
Kania langsung berlari menuju pojok ruangan yang mana di sana tergelantung gamis jubahnya dan hijabnya.
Dia langsung memasang gamis jubahnya dan hijabnya.
Kania langsung berlari keluar dari ruangan itu, dia melewati Raja yang masih diam mematung.
Pria itu terpaku karena tidak tahu apa yang bisa dilakukannya lagi, dia tak menyadari Kania yang sudah tak ada lagi di dalam ruangan tersebut.
"Ya ampun, ngapain lagi pria itu masuk ke ruang olah raga?" gerutu Kania.
Kania terus melangkahkan kakinya menuju kamar. Kania langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Kania menutup wajahnya menahan malu, ingatannya tertuju dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Ya Allah, meskipun dia suamiku, tapi aku belum siap untuk memperlihatkan auratku padanya," gerutu Kania dalam hati.
Setelah beberapa lama Kania berdiam di kamar mandi memikirkan kejadian memalukan tadi, dia bergegas mandi membersihkan dirinya yang penuh dengan keringat.
"Sial, aku lupa bawa pakaian ganti." Kania merutuki kebodohannya.
Kania melilitkan handuk di badannya, lalu dia membuka pintu kamar mandi.
Perlahan Kania membuka pintu kamar mandi, lalu dia pun mengintip isi kamar untuk berjaga-jaga dari sosok Raja.
Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar.
Pelan-pelan Kania melangkah keluar dari kamar mandi setelah memastikan Raja tidak ada di dalam kamar itu, Kania langsung melangkah menuju pintu hendak mengunci pintu kamar agar Raja tidak bisa masuk di saat dia mengenakan pakaiannya.
Saat Kania berada 2 langkah dari pintu kamar, pintu pun terbuka. Raja hendak masuk ke dalam kamar.
Mereka saling berhadapan, lagi-lagi Raja mendapatkan pemandangan yang sangat indah.
Kini dengan jelas Raja melihat kulit mulus sang istri, kulit Kania yang putih mulus membuat pikiran Raja traveling ke mana-mana.
Saat ini Raja sudah melihat seluruh tubuh Kania kecuali bagian yang kini tertutup handuk.
Kania yang panik langsung menutup pintu dan mengunci pintu.
Hal itu membuat kepala Raja terbentur pintu dengan sangat keras.
"Auw," pekik Raja sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
"Shi*t," umpat Raja di dalam hati.
Kania mendengar suara Raja yang kesakitan.
"Astaghfirullah al'azhim, apa yang sudah aku lakukan? Ya Allah, aku sudah berdosa pada suamiku sendiri," gumam Kania.
Kania hendak berbalik ke pintu ingin melihat keadaan sang suami, tapi dia sadar masih belum mengenakan pakaian.
Kania pun berbalik dan melangkah menuju lemari, dia mengambil pakaiannya, lalu mengenakan pakaian tersebut.
Setelah Kania mengenakan gamis dan hijab simple, dia langsung keluar dari kamar untuk memeriksa keadaan sang suami yang sudah menjadi korban akibat tingkah konyolnya.
Kania keluar dari kamar, dia melihat keadaan Raja yang kini tengah duduk di sofa yang tidak jauh dari kamarnya, terlihat Raja memegangi dahinya yang bengkak dan merah akibat benturan pintu yang ditutup oleh Kania tadi.
Sebenarnya Kania malu untuk bertemu dengan sang suami setelah apa yang baru saja terjadi di antara mereka, tapi Kania harus memasang muka badak untuk sementara waktu, keadaan Raja saat ini lebih penting baginya.
"Ba-bagaimana keadaanmu, Ba-bang?" lirih Kania takut sang suami akan marah besar padanya.
Raja menoleh ke arah sang istri yang kini telah berdiri di depannya. Dia menatap sang istri yang sudah mengenakan pakaian tertutup.
Meskipun Kania sudah mengenakan pakaian yang tertutup, di mata Raja masih jelas sang istri yang tidak mengenakan pakaian.
Raja langsung berdiri, lalu dia pun menarik tubuh Kania untuk masuk ke dalam kamar.
Pria itu masih memegangi dahinya yang bengkak, dia masih saja meringis menahan rasa sakit.
Kania menaikkan kedua alisnya heran dengan apa yang diucapkan sang suami.
"Lalu aku keluar kamar harus bagaimana?" tanya Kania pada Raja.
"Kalau keluar kamar harus mengenakan pakaian yang tertutup," jawab Raja lagi.
Kania semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Hah? Jangan-jangan ada sarafnya yang putus saat terbentur pintu tadi sehingga dia tidak bisa melihat diriku Yangs udah mengenakan pakaian yang tertutup," gumam Kania bingung.
Kania menjadi panik, dia mencemaskan keadaan Raja.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" gumam Kania lagi.
"Apakah pakaian yang aku kenakan kurang tertutup menurutmu?" tanya Kania pada Raja.
__ADS_1
Raja heran mendengar pertanyaan dari Kania, dia pun melihat dengan seksama istri yang berdiri di hadapannya.
Dia melihat Kania yang mengenakan gamis simple dan hijab bergo yang menutupi kepalanya.
Penampilan sang istri sangat anggun di matanya dengan penampilan sederhananya.
"Apakah kamu baik-baik saja, Ba-bang?" tanya Kania.
Kania melambaikan tangannya di depan wajah sang suami, berharap Raja tidak hilang ingatan atau gangguan saraf.
"Astaghfirullah al'azhim," lirih Raja setelah dia sadar dari pikirannya yang melayang mengingat tubuh indah sang istri.
"Aduh, kepalaku sakit banget," pekik Raja tiba-tiba.
Raja kembali meringis kesakitan dengan cidera yang baru saja didapatnya dari sang istri.
Dia sengaja berpura-pura kembali merasakan sakit untuk menutupi rasa malu karena pikirannya terhadap tubuh indah sang istri masih menari-nari di benaknya.
Kania kaget mendengar rintihan sang suami, dia membawa suaminya menuju tempat tidur.
"Abang tunggu di sini sebentar, aku ambilkan obat," ujar Kania.
Setelah itu Kania pun melangkah menuju meja rias yang terdapat di dalam kamar itu, dia membuka laci meja rias lalu mengambil sebuah kotak P3K.
Kania mengeluarkan sebuah salep, lalu dia mengolesi salep tersebut di dahi suaminya untuk menghilangkan bengkak.
Wanita itu mengobati suaminya dengan telaten, dia tidak mau ibu mertuanya marah padanya karena dirinya telah menyakiti sang suami.
Baru saja beberapa hari mereka sah menjadi suami istri, Kania sudah menciderai sang suami.
Saat Kania sibuk mengobatinya, Raja terus memperhatikan wajah cantik sang istri, wajah wanita ini berada tepat di depan wajahnya.
"Ya Allah, ternyata istriku ini cantik juga. Dia terlihat sangat anggun dan imut, pipi chubby nya membuatku merasa gemas," gumam Raja di dalam hati.
"Astaghfirullah al'azhim, tidak seharusnya aku tertarik padanya, aku sudah mencintai Kanaya. Mana mungkin hatiku terbagi untuk wanita yang dicintai oleh Raju." Raja menampik rasa yang tadi sempat hadir di hatinya untuk sang istri.
Posisi mereka kini semakin dekat, Kania dapat menatap jelas wajah tampan Raja, wajah yang sama dengan pria yang dicintainya.
Sesaat sepasang suami istri itu pun saling menatap dalam, mereka menyelami rasa yang ada di dalam hati masing-masing.
Mereka ingin mengenal satu sama lain, Raja merasa tatapan sang istri begitu dalam membuatnya merasa tenang, begitu juga dengan Kania dia merasa nyaman dengan tatapan yang dilayangkan oleh sang suami.
__ADS_1
Beberapa menit mereka saling menatap, Raja sadar dengan apa yang dilakukannya. Dia pun mendorong Kania hingga Kania jatuh ke atas tempat tidur.
Bersambung...