
Hari yang di nanti
Leo dan Keyra pergi ke Jepang. Pagi-pagi sekali mereka berpamitan pada Angga dan Sera memohon doa supaya di lindungi dari mata musibah saat dalam perjalanan, di manapun dan kapanpun. Tentu saja membuat Angga cemberut, lelaki tua itu sangat irian orangnya. Gak bisa banget liat orang seneng dikit, pasti kepengen juga. Dasar Angga.
"Papah kok cemberut gitu?" tanya Nicko setelah kepergian Leo dan Keyra menuju bandara.
"Sebel, Papah gak di beliin tiket sama abang ipar kamu. Sedangkan opah sama Leo di beliin," adu Angga pada anak bungsunya.
"CK, bukannya Papah udah minta sendiri tiket ke Paris? Kalau minta lagi tekor dong abang Alex," jawab Nicko geleng-geleng kepala.
"Tetep aja sebel, Jagan pengen juga pergi hari ini," ucapnya cemberut. Nicko dan Sera kembali geleng-geleng kepala.
"Dasar tukang iri," gumam keduanya barengan, lalu meninggalkan Angga yang masih cemberut sendirian.
"Apa salahnya, namanya juga manusiawi," jawabnya tak mau kalah.
Angga mengambil handphone miliknya, lalu ia menelpon Alex untuk protes karena merasa tak adil. Masa ia sendiri yang gak pergi hari ini. Sedangkan mertua dan anaknya pergi. Bahkan Bagas dan Ratna juga punya rencana sendiri pergi jalan-jalan ke Bali walau pakai uang mereka sendiri. Tapi tetep saja membuatnya sangat-sangat iri.
"Alex!"
"Sibuk Pah. Nanti Alex telepon lagi ya," ujar Alex langsung mematikan teleponnya sepihak untuk menghindar.
"Huuuf, pasti mau protes deh. Dasar pak tua," gumam Alex mengoceh pada hp nya.
" Dasar menantu durhaka, awas lo ntar ya. Gue bejek-bejek jadiin ayam penyet lo. Kesel gue," ucap Angga mengomeli hpnya sebel. Ia pun hanya bisa gigit jari membayangkan menara Paris. Ia jadi tak sabar ingin segera pergi ke sana.
"Dari papah?" tanya Sherly sambil membenarkan dasi suaminya.
"Hem, dari suaranya sih kayaknya mau protes gitu deh," jawab Alex sambil memeluk pinggang istrinya.
__ADS_1
"Maaf ya, keluarga aku jadi menyusahkan kamu. Mereka banyak maunya," sesal Sherly lirih, ia meminta maaf karena merasa gak enak dengan suaminya. Tiket pergi ke Jepang dan Korea bukanlah murah.
"Gak perlu minta maaf, keluarga kamu juga keluarga ku. selagai aku masih mampu kenapa nggak? Lagian yang segitu gak akan membuat aku jatuh miskin. Walaupun suatu saat jatuh miskin, bukan berati aku gak bisa mencari nafkah, apa lagi membuat kamu dan keluarga kita bahagia."
Mata Sherly berkaca-kaca. Sungguh beruntung banget dirinya mendapat suami seperti Alex.
"Terima kasih Mas. Semoga Allah selalu memberikan kamu kesehatan selalu dan rezeki yang berlimpah. Dan semoga kebaikan mu di balas oleh Allah," ucap Sherly sambil memeluk suaminya. Ia mendongak menatap suaminya lekat.
Alex pun mencium kening istrinya lembut dan cukup lama. Mata keduanya saling terpejam.
"Amin."
Alex pun pamit pergi ke kantor. Sedangkan Sherly bersiap-siap hendak ke ke kampus.
*******
"Astagfirullah." seseorang yang tak jauh dari kecelakaan itu terkejut hingga spontan langsung menginjak rem nya mendadak.
"Astagfirullah, Ya Allah ada yang ke cekakakan?" Tubuhnya gemetar. Kecelakaan itu tepat terjadi di hadapannya yabg seumur hidupnya belum pernah melihat hal kejadian seperti ini.
Dengan cepat ia menelpon polis dan ambulance. Tetapi untuk lebih memastikan keadaan orang itu, ia turun dari mobil untuk memeriksanya.
"Astagfirullah, orangnya masih hidup!" pekik gadis itu saat mengintip dari kaca mobil melihat orang di dalamnya bergerak-gerak.
"Tolong!" teriak gadis itu pada mobil yang lewat. Tetapi tak semua orang memiliki hati yang baik. Mobil itu melaju begitu saja.
"Hey, Mas. Kamu gak apa-apa?" tanya gadis itu sambil teriak mengetuk kaca mobil. Tetapi orang di dalamnya tak bisa membuka mata akibat pecahan kaca mengenai matanya. Namun, ia bisa mendengar.
"Hey, apa kamu masih bisa buka pintu mobil?" gadis itu kembali berteriak dengan nada panik.
__ADS_1
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Mobilnya bau bensin?" ucapnya panik. Ia terus berteriak meminta tolong pada mobil yang lewat.
"Lama banget sih bantuan datang. Mana orang-orang gak ada yang mau tolongin apa?"
Karena tak ingin orang di dalam mobil itu mati karena ledakan mobil. Ia mencari sesuatu supaya bisa memecahkan kaca mobil tersebut. Gadis itu mencari di bagasi mobilnya, dan ia melihat ada besi untuk membuka ban mobil. Dengan cepat ia memukul kaca mobil tersebut dengan sekuat tenaga.
"Bismillah Ya Allah." ucapnya, 2-3 kali pukulan akhirnya kaca itu pecah. Ia lega dan langsung membuka pintu mobil dengan cepat.
"Bertahanlah," ucap gadis itu saat mengeluarkan orang tersebut. Untungnya ada beberapa mobil yang berhenti lalu menolongnya untuk membopong orang berjenis kelamin laki-laki tersebut, dan sejauh mungkin membawanya pergi dari mobil hingga ledakan itu tidak mengenai mereka.
"Alhamdulillah," ucap beberapa orang yang ikut membantu. Mereka lega karena selamat dari ledakan mobil tersebut. Ambulance dan polisi baru saja tiba dengan suara sirene yang sangat berisik.
Gadis itu menatap bengong mobil yang terbakar itu dengan tubuh yang gemetar. Lelaki itu sudah di bawa ke dalam ambulance. Ia juga di bawa untuk di periska dan sebagai saksi.
"Kamu gak apa-apa?" tanya salah satu polisi menepuk pundak gadis itu.
"I-iya Pak," jawabnya dengan suara gemetar karena masih syok.
"Kamu gadis yang pemberani. Saya salut sama kamu," puji salah satu warga yang ikut membantu tadi.
Polisi itu tersenyum menatap arah gadis itu." Nama kamu siapa Dek?" tanyanya.
"Yura ... Yura Arandita."
Yura menatap kepergian ambulance yang membawa lelaki itu menuju rumah di sakit. Ia tersenyum lega, setidaknya ia berhasil menyelamatkan nyawa orang yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Yura menceritakan kejadiannya pada polisi untuk keterangan. Ia pun di hendak di antar ke rumah sakit untuk pemeriksaan, namun Yura menolak. Salah satu polisi mengatakan Yura pulang saja dengan menaiki mobil polisi, sedangkan mobilnya nanti akan di urus para polisi karena ia tak di izinkan mengemudi sekarang ini.
"Semoga lelaki itu baik-baik saja."
__ADS_1