Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, hiduplah bersamaku


__ADS_3

Hari esoknya, Alex bangun dari tidur. Ia melihat arah samping yang ternyata tak ada lagi istrinya itu. Alex langsung bangkit seketika dari tempat tidur untuk mencari keberadaan sosok istrinya dengan panik.


"Sayang, kamu di dalam?" Alex mengetuk pintu kamar mandi perlahan. Karena tak ada jawaban Alex pun membukanya.


"Kosong?" Alex kembali panik.


"Ya Allah, di mana istri ku?" Alex keluar dari kamar dan mencari sosok istrinya di setiap isi ruangan dengan kalang kabut. Saat menuju dapur, Indra penciuman nya mencium aroma masakan yang sedap. Hatinya merasa lega karena yakin jika itu adalah istrinya yang sedang memasak.


Dan benar saja, Sherly tengah memasak dengan celemek yang ia kenakan. Sangat serius sehingga kedatangan suaminya yang sudah di belakang tidak mengetahuinya.


"Sayang, ternyata kamu di sini. Aku mencari kamu kemana-mana tadi." Alex langsung memeluk Sherly dari belakang dengan sangat erat menyandarkan kepalanya di punggung istrinya itu.


"Mas, kamu ini bikin aku kaget aja loh. Lagian aku gak akan pergi kemana-mana," ucap Sherly geleng-geleng kepala dengan sikap lebay suaminya itu.


"Aku takut kamu pergi jauh, saat aku bangun tidur tadi kamu udah gak ada di sampingku. Aku takut kamu pergi meninggalkan aku." lirihnya yang masih di posisi yang sama.


Sherly tersenyum, ada rasa haru dalam hatinya. Sampai segitunya suaminya itu takut kehilangan dirinya. Sherly mengelus tangan Alex yang melingkar di perutnya.


"Aku istrimu Mas, mana mungkin aku pergi meninggalkan kamu, jika bukan kamu yang memintaku pergi."


Alex langsung memutar balikkan badan Sherly, lalu ia menggeleng.


"Nggak, aku gak mungkin meminta kamu untuk pergi. Kamu adalah istriku, dan aku mencintaimu," ucap Alex tegas, dan langsung kembali memeluk Sherly erat seakan takut kehilangan.


Sherly terdiam, ia masih mencerna kata yang di ucapkan oleh suaminya tadi. 'Mencintaimu' Satu kalimat itu terus memekak di telinga nya. Kemudian ia pun tersenyum sambil membalas pelukan Alex.


"Masakan ku gosong Mas," pekik Sherly saat aroma bau setengah gosong itu menusuk hidungnya.


Sherly langsung mematikan kompor, lalu melekatkan masakannya ke dalam piring.


"Huuuf, untung saja gak gosong. Cuma kuah nya aja yang kering," ucap Sherly lega. Setidaknya masakannya masih bisa di makan.


Alex kembali memeluk istrinya itu dari belakang.


"Mas, aku masih belum selesai loh, kamu sebaiknya mandi. Baju udah aku siapin di pingir tempat tidur, nanti kita sarapan bareng," ucap Sherly yang kembali memotong sayur. Namun Alex tak bergerak sama sekali, ia malah mengendus-endus tengkuk leher belakangnya.


"Mas ...." Sherly merasa geli, apa lagi saat lidah Alex menjilat kulitnya. Darahnya langsung berdesir.


"Mas ...." panggil Sherly lagi supaya suaminya itu berhenti. Tetapi Alex justru malah memutar balik tubuhnya lagi menghadap arahnya.


"Mas, aku mau mas ...."


Belum sempat Sherly berucap. Alex sudah menyumpal mulutnya dengan bibirnya. Lelaki itu menciumnya sangat lembut hingga membuat Sherly seakan terhipnotis dan langsung mengalungkan keduanya tangannya di leher Alex, kemudian membalas ciumannya.


Alex yang mendapatkan serangan balik dari istrinya, ia langsung mengangkat tubuh mungil istrinya itu hingga duduk di atas dapur tanpa melepaskan ciuman nya di bibir manis sang istri.


Tangannya tak tinggal diam, dengan sangat nakal tangan itu sudah menyusup masuk ke dalam baju kaos Sherly untuk mencari bukit kembar yang lembek tak bertulang itu. Setelah menemukannya, lalu tangan Alex memencet-mencetnya pelan, penuh dengan perasaan.


"Mas Alex."


Mendengar suara indah keluar dari mulut istrinya itu, jiwa Alex meronta. Hasratnya tak terkendalikan lagi. Dengan nafsu ia membuka baju kaos istrinya hingga menyisihkan dalam yang nampak seperti kacamata saja, dan Alex langsung melepaskan nya dan membuangnya ke sembarang arah.

__ADS_1


Alex berpindah menciumi jenjang leher Sherly, bahkan menggigitnya kecil hingga menimbulkan tanda kepemilikan di sana.


"Mas, hentikan," ucap Sherly berusaha menghentikan Alex dengan mata yang terpejam merasakan sensasi lain dari dalam tubuhnya.


Namun sayangnya Alex seolah tak mendengar, lelaki itu tengah asik menghisap ujung bukit kembarnya yang kini sudah di penuhi oleh tanda-tanda Alex di sana.


"Mas, hentikan. Aku lagi halangan," tegas Sherly dan berhasil membuat Alex menghentikan aktivitas nya.


"M-maafkan aku." Alex baru sadar. Ia melihat keadaan istrinya yang sudah setengah telanjang itu akibat dirinya.


"Maafkan aku," sesalnya lagi dengan nada lirih. Kepala Alex menunduk. Ia takut jika Sherly akan marah padanya karena tak dapat menguasai dirinya. Alex kembali menurunkan Sherly.


"A-aku mandi dulu," ucapnya kikuk. Pada saat hendak melangkah. Sherly menarik tangannya. Alex pun menghentikan langkahnya lalu menoleh.


"Ada apa?" tanya Alex.


Sherly tidak menjawab, wanita itu malah justru langsung memeluk dirinya dari belakang. Sontak saja membuatnya kaget dan terheran-heran, tak bisanya istrinya itu memeluknya seperti ini.


" Aku akan membantumu," ucap Sherly pelan.


"Hah, kaku ngomong apa?" samar-samar Alex mendengar, namun tidak jelas.


Sherly menenggelamkan wajahnya di punggung Alex, tangannya memegang si Ucok yang sudah melambaikan tangan pertanda jika dirinya sudah bangun dengan berdiri tegak. Alex menunduk melihat arah tangan istrinya. Sontak saja membuatnya rasa tak percaya. Benarkah ini adalah istrinya? Rasanya tidak mungkin, karena Sherly yang ia tahu tidak seagresif seperti sekarang ini.


"Kamu siapa?" tanya Alex.


"Kamu ini Mas, malah bercanda. Gak lucu deh," jawab Sherly malas, niatnya memang ingin membantu suaminya itu karena kasihan. Tapi karena pertanyaan konyol itu membuatnya jadi tidak mood lagi.


"Aaakkkkh, Mas Alex!" teriak Sherly kaget saat tubuhnya tiba-tiba di gendong oleh suaminya.


"Kalau mau membantu jangan setengah-setengah, aku hanya bertanya. Tapi kamu sudah merajuk saja," ucap Alex menatap wajahnya istrinya.


"Lagian pake tanya kamu siapa segala, emangnya aku orang lain apa. Bikin gak mood aja," jawab Sherly cemberut.


Alex pun tertawa, ia berjalan sambil menggendong istrinya menuju kamar mereka.


"Aku takut kamu kerasukan. Soalnya Sherly yang aku kenal tak seagresif seperti sekarang ini. Tapi aku suka kamu yang begini, lanjutkan ya. Bantu aku menidurkan si Ucok."


Sherly hanya tersipu malu, ia membenamkan kepalanya di dada suaminya yang bidang itu. Alex membawa Sherly ke kamar mandi. Di bawah guyuran air, Sherly mengasak Ucok dengan tangannya, pelan dan lembut hingga membuat Alex merem melek merasakannya.


Alex tak tinggal diam, tangannya memegang bukit kembar itu, dan mulutnya mengunci mulut istrinya hingga tak selang waktu lama suara panjang Alex menyebutkan yang nama istrinya keluar dari mulutnya pertanda jika dirinya sudah mencapai puncak.


"Terima kasih sayang, besok-besok begini lagi ya."


Sherly langsung mencubit perut Alex. Suaminya itu di kasih hati malah minta jantung, nambah pula. Dengan cepat ia keluar dari kamar mandi dengan wajah merah. Sebenarnya ia tak tau mengapa bisa melakukan itu, seakan tubuhnya bergerak dengan sendirinya.


Alex memakai baju kantornya dengan senyum yang tak pudar dari bibirnya. Ia sangat senang hari ini. Walau si Ucok tidak di asah dengan masuk ke dalam goa. Dengan tangan pun jadilah, rasanya sama saja, geli-geli enak.


"Sayang, tolong pakaikan dasi dong," pinta Alex menghampiri istrinya yang sudah kembali ke dapur.


Dengan lapang dada Sherly mematuhi perintahnya. Alex terus memperhatikan wajah istrinya itu lekat, Sherly yang di perhatikan pun merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Kok liatin aku terus? Emangnya ada yang salah sama wajah aku?" tanya Sherly yang masih memasangkan dasi.


"Habisnya kamu cantik banget, sampai-sampai pandangan aku gak mau berpaling," jawab Alex yang kini sudah melingkar kan tangannya di pinggang istrinya.


"Gombal."


Alex mengangkat dagu Sherly hingga kedua mata mereka saling bertemu.


"Kamu memang sangat cantik, dari awal aku melihat mu. Aku sudah jatuh cinta sama kamu, jatuh cinta pada pandangan pertama," ucap Alex dengan manik serius, Sherly terus memperhatikan sorotan mata Alex yang mengatakan jika itu adalah benar.


"Sherly, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," ungkapnya bersungguh-sungguh. Sherly masih diam, ia tetep di posisi yang sama.


"Aku ingin hidup selamanya bersamamu, sampai umurku tua. Aku ingin kamu yang selalu ada di sisiku, menemani, menghabiskan sisa umur bersama ku. Melihat anak cucu kita tubuh besar, menikmati hidup bahagia bersama. Apa kamu mau hidup bersamaku selamanya, Ly?"


Bukan lamaran, namuan permintaan untuk hidup bersama hingga maut memisahkan.


Air mata Sherly mengalir begitu saja dari kelopak nya. Suaminya itu sangat bersungguh-sungguh mencintai, dan menginginkan dirinya dengan tulus. Betapa beruntungnya dirinya di cintai oleh lelaki sebaik Alex, mungkin inilah takdir hidupnya. Kebahagiaan ada di depan mata, apa lagi yang harus ia cari? Sherly menutup mulutnya dengan isakkan kecil.


"Jangan menangis, aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar bersedia, maafkan aku." Alex memeluk istrinya.


"Bodoh, bukan seperti itu. Aku menangis karena terlalu bahagia. Aku terharu Mas," ucap Sherly memukul dada suaminya sebel.


Alex melonggarkan pelukannya.


"Maksud kamu?"


Sherly tersenyum kemudian mengangguk.


"Iya Mas, aku mau hidup bersama kamu. Aku akan belajar mencintai kamu, membuka lebaran baru bersama kamu. Aku mau menghabiskan sisa hidup ku bersama kamu sampai maut memisahkan kita. Kita mulai dari awalnya, pacaran."


Alex terdiam, ia melepaskan tangannya dari tubuh Sherly lalu memutar balik tubuhnya membelakangi istrinya itu. Sherly yang menatapnya kebingungan, apa dirinya mengatakan sesuatu yang salah?


Alex berjalan perlahan, ia berhenti di depan dinding kemudian ia menjedotkan kepalanya.


"Ya Allah Mas, apa kamu gila?' pekik Sherly tak habis pikir dengan suaminya itu.


"Aku tidak lagi mimpi rupanya," ucap Alex dengan wajah ceria. Sherly bengong menatapnya.


"Ini bukan bermimpi? Berati ini nyata, aaaaaakkkkhhhh senangnya."


Alex langsung mengangkat tubuh istrinya lalu memutarnya senang.


"Jadi, yang kamu katakan tadi itu benar?" tanya Alex memastikan sekali lagi.


Sherly tersenyum, ia mengangkat kakinya agar sejajar dengan suaminya. Kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher, lalu mencium bibir Alex.


"Apa ini sudah meyakinkan dirimu?"


Alex tersenyum sembari mengangguk, ia kembali mencium bibir istrinya. Setelah selesai, Alex berbisik.


"Sayang, si Ucok mau di asah lagi."

__ADS_1


__ADS_2