Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
kedatangan Ridho


__ADS_3

Data sudah sampai di depan ruangan Maya, dia mengetuk pintu lebih dulu hingga akhirnya dipersilahkan masuk.


" Eh, kamu Dara kan? Sekretaris baru direktur?" Kata Maya melihat Dara yang masuk keruangan nya.


" Iya Mbak," jawab Dara kikuk, dia sebenarnya merasa tidak enak terlebih lagi Maya selaku sekretaris manajer HRD sangat lah ramah dan baik.


" Ada keperluan apa, Dara?" Tanya Maya, dia melihat jam masih di jam kerja.


" Emmm, ini Mbak. Anu … " Dara ragu untuk mengatakannya, Maya hanya pun menunggu dengan sabar.


" S-saya mau memundurkan diri." Pada akhirnya terucap juga, padahal lidah terasa sangat berat saat ingin berbicara.


Tentu melotot, baru pertama hari kerja sudah mau mengundurkan diri. Yang bener saja, ini baru pertama kali nya ada karyawan kantor yang belum 24 jam sudah mengundurkan diri, Dara bisa di bilang pemecah rekor baru.


" Kamu mau mengundurkan diri?" Dara mengangguk pelan. Maya menghela nafasnya.


" Bahkan kamu belum melakukan pekerjaan apapun di perusahaan ini. Belum genap 24 jam tetapi sudah mau mengundurkan diri. Apa kamu serius bekerja?" 


Tentu marah, seakan di permainkan bukan. Jika pada akhirnya ingin mengundurkan diri secepat itu mengapa harus melamar pekerjaan dan membuat calon pekerja lainnya tersingkir. Mencari calon karyawan baru bukan lah mudah.


" Maafkan saya, Mbak. Saya juga sebenarnya tidak ingin mengundurkan diri karena ini adalah cita-cita saya. Tapi ada sesuatu masalah pribadi sehingga saya harus mengundurkan diri dari perusahaan ini," jelas Dara.


Maya kembali menghela nafasnya menatap Dara.


" Kamu kan tahu, kerja dimana saja harus proporsional. Mau urusan pribadi, rumah, anak atau apapun itu yang tidak ada sangkut pautnya dengan kerja itu tidak boleh. Dimama pun," kata Maya menasehati. 


" Dan jika kamu memang ingin kekeh tetap mengundurkan diri, itu oun harus memenuhi syarat seusai undang-undang perusahaan. Mengajukan permohonan mengundurkan diri sebelum 30 hari bekerja. Jadi kamu tetap bekerja di sini selama 30 hari atau sampai kami menemukan pengganti kamu!" 


Dara terdiam, itu artinya dia tetap berada di kantor ini, di bawah kekuasaan Devan lelaki yang pernah dia curi milik berharganya. 


" Namun, jika kamu tidak mematuhi undang-undang tersebut, maka kamu akan di kenakan sanksi," lanjut Maya.


" Sanksi apa?" Jawab Dara cepat.


" Apa kamu tidak membaca isi surat perjanjian kontrak tadi?" Tanya Maya, Dara menggeleng. Sangking senengnya dia sampai mengabaikan isi kontrak tersebut.


" Jika kamu mau berhenti hari ini juga, boleh sih. Asal kamu mau mengganti rugi perusahaan dua kali lipat," ucap Maya serius. Karena inilah sanksi sesuai isi surat perjanjian kontrak tersebut. 


" Dua kali lipat?" 


Dara menutup mulutnya, bagaimana mungkin dia bisa membayar duit sebesar itu. Apalagi mengingat keuangannya sungguh sangat mengiris hati, ditambah lagi jika mencari pekerjaan baru belum tentu langsung dapat secepatnya. 


Mamanya tentu bakalan sedih jika mendengar semua ini, apalagi hanya dia yang diharapkan untuk menjadi tulang punggung. Dara menghela nafasnya panjang, tak seharusnya dirinya itu memasukkan masalah pribadi ke dalam pekerjaan dia harus profesional, bukan.


" Saya tahu apa masalah kamu sehingga ingin mengundurkan diri sebelum 24 jam, pasti penyebabnya direktur, betul kan?" Kata Maya menebak. Dara hanya diam saja tanpa menjawab karena salah satunya memang ada sangkut pautnya dengan direktur.


" Dulu saya pingin sekali bekerja menjadi sekretaris direktur, apalagi melihat beliau sangat tampan mudah dan gagah siapa yang tidak ingin menginginkannya. Akan tetapi melihat sekretaris tidak betah dengan perilaku sang direktur membuatku bersyukur bekerja di sini." Maya bercerita.


" Pak Devan memang sangat keras, dingin, dan sangat emosional. Walaupun ganteng sih tapi mau deket-deket sama dia mikir-mikir dulu deh." Maya terkekeh sendiri. Sedangkan Dara hanya tersenyum singkat saja.


" Tapi percayalah jika kamu bertahan aku yakin kamu bakalan betah di sini, mendapatkan kedudukan sebagai sekretaris direktur itu tidak mudah Dara. Segalak-galaknya bos jika kamu pandai mengambil hatinya, aku yakin kamu bakalan betah dan tidak ingin keluar dari perusahaan ini." Maya menepuk pundak Dara.


" Jadi apa keputusan kamu tetap mau mengundurkan diri dan menunggu 30 hari kedepannya baru keluar dari perusahaan ini, atau mengganti rugi dua kali lipat?" Maya memberikan pertanyaan, Maya tahu Dara gadis yang cerdas, dia pun sudah sangat menyukai darah sungguh sangat disayangkan jika gadis itu mengundurkan diri dari perusahaan ini.


" Kembalilah keruanganmu pikirkan baik-baik Dara. Jika sudah memutuskan kamu boleh menghubungiku." 


Memberikan kesempatan untuk berpikir inilah yang terbaik sebagai sekretaris, toh dirinya juga tidak akan kesusahan untuk mencari pengganti bukan karena resikonya juga besar dan berdampak akan perusahaan. Dan tentu dirinyalah yang akan menjadi sasaran amukan sang bos, jika masih bisa dipertahankan mengapa tidak toh darah gadis yang cerdas pasti dia bisa melakukan pekerjaan dengan baik. 

__ADS_1


Apalagi hanya masalah pribadi, seharusnya tidak menyangkut pautkan dengan pekerjaan karena mencari pekerjaan tidaklah mudah sungguh butuh perjuangan yang cukup menguras hati dan pikiran.


" Terima kasih, kalau begitu saya permisi." 


Yang diucapkan Maya memang benar adanya, harusnya dirinya tidak gegabah bukan. dia menguatkan tekad dan hatinya dia harus bersabar setidaknya sampai hari gajian atau bener-bener mendapatkan uang yang cukup untuk menghidupi kebutuhannya barulah ia mencari cara supaya bisa keluar dari perusahaan ini dan pergi jauh-jauh dari kehidupan Devan.


Dara melamun saat berjalan, hingga tidak sadar jika lift yang tadinya terbuka sekarang tertutup kembali dan membuat kepala Dara membentur pintu lift tersebut.


" Astagfirullah, siapa sih yang menaruh pintu di sini?" Omel Dara sambil memegang jidatnya dan memukul pintu lift tersebut karena kesal.


" Sssttt, sakit." 


Ternyata tanpa di sadari oleh Dara, kejadian tadi dilihat seseorang dan orang itu pun tertawa karena menurutnya sangat lucu. 


" Gadis yang aneh, tapi lucu," ucapnya terus menatap Dara.


Yang melihat kejadian memalukan itu ternyata adalah seorang laki-laki tampan, dia berdiri tepat di lift direktur dan tanpa sengaja melihat sesuatu yang membuatnya tertawa lepas. Tentu karena tawanya itu cukup lumayan keras membuat Dara menoleh.


" Sakit?" Tanyanya, tentu saja sakit dalam hati Dara ingin menjawab seperti itu. Tapi dia tidak ingin citra nya di cap galak di hari pertama kerja.


" Kamu melihatnya?" Wajah sungguh tidak tahu lagi mau ditaruh di mana sungguh sangat memalukan kejadian tersebut. 


" Hehehe, nggak sengaja. Apa ini sakit, mau berobat?" Melihat jidat Dara yang merah tentu dia perhatian karena tak ingin karyawan di perusahaan sampai kenapa-napa.


" Nggak perlu lagi nggak papa kok ntar juga sembuh," jawab Dara. Laki-laki itu lalu mengangguk.


" Kamu mau ke lantai berapa?" Laki-laki itu kembali bertanya. 


" Ke lantai dua puluh satu," jawab Dara seadanya karena sejujurnya dia sebenarnya malas untuk berbicara apalagi pada laki-laki yang tidak di kenal.


" Wah kebenaran banget kita searah kalau gitu bareng aja yuk aku juga mau ke lantai situ." 


Bellum sempat darah menolak namun laki-laki itu sudah menarik tangannya dengan paksa berjalan ke arah lift khusus direktur yang cuma bersebelahan dengan lift karyawan. 


" Aku naik lift karyawan saja." Dara tentu menolak dia berusaha melepaskan tangannya. Karena lift direktur yang tak semua orang berani menaiki lift tersebut sehingga hanya sekali tekan saja pintu langsung terbuka tanpa harus menunggu.


Tangan yang masih digenggam oleh lelaki itu, setelah pintu lift terbuka lelaki itu pun masuk dan menarik kembali Dara hingga masuk ke lift bersama dengannya.


" Tolong lepaskan," pinta Dara. 


" Ups, sorry," katanya lalu melepaskan tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Dara. 


" Lain kali tolong jangan lakukan lagi, ini lift direktur. Kalau ada yang melihat bagaimana?" Ingin sekali berteriak membentak dan memarahinya. Namun darah hanya bisa menahan semua itu, Dara hanya berbicara ketus saja.


" Hehehe, nggak apa-apa kalau sama aku," jawab laki-laki itu santai. Dara geram lalu tak mempedulikannya, setelah pintu lift terbuka dengan langkah cepat Dara keluar tanpa mengucapkan kata sepata pun pada laki-laki itu. 


" Hey …" pintu kembali tertutup, dengan cepat laki-laki itu membukanya dan melihat Dara sudah menghilang, dia mencari kesana sini tetapi tak tahu kemana Dara pergi.


" Ah sial, lupa menayangkan namanya tadi! " Lelaki itu merutuki kebodohannya. Dia pun menyerah mencari Dara lalu kembali ke tujuan awalnya ya itu pergi ke ruang direktur. 


" Ah biarlah, nanti kalau ketemu ajak saja makan malam bersama." Sambil bersiul riang laki-laki itu berjalan menuju ruangan direktur. Tanpa mengetuk pintu, dia membuka pintu itu. 


Tadinya yang sedang bersiul kini siulan riang itu terhenti melihat keadaan dalam ruangan Devan.


" Gak lagi ada perang sinobi ke 4 kan disini?" Ucapnya heran. Barang berserakan dimana-mana bak kapal pecah ruangan tersebut, namun dia tahu siapa pelakunya, siapa lagi yang berani mengacak-acak ruangan utama selain sang pemilik.


" Nyokap nggak lagi ngejodohin lu, kan?" Tanya laki-laki itu dia malah duduk santai di sofa. 

__ADS_1


Ruangan berantakan tentu saja dia tidak ingin membersihkannya toh bukan kerjaannya, dia juga tidak digaji untuk membersihkan itu. 


Devan yang ditanya menghela nafasnya panjang, dia duduk bersandar tikus si kebesarannya pikirannya sangat kacau. 


" Dia kembali! " Kata Devan dengan suara.


Laki-laki itu mengerutkan keningnya, Dia itu siapa? Dirinya bukanlah seorang peramal sehingga bisa menebak Dia itu yang mana siapa dan apa.


" Maksud lo?" Bertanya tidak sesat di jalan.


Laki-laki itu bernama Ridho rivalnya Devan, sudah bersahabat dengan Devan sejak masih SMA. Keduanya sudah sangat akrab bahkan seperti kakak adik, dan Devan sudah sangat mempercayai Ridho bahkan termasuk mengurus perusahaannya. 


Devan mengecat rambutnya Devan menarik rambutnya kemudian beranjak dari tempat duduknya. Dia berpindah tempat, kini berdiri dengan tangan bersila di dada menghadap ke luar jendela memandang jalanan di bawah.


" Dara kembali," ucapnya lagi dengan suara berat.


" Dara?" 


Ridho berpikir sejenak mengingat darah itu siapa. 


" Oh Dara yang itu? Seriusan … dimana dan mau apa dia kembali lagi? Atau jangan-jangan mau minta pertanggungjawaban?" 


Banyak tanya di benak Ridho tentu saja dia sudah tahu semua cerita tentang sahabatnya itu mengenai Dara.


" Jadi sekretaris gue," jawab Devan.


" Apa yang mau di pertanggung jawabkan? Disini gue yang korban," sambung Devan kembali. 


Ridho yang tadinya terkejut mendengar Dara menjadi sekretaris nya kini menjadi tertawa mendengar Devan adalah korban.


Bisa di bilang Devan adalah korban bukan, di jebak lalu di perkaos. Jadi yang meminta pertanggungjawaban adalah Devan, bukan Dara. 


" Lucu juga sih, jika di jadikan judul di film kumenangis, apa ya … emmmm." Ridho berpikir serius.


" Mantanku sekretaris ku … eh, lo sama Dara kan gak pacaran ya, mana bisa di bilang mantan." Ridho kembali berpikir.


" Kalau, mantan perkaosku menjadi sekretarisku. Nah ini baru pas!" Ridho bangga dengan hasil judul yang dia bikin. Devan hanya acuh saja, dia malah memikirkan harus bersikap bagiamana pada Dara jika bertemu. Karena sudah pasti bakalan bertemu setiap hari di kantor ini.


" Eh, lo tau gak?" Kata Ridho.


" Nggak tau," jawab Devan cepat, Ridho berdecak namun dia tetap saja ingin bercerita.


" Tadi sewaktu di lift gue ketemu sama cewe cantik bro, tapi sayangnya gue lupa berkenalan sangking fokus menatap wajahnya yang cantik itu." Ridho bercerita sambil membayangkan wajah Dara tadi.


" Body nya bagus, kulitnya putih. Rambut lurus panjang, dan yang paling penting buah semangka cuy." 


Devan malas untuk mendengarkan cerita yang tak penting dari Ridho, sahabatnya itu memang Playboy bergonta-ganti pasangan. Entah mau sampai kapan dia bertobat.


Ridho yang tengah asik bercerita tanpa sadar jika Devan sudah meninggalkan ruangan tersebut. Devan lebih baik pergi meninggalkan ocehan sahabatnya itu untuk menenangkan pikirannya yang saat ini benar-benar sangat kacau sehingga kerja pun tidak berkonsentrasi.


Namun sesaat melewati ruangan sekretaris yang tak jauh dari ruangannya Devan menghentikan langkahnya. Pintu tersebut ada kaca sehingga bisa melihat dari luar, dan terlihatlah darah yang sedang sibuk dengan dokumen-dokumen di mejanya. Devan terus memperhatikan Dara dari kejauhan. 


5 tahun tidak bertemu tentu sudah banyak berubah pada Dara, semakin dewasa dan tentu saja semakin cantik. Bahkan penampilannya yang dulu agak tomboy sekarang benar-benar feminim, bener apa yang diucapkan Ridho bodynya benar-benar bagus bak gitar spanyol, kulit putih dan buah dadanya pun jauh lebih besar jika dibandingkan dengan dulu. Siapa saja yang melihat pasti bakalan tertarik, Devan pun mengepalkan tangannya entah mengapa dia tidak tahu. 


Merasa di perhatikan, Dara pun menghentikan gerakan tangannya lalu menatap pintu. Tapi tak ada siapapun di sana. 


" Mungkin cuma perasaan saja." Dara kembali bekerja. 

__ADS_1


Ternyata Devan menyingkir kesamping saat Dara menghentikan gerakannya tangannya saat mengetik komputer. Devan tak ingin tertangkap basa kalau tengah mencuri, bukan. 


" Apa yang aku lakukan? Dasar bodoh." Dengan langkah cepat Devan berjalan menuju lift setelah menyadari apa yang sudah dia lakukan. 


__ADS_2