
Lei dan Keyra berpegangan tangan menaiki pesawat, keduanya duduk santai sambil bersandarkan diri diri kursi penumpang. Keyra tertidur, dan Leo hanya bisa tersenyum menatap wajah damai istrinya. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Keyra lembut dan hati-hati agar dirinya lebih leluasa menatapnya.
"Aku tidak menyangka jika aku jatuh cinta sama kamu, wanita yang paling aku benci justru sekarang paling aku cinta bahkan melebihi saat aku mencintai Sera dulu. Allah maha Adil, ia pandai mempermainkan perasaan manusia sehingga tiada yang tahu takdir masa depan yang mustahil bagi kita namun tidak untuk nya." Leo membatin mengusap lembut wajah Keyra lalu ia kecup pelan keningnya dan kemudian ikut tidur sehingga tanpa sadar pesawat sebentar lagi mendarat di bandara.
"Sayang bangun sayang, udah sampe." Leo membangunkan.
"Em, udah sampa ya Le?" tanya balik Keyra membuka matanya. Leo mengelus kepala istrinya sembari mengangguk.
Setelah keluar dari bandara, mereka menaiki taksi menuju hotel yang dekat dengan pantai, sengaja mencari deket-deket agar tidak terlalu jauh saat hendak berpergian ke pantai. Keyra membuka jendela kamar hotel hingga udara segar menusuk aroma indra penciumannya. Pemandangan indah nampak dari sana dan laut pantai.
"Leo, ayo kita ke pantai!" ajak Keyra semangat.
"Besok aja sayang, emang kamu gak capek?Aku aja lelah banget loh, kita istirahat aja dulu ya," bujuk Leo.
"Yah, padahal udah gak sabar banget pengen liat santet," keluh Keyra kecewa.
"Santet?" ucap ulang Leo kebingungan.
"Iya, itu loh matahari terbenam," jawab Keyra sewot.
"Sunset sayang, lo kira dukun main santet- santet segala." Leo terkekeh mencubit gemes pipi istrinya.
"Sama aja lah, Sunset, santet. Gak beda jauh. Makanya ayo kita pergi liat," rengek manja Keyra.
"Janji besok oke, sekarang kita istirahat dulu biar saat bermain tidak kelelahan. Emangnya mau, baru sampai di pantai tapi gak main air karena kecapean?"
Keyra diam berpikir, kemudian ia mengangguk pasrah. Leo pun tersenyum mengecup sekilas bibir istrinya.
"Nah gitu dong, mandi yuk. Lengket banget badan," ajak Leo.
"M-mandi?" Keyra menatap suaminya penuh curiga membuat dirinya waspada, apalagi melihat senyum licik di bibir suaminya itu.
Dan benar saja, tapa kata lagi Leo menggendong dirinya dan membawanya ke kamar mandi. Tentu saja bukan hanya mandi. Dan bukan hanya itu saja, di kamar pun juga melalukan hal yang sama hingga pagi menjelang. Lalu di mana kata istirahatnya tadi? Ia seharusnya sudah curiga, dasar lelaki buaya. Modus!
Keyra mengerucutkan bibir nya sebel, badannya remuk semua akibat pertempuran mereka semalam. Ini justru membuatnya malah tidak bisa berjalan, apa lagi mau pergi ke pantai.
"Hey, cemberut aja dari tadi? Sarapan yuk," ucap Leo seraya tanpa dosa.
"Masih ingat mau kasih bini makan?" sinis Keyra sewot.
" Masih dong, makanya aku tawarin sarapan," jawab Leo santai. Keyra menarik napasnya dalam. Ia tidak menyangka ternyata Leo benar-benar buas, ia bahkan menjerit minta ampun sangking gagahnya suaminya itu.
__ADS_1
"Ini sudah jam 11 siang Leo, mau sarapan apa lagi, yang ada makan siang."
Leo malah tertawa lalu memeluk istrinya erat. Ia sampai tidak sadar jam sudah berjalan sangat cepat. Padahal dirinya masih belum puas.
"Ngomongnya mau istirahat, tapi mana? Justru buat tubuh aku remuk semua, dasar modus," ejek Keyra.
"Heheh, maaf sayang. Habisnya aku gak bisa tahan saat bersama kamu. Si botak maunya minta masukin terus, kamu udah seperti candu untuk nya," ucap Leo. Membuat Keyra mendengus melempar suaminya dengan bantal.
"Dasar mesum, dah sana cepetan pesan makan. Tapi awas loh nanti sore gak liat Sunset, gak kasih jatah kamu nanti malam."
"Hehehe, ia istriku sayang. Duh jadi gemes deh, boleh dong satu ronde lagi?"
"Leooooo!"
*******
Kini sekarang Loe dan Keyra sudah di tepi pantai. Keyra bermain-main air, berlari sana -sini dengan tawa girang yang ia tampilkan membuat Leo tersenyum lalu mengambil beberapa foto Keyra dengan layar ponsel nya.
Keyra melihat kiri kanan, dan ternyata banyak cewek bule di sana yang hanya menggunakan bikini. Keyra menatap tajam arah Leo. Sedangkan yang di tatap menatap balik kebingungan.
"Ada apa sayang? Kok liatin aku gitu?" tanya Leo.
"Awas kamu kalau lirik-lirik bule-bule di sana. Colok mata kamu!" ancam Keyra tajam. Leo pun lalu tertawa.
"Dasar modus ... mulut kamu sekarang manis banget ya Le, banyak gombal nya," jawab Keyra.
"Inilah yang di namakan virus bucin sayang."
Keyra memutar bola mata nya malas, lalu wajahnya tersenyum bahagia saat di tunggu-tunggu tiba. Matahari terbenam membuat pemancangan menjadi sangat indah. Banyak yang menyaksikan dan mengambil gambar di momen tersebut. Leo memeluk Keyra dari belakang, mereka menyaksikan bersama.
*****
Lima hari kemudian. Hari ini waktunya Leo dan Keyra kembali pulang dari bulan madu. Hanya saja mereka mendarat sore hari. Sedangkan sekarang masih pagi hari. Dan Angga mengasuh cucu serta anak nya sambil olahraga membawa mereka sekalian agar kedua nya dapat tekena sinar mentari pagi, bersama Sera tentunya.
" Loh kok nangis, mau opah gendong?" tanya Angga pada adam yang menangis saat mereka menunggu Sera membeli minuman, Angga duduk di kursi taman sambil menjaga dua kereta bayi.
"Bosan ya, sabar ya. Omah lagi beli minuman, nanti kita pulang ya," bujuk Angga mengendong Adam. Dan ternyata, Sherly juga ikut menangis saat Adam sudah Mulai diam di gendongannya.
"Loh, kok sekarang Aunty kecil yang menangis, iri tuh," ucap Angga terkekeh.
"Adam ngalah ya sayang, sekarang giliran Aunty kecil yang di gendong," ucap Angga meletakan kembali Adam ke dalam kereta dorong bayi. Dan bergantian menggendong Sherly.
__ADS_1
"Lily mah ikut-ikutan aja mau minta di gendong. Gak boleh iri ya sayang. Papah sayang sama Lily dan Adam," ucap Angga pada putri kecilnya.
Namun, selang beberapa saat. Adam kembali menangis, Angga menggaruk-garuk kepalanya. Ternyata mengurus dua anak tidaklah mudah, yang satu minta gendong, dan yang satunya juga mau ikutan. Ini masih bayi, lalu gimana besarnya nanti pikir Angga.
"Cup-cup-cup. Adam cucu Opah yang ganteng, jangan menangis ya sayang. Nanti omah datang lalu kita pulang ya," ucap Angga menenangkan mendorong maju mundur kereta bayi pelan dengan Sherly di gendongan nya.
"Eh, anaknya kenapa Mas?" tanya tiga orang wanita yang lewat.
"Biasa, saling iri," jawab Angga.
"Oh gitu, mereka kembar ya Mas?"
"Nggak, jarak mereka cuma beda 3 bulan aja."
"Hah, serius? Tapi kok bisa, seharusnya satu tahun dong jarak umur mereka, kan proses hamil 9 bulan," ucap salah satunya nampak bingung.
"Iya kalau mereka kakak adik yang di Lahir kan ibu yang sama. Tapi yang laki-laki bukan anak saya melainkan cucu. Nah kalau yang perempuan ini baru anak," jelas Angga.
"Hah, cucu?Anak? Yang bener?" ketiga nya tak percaya. Mereka melihat Angga intens, umur boleh tua namun tampang masih terlihat muda dan sangat maco sehingga tidak ada yang percaya jika dirinya sudah memilik cucu, juga anak masih bayi. Ketiga ibu-ibu itu berpikir jika anak Angga berusia 10 tahunan.
"Ehem ...."
Tiba-tiba bulu kuduk Angga merinding di bagian belakang, apalagi mendengar suara suara deheman yang sangat ia kenal tersebut.
"Matilah aku!" Angga menelan ludahnya, sesaat mendapatkan pelototan horor dari istrinya itu.
"S-sayang, kamu udah datang," ucap Angga merinding.
"Eh, ini istrinya toh. Masih muda ya, cantik lagi," ucap salah satu ibu-ibu di sana. Sera tersenyum paksa.
"Ibu-ibu rame-rame begini ada apa?" tanya Sera basa basi.
"Oh ini, melihat anak dan cucu sampean. Mereka cantik dan ganteng," jawab mereka sembari tertawa kecil.
"Ck, liat anak dan cucu apa laki gue," batin Sera.
"Sudah ya ibu-ibu, saya bawa anak, cucu dan suami saya pulang dulu ya. Hari sudah menjelang siang kasihan mereka nanti kepanasan," ucap Sera.
"Iya Mbak, mari silahkan kami juga mau pamit pulang."
"Iya ibu-ibu, sampai jumpa tidak di lain hari," ucap Sera namun di bagian akhir berbicara pelan sambil melambai tangan. Lalu menatap tajam suaminya.
__ADS_1
"Seneng ya di kerumbuni oleh ibu-ibu," sinis Sara," ayo pulang!"
"Alamak, ibu negara sudah marah. Habislah aku ...."