
Angga berangkat ke rumah sakit, sesampainya di perkiraan lelaki itu di kejutkan seseorang dari belakang yang tiba-tiba merangkul pundaknya.
"Cie, pangenten baru. Udah masuk kerja, bang? "goda Reyhan, yang baru juga dateng ke rumah sakit.
" Berisik, "sautnya cuek terus melangkah memasuki lorong rumah sakit dan Reyhan mengikuti yang tak lepas dari rangkulannya.
" Ck sombong, mentang mentang udah gak duda lagi,"celetuk Reyhan ketus.
Angga acuh, Reyhan semakin kian menggoda dirinya jika di ladeni.
"Berapa, ronde? "bisik Reyhan kepo.
Angga menghentikan langkahnya lalu menatap Reyhan." kepo, "kemudian melanjutkan lagi langkahnya.
Reyhan berdecih, lalu mengejar Angga kembali.
" Sekarang main rahasia-rahasian, dulu aja selalu curhat. Gak adil lo bro! "rajuk Reyhan ngambek.
" Sama aja. "jawab Angga cuek.
" Apanya yang sama, cerita dong. Ah, lo mah gitu sama gue. "paksa Reyhan tak sabaran.
" Gak ada yang perlu di ceritain, lagian sama aja. maju mundur, maju mundur udah gitu-gitu aja, gak ada yang beda? "jawab Angga malas.
" Ya kali aja pengentin baru jaman sekarang udah berubah, bukan maju mundur lagi, tapi nyamping. "saut Reyhan serya tertawa ngakak sendiri.
" Lo kira kepiting jalan nyamping, "ketus Angga. Reyhan semakin menguatkan suaranya tertawa membuat orang-orang di rumah sakit menoleh lada mereka.
" Bisa diam gak congor lo itu, ini rumah sakit, pea, "kesel Angga, sahabatnya itu bikin malu.
" Uuups, sorry... hehehehe kebablasan bro! "
" Eh, ngomong-ngomong lo gak pergi bulan madu sama Sera? "lanjut Reyhan bertanya.
Angga menghentikan lagi langkahnya berpikir sejenak," pengen sih, tapi duit gue habis bro."jawabannya melas.
__ADS_1
"Ck, miskin amat hidup lo, Ngga-Ngga."ejek Reyhan.
"Ya mau gimana lagi, kan lo tau sendiri waktu gue masih menjadi duda! boros, mana mikir buat nabung untuk masa depan. Gue pikir gak bakalan kawin lagi, "cerita Angga.
" Itulah bro, kita gak ada yang tau apa yang terjadi di masa depan. Lo senang -seneng sekarang. Belum tentu besok lo masih bisa senang lagi, dan sekarang nyesel kan, lo! "
Angga mengangguk, selama ia berkerja tidak pernah berpikir untuk hari esok apalagi masa depan. Ia berpikir hari esok urusan esok, dan hari ini urusan hari ini, dan begitu juga masa depan.
" Lo mau minjem sama gue? "tawar Reyhan.
Angga menggeleng," Terima kasih, tapi tidak perlu. Masalah ini nanti gue bicarakan sama bini gue. Gue gak mau langsung ambil keputusan secara sepihak,"jawab Angga tegas.
Reyhan manggut-manggut setuju, dan merasa bangga pada sahabatnya, tak merasa gengsi di depan istri.
"Setuju, gue dukung apapun keputusan lo. Tapi ingat, kalau ada apa-apa cerita sama gue, karena kita sahabat. "Reyhan menepuk pundak Angga, Angga pun mengangguk sembari tersenyum.
" Thanks."
Keduanya berjalan bersama hingga berpisah saat memasuki ruangan masing-masing dan memulai tugas mereka yang sudah di tunggu oleh pasien siap berobat.
Angga tak perlu menoleh lagi, ia sudah dapat menebak siapa pelakunya. Lelaki itu terus saja membereskan kerjaan dan tak peduli dengan orang itu yang sudah duduk di hadapan nya. Dan menatapnya serius dengan seksama hingga jarak di antara mereka hanya tinggal sejengkal saja.
Angga menghela pasrah, "apa?" ucapnya mengubah nada bicara. Tak seperti biasanya yang cuek bahkan dingin. Namun sekarang berusaha selembut mungkin hingga yang mendengar ingin muntah mendengarkan nya.
"Lo nyiksa anak gue? "tebaknya asal dengan manik serius.
Angga menghentikan aktivitasnya, terdengar lagi helaan nafas dari mulut Angga. Lalu menatap balik orang yang ada di hadapannya ini dan siapa lagi kalau bukan sohib nya, alias mertuanya ya itu Bobby.
" Lo kira gue ini spikopat? "jawab Angga malas.
" Nggak percaya! "
Angga memutar bola matanya malas, sahabatnya itu memang dari dulu hingga sekarang selalu saja curigaan pada dirinya. Tapi anehnya mereka bisa bersahabatan hingga kurang lebih 20 lamanya.
" Lo pikir gue capek-capek nikahin anak lo dengan susah payah, dan ngabisin duit buat pesta besar-bersaran cuma buat nyiksa doang, gitu? kalau cuma buat nyiksa doang mah gampang, gak perlu pake acara di nikahin segala. Tinggal nyulik terus siksa deh sampai mutilasi kalau perlu. Gampang, 'kan?"jawab kesel Angga.
__ADS_1
Bobby pun tertawa, Angga menaikan sebelah alisnya menatap nya.
PLETAAAAAK....
Bobby pun menjitak kepala Angga serya tanpa dosa dengan gelak tawanya.
Angga hanya berdecak kesal, tak dapat ia. lakukan selain diam. Mau membalas atau memakai pun tak dapat ia lakukan. Dan itu semua karena setatus, setatus sebagai menantu yang harus menghormati mertuanya.
"Dasar Pea. Bukan nyiksa itu yang gue maksud,"ujar Bobby mencoba menghentikan tawanya karena perut sudah terasa keram.
Angga hanya mengerutkan keningnya menatap Bobby.
"Maksud gue, nyiksa di atas ranjang. Pasti lo ngelakuinnya dengan nafsu, iya 'kan? "lanjut Bobby menebak.
" Emang lo kalau begituan gak pake nafsu? emang bisa bangun. "balas Angga sinis.
Bobby membantu, ucapannya dapat di lempar balik oleh Angga. Dan apa yang di ucapkan nya itu masuk di akal. Kalau gak nafsu mana mungkin bisa bangun, bener juga . Pikir Bobby.
" Ehem, ya lo pasti makan habis kan anak gue, sampai gak di kasih makan. Cuma lo doang yang kenyang, anak gue kagak! "elak Bobby terus mencari kesalahan menantunya itu agar dapat di bully nya.
" Nggak, siapa bilang gue gak kasih bini gue makan. Justru gue kasih dia makan terus biar punya tenaga buat ngelayani gue di ranjang setiap saat. Nape lo, iri? bilang bos...
Bobby menganga, Angga tersenyum puas penuh kemenangan. Lalu ia bangkit dari duduknya kemudian mengambil berkas di tempat lain..
BRUUUUK.
Angga meletakan berkas berkasnya di atas nakas tepat di depan wajah Bobby.
"Apa-apaan, ini? "tanya Bobby curiga, apa lagi melihat senyum mengerikan itu di wajah Angga.
"Tolong ya, kerjakan. Gue mau keluar sebentar mau pulang, anter bini gue kuliah. Tolong ya, PAPAH... "
Bobby mematung tak percaya, ia hanya menganga menatap kepergian Angga hingga pintu kembali tertutup. Dan tersadar mendengar suara pintu cukup keras.
" Woy, dasar menantu sialan! gue pecat lo sebagai menantu gue... "teriak Bobby kesal.
__ADS_1
" Arrrrgggh, barani-beraninya dia ngasih gue kerjaan begitu banyak. Awas aje lo ya. Dasar menantu lapuk sialan!" tak ada henti -hentinya Bobby mengumpat kan Angga, akan tetapi ia tetep masih mau mengerjakan tugas tersebut walaupun dengan mulut yang terus mendumel.