
Matahari mulai bersinar terang, Angga dan Sera sudah bersiap-siap pergi menuju rumah baru mereka yang akan siap di tempati walaupun masih beberapa bagian yang belum usai, seperti barang masih berserakan misalnya.
Akan tetapi tak membuat Sera mengurungkan niatnya untuk pindah, karena sudah menjadi tekat sehingga hal semacam itu tak menjadi penghalang baginya. Ia pun mau memberikan bekas-bekas sisa kayu atau yang lain di rumah itu dan semakin tak sabar malah.
"Nanti kamu jangan lupa pakai masker ya sayang, aku gak mau kamu terkena debu!"ujar Angga mengingatkan.
"Iya mas, udah siap kok. "Sera menunjukan dua masker di dalam tasnya biar suaminya yang cerewet itu tenang.
" Emmm, kenapa kita gak minta bantuan ibu Inem untuk membantu kita bersihin rumah? "kata Angga.
" Nggak usah mas, kasihan ibu Inem sudah tua. Biar aja dia nemenin ibu di rumah, "jawab Sera.
" Atau kita sewa ibu-ibu aja, agar mereka yang membersihan rumah kita?"usul Angga.
Sera menggeleng, "ngapain? kalau kita masih sanggup buat apa pakai bayar orang segala? lagian cuma beres-beres doang, apa susahnya? aku juga sanggup kok!"
Angga menghela, ia takut istrinya itu kecapean apa lagi sampai jatuh sakit! ia tidak mau hal itu terjadi, tetapi istrinya itu keras kepala dan kekeh untuk membersihan rumah tanpa minta bantuan orang lain.
"Tapi kalau capek bilang ya? aku gak mau kamu kecapean sayang. Aku bakalan marah sama diri aku sendiri kalau itu sampai terjadi! "
" Iya mas, aku tau itu. Tapi, kalau gak begini mau sampai kapan aku bergantung terus sama. orang? aku mau hidup mandiri agar bisa mengurus suami dan anak-anak kita kelak! "ucap Sera tegas. Angga tersenyum, ada perasaan banga di hatinya.
Sera memang berbeda dengan wanita pada umumnya, sebab itulah ia tak akan mau kehilangan sosok istri seperti Sera. Berterima kasih pada takdir, karena jika bukan permainan darinya ia tidak akan mungkin bisa bersama dengan sosok istri di sampingnya ini. Sosok seorang wanita yang sudah mencuri hatinya dan telah mengganggu pikiran nya.
"Kamu memang istriku yang baik, aku benar-benar bersyukur bisa memiliki kamu, makasih ya sayang. Makasih udah mau menerima aku apa adanya, makasih juga karena sudah sabar menghadapi sikapku yang mesum dan kekanak-kanakan dan terkadang manja. Hidupku lebih berwarna setelah bersama kamu, jangan pernah tinggalkan aku ya? "ucap Angga jujur dengan mata berkaca -kaca, terdengar helaan nafas menahan air maya agar tidak terjatuh.
Sera tersenyum lalu mengeratkan genggaman tangannya di dalam genggaman tangan Angga lalu mengecup tangan suaminya itu lembut.
" Semuanya karena Allah mas, kalau bukan karena Alla semuanya tidak akan terjadi. Dan percayalah bahwa aku mencintaimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu kecuali atas izin darinya! "jawab Sera tulus.
Angga mengangguk, dalam hati selalu berdoa agar jodohnya adalah Sera hingga akhir hayat, sampai tua dan maut yang memisahkan mereka.
Selang beberapa saat kemudian...
" Loh-loh, kenapa mas? "
Mobil Angga mogok di tengah jalan, dan perjalanan ke rumah baru mereka pun masih seperempat jalan lagi sampai ke sana. Angga menepuk keningnya menyesal lalu menatap sang istri dengan perasaan bersalah.
" Habis bensin sayang? "ucapnya pelan, dan menyengir memperlihatkan deretan giginya yang putih.
" Hah! kok bisa sih? emang kamu gak isi. "Sera keheran-heranan dengan suaminya.
" Hehehehe, lupa sayang? "sesalnya.
" Astagfirullah... emang udah berapa hari gak di isi? "
" Hehehe, dua hari yang lalu... "Angga menggaruk-garuk kepalanya melirik takut pada Sera," maaf sayang, aku tuh lupa kalau udah berduaan sama kamu? lupa segalanya, suer deh? "ucap Angga sambil mengangkat dua jari berbentuk huruf V.
__ADS_1
Sera menghela," untung nafas gak lupa kamu mas? "ejeknya.
" Hehehehe, tapi kalau lagi itu sama kamu kadang aku gak nafas loh..."
"Mas... "Sera melotot kan matanya menatap Angga.
" Cius loh sayang, apa lagi pas mendengar suara desahan kamu, eeeuh... mau nafas aja sulit sangking merdunya suara kamu!
"Mas, astagfirullah... bisa-bisa nya ya kamu ngomong begitu?"Sera memukul lengan Angga kesel.
"Beneran sayang, ciusan. "
" Mas, sekali lagi ngomong aku hajar kamu ya! bukanya pikirin nie mobil gimana bisa jalan, malah ngomong ngelantur gak jelas gitu, sebel! "omel Sera.
Angga pun tertawa seraya tanpa dosa, ia senang melihat wajah istrinya itu marah. Gemes, imut dan ngangenin.
" Yaudah ayok turun, kita cari taksi aja!"ajak Angga.
"Terus mobil gimana? gak apa-apa di tinggal di sini? "
" Tenang aja, gak apa apa kok. Nanti setelah selesai beresin rumah aku kesini lagi kok, naik ojek. "
" Baiklah... "Sera turun dari mobil, dan sekarang ia dan suaminya itu sedang menunggu taksi lewat dan beberapa saat kemudian batu lah mereka mendapatkan taksi dan masuk kedalamnya.
" Oh iya sayang, nanti sebelum sampai mata kamu aku tutup ya? "ujar Angga.
" Udah turuti aja, nanti juga kamu tau kok!"
Angga berniat memberikan sebuah kejutan untuk Sera mengenai rumah mereka yang sudah jadi. Sebelumnya Sera memang sudah melihat, tapi itu terjadi sebulan yang lalu di mana rumah mereka masih belum di bentuk dengan sempurna. Dan sekarang sudah siap di tempati lengkap dengan warna cat kesukaan istrinya itu. Sebab itulah Angga ingin memberikan sebuah kejutan, ya walaupun tidak berarti apa-apa..
Perjalanan hampir mendekati wilayah rumah mereka, dan Angga sudah menutup mata Sera dengan sapu tangannya.
"Pak, anggap saja angin lalu ya? "ujar Angga memergoki sang supir yang lirik-lirik dari kaca sepion mobil.
" Hehehehe, Pengantin baru ya, mas? "tebak sang supir.
" Pengantin baru sih nggak lagi, pak. Cuma kami masih menikmati masa pengantin baru aja! "jawab Angga dan langsung di hadiahi cubit dari Sera.
" Hahahaha, bener-bener. Nikmati saja aja dulu! tapi mas nya beruntung banget ya, bisa dapet daun muda? "ujar sang supir dapat melihat perbedaan usia penumpangnya.
" Ah bapak bisa aja, sebenarnya bukan saya beruntung dapatin istri daun muda? tapi istri saya yang beruntung dapetin suami duda keren seperti saya! "jawabnya dengan percaya diri sekali. Dan Sera hanya memutar matanya malas.
Sang supir taksi itu pun tertawa, hingga tanpa terasa sudah tiba di depan tujuan mereka ya itu rumah Angga dan Sera.
" Makasih pak. "Angga menyerahkan uang ongkos pada si supir.
" Sama-sama mas, romantis terus ya mas! semoga langgeng dan pernikahannya SAMAWA. "
__ADS_1
" Amin, Ya Allah... terima kasih atas doanya pak,"jawab Angga.
Angga turun lebih dulu dan membantu istrinya, menuntun nya turun dari mobil.
"Pelan -pelan sayang. "
" Iya mas... apa sekarang udah sampai mas? aku buka ya. "kata Sera hendak membuka penutup matanya.
" Nanti dulu sayang, kita jalan ke depan dikit lagi. "Angga kembali menuntun istrinya melangkah. Dan Setelah sampai, mereka diam di tempat. Angga berjalan kebelakang istrinya dan bersiap-siap membuka sapu tangan yang menutupi mata Sera.
" Siap-siap ya sayang... 1 2 3...kejutan! "ucap Angga memperlihatkan rumah mereka yang sudah jadi.
" Waaaaah, cantik banget mas. "mata Sera berbinar melihat rumahnya begitu indah di lihat.
Walaupun tidak besar, dan juga tidak terlalu kecil. Namun sudah begitu terasa kenyamanan di sana. Sera begitu senang degan desain rumah yang di ciptakan oleh suaminya sendiri, sederhana namun terkesan mewah.
"Kamu suka? "tanya Angga memeluknya dari belakang.
" Suka banget mas, apa lagi warna nya warna kesukaan aku. Benar-benar bagus banget, makasih banyak mas! "
Angga tersenyum, membahagiakan istrinya adalah mayoritas utama untuknya.
" Selamat datang di rumah kita sayang, tapi maaf ya karena aku hanya mampu membuatkan rumah kecil seperti ini untuk tempat tinggal kita! Ini pasti jauh dari bayangan kamu ya, yang membayangkan rumah besar dan mewah. "ujar Angga merendah.
Dengan cepat Sera menggeleng," nggak mas, aku benar-benar suka. Suka banget malah! dari pada rumah besar dan mewah, aku malah lebih suka seperti ini, sederhana? tapi ada kebahagiaan dan kenyamanan di dalamnya, dan itulah yang aku cari! "jawab Sera tulus.
Angga meneteskan sebutir air mata di sudut matanya mengalir dengan tenang di pipi. Ia bahagia, benar-benar bahagia yang baru ia dapatkan selama masa hidupnya. Walaupun dirinya pernah menikah dengan almarhum istrinya dulu, namun kebahagiaan baru ia rasakan sekarang dan itu bersama istri kecilnya, Sera.
Angga mendekatkan kepalanya, ia mencium Sera lembut mengutarakan perasaan bahwa dirinya benar-benar bahagia sekarang. Dan itu semua berkat Sera, istrinya yang sekarang, besok, lusa dan selamanya.
"Ehem-ehem... duh yang masih pengantin baru, berasa dunia ini milik berdua,"ledek ibu tetangga.
"Dan yang lain hanya ngontrak, aduh... bikin iri deh! "timpal yang satunya bersorak.
" Dah ibu-ibu, jangan ganggu pengantin baru yang sedang memadu kasih, ayo kita pergi. Nanti jiwa pengennya meronta loh. "
Ketiga ibu para tetangga itu pun tertawa lalu beranjak pergi meninggalkan dua sejoli yang tengah menahan malu tersebut.
" Ini semua gara-gara kamu ya mas, bikin malu aja. "omel Sera memukul dada Angga.
" Biarin aja sayang, mereka juga ngerti kok. Namanya juga masih pengantin baru! "jawab Angga santai.
" Mas.... "
" Hahahaha, iya-iya. Yaudah masuk yuk "
Angga mengajak Sera masuk kedalam rumah. Sera pun mengangguk setuju dan tak sabar untuk segera tinggal di rumah baru, lingkungan baru dan kehidupan baru. Membina rumah tangga bersama orang yang di cintai sungguh bahagianya. Walaupun rumah kecil dan sederhana, tetapi kebahagiaan selalu menyinari kehidupan mereka.
__ADS_1