi harinya. Alex dan Angga keluar dari kamar bersamaan. Tetapi keduanya nampak berbeda sekali. Yang satu nampak cerah, seger. Dan yang satunya, nampak lelah, letih, lesu. Bahkan ada lingkaran hitam di kantong matanya layaknya panda.


Seisi rumah bengong memberhentikan keduanya.


"Kalian ini habis ngapain? Kok berbeda?" tanya Sera.


"Ya jelas beda lah sayang. Kalau sama itu namanya kembaran, kayak kedua anak kita, Nicko dan Ricko," jawab Angga santai. Sedangkan Alex hanya diam saja tanpa menjawab karena malas membuka suara.


"Bukan itu Papah sayang. Maksud aku, beda nya itu. Muka kamu ceria dan kelihatan seger banget. Lah, sedangkan Alex, liat tuh. Kucel, masam, kecut pula tu. Ada bola mata di kantong matanya, kayak gak tidur semalaman," ujar Sera.


Angga menoleh arah Alex." CK, dia kan emang gitu. Jelek, ganteng juga gue," ujar Angga sombong.


Alex hanya memutar bola matanya malas.


"Ini kan semua gara-gara Papah. Coba kalau gak peluk-peluk, Alex mungkin udah tidur dengan nyenyak deh tadi malam," jawab Alex malas.


"Sembarang aja kalau ngomong. Fitnah aje lo, fitnah itu lebih Kejam dari pembunuhan tauk. Lagian gue peluk guling keles, ngapain gue meluk-meluk elu, ih, gak suka gelaaaaay," jawab Angga ngebantah.


Semuanya pun memutar bola matanya malas, bukan hanya Alex tapi semua keluarganya bahkan sang ART menahan senyumnya mendengar ucapan Angga.


"Papah tidur dah kayak kebok, jadi mana tau ngapain aja. Lagian tuh guling udah berserakan semua di lantai akibat Papah tendang-tendang kayak bola, untung Alex gak di tendang juga. Bahkan Alex tidur aja gak pake bantal," jawab Alex sinis.


"Udah peluk-peluk, ngorok, ngigau, cium-cium pula. Alex mau melepaskan diri gak bisa, di peluknya erat banget, benar-benar geli sumpah deh. Nie, ampe merinding nie bulu kuduk," ejek Alex ketus." Heran deh, kok Mamah bisa betah tidur satu kasur sama Papah, Alex aja satu malam dah gak tahan," lanjutnya merasa heran dengan Sera yang betah bertahun-tahun menemani suaminya tidur yang mempunyai kebiasaan buruk itu.


Mungkin peluk dan cium oke lah, karena sudah terbisa. Nah kalau ngorok dan tidur kayak orang lagi main bola? Apa bisa tahan tidur satu kasur dengannya.


Alex pun langsung mendapatkan toyoran dari Angga.


"Mana ada, lo kalau ngomong jangan suka mengada-ada. Sama aja kayak Bobby, sebel," bantah Angga tak terima.


"Papah mah emang begitu, makanya Nicko gak pernah mau kalau Papah mau tidur sama Nicko saat Papah di usir Mamah keluar dari kamar," sahut Nicko mencela.


"Kenapa?" tanya Sherly.


"CJ, nie bocah ikutan aje," batin Angga menatap anaknya horor. Namun Nicko acuh.


"Kalau kata Ricko sih yang pernah tidur satu kasur sama papah, Papah tuh suka peluk-peluk dan cium-cium gitu. Habis itu gak mau ngaku lagi, sama kayak sekarang kasusnya." Lanjutnya bercerita.


"Hey bocah, mana ada ya Papah kayak gitu. Sembarang aja kalau ngomong. Kalian ini ya, benar-benar sekongkol, bikin reputasi Papah rusak tau gak," ujar Angga.


"Kirain Papah kayak gitu karena Mamah istrinya. Jadi Ya mamah pikir itu biasa aja gitu. Eh gak taunya ternyata memang sudah kebiasaan buruk Papah," ucap Sera. Dan yang lainnya tertawa. Sedangkan Angga mendengus sebal.


"Maka sebab itulah itu lah sayang, aku gak mau pisah bobok nya sama kamu," jawab Angga dengan nada manja berharap ia di bela.


"Ye, ketahuan sekarang kan. Pantes aja merengek-rengek gak mau pisah bobok sama Mamah, bukan karena gak bisa tidur. Tapi karena takut kebiasaan buruknya ketahuan orang!" imbuh Ricko menyoraki sang papah.


"Diam lah bocah, ikutan aje lo," sahut Angga sewot. Ricko pun tertawa.


"CK, ngambek, dah tua masih aja ngambek," sela Nicko. Di ruang keluarga itu menjadi gelak tawa puas karena berhasil memojokkan si Angga.


"CK, 1 lawan 5. Benar-benar gak adil," gerutu Angga bergumam dengan bibirnya di moyong-moyongkan.


Dan pagi itu begitu ramai di kediaman Angga. Angga menjadi bahan Bullyan dari anak-anaknya, bahkan istri dan menantunya juga ikut-ikutan. Untung sang mertua gak ada akhlaknya itu gak ada di sana. Coba kalau ada, habis lah sudah.


*****

__ADS_1


Satu bulan telah berlalu. Sekarang ini Sedang berada di kampus. Sherly masih saja kuliah karena merasa sayang dengan tugas-tugasnya, padahal Alex sudah sering kali menyuruhnya untuk kuliah online saja. Tetapi buka Sherly namanya jika tidak keras kepala. Dengan perut yang mulai sedikit timbul karena usai kandungan nya sudah menginjak 8 Minggu. Ia masih semangat untuk berangkat kerja tanpa malu karena hamil.


"Dua bocah itu di mana sih? Kok gak nampak batang hidungnya." Sherly mencari sosok kedua sahabatnya yang entah berada di mana. Ia berkeliling terus mencari sembari bertanya-tanya. Dan salah satu siswi melihat dan mengatakan jika Dara berada di lapangan basket tempat Devan sedang olahraga basket.


Dengan cepat Sherly menghampiri.


Dan ternyata di sana ada banyak siswa berkumpul. Dan sangat mengejutkan bagi Sherly melihat sosok sahabatnya berada di tengah-tengah lapangan bersama Devan.


"Mau ngapain sih si Dara itu?" batin Sherly bertanya-tanya. Ia terus memperhatikan.


" Devan, aku suka sama kamu!"


Dengan sangat percaya diri, Dara mengutarakan perasaannya dengan suara lantang hingga seluruh siswa-siswi menyorakinya. Ada yang mendung hingga meminta Devan menerima, ada pula yang memaki dirinya dan menyuruh Devan untuk menolaknya.


Sherly kembali terkejut, ia tidak menyangka jika sahabatnya sangat berani sekali menembak duluan Devan, bahkan di tengah-tengah orang ramai seperti ini.


"Devan." panggil Dara kembali karena tak ada jawaban dari Devan.


"Dia sudah gila ya, sinting tuh anak. Geu aja gak berani nembak Devan, lah dia baru dekat beberapa Minggu dah berani aje," komentar Imel sinis, ia tak suka melihat Dara. Diei8yang sudah mendambakan Devan sewaktu SMA saja tidak berani mengatakan isi hatinya.


"Sorry, gue gak bisa," jawab Devan tegas hingga suasana menjadi hening.


"Kenapa? Aku udah berusaha mengejar kamu Devan, karena aku suka sama kamu, tolong beri aku kesempatan," pinta Dara.


"Sorry, gue sibuk. Jadi gak ada waktu untuk berpacaran," jawab Devan singkat.


Dara meneteskan air matanya.


"Apa karena kamu masih belum bisa move on dari Sherly?" tanya Dara.


Sherly menutup mulutnya syok.


"Bohong, kalau kamu sudah move on mana mungkin kamu gak mau memberikan aku kesempatan untuk membuktikan bawah cinta aku benar-benar tulus untuk kamu," ucap Dara.


Devan menghembuskan nafasnya perlahan. Lalu ia mendekati Dara dan memegang kedua bahunya.


"Aku tau kamu gadis yang baik Dara. Aku juga bisa melihat betapa tulus cinta kamu ke aku. Tapi aku benar-benar minta maaf sama kamu, aku bukanlah laki-laki yang baik."


"Nggak Devan, kamu lah laki-laki terbaik yang pernah aku kenal," potong Dara cepat.


Devan tersenyum." Terima kasih, tapi sekalia lagi maaf. Aku hanya ingin fokus dengan kuliah supaya aku bisa menjadi pengusaha yang sukses. Cita-cita aku jauh lebih penting ketimbang dengan cinta yang bisa datang dan pergi kapan saja, tapi cita-cita hanya bisa di raih sekali seumur hidup, dan aku gak mau semuanya sia-sia," ucap Devan tak peduli dengan perasaan Dara yang hancur berkeping-keping.


"Aku yakin, suatu saat nanti kamu pasti akan mendapatkan cinta dari laki-laki lain, dan tentunya yang jauh lebih baik dari aku," lanjutnya, lalu menepuk lengan Dara dan kemudian berlalu meninggalkan lapangan.


Para siswa-siswi bersorak. Banyak cemoohan kasar yang mereka lontarkan untuk Dara, tentunya itu dari para siswi yang sangat mengidolakan Devan.


Sherly benar-benar sangat kasihan pada sahabatnya. Ia bahkan ragu untuk menghampiri Dara. Tetapi, ia harus menghiburnya karena saat ini hanya dirinya lah yang ada bersamanya.


"Dara," panggil Sherly. Lalu ia memeluk erat sahabatnya itu.


Dara menahan air matanya bersusah paya. Ia bahkan berusaha untuk tetap tersenyum dan tegar.


"Hey, gimana keadaan keponakan aku?" tanyanya sembari mengelus perut Sherly.


"Dara, kamu baik-baik aja?" Sherly justru bertanya balik. Ia tahu jika Dara tengah mengalikan topik saat ini. Dan ia juga tau jika gadis di hadapannya ini tengah mati-matian menahan Isak tangis nya.

__ADS_1


"Aku baik, kenapa?" ucap Dara kembali memaksakan senyumnya. Sherly terus memandangi Dara.


"Kau tau Ly. Beberapa hari ini aku sangat galau. Resah dan gelisah," ucap Dara sembari mengajak Sherly duduk. Gadis itu masih terus bersikap tegar seolah tak terjadi apa-apa.


"Kau tau, jika beberapa hari yang lalu kedua orang tua aku menelpon. Dan kamu tau apa katanya?" tanya Dara, Sherly menggeleng.


"Katanya, mereka ingin mengajak aku pergi ke luar negeri. Gak nyangka bangat kan? Awal aku bingung Ly, aku bimbang mau jawab iya atau nggak. Di satu sisi aku sangat menginginkan ini supaya bisa bersama dengan mereka dan mendapatkan kasih sayang dari mereka lagi jika kamu berkumpul. Tapi di sisi lain, ada hati yang ingin aku berikan. Bahkan aku selalu bertanya-tanya, apakah dia juga memiliki hati yang sama denganku! Tapi nyatanya tidak, dan sekarang aku lega," ucap Dara bercerita panjang lebar.


"Maksud kamu apa?" tanya Sherly.


Dara menoleh, lalu tersenyum.


"Kau sudah memutuskan untuk pergi ke luar negeri bersama kedua orang tua ku," ucapnya, dan membuat Sherly semakin terkejut.


"Kenapa? Apa kamu mau meninggalkan aku?" sentak Sherly.


"Tidak, kamu dan Yura akan selalu di hati Ku. Selamanya tiga akan pernah terlupakan. Aku tetep akan pergi, karena inilah yang aku inginkan sedari dulu," jawab Dara. Ia bangkit dari duduknya, metik bunga yang mekar.


"Dan tak ada lagi tempat untuk aku bertahan di sini, sebab itulah sebaiknya aku pergi dan melupakan semua kenangan di negara ini. Tapi tidak dengan kalian, percayalah. Aku akan selalu telpon kalian, memberikan kabar pada kalian," lanjutnya, lalu memberikan bunga itu pada Sherly yang sudah menangis.


"Sssssttt, jangan menangis ya. Kasihan anak kamu sayang. Aku akan selalu bersama kalian, dan suatu saat nanti aku pasti akan kembali, percayalah."


******


Di lain tempat namun di jam yang sama. Di mana seorang gadis sedang berjalan di taman rumah sakit dengan wajah yang nampak pucat. Ia didorong oleh seseorang yang dengan sabar menjaga dan menemaninya sepanjang hari.


"Kamu pulang lah, aku gak mau kedua orangtuamu marah gara-gara kamu terlalu sering bersama aku di sini," ucap gadis itu.


"Tidak akan, aku akan selalu di sini bersama mu sampai kamu benar-benar sembuh," ucapnya sembari berjongkok dan menegang tangan nya erat.


"Yura, aku mencintai kamu. Dengan tulus aku benar-benar sangat mencintai kamu, tolong jangan tolak aku lagi," ucapnya, siapa lagi jika bukan Adam yang terus berjuang mendapatkan cintanya.


Yura tersenyum. Ia membelai rambut Adam lembut.


"Kamu liat keadaan aku sekarang Dam. Aku sekarang lagi sakit. Dan kamu tau kan aku sakit apa?.Sakit kangker Dam, kangker otak. Apa lagi yang kamu harapkan dari gadis seperti aku?" ucap Yura sembari memaksakan senyumnya.


"Aku yakin kamu pasti bakalan sembuh Yura. Aku yakin," jawab Adam mengeratkan genggaman tangan yang hendak menangis.


Ternyata, Yura selama ini tengah mengidap penyakit kanker otak. Tak ada yang tau, ia sembunyikan ini dalam-dalam supaya tidak ada yang mengkhawatirkan dirinya. Ia mencoba menahan semua rasa sakit ini sendirian. Dan baru di ketahui setelah Yura pingsan dan mengeluarkan darah dari hidungnya. Dan di sana dokter memberitahu tentang penyakit yang di deritanya.


Yuda sangat menyesali perbuatannya. Tak seharusnya ia tak menganggap Yura ada. Kenapa ia sebodoh ini, padahal ia sudah tahu jika Yura memang suka sakit-sakitan sedari sejak lahir. Yuda sangat menyesal sekarang. Ia selalu menangis jika melihat anaknya duduk di kursi roda. Dan bahkan jika hidungnya mengeluarkan darah.


"Dengan cara apa Adam? Dengan cara apa aku bisa sembuh? Bahkan dokter saja suda memvonis aku, jika aku hanya bertahan dalam waktu 6 bulan, lalu apa lagi yang bisa di harapan dengan gadis seperti aku ini," ujar Yura menahan rasa sesak di dada supaya tidak menangis.


Adam menggeleng, ia langsung memeluk Yura Erat. Dan menangis di sana.


"Maka, kita berpacaran mulai dari sekarang. Karena aku yakin kamu pasti bisa sembuh," ucap Adam dengan Isak tangisnya.


Yura hanya tersenyum lalu mengusap punggung Adam.


"Baiklah jika itu mau kamu, muali dari sekarang kita pacaran. Tapi jangan menyesal jika aku pergi nanti ya," ucap Yura sembari tersenyum. Ia memang sudah jatuh cinta pada Adam. Hanya karena penyakitnya ini, ia selalu menolak dan menahan rasa sesak di dada.


Jika selama 6 bulan bisa membuat nya bahagia sebelum pergi, ia pun ingin mencobanya. Walaupun ia tahu pasti hati Adam akan sangat terluka atas kepergian dirinya.


Adam mengangguk senang, ia menghapus air matanya lalu menatap kedua mata Yura yang sekarang adalah pacarnya.

__ADS_1


Adam mendekatkan wajahnya ke wajah Yura. Lalu ia mencium bibirnya lembut untuk pertama kalinya bagi mereka. Di sela-sela sedang berciuman, Yura meneteskan air matanya. Adam yang merasakan pun langsung mempersalahkan ciuman nya.


"Aku mencintaimu, Yura. Sangat mencintai mu! Berjanji untuk sembuh, demi aku Yura, demi cinta kita."


__ADS_2