
Alhamdulillah sudah mendarat selamat sampai tujuan. Sherly dan Alex bernafas lega karena tidak terjadi yang tak di inginkan seperti pesawat-pesawat yang mengalami nasib naas. Keduanya mengupacapkan kata syukur karena telah sudah di lindungi bersama penumpang lainnya.
Setalah sampai di luar bandara. Alex melihat sang kakak ipar yang sudah hadir menjemput dirinya dan juga istri.
"Sayang, itu Abang," ujar Alex menunjuk arah Leo dan juga Keyra.
"Mereka yang jemput kita?" tanya Sherly. Alex hanya menaikkan kedua bahunya.
"Assalamualaikum," salam Alex dan Sherly sambil mencium Leo dan istrinya.
"Wa'allaikumsalam, gimana kabar kalian?" tanya Keyra sambil cipika-cipiki pipi kira dan kanan.
"Alhamdulillah, seperti yang kakak liat," jawab Sherly sembari tersenyum.
"Alhamdulillah," ucap Keyra ikut senang.
"Cie, yang abis bulan madu. Cerah benar tuh muka kayak matahari," ledek Leo pada Alex.
"Iya dong, kayak gak pernah aja," jawab Alex bangga. Leo pun tertawa.
"Oh iya, mamah sama papah gak ikut jemput? Bukannya waktu di telpon heboh bangat mau jemput kami di bandara?" tanya Sherly.
"Tadinya emang begitu. Tapi opah sableng kamu itu dateng ke rumah. Makanya mereka gak jadi jemput kamu karena gak enak ninggalin mereka, di tambah lagi ada mertua kamu juga di sana. Sebab itulah kami yang menjemput kamu," jelas Keyra. Sherly pun manggut-manggut.
Keempatnya sudah berada di dalam mobil menuju rumah Angga. Gak mungkin bagi Alex dan Sherly meminta pulang ke apartemen mereka karena kedatangan mereka sudah di tunggu keluarga di rumah Angga dan Sera.
"Enak gak Dek berada di Jepang?" tanya Keyra ingin mengetahui suana di Jepang. Ia belum pernah ke sana.
"Beuw, gila seru banget Kak!Aku bahkan gak mau pulang loh. Nie aku ada banyak foto-foto selama di sana." Sherly menceritakan kisahnya selama di Jepang sambil menunjukkan foto-foto yang ia ambil seketika berlibur di sana.
"Enaknya, jadi kepengen juga ke sana," ucap Keyra yang terus fokus menatap foto Sherly saat berfoto di bunga sakura.
"Bulan depan kami ke sana lagi. Mau pergi bareng? Pasti seru banget deh," kata Sherly bersemangat.
"Nggak deh, sayang duitnya. Mending duitnya untuk biaya kuliah Adam. Dia kan mau jadi dokter, biayanya gak cukup sedikit kan!" ujar Keyra.
"Iya juga sih."
Leo yang mendengarnya hanya bisa terdiam. Bukannya tidak ingin, tabungan di luar biaya anak-anak juga sebenarnya ada. Hanya saja ia selalu memikirkan masa depan mereka supaya tidak kekurangan jika sewaktu-waktu ia tidak lagi bekerja. Apa lagi ia hanyalah seorang karyawan biasa. Namun tidak pernah tahu jika berpergian ke luar negeri ternyata sangat di inginkan istrinya. Tetapi wanita yang ia cintai itu tidak pernah mengutarakan isi hatinya, justru malah memendam keinginan tersebut. Leo manjadi merasa bersalah.
"Sabar aja ya Kak. Siapa tau nanti ada rezekinya supaya bisa pergi ke Jepang," ucap Sherly memberikan semangat.
"Nggak deh, mending duitnya buat keponak-keponakan kamu aja," jawab Keyra yang selalu mengutamakan anak-anaknya ketimbang keinginan dirinya sendiri.
Leo semakin merasa bersalah. Ia hanya diam membisu dengan tangan mengepal kuat pada stir mobil yang ia kemudikan. Alex dapat melihat expresi dari abang iparnya tersebut.
Sesampai di depan rumah Angga dan Sera. Alex keluar dari mobil lalu membuka pintu bagian penumpang belakang untuk istrinya. Sedangkan Leo hanya keluar dari mobil dengan lamunan.
"Mas, bantuin Alex. Kok malah bengong," tegur Keyra pada suaminya.
"Ah, iya maaf," ucap Leo gelagapan lalu langsung menghampiri Alex yang sedang menurunkan barang-barangnya dari dalam bagasi mobil Leo.
"Ayok Dek kita masuk. Semuanya udah pada nungguin di dalam!" ajak Keyra pada Sherly, dan keduanya berjalan lebih dulu meninggalkan Leo dan Alex.
Alex tak banyak tanya. Ia hanya mengucapkan kata terima kasih saja pada Leo yang nampak sedih. Alex yakin pasti abang iparnya itu sedang memikirkan ucapan Keyra yang ingin pergi ke Jepang. Alex menjadi iba padanya.
__ADS_1
"Ayo Lex!" ajak Leo saat semua barang sudah di turunkan dan Leo berjalan lebih dulu sambil menenteng koper milik Alex dan Sherly.
Sebelum melangkah, Alex meregoh kantongnya mencari hp. Ia menelpon seseorang entah apa yang ia ucapkan. Setelah selesai barulah ia melangkah menyusul Leo tak lupa membawa barang-barang bawaannya yang dari Jepang.
"Assalamualaikum."
"Wa'allaikumsalam, Alhamdulillah udah sampai."
Sera dengan cepat menghampiri anaknya yang masih berdiri di ambang pintu. Lalu memeluknya erat.
"Gimana keadaan kamu sayang?" tanyanya setelah cikipa-cipiki.
"Alhamdulillah baik Mah. Mamah sendiri sehat kan?" tanya balik Sherly. Sera pun mengangguk sembari tersenyum.
Sedangkan Alex cukup hanya mencium tangan mamah mertuanya saja. Tak ada kata pelukan apa lagi cipika-cipiki. Bisa-bisa ada seseorang yang mengamuk nantinya. Bahkan saat mencium punggung tangan mamah mertuanya saja itu tidak melalui mulut, melainkan kening karena ancaman akan di pecat sebagai menantu jika itu sampai terjadi.
"Mana oleh-olehnya?" Angga dantang-datang langsung menagih oleh-oleh. Dasar mertua gak ada akhlaknya.
"Astagfirullah ... belum juga duduk woy. Dah di tagih aja oleh-oleh. Tanya kabar kek, suruh duduk kek, ambilkan minum kek. Ini malah langsung minta oleh-oleh, dasar mertua laknat," batin Alex sambil mengelus dada.
"Papah. Menantu baru datang bukannya di suruh duduk dulu malah langsung minta oleh-oleh, kayak anak kecil aja," omel Sera yang merasa malu. Apa lagi ada besannya di sana yang tengah menahan senyumnya.
"Kalau ntar-ntar pasti lupa dia itu. Yang ada aku malah gak kebagian," jawab Angga dengan entengnya.
Astagfirullah. Menoyor kepala mertua dosa gak sih? Gemes banget dah.
"Astagfirullah Papah. Makin tua kenapa makin menjadi sih, Masya Allah ...." Sera hanya bisa nyebut sambil ngelus dada dengan kepala geleng-geleng.
"Jangan di ambil hati ya Lex. Papah kamu itu memang rada- rada sableng orangnya," ujar Sera pada menantunya. Alex hanya menampilkan senyuman terpaksa saja.
"Ayuk duduk, kasihan anak orang. Dah capek dalam perjalan, malah gak di suruh duduk!" ajak Dewi turun tangan.
"Jangan lupa tiket ke Paris gue. Awas lo kalau sampai lupa," bisik Anga mengingat Alex.
Kesel gak sih? Ya kesel banget lah. Udah minta, plus maksa, ngancem pula. Menang harus banyak bersabar menghadapi mertua yang gak ada akhlak rada-rada sableng itu.
*****
Malam harinya. Saat keluarga masih berkumpul tiba-tiba Bobby mendekati Alex. Duduk di sampingnya dengan senyum yang sangat sulit di artikan menatap arah Alex. Alex merasakan firasat buruk.
"Pasti ada apa-apanya," batin Alex.
"Hey bro. Gimana bulan madunya? Enak toh, mantap toh. Hahaha, untung bukan tak di gendong ya," ucap Bobby entah apa-apa yang lelaki itu ucapakan.
"Iya, Opah," ucap Alex kikuk dengan sangat waspada. "Mencurigakan." batin Alex.
"Eh lo tau gak?"
"Nggak," jawab Alex cepat.
"Sed dah nie bocah. Dengerin dulu napa, gue gibas juga kepala lo ntar," ucap Bobby sewot.
"Hehehe, bercanda," jawab Alex.
"Ya Allah, gak menantunya gak mertuanya. Kompak benar dah, bikin orang gak tenang aja." batin Alex.
__ADS_1
Keduanya bagaikan mahluk yang selalu membuat hidupnya merasa terancam. Salah ngomong dikit langsung di pecat, walaupun ia seorang direktur perusahaan yang di hormati dan disegani oleh puluhan karyawannya. Namun, jika sudah di dalam keluarga tetep saja kedudukan mertua dan opah mertua itu jauh lebih tinggi ketimbang kedudukan direktur nya. Mereka lah yang berkuasa.
"Dua hari lagi ulang tahun pernikahan gue sama bini gue. Lo mau kasih hadiah apa? Jangan bilang tiket ke Paris juga kayak Angga. Gue gak mau," ucap Bobby dengan percaya dirinya. Padahal belum tentu Alex mau menawarkan tiket yang serupa.
"Em ... emangnya Opah mau hadiah apa?" tanya Alex, mengalah itu lebih baik dah dari pada pecat lagi ancamannya.
"Tiket ke Korea dong. Kayaknya di sana lebih enak deh. Apa lagi melihat di tv jika di sana bisa main salju, kan kita juga pengen main salju, mau bikin Boneka salju. Siapa tau bisa ketemu sama Elsa frozen," ucap Bobby.
Alex membatu. Kehaluan orang tua ternyata tak kalah dengan anak muda. Benar-benar dah, nasib- nasib. Untung sayang sama bini.
"Woy, gimana? Tiket buat ke Korea ada kan?" tanya Bobby.
Entahlah, tak tau lagi harus ngomong apa. Alex hanya bisa pasrah. Menyenangkan orang tua semoga surga balasannya.
"Iya, nanti Alex pesenenin tiketnya. Berdua aja kan sama Omah," ucapnya. Bobby mengangguk cepat dengan raut wajah seneng sambil mengepalkan tangannya ke atas sambil berkata.
"Yes, Korea. I Coming!"
"Sssttt, kecilkan suaramu Opah. Kalau ketahuan papah bisa menang banyak dia," ujar Alex. Bobby pun langsung menutup mulutnya mengangguk. Benar saja, lelaki itu pasti merengek meminta juga. Padahal jatahnya bulan depan, pasti kepengen juga esok pergi lusa. Dasar tukang iri.
"Kalian lagi ngomongin apa? Seru banget kayaknya." Leo datang membuat Alex kaget. Untung cuma Leo. Kebenaran juga karena ada yang ingi Alex omongin.
"Duduk sini, aku mau kasih kamu sesuatu," ucap Alex. Leo pun duduk di sampingnya sambil menatap Alex serius.
"Aku udah pesanin tiket ke Jepang untuk Abang dan Kakak. Kalian pergilah bulan mau ke dua, soal biaya jangan di pikirkan," ucap Alex. Leo sangat terkejut mendengarnya. Sedangkan Bobby tersenyum ikut senang.
"K-kamu benaran?" tanya Leo tak percaya.
"Iya Bang. Pergilah jalan-jalan," jawab Alex sangat serius.
Leo handak menangis bahagia. Ia sangat bersyukur mendapatkan adik ipar yang sangat baik dan sangat tulus. Leo langsung memeluk adik iparnya sambil mengucapkan terima kasih.
Bobby mengelus pundak Alex. Ia juga sangat senang dan sangat bersyukur cucunya mendapatkan seorang suami yang bukan hanya sayang sama istri, melainkan dengan keluarga istrinya juga.
"Terima kasih banyak Lex. Abang gak tau lagi harus membalas kebaikan mu dengan cara apa," ucap Leo sambil mengusap air matanya.
"Tidak perlu Bang. Alex ikhlas kok, sudah mendapatkan Sherly sebagai istri Alex. Itu saja sudah cukup bagi Alex, selagi Alex masih mampu. Tidak ada salahnya berbagai," ucap Alex tulus. Leo pun mengangguk lalu kembali memeluk Alex. Bobby juga ikutan memeluk hingga Ketiganya salin berpelukan.
"Hey, kalian sedang apa?"
Spontan pelukan itu langsung lepas kemudian bersikap seolah tak terjadi apa-apa. karena yang datang saat ini adalah Angga.
"Nggak lagi ngapa-ngapain, ngapain lo ke sini?" ucap Bobby.
"Nggak lagi ngapa-ngapa tapi kalian berpelukan. Mencurigakan," ucap Angga menatap ketiganya intens.
" Papah kepo banget sih," sahut Leo.
"Tau lo, kepo banget. Sana pergi-pergi. Pengen ikutan aja," usir Bobby.
"Apaan sih? Jangan menyembunyikan sesuatu deh dari gue. Kasih tau napa? Jangan bikin orang mati penasaran dong," ujar Angga memaksa.
"Alex ...."
"Itu loh, Alex ngasih oleh-oleh dari Jepang sama opah dan abang. Papah mau juga kan?" Alex mengganti topik.
__ADS_1
"Oh iya benar. Pantesan saja dua kunyuk ini main rahasia-rahasiaan segala. Mau ambil bagian gue lo berdua ya, makanya bujuk Alex," ucap Angga menuduh.
Ketiganya lalu menghela nafas lega. Setidaknya rahasia pergi ke Jepang dan Korea untuk sementara aman.