Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Kampus


__ADS_3

Pagi ini Sherly bersiap-siap hendak pergi ke kampus. Setelah acara tadi malam pertemuan antara keluarga Alex dan keluarganya membuat Sherly tak bersemangat. Walau ini kehendaknya namun hatinya tidak dapat di bohongi, sakit. Itulah yang ia rasakan. Menikah dengan orang yang tak di cintai siapa yang menginginkannya, hanya karena ingin membalas perbuatan Devan agar menyesal dan memohon maaf padanya agar menyadari perbuatannya, harap-harap taubat


Ia pun terpaksa meminta pernikahan ini dan mengarang cerita jika dirinya dan Alex sudah melakukan hal yang tak sepantasnya.


Dan tanggal pernikahan mereka sudah di tentukan minggu depan. Walau Angga sebenarnya ingin di lakukan besok lusa pernikahan itu karena lelaki itu tau apa yang akan jika menunda terlalu lama menurut dari pengalaman nya. Namun, yang di katakan oleh Bobby benar adanya, jika menikah tidak segampang layaknya kawin. Menikah butuh proses walau sebenarnya satu Minggu itu juga terlalu cepat dan mempet, namun masih bisa mengundang beberapa kerabat dan para tetangga serta menyiapkan dekor sederhana. Jika di lakukan dalam 2 hari, siapa yang mampu. Sebab itulah Angga pun pada akhirnya mengalah.


"Loh Om Alex kok ke sini?" tanya Sherly terkejut melihat kehadiran Alex pagi-pagi di rumahnya.


"Aku ke sini ingin mengantar kamu ke kampus," jawab Alex santai.


"Tapi aku bisa berangkat sendiri kok. Gak perlu repot-repot seperti ini Om," kata Sherly menolak karena sangat terasa asing baginya bersama Alex.


"Ini permintaan mamah, aku mana bisa menolak saat dia memintaku untuk datang ke sini dan mengantarmu ke kampus," jawab Alex tegas seakan tak terima penolakan.


"Baiklah." Sherly pun mengalah.


Selama di dalam perjalan, keduanya saling diam kayaknya tidak mengenal dan satu sama lain. Sherly terus menghadap ke luar jendela, sedangkan Alex fokus mengemudi namun sesekali ia mencuri pandang ke arah Sherly.


"Nanti kamu pulang jam berapa?" tanya Alex.


"Jam 2," jawab singkat Sherly tanpa menoleh.


"Nanti aku jemput.'


Spontan Sherly langsung menoleh," Eh gak usah Om, aku bisa pulang sendiri kok. Nanti teman yang aku yang anter pulang."


"Ini perintah," tegas Alex membuat Sherly menghembuskan nafasnya kasar.


"Baiklah, tapi jangan tunggu aku di depan gerbang. Om tunggu aja di halte bus sebelum kampus, nanti aku ke sana," pinta Sherly.


"Kenapa? Apa takut Devan mengetahuinya?"


"Bukan, hanya saja aku masih belum mengatakan apa-apa padanya. Aku gak mau dia melihat mu terlebih dulu sebelum hari pernikahan," jawab Sherly.


Alex menghela." Kamu tidak bisa menyesali keputusan ini jika Devan tidak ingin putus darimu Sherly. Kamu yang meminta, kau pula yang memuai kebohongan pada keluarga kita. Jadi ... alasan apapun, kamu tidak bisa membatalkan pernikahan ini hanya karena tidak rela berpisah darinya. Ingat itu baik-baik," ucap tegas Alex mengingatkan.


"Aku tau itu, Om tentang aja aku tidak akan menarik kata-kataku kembali,' jawab Sherly yakin, karena ia tidak akan kembali pada Devan, bahkan jika kekasihnya itu memohon sekalipun.


"Tolong turunkan aku di halte itu."


Alex menepikan mobilnya.


"Aku ke kampus dulu Om, terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu," kata Sherly saat turun dari mobil.


Alex hanya diam sambil terus memperhatikan Sherly berjalan menuju kampusnya yang tak jauh dari halte tersebut. Ia mengacak rambutnya. Sherly sangat keras hatinya, sedangkan Alex tidak tau cara merayu wanita untuk mencuri hatinya.


"Apa yang harus aku lakukan," desah Alex tak tau caranya mendekati wanita. Ia pun menjalankan mobilnya kembali menuju kantornya.


Sherly berjalan di koridor kampus, sesaat sedang asik mengayunkan kakinya. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat pandangan nya tertuju pada dua sejoli yang nampak mesrah.


"Devan ...." panggil Sherly.


"Eh, sayang. Kamu udah datang." Dengan cepat Devan melepaskan tangan wanita di sampingnya yang sedang merangkul lengannya manja.


"Kamu pergilah dulu nanti aku menyusul," ucap Devan pada Imel yang tak lain adalah sahabatnya.


"CK, tapi nanti malam jangan lupa loh ya kalau kita akan adu balap motor sama anak-anak. Awas kamu kalau sampai gak datang.'


"Aku tau, justru itu yang aku tunggu-tunggu. Mana mungkin aku lewatkan."


"Oke, kalau gitu aku ke tempat anak-anak duluan ya."


Cup .... Imel mengecup pipi Devan tanpa ragu, tak peduli jika ada Sherly selaku kekasih Devan di sana.

__ADS_1


"Bye Sherly," pamitnya sambil melambaikan tangan dengan senyum menyeringai di wajahnya.


Devan hanya diam tanpa protes atas kecupan lancang Imel padanya. Shelly dapat menembak jika itu bukan hanya sekali. Ia pun tersenyum miris pada dirinya sendiri.


" Wow, romantis banget," puji Sherly.


"Apaan sih, kamu kan tau jika dia itu adalah sahabat aku. Sudah biasa seperti itu," jawab Devan.


"Sahabat rasa pacar," gumam Sherly pelan sehingga Devan tak dapat mendengar.


"Kita ke kantin yuk, aku lamper!" ajak Devan sambil merangkul pundak Sherly.


"Maaf aku ada kelas pagi, kamu ke kantin aja sendiri." Sherly melepaskan tangan Devan dari pundaknya. Lelaki itu nampak tercengang dengan penolakan Sherly hari ini yang tak seperti biasanya.


"Ya sudah kalau begitu, semangat mengerjakan tugas kuliahnya ya." Devan hendak mengecup kening Sherly, namun gadis itu memalingkan wajahnya menghindar hingga membuat Devan diam mematung.


"Aku pergi dulu,' ucap Sherly bersikap dingin kemudian berlalu begitu saja tanpa menoleh sama sekali.


"ada apa denganya, kenapa sikapnya dingin begitu sama aku seolah menghidar?" bingung Devan yang terus menatap punggung Sherly yang sudah menjauh.


Sesampai di kelas, Sherly menghempaskan tasnya lalu duduk dengan wajah yang di tekuk masam namun ada kesedihan di sana. Kedua sahabatnya menatap kebingungan.


"Ly, Lo gak apa-apa?" tanya Yuna khawatir.


"Gue gak apa-apa," jawab Sherly bohong. Melihat Devan bersama Imel membuat hatinya terasa sesak. Lelaki yang di cintai dengan tulus tega mempermainkan perasaan nya.


"Bohong, kita sudah lama berteman Ly. Gue tau Lo, jadi gue yakin jika lo nggak kenapa-napa sekarang ini," kata Yuna serius.


Sherly pun menatapnya sendu, kemudian memeluk erat sahabatnya.


"Gue mau nikah minggu depan. Kalian jangan lupa datang ya," ucap Sherly di dalam pelukan sahabatnya dengan nada lirih.


"What, menikah?" kaget Yuna dan Dara serempak dengan nada kencang hingga siswa-siswi di kelas tersebut menoleh arahnya.


"Sssttttt, jangan kenceng-kenceng bego. Ah kalian berdua ini, mau jadi pusat perhatian di sini," omel Sherly membekap mulut duanya.


"Atau, jangan-jangan kamu ham ...."


Sherly langsung membekap kembali mulut Dara yang hendak mengatakan jika dirinya hamil.


"Ya nggak lah lo pikir gue cewek apaan," jawab Sherly pada Dara.


"Terus kenapa Lo mau menikah cepat-cepat. Kan masih kuliah?" ucap Dara dan di angguki oleh Yuna.


"Nanti aja deh gue cerita kalau klas udah berakhir."


"Yaaah, sekarang Napa."


"Tau nie, sekarang aja dong. Jangan bikin kita mati dalam keadaan penasaran dong," timpal Yuna, keduanya tak sabaran ingin mengetahui alasan mengapa Sherly ingin segera menikah, dan dengan siapa.


"Nanti," tegas Sherly.


"Ly, ayo dong. Ah elo mah gitu sama sahabat sendiri, gak kawan lagi kita," Yuna merajuk.


" Bener, gue juga." Dara pun ikutan dengan bibir manyunnya sambil tangan di lipat di dada.


Sherly hanya memutar bola matanya malas, sudah tau jika kedua sahabatnya itu memang tak sabaran. Dan untungnya dosen keburu datang sehingga ia tak perlu menjelaskan saat ini juga.


******


Setelah jam kuliah berakhir, Ke-tiga sekawanan itu duduk di bawah pepohonan yang sudah tersedia di kampus agar para maha siswa-siswi dapat bersantai di lingkungan kampus.


"Ly, ayo dong cerita. Udah janji kan." Yuna tak sabaran.

__ADS_1


"Sabar napa sih, baru juga duduk. Belum minum haus nie tenggorokan," kata Sherly malas.


"Ini, cepat minum." Dara menyodorkan minumannya pada Sherly.


"Makan mana makan, laper nie," canda Sherly. Dan dengan cepat Dara menyodorkan kembali. Entah dapat dari mana gadis itu memakan serta minuman tanpa membeli, tasnya seakan sama seperti kantongnya Doraemon. Tas ajaib.


"Kipas mana kipas." Keduanya patuh mengipasi Sherly dengan buku. Sherly tersenyum jail.


'Napas mana napas," canda Sherly.


"Sherly ...." Ia pun mendapat pukulan dari kedua sahabatnya.


"Oke-oke." Setelah meredakan tawanya, Sherly pun menceritakan dari awal hingga sampai malam lamaran Alex. Kedua sahabatnya Napak kesal dengan Devan dan mendukung Sherly menikah.


"Gila memang Devan itu, jahat banget. Gue juga udah menembak dari dia sering berduaan sama ceweknya itu yang selalu nempel. Bilangnya hanya sahabat tapi melebihi pacar," geram Yuna kesal.


"Udah kamu nikah aja abis itu punya anak yang banyak sama om nya Devan, biar tau rasa laki-laki tak tau di untung itu. Biar aja ria nyesel sampai nangis darah, mati sekalian," imbuh Dara juga kesal.


"Punya anak?" Sherly belum kepikiran sampai sejauh itu. Pernikahan tanpa cinta apa bisa mengahasilkan buah cinta? Apalagi pernikahan hanya terkontrak dalam satu tahun. Jika keduanya tidak memiliki perasaan maka pernikahan itu berakhir fi meja hijau.


Handphone Sherly berdering, ia melihat nama tertera di layar ponselnya tersebut.


"Siapa?" tanya Yuna kepo.


" Om Alex."


"Angkat cepatan," heboh Dara.


"Halo Om?"


"Apa kamu sudah keluar? Aku sudah di halte bus nie," ucap Alex.


Sherly melihat arloji di tangannya menunjukkan pukul 2 siang, ia ingat ucapan Alex tadi pagi jika dia akan menjemputnya.


"Oke aku ke sana." Sherly langsung mematikan handphonenya.


"Gue.ke halte bus duluan ya," pamit Sherly.


"Eh ngapain?"


"Om Alex udah nunggu di sana," jawab Sherly merapihkan buku nya lalu masukkan ke tasnya.


"Kok di sana, kan jauh?" heran Yuna.


"Gue yang minta, ya udah gue duluan ya. Bye ...."


"Eh, tapi kita mau liat tampang om Alex. Ikut ya, liat doang abis itu udah kita balik lagi gak ikut masuk mobil kok," kata Dara.


"Hari pernikahan aja Lo liatnya, bye." Sherly melangkah cepat meninggalkan kedua sahabatnya.


"Ye si Lily, pelit banget," gerutu Dara sebel dan Yuna hanya terkekeh. Belum lama kepergian Sherly, Devan datang menghampiri keduanya.


"Kalian liat Sherly?" tanya Devan langsung pada intinya.


"Sherly siapa ya? Gak kenal tuh," ucap Dara dan Yuna kompak.


"Jangan bercanda deh, kalian sahabatnya mana mungkin tidak tau," kesel Devan.


"Lah situ pacarnya, kenapa gak tau? Apa lagi kita," jawab ketua Dara dengan tatapan kebencian.


"Kalau gue tau mana mungkin gue tanya." Devan habis kesabarannya. Imel pun datang membuat Yuna dan Dara ingin muntah melihatnya.


"Dah lah, cabut yuk." Yuna dan Dara pergi begitu saja tanpa mengatakan dimana Sherly berada. Lagi-lagi Devan merasa ada yang aneh pada ketiganya yang menghindari dirinya.

__ADS_1


"Hey, kamu kenapa bengong. Ayo pulang." Imel menarik tangan Devan dan mengajaknya ke parkiran di mana motor milk Devan terparkir di sana dan Imel menumpang.


Sebelum menyalakan mesin motor Devan sempat melihat handphone nya lebih dulu. Ia mengecek apakah Sherly menghubungi dirinya. Namun sayangnya nihil, gadis itu tak mengirim pesan atau telpon, tak seperti biasanya yang selalu memberi tahunya jika jam kuliah sudah berakhir. Namun kali ini tidak sama sekali membuat hatinya resah.


__ADS_2