
Alex kembali menatap istrinya, keduanya sama-sama masih dalam keadaan polos tanpa mengenakan pakaian. Sherly hanya menutupi tubuhnya dengan selimut, sedangkan Alex tidak.
"Lampunya masih mati aja ya Om, kok lama banget?" keluh Sherly yang sudah merasa kepanasan.
"Bagus dong," jawab Alex.
"Loh kok bagus sih? Panas bangat gini di bilang bagus, gelap pula tu," heran Sherly.
Alex mendekatkan dirinya." Karena mati lampu lah aku bisa mendapatkan mu, ya walau belum berhasil membuka segelnya sih. tapi setidaknya aku udah merasakan," bisik Alex mesum.
"Iiih apaan sih, mesum banget. Jangan deket-deket, gerah tauk." Sherly mendorong tubuh Alex, namun lelaki itu menangkap tangannya dan membawanya ke atas tubuhnya.
"Om ...."
"Aku mau mencobanya lagi," melas Alex meminta.
"Emangnya sudah bisa? Entar kayak tadi lagi," ejek Sherly meremehkan.
"Jangan meremehkan aku sayang, kali ini pasti berhasil. Percayalah!" Alex memutar balik tubuhnya, ia tersenyum sambil menatap wajah istrinya yang kini sudah berada di atasnya tubuh Sherly.
"K-kamu gak telpon papah kan?" selidik Sherly menebak.
"Tenang aja, ini adalah privasi kita. Mana mungkin aku menelpon papah hanya untuk meminta bantuan darinya. Yang ada, aku malah di bully olehnya nanti," jawab Alex.
"Ya kali ya," sahut Sherly enteng.
"Aku tanya di Mbah dudel, dan melihat video. Sekarang aku sudah mempelajari." Alex tidak polos-polos amat, walau tadinya memang ingin menelpon Angga. Akan tetapi pikiran sehatnya menasehati dirinya sehingga ia mengurungkan niatnya itu.
Sherly hanya mengangguk lega, ia pasrah sekarang dan mengizinkan suaminya itu meminta hak nya. Walau sekarang ini perasaan nya tak menentu. Namun ia ikhlas melakukannya, bagaimana pun juga ia adalah seorang istri dan memang sudah menjadi kewajiban baginya untuk melayani suaminya.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Alex lembut memastikan lagi, tangannya mengelus lembut pipi Sherly berharap banyak. Dan Sherly mengangguk lagi dengan senyuman. Alex mendapatkan lampu hijau tentu saja bersorak senang.
Alex mulai mencium kening istrinya, lalu turun ke hidung, dan terakhir perlahan turun ke bibir dan mendarat di sana. Mengecupnya lembut, Sherly pun membalasnya hingga keduanya sama-sama saling mencecap satu sama lain. Tak hanya di sana, lidah Alex menerobos masuk, Sherly juga tak tinggal diam. Entah dari mana ia tau, namun lidahnya seolah sangat lihai membalas setiap permainan Alex di dalam rongga mulutnya itu.
"Emmm, Om ...."
Alex melepaskan ciumannya saat Sherly menyebutkan dirinya om. Sangat menyebalkan seketika mendengar nya, apa lagi saat melakukan hal penting dalam hidupnya ini.
"Panggil aku Mas, aku bukan om-om kamu. Aku adalah suami kamu," ucap Alex tegas dengan nada kesal.
Sherly tersenyum lembut, ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Alex.
"Aku minta maaf ya Mas, aku belum terbiasa. Sekarang kita lanjut lagi yuk!"
__ADS_1
Tadinya kesal, mendengar Sherly meminta lanjut membuat wajah kesal itu menjadi ceria kembali. Bahkan senyum nya mengambang terlihat jelas wajah semangatnya. Dengan senang hati Alex pun mengulum kembali bibir manis rasa Cherry istrinya itu.
"A-aku mulai masukin ya?" izin Alex dengan suara serak namun nampak gugup. Gugup akan gagal lagi.
"Berjuanglah." Sherly memberikan semangat. Alex pun mengangguk lalu ia membuka lebar kedua kakinya istrinya itu kemudian si Ucok mulai masuk ke kamar milik Baba yang gelap dan sempit. Namun itulah yang paling di cari-cari olah Ucok-Ucok di luaran sana.
"Sssss, sakit Mas." lirih Sherly menahan rasa sakit sambil mengigit bibir bagian bawahnya saat si Ucok mulai mengoyak pertahanan di Baba.
"Tahan ya sayang, sedikit lagi masuk semuanya. Ini baru setengahnya aja," ucap Alex berusaha keras. Ia pun menghentak tubuhnya dengan paksa, tega gak tega namun harus bisa menerobos masuk seutuhnya.
Alex mencium bibir Sherly agar tidak merasakan sakit. Saat si Ucok sudah masuk sepenuhnya, Alex diam sejenak agar si Baba tentang. Alex sangat bahagia dalam hatinya seketika darah segar itu mengalir hangat, ia menjadi lelaki yang pertama dan akan mempertahankan untuk menjadi yang terakhir.
"Apa masih terasa sakit?" tanya Alex.
Sherly menggeleng pelan." Udah agak mendingan."
"Aku mulai lagi ya." Alex mulai memajukan mundur kan tubuhnya perlahan dengan sangat hati-hati.
"Apa ini enek sayang?' kicau Alex memejamkan kedua matanya yang kini semakin mempercepat gerakan tubuhnya. Hingga di dalam kamar itu terjadi gempa, untungnya Alex membeli tempat tidur yang mahal, tidak seperti punya Angga dan Sera sehingga menimbulkan bunyi suara, krek ... kreeeek ....
"Sayaaaaaang ...." Alex memanggil Sherly dengan nada panjang menandakan jika dirinya sudah mencapai puncak.
"Udah?" tanya Sherly rasa tak percaya.
"Tapi kok bentar banget Mas? Baru 3 menit loh?" heran Sherly, belum merasakan apa-apa, sakit iya. Tapi udah keluar aja lava panas milik si Ucok itu. Menyebalkan.
"B-benarkah?" Alex malu sendiri, ia menggaruk-garuk kepalanya tak gatal. Ah si Ucok bikin malu saja.
"Sayang maaf ya, ini pertama kalinya bagi si Ucok. Jadi dia gugup makanya cepet banget keluar nya," sesal Alex merasa bersalah.
"Oh ya udah kalau begitu kamu menyingkirlah dari tubuhku, berat."
Alex pun memasang wajah sedih.
"Kamu marah ya karena gak puas?" lirihnya sedih. Merasa tidak berguna menjadi laki-laki.
"Aku memang gak merasakan nikmat atau puas, hanya sakit dan perih. Mungkin karena sama-sama pertama kalinya bagi kita. Kamu jangan sedih ya, kali saja besok-besok kamu jauh lebih kuat dan tahan lama," ucap Sherly memberi semangat.
"Benarkah, jadi kita besok melakukannya lagi?" Senang Alex langsung bersemangat.
"Oou, aku salah bicara," batin Sherly menepuk keningnya.
"Menyingkirlah dari tubuhku Mas, dan cepatlah cabut si Ucok itu. Perih tauk," ucap Sherly mengganti topik.
__ADS_1
"Baiklah, tapi besok kita melakukannya lagi ya, dan aku janji akan bertahan lebih lama agar kamu merasa puas,' ucap Alex meyakinkan, ia tak ingin istrinya itu kecewa lagi seperti sekarang ini.
"Iya-iya terserah kamu lah Mas, buruan di cabut ih. Aku mau ke kamar mandi."
Alex perlahan mencabut miliknya, Sherly meringis merasakan perih.
"Aku liat dong, apa lukanya besar?" tanya Alex hendak melihat si Baba.
"Ih gak mau, apaan sih. Malu lah Mas.
"Apanya yang harus malu? Aku udah liat semuanya bahkan sudah merasakan nya. Coba buka dulu kakinya, aku mau liat seberapa parah lukanya." Paksa Alex, Sherly hanya pasrah dengan wajah memerah malu.
"Berdarah," ucap Alex.
"Apa itu namanya darah perawan?" tanya Sherly balik.
"Hem, sepertinya. Apa masih sakit?"
"Udah Nggak, hanya perish8aja saat kena gesekan. Nanti juga sembuh sendiri kok." Sherly memang tidak merasakan sakit lagi, hanya saat segel milikinya di koyak dan saat itulah terasa sakit. Namun sekarang udah nggak, mungkin karena Alex melakukannya hanya sebentar.
"Kamu mau mandi?" tanya Alex, Sherly mengangguk.
Tanpa kata Alex turun dari kasur lalu mengangkat tubuh istrinya.
"Om, eh Mas. Kamu mau apa?" kaget Sherly.
"Bawa kamu ke kamar mandi lah. Aku baca dari Mbah dudel kalau pertama kalinya bagi wanita yang perawan itu, pasti sakit ketika berjalan. Makanya aku gendong kamu agar kamu tidak merasakan sakit." ucap Alex, Sherly hanya bisa pasrah dan patuh dengan yang di lakukan oleh suaminya itu.
"Berendam lah, aku tunggu di sini."
Saat Sherly tengah asik berendam di dalam air hangat. Sementara Alex duduk melamun di atas kloset sambil berpikir.
"Kenapa cepet banget ya keluarnya? Apa karena aku gak minum obat kuat? atau jamu kuat. Hemmm, apa tanya papah Angga aja kali ya, kan dia dokter tuh. Kali aja punya solusinya agar kuat dan tahan lama, tidak loyo seperti sekarang ini?"
Alex berpikir keras.
" Tapi kalau aku bilang 3 menit udah keluar, pasti aku di hina olehnya. Apa aku bilang aja kalinya 3 jam, terus mau minta agar bisa lebih lama lagi," Alex senyum-senyum sendiri setelah menemukan cara untuk bertanya pada Angga nanti nya.
"Mas, jangan kesurupan ya. Ini masih mati lampu loh," tegur Sherly melihat suaminya yang senyum-senyum sendiri.
"Hah, kenapa sayang. Mau nambah lagi?' ucap Alex.
"Hadew, benarkan kesurupan."
__ADS_1