Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2


__ADS_3

Seorang gadis bernama Nadia Safira berusia 28 tahun, yang masih jomblo hingga sampai sekarang. Karena terlalu sibuk dari pekerjaannya itu membuatnya tak memikirkan untuk memiliki pasangan hidup seperti menikah misalnya.


"Menikah? apa masih ada seorang lelaki yang mau sama perawan tua kayak aku."gumamnya lirih mendesah meratapi nasib jomblonya. Bukanya tak laku, melainkan ia tak ingin di sakiti lagi seperti sang mantan kekasih sejak 5 tahun silam yang lalu. Dari penghianatan nya sang mantan itu membuatnya menjadi trauma untuk kembali menerima seseorang di hatinya. Luka fisik atau luka dalam masih dapat di obati, tapi luka patah hati belum dapat di temukan obatnya hingga saat ini dan itulah yang membuat Nadia resah akibat patah hatinya yang masih membekas hingga saat ini.


"Huuuuf, waktu nya kerja."kata Nadia memberi semangat pada dirinya sendiri.


Nadia keluar dari kontrakannya, gadis itu bekerja di kota namun keluarganya berada di kampung sehingga ia mengharuskan untuk mengontrak meningat tak ada sanak saudara di kota besar seperti Jakarta.


Sewaktu di perjalanan, tiba-tiba ada sebuah mobil oleng yang melaju kencang hingga hampir menabrak dirinya. Untung saja sang pengemudi memblokan stir mobilnya dengan cepat sehingga tabrakan pun terhindar. Namun, siapa sangka ternyata mobil tersebut hilang kendali sehingga menabrak pembatas dinding jalan dengan benturan yang sangat keras.


BRAAAAAAK...


Bunyi suara mobil tersebut.


"Astaghfirullah."Nadia tersentak kemudian ia terjatuh dari motornya kaget melihat dengan mata kepalanya sendiri musibah itu terjadi yang baru pertama kali ia alami.


"Astaghfirullah Ya Allah. apa yang harus aku lakukan."Nadia gemetar takut, ia tak tau harus berbuat apa? ketakutan pun menyelimuti dirinya, takut akan di salahkan dan takut juga orang itu mati karenanya.


"Ya Allah, bagaimana ini? apa aku kabur aja."pikiran negatifnya pun menguasai pikirannya, namun sebelum ia beranjak. Tiba-tiba saja ia mencium sesuatu.


"Bau apa ini?"Indra penciumannya yang begitu tajam sehingga ia dapat mencium bau bensin dari mobil tersebut keluar, sehingga ia terkejut karena itu akan sangat berbahaya dan dapat menyebabkan mobil itu terbakar.


"Tidak, sebaiknya aku menolong orang Yang dan di dalam mobil dulu sebelum mobilnya meledak."dengan gesit Nadia berlari menghampiri mobil, dan secara kebetulan di jalanan tersebut begitu sepi tak seperti biasanya sehingga tak ada orang-orang yang lalu lalang melintasi jalan tersebut dan itu benar-benar membuat Nadia harus menolong penumpang di dalam mobil seorang diri.


"Astaghfirullah, ternyata seorang perempuan dan anak kecil."pekiknya kaget melihat dari luar kaca jendela.


"Ibu, ibu tolong cepat bangun."teriak Nadia dari luar sambil menggedor-gedor pintu kaca mobil keras.


"Emmmm,"lenguh si pengemudi wanita tersebut sambil memegangi kepalanya yang terasa pening akibat benturan di kepalanya.


"Ya Allah, cucuku."kagetnya melihat keadaan cucunya yang sangat mengkhawatirkan.


"Ibu, cepat keluar dari dalam mobil. Mobilnya akan meledak."teriak Nadia lagi, untung saja dari dalam mobil dapat mendengar suara dari luar sehingga sang wanita tersebut dengan cepat melepaskan sabuk pengaman dirinya dan cucunya dan segera keluar dari mobil tersebut. Namun sayangnya nasib tak berpihak kepada mereka, pintu mobil tak dapat di buka sehingga membuatnya panik seketika.


"Tolong, pintunya tak bisa di buka."teriak wanita tersebut dari arah dalam mobil.


Nadia yang mendengar pun panik, namun ia berusaha tenang sehingga dapat berpikir.


Untung saja tak jauh dari mobil ada sebuah batu lumayan besar sehingga Nadia dapat mengambil batu tersebut tanpa pikir panjang, ia mengisyaratkan untuk sedikit menjauh dari pintu mobil tersebut agar ia dapat memecahkan kaca mobil itu.


PRAAAAAANG.....


Kaca mobil pun pecah kemudian.


"Ibu cepat keluar."Nadia membatu wanita paruh baya dan anak kecil itu keluar dari mobil kemudian berlari cepat menjauh hingga terdengar suara ledakan dari mobil dan itu membuat ketiganya syok melihatnya, namun merasa bersyukur karena selamat dari maut.


"Alhamdulillah ya Allah, engkau masih melindungi kami."puji syukur sang ibu paruh baya tersebut bersujud.


"Mamah."


Mendengar suara dari gadis kecil tersebut memanggil mamah sambil memeluk dirinya membuat Nadia tersentak, namun ia dapat merasakan ketakutan dari tubuh gadis kecil yang berusia 5 tahun tersebut sehingga ia membalas memeluknya dan memberikan rasa nyaman untuk nya sehingga gadis kecil itu menjadi tenang di dalam pelukannya.


"Jangan takut ya, Kaka di sini."ucap Nadia lembut.


"Mamah."lagi-lagi gadis kecil itu memanggil dirinya mamah.


"Ya Allah nak, terima kasih banyak karena kamu sudah menyelamatkan kami


Kalau tidak ada kamu mungkin kami sudah...."wanita itu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena menangis tak dapat membayangkan apa yang terjadi jika dirinya masih di dalam mobil.


"Ibu berdarah, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang."Nadia tak menjawab ucapan dari ibu itu karena terkejut melihat darah segar mengalir di kepala wanita tersebut.

__ADS_1


Tak lama kemudian mobil polisi serta ambulan pun tiba karena Nadia menelponnya, ketiganya di bawa kerumah sakit dengan Nadia masih memeluk gadis kecil itu di dalam gendongan nya karena tak mau pisah darinya.


"Sayang, turun ya kasihan kakanya. Lihat tangannya terluka, sayang."ucap lirih wanita itu dengan suara lemah terbaring di dalam ambulan merasa kasihan kepada Nadia yang sudah kerepotan menggendong cucunya dari tadi dengan luka di tangannya akibat terkena pecahan kaca.


"Gak mau, Natasha mau sama Mamah."ujarnya menolak kemudian makin mempererat pelukannya.


"Gak apa Bu, mungkin dia masih syok dengan kejadian tadi."kata Nadia tersenyum ramah karena ia juga merasa kasihan dengan anak kecil ini yang masih di landa ketakutan.


"Maaf ya nak karena sudah merepotkan kamu, padahal kamu juga terluka pasti tambah sakit karena tergesek terus sama Natasha."


"Tidak apa-apa kok Bu, lagi pula tidak berasa sakit kok karena ini hanya luka ringan jika di bandingkan dengan ibu yang terluka parah. Ibu jangan pikirkan saya dan Natasha ya, sebaiknya ibu istirahat. Biar Natasha saya yang urus."


"Terima kasih banyak sekali lagi nak, kamu anak yang baik. Siapa nama kamu?"


"Nadia Safira, panggilan saja Nadia."


"Saya ibu Rina Amelia, dan ini Natasha Angelina Ardiansyah."ibu Rina memperkenalkan dirinya dan juga cucunya membuat Nadia mengangguk sembari tersenyum.


"Mamah, Natasha takut."lirih Natasha masih syok memeluk erat.


"Tidak apa, kamu jangan takut ya


Kakak di sini akan melindungi dan menjaga kamu."


Mendengar ucapan dari Nadia membuat Natasha gadis kecil berusia 5 tahun itu menjadi tenang.


"Mamah, jangan tinggalkan Natasha lagi ya. Mamah harus janji untuk sellau ada bersama Natasha."


Nadia kaget dengan lontaran yang di ucapan oleh Natasha yang meminta dirinya untuk tidak pergi meninggalkan nya, apa yang harus ia jawab Karen bagaimana pun juga mereka pasti akan berpisah cepat atau lambat.


"Mamah, hiks... Natasha gak mau Mamah pergi ninggalin Natasha lagi, kalau mamah pergi bawa Natasha juga ya."sambungnya lagi.


Mendengar tangisan Natasha membuat hati Nadia merasa iba, ia menatap raut wajah tulus dari gadis kecil tersebut yang benar-benar menginginkan dirinya itu tidak ingin meninggalkan nya. Namun ia merasa tak berdaya, karena ia memiliki banyak hal yang harus di kerjakan terutama kepada pekerjaan, serta maslaah dirinya sendiri yang masih belum menikah hingga saat ini.


Rani tersenyum walaupun lemah, ia tak menyangka jika cucunya yang selama ini tak ingin dekat dengan orang lain selain dirinya dan juga ayahnya, namun siapa di sangka ternyata Nadia seorang penyelamat dirinya dan cucunya dapat menarik perhatian Natasha.


Kamu bukan hanya baik dan cantik, tapi juga memiliki hati yang tulus. Gumam Rani menatap interaksi Natasha dan Nadia yang kini sudah sangat akrab.


"Natasya tidak punya ibu lagi sejak 2 tahun yang lalu, ibunya pergi bersama laki-laki lain dan tega meninggalkan suami dan anaknya."cerita Rani melihat cucunya seakan takut kehilangan sosok seorang ibu lagi.


"Ya Allah."Nadia memandangi wajah damai Natasha yang tertidur di pangkuannya. Tidak heran jika gadis kecil itu memanggil dirinya mamah.


Tak lama kemudian mobil ambulance pun telah tiba di depan rumah sakit, para tim medis pun sudah menyiapkan bangkar dorong untuk membawa Rani agar segera di tangani. Sementara Nadia dan Natasha juga di bawa oleh tim medis supaya dapat di balut luka ringan yang terjadi pada tangan Nadia serta luka memar kepada Natasha.


"Ibu tentang saja, biarkan Natasha sama saya dulu."Nadia memberi tahu jika dirinya akan menjaga Natasha sampai semuanya membaik.


"Iya Nak, maaf sudah merepotkan kamu."ujar Rani lemah sembari tersenyum menggenggam tangan Nadia sebalum di bawa oleh tim dokter.


"Tidak apa-apa Bu, yang penting ibu cepat segara sembuh."


Tim medis pun membawa Rani keruangan untuk menjahit luka nya di kepala akibat luka benturan, untung saja tidak terlalu parah sehingga masih bisa sadarkan diri.


"Ada apa?"tanya seseorang berpakaian jas putih tersebut.


"Ini adalah pasien kecelakaan dok, lukanya harus segera di jahit."ujar suster yang mendorong brankar tersebut.


Dokter lelaki itu mengangguk kemudian ia menoleh kearah brankar, dan ia membelakakan matanya saat melihat seseorang yang sangat ia kenal berada di brankar tersebut.


"Astaghfirullah, ibu."pekiknya terkejut, bagiamana tidak! ternyata orang yang berada di brankar tersebut adalah ibunya yang mengalami kecelakaan dan di selamatkan oleh Nadia.


"Ya Allah ibu, kenapa bisa seperti ini?"dokter lelaki itu khawatir dengan keadaan ibunya.

__ADS_1


"Dok, sebaiknya kita segera melakukan pengobatan kepada ibu anda. Karena kalau tidak darahnya akan terus mengalir dan ibu anda bisa kekurangan dara."ujar dokter salah satu temannya.


Dokter lelaki itu menatap ibunya, ia teringat sesuatu. Jika ibunya kecelakaan hingga luka seperti ini lalu bagaimana dengan anak kecil yang ia ketahui jika sang ibu membawa jalan cucunya, dan cucunya Rani itu adalah anaknya sendiri.


"Oh tidak, bagaimana keadaan Natasha."pekiknya teringat akan anaknya.


"ibu dimana Natasha?"tanya dokter lelaki itu dengan raut wajah cemas.


" Natasha bersama dengan Nadia, mungkin mereka berada di ruangan laen untuk melakukan pengobatan juga karena mereka terluka."jawab lirih Rani lemah.


"Nadia? siapa dia ibu. Kenapa Natasha bisa bersama dengan orang asing?"ingin sekali ia marah namun tak berdaya melihat keadaan ibunya.


"Nadia adalah penyelamat kami, kalau bukan karena dia mungkin ibu dan Natasha sudah terpanggang di dalam mobil."


"Ibu sebaiknya jangan terlalu banyak bicara dulu."ujar dokter lain selaku teman anaknya Rani.


"Tolong kamu yang urus ibu aku dulu, aku mau mencari anakku takut dia kenapa-kenapa."ucapnya dengan nada perintah, teman nya itu pun mengangguk.


"Ibu, Dev mencari Natasha dulunya. Ibu di tangani sama Revan dulu."pamit Dev kepada ibunya.


Muhamad Devino Al'fatih atau dokter Dev, lelaki yang memiliki wajah rupawan tersebut adalah seorang dokter umum yang bekerja di rumah sakit Islam tersebut. Ia adalah seorang duda beranak satu di usia 34 tahun. 7 tahun menjalani rumah tangga bersama istri, bukan sekarang bisa di sebut mantan istri karena keduanya sudah bercerai 4 tahun yang lalu saat Natasha berusia 2 tahun. Sang mantan istri melakukan penghianatan dan pergi bersama laki-laki lain meninggalkan Dev dan Natasha kala itu, Dev paling benci dengan penghianatan sehingga ia langsung menggugat cerai istrinya saat itu juga walapun dalam hati ia masih sangat mencintainya wanita yang sudah melahirkan anaknya tersebut.


Dev menelusuri lorong rumah sakit mencari keberadaan anaknya berada.


"Sus, apa kamu tau dimana Natasha di rawat?"tanya Dev kepada salah satu suster rumah sakit tersebut.


"Dokter Dev, bikin kaget saja. Natasha berada di ruangan anak dok. Anda sudah menikah lagi tapi kenapa tidak mengundang-ngundang sih, dok?"ujar sang suster membuat Dev menaikan alisnya, namun ia tak mengubris ucapan dari suster tersebut karena saat ini tujuan nya adalah bertemu dengan anaknya. Dev pun langsung berlalu meninggalkan suster tersebut.


"Aaiiis, sayang sekali sudah menikah. Bakalan ada hari patah hati di rumah sakit ini, bahkan diriku pun merasakannya."kata suster menatap kepergian Dev merasa sakit hati karena dokter pujangganya telah menemukan ibu untuk anaknya. Suster tersebut mengira jika Dev telah menikah mengingat Natasha yang sudah diketahui seluruh pekerjaan di rumah sakit tersebut adalah anaknya dr Dev. Natasha memangil Nadia dengan sebutan mamah, dan itu membuat para suster dan dokter terkejut mendengar nya.


Sementara itu, Natasha sedang di tangani oleh dokter spesialis anak di dalam ruangan. Namun Natasha tak ingin jauh-jauh dari Nadia sehingga gadis itu pun terpaksa menemani bahkan menggendong gadis kecil itu saat melakukan pengobatan.


"Sayang kamu duduk di sini ya, kasihan mamahnya kesakitan. Apa kamu gak kasihan melihat tangan mamah kamu berdarah begitu apa lagi menggendong kamu, kan pasti sakit."bujuk sang dokter lembut supaya Natasha mau turun dari Nadia sehingga dengan mudah dokter mengobati luka di tangannya sebelum infeksi.


"Gak mau, Natasha gak mau di obotin."tolak nya takut kemudian semakin memeluk erat Nadia.


"Sayang kalau gak di obati nanti lukanya tambah parah, bagiamana kalau mamah yang mengobatinya luka kamu. Apa kamu mau?"ucap lembut Nadia berusaha membujuk Natasha yang tak ingin luka memarnya di obati.


"Apa itu artinya aku akan di suntik?"tanya Natasha takut, ia sangat takut dengan jarum suntik.


Nadia terkekeh kemudian ia mengacak rambut gadis kecil itu gemes."Tidak akan di suntik sayang, hanya di olesi dengan obat saja lukanya. Natasha mau ya mamah obatin."


Pada akhirnya Natasha pun membiarkan Nadia mengobati luka memarnya di bagian wajah akibat terbentur pintu mobil tadi. Nadia mengobati dengan lembut dan hati-hati tak peduli lukanya yang masih belum di obati bahkan darah pun terus saja mengalir di tangannya.


Dan ternyata, sepasang mata melihat apa yang di lakukan oleh Natasha tersebut. Ia dapat melihat ketulusan di hati Nadia mengobati luka ankanya. Ya yang melihat adalah Dev, ia melihat dari luar pintu yang sedikit terbuka. Tadinya ia ingin langsung masuk, namun saat seorang gadis memperlakukan anaknya dengan lembut membuatnya ingin melihat lebih.


"Natasha."panggil Dev masuk kedalam karena sudah puas melihat.


Natasha dan Nadia menoleh kearah pintu, Natasha tersenyum lebar sedangkan Nadia menatap bingung.


"Papah."teriak Natasha girang mengulurkan kedua tangannya berharap sang papah dapat menggendong nya.


"Papah? oh jadi lelaki ini adalah papahnya. Apa dia seorang dokter?"batin Nadia memandang kearah lelaki berpakaian jas putih yang kini sedang menggendong Natasha tersebut.


"Sayang kamu tidak apa-apa?"tanya Dev melihat luka-luka di wajah anaknya.


"Natasha gak apa-apa, pah. Kan ada mamah yang menyelamatkan Natasha sama nenek, mamah juga yang sudah mengobati luka Natasha."ujar Natasha menceritakan.


"Mamah?"Dev berucap sambil mengerutkan dahi heran, kemudian ia memandang kerah Nadia yang duduk di shopa. Dev pun dapat melihat luka di tangan gadis itu.


"Ya ampun dr Dev, kamu sudah menikah lagi? kok gak ngundang aku sih."ujar dokter wanita tersebut.

__ADS_1


Dev mengerut menatap bingung, namun ia mengerti. Wajar saja suster tadi juga bilang dirinya sudah menikah, dan ternyata Natasha memangilnya dengan sebutan mamah. Namun ia masih bingung serta heran, kenapa Natasha memangilnya Mamah?


__ADS_2