
"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai acaranya." Pak penghulu mulai menuntun wali nikah dan mempelai pria untuk mengucapkan ijab kabul.
"Saya nikahkan putri saya yang bernama Kanaya Wulandari binti Nicholas dengan mahar 10 gram emas 24 karat dan seperangkat alat shalat dibayar tunai," ujar Nick dengan lancar.
"Saya terima nikahnya Kania Wulandari binti Nicholas dengan mahar tersebut dibayar tunai," ujar Raju menjawab ucapan Nick.
"Bagaimana, apakah sah?" tanya penghulu pada 2 saksi yang duduk di samping mereka.
"Tidak sah, karena dia salah mengucapkan nama mempelai wanita," ujar salah satu saksi
"Iya, nama mempelai wanita Kanaya bukan Kania," sahut saksi yang satu lagi.
"Silakan diulangi," ujar pak penghulu.
"Saya nikahkan putri saya yang bernama Kanaya Wulandari binti Nicholas dengan mahar 10 gram emas 24 karat dan seperangkat alat shalat dibayar tunai," ujar Nick lagi mengulangi lafadz ijab.
"Saya terima nikahnya Kanaya Wulandari binti Nicholas dengan mahar tersebut dibayar tunai," ujar Raju mengucapkan lafadz kabul.
"Bagaimana saksi, apakah sah?" tanya penghulu pada 2 saksi yang berada di samping kanan dan kiri Raju.
"Sah!" sahut kedua saksi.
"Alhamdulillah." Perkataan saksi disambut oleh para tamu yang hadir.
Sang penghulu pun mulai membacakan do'a terbaik untuk kedua mempelai.
Setelah membaca do'a, si penghulu meminta Gita untuk membawakan mempelai wanita keluar dari kamar agar bisa berdiri di samping sang suami.
Gita berdiri lalu menjemput putrinya yang kini masih berada di dalam kamar.
Perlahan Gita menggiring putrinya keluar dari kamar, Raju belum bisa melihat sosok sang istri karena Kanaya saat ini masih mengenakan kerudung yang menutupi wajahnya.
Hati Raju berdebar dengan kencang karena saat ini dia sudah sah menikahi seorang gadis, yang dia sendiri tidak tahu bagaimana wujud istrinya.
Sebagai saudara kembarnya, Raja juga penasaran dengan sosok adik iparnya itu, dia ingin mengetahui paras istri dari adik kembarnya.
Perlahan Gita memposisikan putrinya berada di hadapan putra dari sahabatnya.
Raffa dan Kayla menatap bahagia ke arah putranya yang kini sudah menjadi seorang suami, Kayla menitikkan air mata haru dengan apa yang terjadi di hadapannya.
Kayla merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami. Raffa pun merangkul pundak sang istri.
"Alhamdulillah, Sayang. Kita sudah memiliki menantu perempuan," ujar Raffa.
"Iya, Sayang," lirih Kayla.
"Mempelai pria diperbolehkan membuka niqob yang digunakan oleh mempelai wanita," ujar Pak Penghulu menyuruh Raju untuk membuka kerudung yang menutupi paras cantik Kanaya.
__ADS_1
Perlahan Raju mengangkat tangannya lalu dia pun mulai membuka niqob yang menutupi wajah cantik sang istri.
Mata Raju membulat saat melihat paras cantik wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Dia tak menyangka wanita yang kini dinikahinya merupakan wanita yang dicintai oleh Raja, saudara kembarnya.
Sama halnya dengan Raja, dia kaget tak percaya bahwa yang menjadi adik iparnya itu adalah wanita yang selama ini dicarinya.
Adik iparnya merupakan wanita yang selama ini sudah mengisi hatinya dan pikirannya.
Seketika hati Raja hancur berkeping-keping, takdir begitu menyakitkan baginya.
Buliran bening jatuh di pipi pria tampan itu, Raja pun berdiri dan melangkah keluar dari ruangan keluarga yang sudah disetting menjadi tempat akad nikah.
Raju melihat Raja keluar dari ruangan itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak ingin melihat senyuman kedua orang tuanya sirna.
Raju harus tetap melanjutkan prosesi selanjutnya.
Sementara itu, Kanaya menatap wajah tampan pria yang kini sudah sah menjadi suaminya, wanita itu terpaku menatap sosok pria yang selalu mengisi pikirannya, Kanaya tak percaya Tuhan mentakdirkan dirinya menikah dengan pria yang selama ini dipujanya.
Penghulu menuntun sepasang suami istri itu membacakan janji-janji suci pernikahan.
Setelah itu, mereka juga mengadakan prosesi foto bersama untuk kenang-kenangan.
Raju merasa enggan untuk bersikap baik pada sang istri karena dia tidak ingin menyakiti kakak kembarnya.
"Hei, kamu kenapa di luar?" tanya Ratu yang baru saja datang.
Ratu terlambat datang karena pesawatnya diundur satu jam.
"Ratu? Kamu udah datang?" Raja langsung memeluk tubuh adik kembarnya.
Entah mengapa Raja memeluk erat tubuh Ratu seolah dia hendak menyampaikan luka dan hancur hatinya pada adik kembarnya.
Ratu merasakan sesuatu yang berbeda dari Raja.
"Hei, kamu kenapa, Bang?" tanya Ratu pada Raja setelah dia melepaskan pelukan Raja.
Wanita itu mengernyitkan dahinya.
"Ti-tidak ada apa-apa," jawab Raja.
Raja menutupi semua yang terjadi karena selama ini Ratu tidak tahu bahwa dirinya memiliki wanita yang dicintai.
Semua itu mereka simpan berdua antara Raja dan Raju saja.
"Hei, Bro. Bagaimana kabar lu?" tanya Haris pada kakak iparnya.
__ADS_1
Haris yang baru saja datang menggendong putranya langsung menjabat tangan Raja dengan erat.
Haris juga dapat melihat raut wajah Raja yang sendu, suami Ratu itu dapat merasakan bahwa Raja saat ini sedang gelisah.
"Baik, lu tambah sehat kelihatannya," ujar Raja pada Haris.
"Ya, beginilah," lirih Haris.
"Hei, Uncle," sapa baby Williams pada kembaran ibunya.
"Hei, baby Willi," balas Raja.
Raja berusaha menyembunyikan kesedihannya saat ini.
"Kamu kenapa di luar, Bang?" tanya Ratu pada Raja.
"Di dalam panas, makanya keluar sebentar cari angin," jawab Raja.
Raja tidak sanggup melihat wanita yang selama ini dicarinya kini sudah berada di hadapannya tapi sebagai istri dari kembarannya.
Sebagai saudara kembar, Ratu juga merasakan kesedihan Raja saat ini, tapi dia berusaha mengabaikan hal itu terlebih dahulu.
"Ya udah, kalau gitu aku sama Bang Haris masuk dulu, ya, sudah telat soalnya," ujar Ratu pada Raja.
Dia berpamitan pada Raja untuk masuk karena dia yakin kedua orang tuanya pasti sudah menunggu.
"Iya, kamu masuk saja, akad nikahnya baru saja selesai," ujar Raja.
Raja pun menyuruh Ratu untuk masuk ke dalam rumah untuk menemui kedua orang tua mereka.
Ratu pun membawa Haris masuk ke dalam rumah, Ratu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istri kembarannya.
Ratu penasaran dengan paras istri dari saudara kembarnya.
Saat masuk ke dalam rumah, Ratu langsung menghampiri papa dan mamanya.
Dia sangat merindukan kedua orang tuanya, karena selama ini dia tinggal di Yaman bersama sang suami.
Kali ini dia pulang karena dia tidak ingin melewatkan acara pernikahan Raja dan Raju yang sudah direncanakan oleh kedua orang tuanya.
"Selamat ya, Bang," ucap Ratu lalu langsung memeluk tubuh kekar Raju.
Ratu mengucapkan selamat pada saudara kembarnya, Raju terpaksa tersenyum di depan asik kembarnya.
Raju tidak ingin Ratu merasa sesuatu yang ganjal dalam dirinya saat ini.
Pikiran Raju terus tertuju pada perasaan Raja yang kini berada di luar rumah.
__ADS_1
Bersambung...