
Satu minggu kemudian. Alex masih belum bercerita mengenai dirinya yang hendak pergi ke Jepang. Ragu sekaligus takut. Dan gak tegaan juga jika berpamitan, pasti gak mau berpisah walau hanya 3 hari saja.
" Dah selesai, gantengnya suamiku ini," ucap Sherly setelah memasangkan dasi di leher suaminya, lalu merapihkan kemejanya.
"Iya dong, kalau aku gak ganteng. Nanti kamu gak mau lagi sama aku, dan mencari laki-laki ganteng dan masih muda yang lain di luar sana," jawab Alex lirih, ia masih tidak terlalu percaya diri dengan perbedaan umur mereka yang terpaut cukup jauh.
"Ya mana mungkin lah Mas, aku bukan wanita yang seperti itu. Mau tua ataupun muda. Kalau sudah cinta, semua perbedaan itu bukanlah menjadi sebuah alasan untuk bersama. Jodoh Allah sudah mengaturnya, dan jika sesuatu hari nanti kita tidak bersama seperti sekarang ini. Berarti Allah hanya menjodohkan kita dengan waktu yang singkat, percayalah! Rencananya jauh lebih indah," ucap Sherly sembari menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"Tapi aku berharap, kita di jodohkan sehidup semati. Sampai maut yang benar-benar memisahkan kita, bukan dari masalah, apalagi orang ketiga. Aku harap kita selalu saling percaya dan saling setia. Agar hanya kematian yang benar-benar memisahkan cinta kita," kata Alex penuh harapan.
"Amin, semoga saja Allah tidak memutar balikan hati kita."
"Iya sayang, semoga saja. Karena aku hanya menginginkan dirimu yang selalu menemaniku, sekarang, esok dan selama napas ini masih berhembus."
"Iya Mas."
Alex memeluk erat istrinya, benar-benar takut akan perpisahan. Semoga kepergian nya hanya perpisahan sementara, hanya 3 hari, tidak lebih. Namun ia masih ragu untuk mengatakannya.
"Aku berangkat dulu ya, nanti kamu di rumah hati-hati. Kalau ada apa-apa cepat telpon aku," ucap Alex mengingatkan.
"Iya Mas, nanti sore pulang jam berapa?" tanya Sherly sambil membawakan tas Alex. Kedua sama-sama berjalan menuju pintu keluar.
"Mungkin sekitar jam 4 atau 5. Nanti kamu kuliah siang kan?"
"Iya, jam 2. Pulang nya mungkin jam 4."
"Ya udah nanti aku jemput ya. Tapi untuk antar kamu kayaknya aku gak sempat, banyak kerjaan di kantor," sesal Alex, padahal ia selalu ingin mengantar pergi, jemput istrinya. Tetapi kerjaan juga penting sehingga ia hanya bisa sesekali saja mengantar, jemput nya.
"Iya gak apa-apa Mas, nanti sahabat-sahabat aku jemput ke sini."
Alex mengangguk, ia mengusap pucuk kepala istrinya lembut lalu mengecup nya.
"Aku jalan dulu ya, dah sayang. I Love you," ucap Alex berpamitan. Kecupan pipi kiri dan kanan tak ketinggalan.
" Hati-hati di jalan Mas." Kini giliran Sherly yang mengecup punggung tangannya, lalu sedikit menjijikan kakinya kemudian mengecup bibir suaminya.
Kecupan demi kecupan berganti ini selalu saja mereka lakukan setiap pagi dan setelah pulang kerja, setelah Alex yang meminta pastinya. Sherly hanya bisa pasrah tanpa protes sama sekali. Wajah gemes suaminya membuatnya justru tak bisa menolak.
"Assalamualaikum," salam Alex sembari melambaikan tangan.
"Wa'allaikumsalam, hati-hati Mas!"
"Iya sayang ku, muuuuaaaah." Alex memberikan kiss bye. Lalu memasuki lift.
Sherly tersenyum, ia kemudian menutup pintu dan membereskan meja makan setelah mereka sarapan tadi. Sherly mencuci piring, menyapu di barisan bawah meja, lalu mengepelnya.
Sebenarnya di ada pekerja di apartemen mereka. Hanya saja ART itu datangnya jam 9 pagi, lalu pulang jam 3 sore. Namun Sherly tetep melakukan pekerjaan rumah walau sudah di karang oleh Alex.
Sherly hanya risih melihat rumah yang berantakan. Selagi ia masih bisa melakukannya, mengapa tidak. Walau hanya sekedar yang terlihat saja supaya tidak terlalu berantakan bila di pandang.
Setelah membereskan rumah, bell apartemen nya berbunyi.
"Siapa yang datang?" tanya Sherly pada dirinya sendiri. Ia melihat arah jam yang masih menunjukkan pukul 8 pagi, itu artinya bukan ART nya yang datang.
Sherly berjalan menuju pintu, sebelum ia membukanya. Sherly mengintip terlebih dahulu melalui lubang kecil yang ada di pintunya.
"Mamah." Setelah melihat siapa yang datang. Sherly langsung membuka pintu.
"Hay sayang, assalamualaikum."
"Wa'allaikumsalam."
__ADS_1
Keduanya berpelukan, lalu cipika cipiki.
"Mamah apa kabar?" tanya Sherly pada mamah mertuanya.
"Sehat sayang ... Alex udah berangkat?"
"Udah Mah ... eh, Mamah bawa apa?" tanya Sherly saat melihat bawaan mamah mertuanya yang di tentang nya.
"Jamu," jawab Ratna sambil mengeluarkan isi di dalam peper-bag nya ke atas meja.
"Jamu buat siapa? Mas Alex?" tanya Sherly melihat jamu yang sudah di sedu di dalam botol minum almumim agar tetap hangat tersebut.
Sherly membuka tutupnya, ia pun mencium aroma nya yang sangat menyengat.
"Untuk kamu lah sayang, buat Ada juga. Tapi kami sendiri yang buatkan untuk dia, Mamah ada resep khusus untuk suami kamu. Nah kalau yang ini buat kamu, Mamah udah membuat nya, minumlah," ujar Ratna sambil menyodorkan gelas yang sudah di isi jamu.
"Tapi ini jamu untuk apa khasiatnya, dan terbuat dari apa? Kok baunya gak enak banget," ucap Sherly komentar sebelum meminumnya, ia sedikit ragu.
"Ini adalah jamu kunyit dan kencur."
Kencur dan kunyit adalah rempah yang sangat umum digunakan sebagai bahan baku jamu. Jamu kencur dan kunyit dipercaya melancarkan siklus menstruasi yang tidak teratur. Selain itu, jamu kencur dan kunyit juga berkaitan erat dengan mengurangi aroma tak sedap pada organ intim. Karena itulah, jamu kencur dan kunyit diyakini dapat berpengaruh pada organ reproduksi dan meningkatkan kesuburan.
"Ayo di minum, gak apa-apa. Ini baik untuk kesuburan kamu. Mau cepat dapat momongan kan?"
Sherly mengangguk, ia pun meminumnya.
"Uuueeek, pahit banget Mah." Sherly kepahitan.
"Nie minum maju, tapi gak terlalu pahit kok. Kamu nya aja yang gak terbiasa, pokoknya harus di minum ya."
Sherly hanya bisa mengangguk, walau sebenarnya tak mempercayai jamu tradisional seperti ini. Namun orang-orang jaman dulu selalu percaya.
"Dan yang ini adalah jamu ginseng. Sangat baik di minum setelah masa haid kamu selesai. Kalau sudah selesai di minum ya, nanti Mamah yang buatkan.
"Harusnya udah selesai sih hari ini Mah, soalnya Sherly merasa udah gak keluar sama sekali darah maupun flek-flek nya," jawab Sherly.
"Wah, bagus dong. Nanti malam Alex bisa melakukan salam perpisahan dulu sebelum berangkat. Pasti dia semangat banget dah," ucap Ratna senang.
"Berangkat? Berangkat ke mana maksud nya?" Sherly yang gak tau apa-apa tentu ia merasa heran.
"Ke Jepang kan besok? Lupa ya," goda Ratna sambil terkekeh.
"Besok ke Jepang? Kok Mas Alex gak ngomong apa-apa sama Lily?" Kaget Sherly, ia tak tau apa-apa mengenai suaminya yang hendak pergi ke Jepang itu.
"Kok aneh suamimu ini. Mau pergi kok gak bilang-bilang sama istrinya. Padahal sudah lama loh rencana keberangkatan nya ke Jepang ini. 5 hari yang lalu saat klien orang Jepang itu datang ke kantornya. Nah besok baru mereka akan mengurus proyek kerjasama mereka setelah Alex sudah berada di Jepang," jelas Ratna.
Sherly melamun, ia tak mengerti jalan pikiran suaminya. Apa maksudnya yang tak mau memberitahu dirinya tentang masalah ini. Apa dirinya ini tidak segitu penting nya sampai-sampai berpamitan saja tidak ingin.
Sherly bahkan tak bersemangat kuliah sekarang. Ia lebih banyak melamun daripada mendengarkan penjelasan mata kuliah yang sedang di terangkan dari dosennya tersebut.
Bahkan sesampai kelas nya di bubarkan karena sudah usai.
"Hay, gue perhatiin kok lo melamun terus sih? Lagi ada masalah?" tanya Dara.
"Lo gak lagi berantem kan sama om Alex?" imbuh Yura. Kedua sahabatnya begitu peka.
Sherly membuang nafasnya kasar.
" Mas Alex mau ke Jepang," ujar Sherly lirih.
"Wah bagus dong. Mau bulan madu ya? Iiih, romantis bangat, negara Jepang itu adalah negara impian gue. Pokoknya nanti setelah nikah, gue juga mau bulan madu di sana!" Seru Yura girang. Namun Sherly mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Boro-boro bulan madu, rang dia pergi ke sana aja gak bilang apa-apa sama aku. Aku tau dari mamah mertua. Padahal besok dia udah mau berangkat, 3 hari pula dia di sana," ucap Sherly menggebu. Kesal, sedih campur aduk dalam hatinya.
"Hah, kok bisa gitu? Kenapa om Alex gak bilang-bilang, aneh banget loh. 'Kan lo adalah istrinya, gimana sih?" Dara jadi kesal sama Alex. Sherly menggeleng tak tau.
"Mungkin om Alex punya rencana lain Ly, berpikir tinting aja. Kali aja nanti malam dia baru ngomong sama kamu," ujar Yura, ia menasehati agar tidak berpikir yang nggak-nggak terlebih dahulu.
"Tapi kenapa gak ngomong dari awal, kalau malam ini kesannya mendadak banget. Aku pasti kaget kalau misalnya mamah Ratna gak kasih tau aku tadi. Emangnya apa salahnya coba memberi tahu semuanya sama istri sendiri." Sherly mulai sedih, matanya sudah berkaca-kaca.
"Kalian kan baru bersama belum lama ini. Dia mungkin butuh waktu untuk interaksi sama pasangan hidupnya. Mungkin saja om Alex berpikir jika kamu tau hari sebelumnya, apa kamu akan kasih dia izin? Tau merasa sedih dengan kepergiannya. Aku yakin om Alex pasti berpikir begitu, makan dia gak berani bilang sama kamu," ujar Yura panjang lebar. Ia terus menyemangati sahabat nya agar tidak berpikir yang negatif.
"Benar juga sih, kalau om Alex kasih tau kamu malam ini. Mau gak mau kamu pasti kasih izin dong, kan udah pesan tiket dan persiapan semuanya. Gak mungkin di batalin hanya karena kamu gak kasih izin, rugi lah. Apalagi sangkut paut dengan kerjasama perusahaan." Dara menimpali ikut berpikir positif. Kedua gadis itu percaya pada Alex.
Sherly berpikir, mungkin seharusnya ia berpikir positif seperti kedua sahabatnya. Ia yakin Alex tidak mungkin pergi tanpa pamit dengan nya.
"Baiklah, kita liat nanti malam dia ngomong apa nggak. Walaupun dari awal dia ada kasih tau, aku pun gak mungkin gak kasih izin. Aku mana ada hak, apa lagi soal perusahaannya. Justru aku malah dukung!"
"Iya, bicarakan masalah ini baik-baik dengan kepala dingin. Jangan sampai emosi, cobalah untuk saling terbuka. Jika dia tertutup, coba lah kamu yang membukanya. Jangan gengsi untuk duluan, karena laki-laki itu tidak mengerti wanita, kalau ada apa-apa langsung saja ungkapkan. Jangan sampai di pendam, ujung-ujungnya malah salah paham. Komunikasi itu penting kawan," ujar Yura menasehati dengan bijak. Bahkan sampai Dara saja terkaget-kaget di buatnya.
"Lo sehat?" tanya Dara sembari menyentuh kening Yura.
" Hangat ... dia benaran Yura nya kita?" Dara bertanya pada Sherly dengan tatapan tak percaya. Tumben bijak, biasnya selalu Lola otaknya jika nangkep sesuatu.
"Ah elu, giliran gue bijak aja Lo heran. Selama gue Lola, selalu di omongin. Kapan pinter nya sih? Sebel," cemberut Yura. Dara dan Sherly pun langsung tertawa.
"Eh, laki gue telpon nie?" kata Sherly saat handphone nya berdering.
"Angkatlah, mungkin dia sudah di depan," ujar dara. Sherly mengangguk, lalu ia menjawab panggilan telepon dari suaminya itu.
"Halo Mas?"
"Halo sayang, aku udah di depan gerbang nie? Kamu udah keluar?" tanya Alex.
"Iya Mas, oke aku ke sana sekarang." Sherly lalu mematikan telepon nya dan berpamitan pada kedua sahabatnya untuk pulang lebih dulu.
"Bye, hati-hati di jalan. Ingat untuk berbicara dengan kepala dingin," ucap Yura mengingatkan.
Sherly mengacungkan jempolnya. Dara merangkul pundak Yura dengan bangga.
"Assalamualaikum, Mas." Sherly mengecup tangan suaminya.
"Wa'allaikumsalam." Alex pun membalasnya dengan kecupan di kening.
Banyak mata yang melihat arah mereka. Ada banyak juga yang berbisik mengenai Alex yang menjemput mantan pacar cowok idola di kampus ini.
Yang tak tau pasti berpikir jika Alex yang sebagai lelaki dewasa, pasti adalah sugar Daddy nya Sherly. Begitulah sebagian pemikiran maha siswi di kampus ini.
Selama di dalam perjalanan Sherly selalu saja memperhatikan Alex yang tengah mengemudi. Wanita itu sangat penasaran dengan suaminya yang tak memberitahu dirinya tentang keberangkatan ke Jepang itu. Ingin sekali ia bertanya, tetapi suaranya itu rasa tertahan di tenggorokan.
" Kenapa? Kok liatin aku terus gitu," kata Alex.
" Nggak kenapa-napa, emangnya salah ngelihatin suaminya sendiri?" tanya Sherly.
" Ya gak salah sih? Cuma aneh aja gitu. Gak bisanya," jawab Alex.
Sherly diam, keduanya sama-sama terdiam sesaat.
"Oh iya Mas, salah satu teman aku ada yang mau berangkat ke Jepang loh besok," ucap Sherly menyindir.
Berbicara soal Jepang, spontan Alex langsung menginjak rem mobilnya mendadak.
"Astagfirullah Mas, kamu ini kenapa?" kaget Sherly karena ia hampir saja kebentur untungnya pakai sabuk pengaman.
__ADS_1
"Aku ...."