
Angga, Sera dan ibu Endang pamit pulang. Mereka tak bisa berlama-lama meninggalkan ibu kota. Terlebih lagi keadaan Sera yang hamil, dan dua hari ke depan akan pergi periksa kandungan. Jadi harus banyak istirahat di rumah karena kalau tidak, dokter Karin bisa mengomeli Angga.
Sementara Leo masih menetap di kota Surabaya. Mengingat akhir pekan sehingga ia santai karena tak harus ke kantor. Leo menginap di hotel tak jauh dari rumah sakit. Ia ingin lebih dekat lagi dengan anaknya. Wajahnya anaknya kini mulai memenuhi otaknya sekarang, ia juga masih tidak percaya jika dirinya sudah menjadi seorang ayah dari wanita yang yang tak ia cintai. Seorang anak yang tadinya tak di harapan apa lagi di rencanakan olehnya. Tetapi Tuhan berkehendak lain sehingga membuat dirinya menjadi seorang ayah.
Awalnya ia memang tak menghiraukan kehadirannya saat di dalam kandungan, bahkan terkesan cuek. Rasa benci dan kecewa berpengaruh pada janin itu sehingga mata hatinya tertutup rapat padanya kala itu. Akan tetapi, pada saat melihat kedekatan Abian dengan anaknya. Tak dapat dipungkiri lagi jika hatinya merasa cemburu, anaknya lebih nyaman pada orang lain ketimbang dirinya. Apa itu sebuah karma? Leo menghela sekarang.
"Adam ... maafkan Papah, Nak?" gumamnya bersandar di jendela sambil menikmati indahnya kota ini di pagi hari.
Awalnya tidak mengharapkan kehadirannya, bukan, bukan tidak mengharapkan, tetapi memang tidak ingin. Karena kejadian itu bukan kemauannya. Namun, setelah melihat wajahnya yang terlelap saat tidur, melihatnya saat menangis di dalam gendongnya. Rasa ingin memiliki sentuhnya itu ada dalam hatinya. Tetapi, tidak mungkin ia egois merebut anaknya dari tangan Keyra yang susah payah mengandung dan melahirkan. bahkan mempertaruhkan nyawanya. Akan tetap, jika kembali bersama dengan Keyra demi sang anak, rasa itu juga tidak mungkin. Hatinya menolak keras. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang. Leo mematikan sebatang rokok di tangannya lalu mengambil jaket dan keluar dari kamar hotel dan berjalan menuju rumah sakit.
Sementara itu pula, Keyra sudah di kasih izin pulang hari ini. Tak ada keluarga yang menjemput, sang nenek rada-rada pikun, kemungkinan besar tidak ingat jika ia keluar dari rumah sakit hari ini. Dan untungnya Abian selalu ada di sisinya sehingga tak terlalu repot sekarang.
"Sudah siap semua sekarang?" tanya Abian sembari menggendong Adam. Keyra mengangguk melihat sekeliling apakah ada yang ketinggalan atau tidak.
"Ayo kita pulang sekarang," ajak Abian yang masih menggendong Adam dengan tangan satu, sedangkan tangan satunya menentang tas.
"Biar aku saja yang membawa Adam, kamu pasti keberatan, iya kan?"
"Tidak, laki-laki bukan selemah wanita, Keyra. Jadi biarkan aku saja yang membawa Adam dan tas kamu," tolak Abian, tidak akan membiarkan Keyra membawa yang berat -berat bahkan Adam. mengingat jahitannya masih belum terlalu kering. Ia sendiri ngilu sesaat melihat proses menjahitnya.
Keyra pasrah, ia hanya tidak enak saja lagi -lagi merepotkan Abian. Ia berjalan beriringan dengan Abian. Yang melihat mereka merasa iri, pasangan itu begitu serasi, banyak yang memuji mereka sehingga membuat Keyra menunduk malu. Andai mereka tahu jika Abian bukan suaminya, mungkin ia mendapatkan hinaan karena tak tahu malu.
Setelah keluar dari rumah sakit, Keyra berjalan lebih dulu menyeberang jalan menuju perkiraan mobil. Karena mobil Abian terparkir di sana. Namun, pada saat bersamaan, sebuah pengendara roda dua melaju kencang, Keyra yang tak. memperhatikan kiri kanna tak mengetahuinya, sedangkan Abian yang melihat tak mungkin berlari menyelamatkan Keyra karena ada bayi di tangannya sekarang.
"Keyra, awas!" teriak Abian.
Keyra menoleh, ia bukannya menghindar malah menganga diam di tempat. Dan sang pengendara motor hendak mengerem mendadak namun tidak tepat waktu.
Akan tetapi, entah secara kebetulan atau tidak di sengaja. Leo langsung menarik Keyra hingga keduanya tersungkur dan si pengendara oleng dan terjatuh.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Keyra." Abian menghampiri, karena teriakannya membuat Adam menangis.
"Aaahhk, sakit." Keyra merintih sesaat area sensitifnya merasa ngilu sekarang. Leo yang baik-baik saja langsung menghampiri.
"Keyra, kamu gak apa-apa?"
"Sakit," jawabnya.
"Leo, cepat bawa ke dalam. Aku takut jahitannya lepas," cemas Abian melihat keadaan Keyra. Ia tak bisa membawa Keyra sekarang karena Adam di tangannya.
Leo mengangguk, tanpa kata lagi lelaki itu menggendong Keyra dan membawanya kembali ke rumah sakit. Dan langsung mendapatkan pertolongan akibat gesekan terlalu kencang membuat jahitannya lepas kembali sehingga harus di jahit kembali.
Leo dan Abian menunggu, Abian menenangkan Adam sekarang dengan menimangnya.
"Kenapa Adam gak mau diam?" tanya Leo panik.
Leo menyilang kan kedua tangannya di dada dan sedikit menghindar." Aku mana bisa memberinya susu," ucap Leo.
Abian memutar bola mata." Dasar pea, yang nyuruh kamu kasih susu kamu itu, siapa? Mikir dikit lah."
"Gak mungkin susu Keyra 'kan, yang gue peras," ucap Leo, antara polos dan bodoh.
Abian menendang kaki Leo geram, lelaki ini kelihatannya saja pintar, tapi nyatanya sangat bodoh.
"Susu formula, astagfirullah. Nie orang otaknya mesum banget ya. Bisa -bisanya berpikir ke sana. Gue yang gak sengaja liat aja gak kepikiran ke sana, sialan." celetuk Abian membuat Leo membulatkan matanya lebar mendengar ucapan yang terakhir.
"Malah bengong, cepat bikinin susu, woy. Gak liat anaknya nangis gini apa?" geram Abian.
Leo pun langsung mengambil tas di dalamnya ada susu formula dan botol kecil. Ia meminta izin pada suster untuk meminta air panas. Setelah jadi ia pun langsung memberikan pada Abian.
__ADS_1
"Ini susu nya." Leo menyerah sebotol isi susu putih itu pada Abian.
"Apa udah di rasakan, panas apa nggak?" tanya Abian tanpa melihat karena berusaha menenangkan Adam.
"Harus ya ... " tanpa tanya lagi, Leo langsung merasakan susu itu panas apa tidak. Kala itu juga Abian melihat arah Leo.
" Ih dasar bego ... malah di cobain." Abian melihat, Leo memasukkan pent*l dot itu kedalam mulutnya.
"Katanya tadi suruh rasain dulu, ya aku rasa lah," jawab Leo santai menyerahkan botol tersebut.
"Gak panas kan?" Abian memastikan sekali lagi.
"Nggak, tadi aku kasih air putih biasa jadi gak terlalu panas."
Abian mengambil botol susu itu dari tangan Leo, ia melihat isinya.
"Lo haus apa doyan? Rasain aja bisa sampai setengah botol begini," ejek Abian memberikan botol susu itu ke mulut Adam sehingga bayi mungil itu diam dari tangisnya.
Setelah cukup lama menunggu, salah satu dokter membuka pintu ruang Keyra di tangani. Dokter itu menghampiri kedua lelaki yang melihat ke arahnya.
"Di antara kalian berdua, siapa suaminya mbak Keyra?" tanya sang dokter.
Abian dan Leo saling pandang. Keduanya sama-sama bungkam. Namun salah satu di antara kedua ada yang menjawab.
"Saya suaminya, Dok!"
Abian dan baby Adam
__ADS_1