
Sejak kejadian lima tahun yang lalu membuat kebencian di hati seseorang tumbuh. Ya direktur PT Indoguna tempat kantor Dara bekerja itu adalah Devan, sang pemilik pemilik perusahaan. Jarang ada yang tahu mengingat sosok Devan yang tak pernah muncul di sosial media, dia selalu berdiri di belakang sahabatnya ya itu Ridho. Ridho lah yang selalu hadir di setiap pertemuan bisnis penting untuk mengembangkan bisnis sehingga hanya nama Ridho lah yang terkenal dari kalangan bisnis.
Devan menatap tajam arah wanita yang berdiri tak jauh dari hadapannya. Sejak lima tahun itu dia sudah sangat tersiksa, sehingga mendengar nama Dara saja sungguh sangat membuat hatinya mendidih. Dan sekarang, lima tahun menghilang bak di telan bumi tiba-tiba berada tepat di depannya.
Selama ini Devan selalu mencari keberadaan wanita itu di London. Nmun nyatanya wanita itu sama sekali tidak berada disana, begitu sangat mudahnya dia ketipu untuk yang kedua kalinya. Rasanya ingin sekali Devan memukul tetapi bukan padanya, karena Devan tidak mungkin memukul seorang wanita.
" Hebat … " Bertepuk tangan sambil tersenyum miris.
Ingin rasanya dia marah mengeluarkan rasa kesal di hatinya, terlebih lagi melihat tampang Dara yang sekarang ini bersikap biasa-biasa saja seakan tak memiliki dosa sama sekali pada dirinya.
" Untuk apa kau kembali, hah!" Teriak Devan pada akhirnya.
Benci, itulah yang Devan rasakan pada Dara. Setelah memperkaos dirinya. Ya bisa di katakan Dara lah yang telah mengambil keperjakaannya untuk yang pertama kalinya dengan cara yang menurutnya menjijikkan, tentu saja menjijikkan karena tak hanya menipu tetapi menjebak dan mengambil sel berharganya dengan paksa.
" Maaf, saya tidak mengerti apa maksud Bapak?" Jawab Dara.
__ADS_1
Tentu saja Devan langsung tertawa mendengar Dara yang berpura-pura untuk tidak mengenali dirinya. Ya Devan akui Dara memang pergi dari kehidupannya, tak lagi mengganggu dan jika bertemu kembali berpura-pura untuk tidak saling mengenal sesuai janji yang tertulis pada kertas di dalam amplop saat pengasuh Dara memberikan dahulu.
Seharusnya Devan senang atas kepergian Dara, tak ada lagi kata mencintai dan kata aku mencintaimu. Karena kata-kata itu sangat mengganggu dirinya. Tetapi, nyatanya dirinya salah, justru kepergian Dara lah yang sesungguhnya sangat mengganggu dirinya. Setelah memperkaos tanpa pertanggungjawaban sama sekali, ibarat habis manis sepah di buang. Tentu sangat mengganggu. Bayang-bayang Dara tak pernah luput dari hati dan pikirannya selama lima tahun ini. Sehingga dia mengutuk untuk membenci wanita manapun yang bernama Dara.
" Kau bener-bener wanita yang licik, Dara. Setelah apa yang kau lakukan padaku? Dan sekarang kau kembali. Untuk apa aku bertanya, hah?"
Emosi Devan tak terkendali, dia melempar semua berkas-berkas yang ada di mejanya menjadi pelampiasan. Dara hanya memejamkan kedua matanya terhayak, namun dia masih bersikap tenang setenang air mengalir.
" Katakan, untuk apa kau kembali? Apa kau ingin memperkaos aku kembali, hah?" Kata Devan yang sekarang ini sudah berada di hadapan Dara. Lelaki itu mencengkram kuat dagu Dara dengan mata tajamnya penuh emosi.
Devan kembali tertawa hingga suaranya menggema, Devan membalikkan badannya membelakangi Dara.
" Keluar dari ruangan ku!" Bentak Devan benar-benar marah.
Dara membungkukkan setengah badannya. " Saya permisi."
__ADS_1
" Aaarrrggghh, brengs*k kau Dara!" Kembali melempar semua barang-barang yang ada di atas mejanya. Kemudian Devan duduk kembali di kursi kebesarannya sambil memijat pelipisnya tiba-tiba terasa pening.
Sementara itu, Dara masuk ke ruang kerjanya yang tadi Maya tunjukan. Buru-buru Dara menutup pintu lalu bersandar di belakangnya.
Sejujurnya Dara hanya berakting saja bersikap biasa tadi, karena sejujurnya dirinya sangat ketakutan sampai-sampai kakinya lemes dan badannya gemetar hebat. Dara merosot duduk di lantai, dia memegangi dadanya yang seakan mau copot.
Sungguh sangat tidak menyangka jika hari ini dia harus bertemu dengan laki-laki yang sudah lama dikubur dalam hatinya.
" Apa yang harus aku lakukan?" Dara sungguh takut, apalagi saat Devan membanting semua berkas-berkas di meja karena emosi. Dia ingin berlari sejauh mungkin tadinya. Namun Dara berusaha untuk tetap berpura-pura tidak mengenali lelaki itu sesuai janjinya dulu.
" Kenapa harus dia yang menjadi atasanku? Seharusnya direktur utama di kantor ini Ridho?" Dara kebingungan, sungguh dia menjadi tak bersemangat lagi untuk bekerja.
" Aku harus keluar dari perusahaan ini, ya lebih baik aku mengundurkan diri saja."
Dengan langkah cepat Dara keluar dari ruangan, dia harus mencari Maya untuk syarat pengunduran diri.
__ADS_1