Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, mencintai mu


__ADS_3

Sherly sedang duduk santai di rumah nya. Hari pernikahan semakin dekat dan Sherly sama sekali belum mengatakan apa-apa pada Devan tentang pernikahan nya dengan Alex.


Sherly menarik nafasnya lalu mengambil handphone nya, ia memutuskan untuk menghubungi Devan dan memintanya datang ke rumah lalu mengatakan semuanya padanya. Ia juga penasaran bagaimana reaksi Devan, ia tersenyum miris. Ada rasa sesak dalam hatinya, bukan seperti ini seharusnya terjadi. Namun karena hatinya terlalu sakit maka ia harus melakukan ini.


"Halo Devan?" Setalah telpon darinya di jawab.


"Halo ...." Sherly diam, karena ini bukan suara Devan. Melainkan suara wanita yang menjawab telponnya.


"Devan nya mana? Aku ingin bicara." Rasa sesak di hati begitu dalam, namun ia mencoba menahannya. Tidak mudah melupakan seseorang yang di cintai begitu saja, apalagi cinta pertama.


" Oh, Devan lagi di kamar mandi tuh. Nanti deh gue kasih tau kalau kita udah check aut dari hotel." jawab santai, siapa lagi jika bukan Imel.


Sherly menahan rasa sakit di hatinya yang bagaikan di tusuk ribuan pedang. Mencoba menenangkan dirinya agar tidak menangis saat ini." Oke, tolong sampaikan padanya untuk segera datang ke rumahku.'


"Oke, tapi gak janji ya soalnya kita mau senang-senang lagi sebelum check out. Kali aja gue lupa kasih tau nya, soalnya gak bisa nahan sih jika sudah melihat tubuhnya yang seksi."


Sherly mengepal tangannya kuat." Terserah."


Tak ingin mendengar hal yang menjijikan lagi, Sherly langsung mematikan sambungan telponnya. Lalu menangis dengan rasa sakit di hati. Mengapa ia bertemu dengan lelaki brengsek seperti Devan, mengapa ia bisa jatuh cinta padanya. Ia terus menangis menyesali karena telah memberikan cinta nya yang tulus pada orang yang salah.


Sementara itu, Imel tersenyum licik sambil melihat handphone milik Devan yang terpasang foto Sherly di layar handphone itu.


"Salah sendiri kenapa Lo merebut Devan dari gue, dia hanya milik gue," batin Imel menatap foto itu penuh kebencian.


"Mel, kenapa lo nyentuh hp gue?" Devan baru saja keluar dari kamar mandi.


"Oh, tadi cewek bodoh lo itu telpon," jawab Imel.


"Terus lo angkat?" selidik Devan.


"Iya, abisnya berisik banget. Makanya gue jawab dan bilang kalau lo lagi di kamar mandi," jawab Imel ketus tidak suka melihat Devan yang seperti nya tidak senang.


"Lancang banget sih, ini privasi gue, Lo ngerti gak. Gue gak suka lo lancang kayak gini. Jangan sesekali lagi lo berani menyentuh hp gue." Marah Devan membuat Imel kesal.


"Emang apa salahnya? Toh lo gak benaran cinta ini sama dia 'kan? Dia cuma budak permainan lo doang."


"Diam, jika dia sampai minta putus dari gue gara-gara ini. Awas lo." Devan membereskan barang-barangnya lalu pergi begitu saja dari kamar hotel.


"Devan lo mau kamana? Devan!" teriak Imel memanggilnya, namun tak di hiraukan oleh Devan.


"Aaarrrrrggg, menyebalkan." Imel melempar gelas yang ada di atas nakas samping tempat tidur.

__ADS_1


"Ada apa sih, berisik banget! Ganggu orang tidur tau gak?" ucap Aldo yang terusik dalam tidurnya akibat amukan Imel.


Devan sudah berada di parkiran.


"Sial, Sherly bisa salah paham. Gue harus menjelaskan ini secepatnya.' Devan menyalakan mesin motornya lalu melaju kencang menuju rumah Angga.


"Sayang, di bawah ada Devan," ucap Sera mengetuk pintu kamar anaknya.


Sherly bergegas membuka pintu kamarnya.


"Devan?'


"Iya, kamu belum kasih tau sama dia?' tanya Sera, Sherly menggeleng pelan.


"Sebaiknya kamu kasih tau ke dia secepatnya sayang."


"Iya Mah, ini Lily juga akan mengatakan padanya." Sera mengangguk.


Sherly menghampiri Devan yang kini sedang menunggunya di ruang tamu.


"Sayang, aku ....'


Setelah sampai di taman belakang rumahnya, Devan dengan cepat meraih tangan Sherly.


"Sayang, soal telpon tadi ... aku bisa jelaskan. Ini bukan seperti yang kamu pikirkan, aku dan Imel tidak melakukan apa-apa di hotel karena bukan hanya kami berdua saja di sana, tapi ada anak-anak yang lainnya juga." Devan mencoba menjelaskan kejadian di hotel.


"Bukan masalah itu yang ingin aku bicarakan. Jika masalah itu aku tidak peduli, itu terserah kamu mau melakukan apa, aku tidak peduli," ucap Sherly dingin. Devan tercengang.


"Apa maksud kamu?" tanyanya kebingungan.


"Devan, kita putus." tegas Sherly serius.


" Apa! Tapi kenapa? Bukannya aku sudah katakan jika aku dan Imel gak ada hubungan dan gak melakukan apa-apa. Tolong jangan katakan ini, aku gak suka Sherly."


Sherly tersenyum dingin acuh.


"Kita putus, aku tidak peduli kamu punya hubungan atau tidak dengannya. Karena aku tetep minta putus, karena ...."


"Karena apa Sher, jangan bercanda. Aku gak mau kita putus, aku cinta sama kamu!"


Sherly langsung tertawa mendengarnya." Cinta, cinta seperti apa yang kau punya untuk ku?" tanya Sherly sinis.

__ADS_1


Devan menegang." A-aku mencintai mu dengan tulus," jawabnya dengan ragu. Sherly kembali tertawa namun terdengar menyedihkan.


"Oh benarkah? Tapi sayangnya aku nggak tuh," jawab Sherly santai.


"Apa maksud kamu Sherly, aku gak ngerti?" Devan benar-benar kebingungan.


"Kau mau tau apa maksud ku? Aku katakan sekali lagi ya. Dengar baik-baik Devan. AKU TIDAK CINTA SAMA KAMU, SEBAB ITULAH AKU MINTA PUTUS." tegas Sherly dengan sangat serius, Devan dapat melihat tak ada kebohongan dari tatapan mata gadis itu.


Selangkah Devan maju hingga tubuhnya begitu dekat dengan Sherly. Ia tidak terima karena kekasihnya itu memutuskan hubungan dengannya.


"Kenapa?" tanya Devan lagi, ia masih belum mengetahui alasan yang kuat sehingga gadis di hadapannya ini meminta putus darinya, ia berpikir jika Sherly tidak mungkin tahu permainan yang ia buat dari teman-temannya.


" Karena aku mau menikah." Sherly mengambil undangan yang sudah tergeletak di meja yang sengaja di tutupi oleh koran.


"Dan ini undangannya, jangan lupa datang ya." Dengan santai Sherly menyerahkan undangan itu secara langsung dengan senyum di wajahnya. Devan meraih nya cepat.


"Tidak, ini tidak mungkin. Kau pasti bercanda kan Sher? Tidak mungkin kau mau menikah dengan Om ku?' Devan tidak percaya sama sekali, ia tertawa menganggap ini sebuah lelucon.


"Kenapa tidak mungkin?" tanya Sherly.


"Kamu gak bisa melakukan ini padaku Sherly?"


" Kenapa gak bisa? Kau saja mempermainkan aku layaknya barang taruhan bisa. Lalu kenapa aku gak bisa?" kata Sherly bersikap tenang.


Devan meremas undangan itu dan menatap tajam Sherly.


"Jadi kau sudah tau? Lalu dengan sengaja kau ingin membalas dendam dengan menikahi Om ku, iya?" emosi Devan.


"Kenapa kamu marah? Bukannya aku hanya barang taruhan kamu agar bisa mendapatkan motor? Tenang aja, aku bisa minta belikan motor yang kamu inginkan sama papah aku untuk mengganti rugi karena kamu belum bisa menyentuh aku seutuhnya," kata Sherly berkata dengan santai membuat emosi Devan mendidih.


"Nggak, aku gak terima kamu lakukan ini sama aku Sherly. Kamu hanya milikku, aku tidak akan membiarkan kalian menikah," teriak Devan tak terima.


PLAAAAAK ... karena kesal Sherly menampar wajah Devan kuat. Air matanya meleleh, dengan cepat ia menghapus nya agar tidak terlihat lemah di hadapan Devan.


"Pergi kau dari rumahku, kau adalah laki-laki bajing*n Devan. Terima atau tidak aku tidak akan mengubah keputusan ku. Tiga hari lagi kami akan menikah, semoga kau bisa taubat setelah ini."


Devan berlutut di hadapan Sherly, lalu meraih tangannya dengan deraian air mata mengalir di wajah.


"Aku minta maaf atas perbuatan ku Sher. Aku akui jika aku salah. Aku menjadikan kamu barang taruhan hanya karena sebuah motor, tapi aku tidak menyangka jika aku jatuh cinta benaran sama kamu. Bahkan aku gak perduli lagi dengan motor itu, karena aku gak mau kehilangan kamu, Sherly. Aku mohon jangan menikah sama om Alex." Pinta Devan memohon dengan nada lirih penuh penyesalan. Sherly hanya diam dengan membuang mukanya kearah lain. Hatinya menangis.


"Tolong kasih aku kesempatan untuk berubah, karena aku bersungguh-sungguh mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2