
Sera berendam dalam air hangat, rasa lelah, letih, lesu menjadi sedikit berkurang. Cukup lama ia berendam dan sekarang menyudahinya kemudian Sera mengambil handuk lalu ia berjalan kearah cermin dan menatap dirinya sendiri.
"Huuuuf, jangan gugup, oke," ucap nya pada diri sendiri sambil membuang nafas perlahan, perasaan hati begitu gugup, jantung selalu berdebar-debar.
Sekali lagi Sera membuang nafasnya yang ia tarik dalam-dalam, lalu ia mengambil baju yang sudah tersedia di kamar mandi, entah siapa yang sudah menyiapkannya di sana. Lalu Sera mejeber kan baju tersebut.
"OH MY GOOD, ini baju atau jaring? Tipis banget!" Mata Sera terbelalak menatap lingerie tersebut.
" A-apa, aku harus memakai ini?" gumam Sera ragu.
" Tapi ...." Sera menghembuskan nafasnya," baiklah, toh aku udah nikah sama om Angga." Dengan yakin Sera memakai lingerie tersebut, sedikit Sera merias wajahnya dan memaki pelembab bibir berwarna baby pink agar nampak cantik di depan suaminya nanti.
Perlahan Sera membuka pintu kamar mandi, dengan mata terpejam ia membuka lebar pintu tersebut kemudian mengintip sedikit dengan membuka kecil kelopak matanya.
"OH MY GOOD ...." Sera menutup mulutnya dengan kedua tangan, tercengang dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Apa yang terjadi, bagaimana bisa?"
Bukan sulap bukan sihir, dalam sekejap mata kamar hotel tersebut sudah berubah menjadi kamar yang begitu indah. Begitu banyak kelopak bunga mawar di ranjang, bahkan ada yang berbentuk love serta hiasan balon -balon di pinggir nya, dan ada juga hiasan bunga mawar kuning di tepi nya. Aroma mawar yang begitu harum menusuk indra penciuman, sungguh membuat mabuk kebayang di buatnya.
"Hey, baby!"
__ADS_1
Mata Sera berbinar-binar, saat menoleh kearah sumber suara. Lelaki itu melepas semua kancing baju kemeja putih nya hingga terlihat jelas otot -otot serta roti sobek yang membuat hati berdesir, ludah seakan ingin menetes ke lantai.
" Hey, lihatlah. Air liur mu sebentar lagi akan menetes ... aku tau kamu begitu tergiur melihat tubuhku! Namun tenang saja, karena aku milikmu malam ini, besok, lusa dan selamanya." Angga berjalan mendekat kearah Sera. Gadis itu mematung menatapnya hingga tanpa sadar jika suaminya sudah berada di dekatnya.
" Kamu cantik banget sayang, aku suka. Sangat suka!" bisik Angga dengan suara serak kemudian menciumi jenjang leher Sera.
" Emmmmm ...." Sera mengerang kegelian, hembusan nafas Angga membuat bulu kuduknya merinding, dan kecupan-demi kecupannya membuat Sera melayang -layang di angan.
"Aaah, mas ...."
Suara itu terdengar begitu seksi, jiwa lelakinya semakin menjadi-jadi. Bahkan si gundul sudah berdiri tegak lurus ke depan, siap minta di asah agar tidak tumpul lagi.
"Sayang, aku mencintaimu," ucap Angga menatap kedua bola mata Sera.
Mata Angga berkaca -kaca, hatinya berbunga-bunga. Ia merasa menjadi seorang pria paling bahagia sekarang ini. Ah, rasanya tidak tahan jika hanya merasakan bahagia saja, ia menginginkan lebih dari bahagia. Angga pun menggendong tubuh Sera berjalan menuju tempat tidur, dan Sera pun pasrah mengalungkan tangannya di leher Angga sambil tersenyum malu.
Perlahan Angga merebahkan tubuh Sera di atas kelopak bunga mawar berbentuk love, lalu ia menindihi istrinya tersebut.
"Apa kamu sudah siap?" Angga mengelus pipi Sera lembut. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk, dari awal ia sudah menjadi milik Angga, dan sekarang pun sudah hak menjadi milik Angga, jadi tak ada alasan lagi dirinya menolak.
Dengan senyuman menggoda Angga mendekatkan kepalanya lalu perlahan mencium bibir Sera begitu lembut penuh perasaan.
"Kau milikku, Sera. Selamanya kau hanya menjadi milikku!" lirih Angga lalu kembali mencium bibir kenyal berwarna pink yang terasa manis, membuatnya seakan menjadi candu dengan kenikmatannya.
__ADS_1
Sera membalas, lalu kedua tangannya mengalungkan ke leher Angga, hingga tanpa sadar, entah siapa yang memulai, keduanya sudah sama-sama telanjang tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh mereka.
Benda pusaka Angga kini sudah berada di dalam milik Sera, hingga terdengar suara yang begitu seksi keluar dari mulutnya.
Getaran -demi getaran, seolah sedang terjadi gempa bumi yang begitu dahsyat hingga membuat tempat tidur bergoyang bahkan nyaris seisinya, dan mengeluarkan bunyi suara aneh menggema di dalam sana. Udara dingin AC kini menjadi panas, peluh keringat berjatuhan membasahi kedua tubuh manusia yang sedang bergelut tersebut. Remang-remang kamar gelap yang hanya di terangi oleh pacaran cahaya lilin kecil berjajar di pinggiran menjadi saksi bisu cinta mereka.
Hingga suara panjang keluar bersamaan dari mulut mereka, pertanda kenikmatan sudah mencapai puncaknya. Angga tumbang di samping Sera dengan nafas tersengal, lalu tersenyum menatap istrinya yang kelelahan telah melayani nafsu birahinya yang sudah lama terpendam.
"Capek ya sayang?" tanya Angga menyinkap anak rambut Sera.
Sera tersenyum malu, lalu membenamkan wajahnya di dada Angga.
"Gimana gak capek, kamu nya kuat banget gitu, melebihi hewan buas, tau gak," ujar Sera, Angga pun tertawa lalu memeluk Sera erat mengecup pucuk kepalanya.
"Mau lagi?" goda Angga.
"Mas, kasih jeda dulu napa!" Kesel Sera memukul dada suaminya.
"Tapi aku mau lagi ...."Angga tak mau denger lelaki itu sudah berada di atas tubuh Sera.
"Mas ... dasar, lelaki tua mesum ...."
"Aaah, pelan-pelan ...."
__ADS_1