
Halo ...."
"Aleeeeeeeex. Kau dasar menantu sableng! Beraninya kau pergi ke Jepang gak bilang-bilang sama kami?"
Alex menjauhkan HP tersebut dari kupingnya, suara mertuanya itu benar-benar sangat nyaring sampai-sampai gendang telinganya nyaris pecah.
"Maaf, lupa," jawab Alex santai.
"Apa!" teriak Alex sampai-sampai suara besarnya itu membuat Sera terganggu.
"Berisik, Mas. Pelan-pelan napa, jangan teriak-teriak ini bukan ragunan," omel Sera pada suaminya.
"Kan aku hanya kaget, ini gara-gara menantu kesayangan mu, bukan aku," elak Angga mengelus kupingnya karena di jewer.
"Salahin aja orang, jauh-jauh sana aku mau nonton film ikatan cinta nie," usir Sera karena menganggu ia sedang menonton film drama kesayangan.
"Tuh film kenapa gak tamat-tamat sih? Kalau udah nonton film itu aja suaminya di cuekin, sebel," gerutu Angga berjalan keluar teras.
"Nanti kalau udah selesai ngobrol sama Alex kasih ke aku ya, aku juga mau ngobrol sama Lily," ujar Sera berteriak.
"Iya sayang," jawab Angga malas.
Handphone yang masih terhubung, Angga memanggil Alex.
"Huy, lo masih idup!" panggil Angga.
"Iye, udah selesai debat nya?" tanya Alex.
"Mau tau aja lo, kepo," jawab Angga ketus, Alex memutar bola matanya malas. Sherly hanya tertawa mendengar nya.
"Hadew, nie mertua dasar sableng," gumam Alex.
"Lo lagi ngatain gue, hah. Dasar belut sawah," ujar Angga." Gue masih marah sama lo, kenapa kalian pergi gak bilang -bilang?"
Angga masih kesal dengan masalah itu.
"Kan di bilang lupa, kalau udah lupa mau gimana lagi?" jawab Alex santai.
"Dasar menantu sableng, bilang aja Lo gak mau kasih tau gue kan?" tuduh Angga sinis.
"Tau aja," jawab Alex jujur, lelaki itu sedang menahan tawanya.
"Oh dasar kau menantu sialan, durhaka. Awas lo kalau pulang nanti, gue bejek-bejek Lo jadi ***** kuda laut bakar," kesel Angga ingin mencabik-cabik wajah menantunya kerena kesal.
"Kan gue mau ikut, huuuuaaaa," lanjutnya mewek, nangis guling-guling mau ikutan.
Alex menepuk keningnya sudah menduga. Inilah ia tak mau berpamitan, pasti merengek-rengek minta ikut, dan benar saja seperti dugaannya
Untung gak berpamitan, kalau tidak kacau sudah bulan madu nya.
"Alex ada kerjaan bisnis Pah, gak bisa ajak-ajak keluarga," ucap Alex.
"Terus kenapa Lily ikut?" tanyanya, Angga persis seperti anak-anak yang sedang merajuk. Tidak sadar dengan umur yang sudah tua.
"Kami sekalian bulan madu Pah," jelas Alex.
"Kenapa gak ajak-ajak, kau curang. Kan kami juga mau pergi ke Jepang," ujar Angga sewot.
"Kami bulan madu Pah, mana ada bulan mau ajak-ajak keluarga, gak seru dong. Rame, gangguin iya," jawab Alex.
"Dasar menantu pelit, awas aje lo ntar kalau pulang," ujar Angga kesel karena tak di ajak pergi ke Jepang, padahal ia sangat ingin ke sana tapi keuangan tidak mencukupi.
Alex menghembuskan nafasnya menatap sang istri yang terus tertawa, papahnya mudah merajuk. Apa-apa selalu kepengen, mungkin karena faktor U.
"Bulan depan anniversary pernikahan kami," ucap Angga.
"Oh, selamat kalau begitu." Alex langsung memberikan ucapan selamat dari sekarang.
"Belum, masih belum dodol. Bulan depan," jawab Angga, Alex kembali memutar bola matanya malas.
"Iye-iye, terus ...."
"Minta hadiah," ucap Angga meminta terdengar seperti merengek.
"Hadiah apa?" tanya Alex, lucu sih. Udah tua minta hadiah seperti anak kecil yang sedang meminta premen pada orang dewasa.
__ADS_1
"Emm, hadiah nya mau tiket bulan madu ke Korea Selatan," ujar Angga seenaknya.
"What, bulan madu? Gak salah tuh," sahut Sherly tak percaya jika papahnya ingin bulan madu juga.
"Gak sadar diri, sudah tua masih aja masih aja mau bulan madu. Dasar pak tua tukang iri," ejek Alex dengan suara pelan.
"Emangnya kenapa? Masalah buat lo! Pokoknya lo udah janji kasih hadiah anniversary gue tiket bulan madu gue sama bini gue, awas aje lo kalau boong," ucap Angga tegas dengan ancaman, maksa pula.
Alex menghembuskan nafasnya melirik istrinya yang terdiam merasa tidak enak atas permintaan Papahnya itu.
"Baiklah," jawab Alex pasrah. Sesekali menyenangkan hati mertua tidak apa lah ya. Biar mertua juga makin sayang dengannya.
"Bagus, gitu dong. Menantu idaman namanya," puji Angga bangga.
"CK, giliran ada mau nya aja di puji-puji, sanjung-sanjung. Coba kalau gak ada, di ejek, di bully terus," ejek Alex, Angga pun tertawa.
"Ya udahlah ya, kami mau lanjut bikin adonan lagi. Jangan di ganggu, biar cepat jadi ini," ujar Alex.
"Alah, sok-sok'an bikin adonan. Paling juga cuma 3 menit." ejek Angga kembali sembari tertawa.
"Enak aja, udah gak lagi ya. Udah nambah nie jadi 20 menit," bantah nya.
"CK, baru 20 menit aja belagu."
"Iya dong, setidaknya udah usaha," jawan Alex membanggakan diri.
"Alah, baru segitu doang. Gimana kalau kayak gue yang 2 jam? Dasar tiang listrik sih, kayak gue doang menara efel, panjang, besar dan berdiri dengan gagah. Sedap di pandang," ujarnya sombong.
"Karep mu lah Pah," malah Alex. Angga pun tertawa.
"Eh, ngomong-ngomong soal menara efel. Gimana tiketnya ganti ke Paris aja, gak jadi deh ke Korea Selatan, ntar mamah kamu minta ketemu sama Lee min ho lagi, bahaya," ucap Angga.
"Alamak, nie mertua udah minta banyak tingkah pula. Bangkrut nie lama-lama." batin Alex menghela sambil mengelus dada.
"Woy, denger gak sih?" panggil Angga karena tak ada jawaban.
"Iye Papah mertua ku sayang, astagfirullah," ucap Alex harus banyak-banyak bersabar.
"Nape lo, gak ikhlas ngasih hadiah tiket buat bulan madu gue?" tanya Angga sinis.
"Kali aja gak ikhlas, gue gibas pala lo, ya udah," sahut Angga, Alex menghembuskan nafasnya panjang.
Astagfirullah, ya Allah taubat, taubat.
"Em, ya udah. Alex matiin ya," ucap Alex.
"Eh jangan dulu, mamah kamu mau ngomong sama Lily. Mau main mati-matian aje lo, gak suka ye gue telpon, hah?"
"Astagfirullah, kenapa lagi nie mertua. Sed dah, sabar-sabar." batin Alex kembali ngelus dada.
"Sayang, mamah mau ngomong," panggil Alex ia saat ini duduk di teras kamar hotel.
"Oh iya Lex, ntar pulang dari Jepang jangan lupa oleh-oleh nya ya, awas lo kalau sampai lupa, gue masih marah nie karena lo gak pamit ma gue."
Alex rasanya ingin memaki, mengumpat. Bunuh orang dosa gak sih? Astagfirullah, Ya Allah....
"Lagi ngomongin apa sih? Seru banget kayaknya." Sera baru menghampiri Angga di teras karena film kesukaan sudah habis.
"Itu mah, Papah katanya mau minta oleh-oleh cewek Jepang kayak Miabi, buat di bawa pulang
Untuk koleksi katanya," ujar Alex berbohong, ia sengaja agar Angga di marahi oleh istri mewakili perasaan nya.
"Oh jadi itu dari tadi kamu pengen banget telepon Alex. Minta oleh-oleh Miabi ya."
"Ng-nggak Mah, mana ada. Jangan percaya sama si kunyuk itu, bohong dia," elak Angga," woy Alex dasar menantu sableng, sialan. Awas lo ntar ya ... aduh, Mah sakit-sakit ...."
Entah di apakan oleh Sera hingga Angga terus mengaduh kesakitan, Alex terus tertawa terbahak-bahak merasa puas.
"Syukuri, emangnya enak," ejek Alex dengan tawa jahatnya.
"Ada apaan sih, kayaknya heboh banget deh." Sherly yang penasaran mendengar suara tawa suaminya, lalu menghampiri.
"Tuh, Papah di marahin sama Mamah," ujar Alex sembari tertawa ngakak. Sherly hanya geleng-geleng kepala saja.
"Nie, mamah mau ngobrol katanya. Aku mau ke kamar mandi dulu ya." Setelah memberikan handphone pada Sherly tak lupa kecupan di kening. Alex berjalan menuju kamar mandi untuk buang hajad.
__ADS_1
Setelah Sherly dan mamahnya mengobrol, ternyata Alex masih belum keluar juga dari kamar mandi. Padahal udah setengah jam lebih, Sherly pun penasaran suaminya itu gak mungkin pingsan karena bau busuk pup sendiri kan?
"Mas, kamu masih idup?" tanya Sherly sambil mengetuk pintu.
"Masih lah sayang, kamu ini senang benar doain laki mati," ujar Alex saat membuka pintu. Lelaki itu berjalan kayak bebek sambil memegangi perutnya.
"Lagian kamu di dalam lama banget, ngapain sih? Gak mungkin bertelur 'kan," ujarnya.
"Kepala kamu sebenarnya isinya apaan sih? Lagian mana ada laki-laki bertelur. Memang benar-benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bapaknya sableng, anaknya sedikit ada titisan sablengnya juga," ujar Alex. Dan Sherly langsung mencubit perutnya.
"Kamu itu yang sableng, enak aja ngatain aku sableng," omelnya sambil cemberut.
"Iya deh, aku yang sableng. Dan kamu istrinya sableng dari anaknya sableng dan gurunya gendeng," ucap Alex mencubit kedua pipi Sherly gemes.
"Iiih, sakit tau. Lagian kamu kok lama banget di dalam, terus kenapa jalannya kayak orang abis di sunat aja?"
Alex mengetuk-ngetuk kepalanya.
"Em, itu ... anu, itu nya keras, susah banget keluarin nya. Sekalinya keluar malah habis tenaga setelah ngejen, eh malah masuk lagi," cerita Alex sambil menggosok-gosok tengkuknya malu.
Sherly langsung tertawa terbahak-bahak sambil memenggangi perutnya yang sakit akibat tak tahan menahan tawa.
"Astagfirullah, Ya Allah Mas. Ada-ada aja kamu, makanya minum air putih yang banyak, pantesan aja jalannya kayak bebek gitu, awas ntar bisa terkena ambeien loh," ujar Sherly sambil menyerahkan segelas air putih.
"Kamu ini, malah nakuti-nakuti suaminya."
"Bukan nakuti-nakuti, tapi seringkali terjadi loh. Kalau gak percaya coba saja tanya sama papah," ujar Sherly.
"Nggak deh, lain kali saja," ujar Alex." Ntar malah minta tambah tiket lagi," lanjutnya ngebatin.
"Udah selesai ngobrol sama mamah?" Sherly mengangguk sambil membereskan tempat tidur yang berantakan biar nyaman untuk di tiduri.
"Kalian ngomongin apa?" tanya Alex kepo.
"Adalah, urusan perempuan kamu gak akan mengerti, ya udah tidur yuk!" ajak Sherly, ia sudah naik ke tempat tidur.
"Yah, kok malah tidur. Gak lanjut lagi ronde ke 2," ujar Alex dengan wajah melas penuh harapan.
"Dasar mesum, ini bukan menuju yang 2 kali, tapi udah ke 3 kalinya. Masih mau lagi?" heran Sherly, gak ada bosen-bosennya, pinggul sakit, badan remuk. Dasar laki-laki.
"Masa sih? Bukanya baru sekali aja tadi ya, kok aku gak ingat sih," ujar Alex pura-pura lupa.
" Besok kan mau kerja, jangan sampai gak fokus gara-gara lebur. Kita masih banyak waktu bukan?" bujuk Sherly, ia tak mau suaminya sampai gak fokus dalam pekerjaan, apalagi ini cukup penting bagi perusahaan.
Alex menidihi tubuh istrinya." Tenanglah sayang, tubuh suamimu ini kuat, mau lembur sampai berapa ronde ayo, tak jabani," tantang Alex malah semakin semangat.
"Awas ya kalau besok gak bisa bangun. Tak siram kamu sama air," ancam Sherly tegas.
"Siap ratuku, siram pakai ciuman juga boleh. Di jamin cara itu akan langsung bangun tanpa butuh waktu lama, cobalah," bisik Alex lalu menciumi leher istrinya.
"D.a.sar, mes...um. I.itukan ma ...em, maunya kamu." Sherly menjawab dengan terbata menahan rasa geli campur enak dari suaminya itu yang kini sudah menjalar ke bagian era sensitifnya.
"K.kamu memang na. Ahk, nakal Mas," oceh Sherly kemudian mengigit bibir bawahnya.
"Nakal sama istri sendiri, tidak apa-apa. Tapi kamu juga suka kan?"
Sherly pasrah, ia hanya bisa menikmati yang kesekian kalinya suaminya itu memasukan Ucok ke Baba, padahal esok hari penting, namun tidak menjadi penghalang bagi Alex yang penting hatinya senang dulu malam ini, hari esok pasti lebih bersemangat lagi karena sudah di isi energi nya.
Setelah setengah jam puas bermain kuda-kudaan. Sherly sudah terlelap. Badannya rasa remuk semuanya. Alex hanya bisa tersenyum sambil mengelus memandangi wajah cantik istri yang nampak kelelahan.
"Terima kasih sayang, aku akan selalu percaya sama kamu. Semoga kita bisa selamanya hidup bahagia dan di juahkan dari cobaan masalah, apalagi orang ketiga." Alex mengecup keningnya lembut.
Saat ingin memejamkan mata, karena memang sudah lelah juga. Tiba-tiba handphone berdering.
"Astaga, siapa malam-malam begini telpon, gak mungkin papah lagi kan?" Alex melihat nama yang tertera di layar handphone nya.
"Eh, opah. Ngapain dia telpon?" Tampa pikir lagi, Alex langsung menjawab nya.
"Halo, ada apa Opah?"
"Aleeeeeex, dasar cucu menantu gendeng. Kau kasih Angga tiket ke Paris, tapi kenapa gue enggak?"
Tut ... Tut ....
"Alex sialan, awas lo ya, gue bejek-bejek lo jadi gilingan rengginang," kesel Bobby memarahi hp nya karena teleponnya langsung di tutup oleh Alex sepihak.
__ADS_1
"Hadew, gak menantu, gak mertuanya sama saja. Dasar keluarga somplak."