
Sherly berjalan dengan cepat agar tak ada yang melihatnya jika dirinya masuk ke mobil laki-laki lain. Karena hampir seluruh anak kampus mengetahui jika dirinya berpacaran dengan Devan.
"Om udah lama menunggunya?" tanya Sherly yang kini sudah masuk ke mobil sambil memasang sabuk pengamannya.
"Nggak lama kok, nggak sampe seumur hidup," jawab Alex seraya bercanda padahal sangat garing.
"Oh." Dan Sherly hanya menjawab nya singkat.
Alex tersenyum kikuk, ia pun menjalankan mesin mobilnya.
"Mau langsung pulang? Atau mau jalan-jalan dulu?" tanya Alex, ia berusaha ingin menenangkan hati Sherly walau sangat kaku.
"Pulang aja deh, aku lelah banget pengen cepat istirahat," jawab Sherly menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata.
"Oh, tapi ... apa kamu sudah makan? Kalau belum, gimana kalau kita makan dulu aja?"
Alex ingin lebih dekat lagi sehingga rasa tidak rela jika harus berpisah begitu cepat. Selama di kantor dirinya begitu menanti jam ini, tak sabar ingin cepat-cepat menjemputnya pulang kuliah sampai-sampai tidak fokus saat rapat.
"Nggak deh Om, aku gak laper soalnya tadi udah makan sedikit di kampus tadu. Tolong antar aku pulang aja ya, kalau Om laper makan di rumah aja pasti mamah udah masak.'
Alex tak membuka suaranya lagi, ada rasa kecewa dalam hatinya. Walau ia sudah tau akan menjadi seperti ini, Sherly bersamanya karena terpaksa, bukan karena cinta. Namun mengapa hatinya masih saja kecewa? Apa mungkin karena hatinya memang sudah sangat jatuh hati padanya. Namun Alex tak akan menyerah, perjalanan masih panjang, dan ini baru awal kedekatannya dengan Sherly.
Cukup lama perjalan, keduanya hanya diam, saat lampu merah menyala kesempatan Alex menoleh pada Sherly. Ia tertegun melihat gadis di sampingnya ini tertidur pulas dengan wajah damainya. Alex pun tersenyum lalu memberanikan diri untuk menyentuh rambutnya dan menyingkirkan anak rambut itu yang menutupi wajah cantiknya.
"Kau terlihat seperti kelinci yang imut saat tidur seperti ini. Cantik sekali, akan sangat beruntungnya jika aku bisa menenangkan hatimu." Alex berbicara pelan dengan pandangannya tak pernah luput dari wajah Sherly yang sedang tertidur nyenyak.
Alex memandang setiap inci wajahnya, dari alisnya yang nampak tebal, rapih serta warna hitam pekat, bulu mata panjang dan lentik. Hidung yang mancung, dan yang terakhir beralih ke bibir. Bibir yang membuatnya dapat menelan salivanya sendiri, ingin mengigit nya dan merasakan seperti apa rasanya. Pasti sangat manis, bukan?
__ADS_1
Tanpa sadar wajah Alex mendekat, seakan ada setan alas yang sedang mendorong tubuhnya. Ia pun tak bisa melawannya hingga pasrah karena nyatanya ia juga sangat menginginkan itu, oh tidak ... apa Alex akan menciumnya?
TIN ... TIN....
Spontan Alex terkejut dan seketika langsung menarik kembali tubuhnya. Alex menoleh ke belakang melihat sudah banyak antrian mobil menunggu dirinya jalan karena lampu sudah berubah menjadi warna hijau.
"Sial, apa yang ingin aku lakukan tadi? Kenapa diriku sangat mesum sekali." Alex memukul stir mobilnya merutuki kebodohan yang nyaris saja melakukan mesum pada kekasih keponakannya itu, yang sialnnya adalah calon istri sendiri.
Mobil Alex tiba di depan rumah Sherly. Ia ingin membangunkan namun tak tega karena tidurnya begitu nyenyak. Wajah Alex sekarang ini sangat merah layaknya tomat saat matanya mengarah ke arah bibir Sherly, ia ---- mengingat kelakuan dirinya tadi yang nyaris saja merasakan benda kenyal itu. Alex mengusap wajahnya kasar.
Karena tidak tega membangunkan Sherly dari tidurnya, Alex pun berinisiatif untuk menggendong Sherly keluar dari mobil dan membawanya masuk ke rumah.
"Assalamualaikum," ucap Alex dengan suara pelan.
"Wa'allaikumsalam, loh?" Sera mematung melihat anaknya di gendong Alex, kemudian tersenyum.
"Iya Tante." Alex melangkah meniaki anak tangga menuju kamar Sherly.
Perlahan ia membuka pintu kamar, tercium wangi khas Sherly menempel pada kamar ini yang membuat hati sangat nyaman tak ingin keluar. Alex berjalan arah tempat tidur lalu menidurkannya perlahan. Belum sempat melepaskan tangannya dari tubuh Sherly, tiba-tiba mata gadis itu membuka sontak Alex kaget lalu gelagapan hingga membuat tubuhnya tak seimbang dan akhirnya tumbang.
Entah angin lalu apa, kejadiannya juga begitu cepat. Kedua bibir mereka saling menyatu. Dua-duanya diam mematung, tubuh sama-sama kaku dengan mata melotot lebar karena kaget namun bibir masih dalam keadaan menyatu.
"M-maaf, maaf aku gak sengaja." Cepat-cepat Alex menjauhkan dirinya, segera mungkin ia meminta maaf dengan wajah yang memerah.
"Dasar mesum, beraninya kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan." Sherly melempar bantal pada Alex.
"Aku beneran gak sengaja. Sumpah di sambar geledek deh." Alex mengangkat dua jarinya." Tapi rasanya manis sih!"
__ADS_1
"Om ...." Sherly kembali melempar Alex dengan bantal, Alex menghindar sambil tertawa lalu keluar dengan cepat dari kamar.
"Dasar menyebalkan." Wajah Sherly merah bak kepiting rebus sambil menenggelamkan wajahnya di bantal.
"Alex kamu kenapa?" tanya Sera melihat calon menantunya berlari dari anak tangga dengan wajah merah serta senyaman-senyum.
"Eh, Tante." Alex malu, ia menggaruk tengkuknya salah tingkah tak tau mesti jawab apa.
Sera menggeleng kepalanya sambil tersenyum, semua laki-laki sama saja. Pasti sama seperti suaminya dulu, mesum. Ia mengerti akan hal itu.
"Apa kamu mau makan?" Sera mengalihkan topik, tau saat ini jika Alex sangat malu, berbeda dengan suami dulu ya blak-blakan.
"Ng-nggak usah Tan, Alex pulang aja mau ke kantor lagi."
Sera tersenyum." Ya sudah kalau begitu, tapi jangan panggil Tante dong. Tapi Mamah!"
Alex menggaruk alisnya, walau umur mereka tak jauh berbeda, Sera 41, sedangkan dirinya 32. Namun karena menikahi anaknya ia pun harus memanggilnya mamah.
"I-iya Tan, eh Mah."
Sera pun tertawa dengan tingkah lucu Alex yang menggemaskan, lalu mengikuti langkah Alex keluar dari rumah.
"Alex pergi dulu Mah." Alex mencium tangan calon mertuanya, untungnya saat ini tidak ada Angga, jika lelaki itu ada. Jangankan mencium punggung tangannya, hanya sekedar menyentuh sedikit saja tidak boleh, padahal hanya bersalaman saja namun mata lelaki itu sudah melotot tajam. Papah mertuanya itu memang sangat posesif pada istrinya.
"Hati-hati." Sera melambai.
Alex mengangguk lalu menjalankan mobilnya. Di dalam perjalanan ia tersenyum terus menerus. Sesekali ia menyentuh bibirnya lembut. Masih sangat terasa hangatnya bibir itu. Walau hanya menempel saja namun sudah membuat jantung nya berdebar, dan hatinya berbunga-bunga. Kesampaian juga akhirnya menyentuh bibirnya itu. Alex rasa tak ingin mencucinya 7 hari, 7 malam sampai hari pernikahan, sampai ia kembali mencicipi kembali bibir itu. Ah rasa Alex sudah gila ... gila karena cinta.
__ADS_1
"Tidak akan ku lepaskan. Tunggu saja Lilyku."