
Adam tak henti-hentinya melirik arah Yura, padahal ia sedang dalam keadaan mengemudi. Bahkan tangannya pun tak ingin lepas yang kini sedang menggenggam tangan Yura dengan erat.
Sinar lampu menyorot kaca mobil hingga menerobos masuk dan membuat Yura nampak di bawah sinar cahaya itu. Kecantikkan nya semakin kian semerbak bahkan terlihat bersinar terang layaknya intan berlian yang berkilau.
"Cantik." Itulah yang terlihat, bahkan di mata Adam. Begitu juga dengan jantung hatinya yang tak berbohong, detak jantung bahkan mengatakan sedemikian rupa.
"Kamu kenapa ngeliatin aku gitu?" Yura menjadi malu karena terus-terusan di Lihat oleh Adam. Salah tingkah jadinya.
"Habisnya kamu cantik banget sih, aku mana mau berpaling dari padangan mataku ke kamu. Sayangnya aku lagi nyetir, coba kalau nggak!" ucap Adam yang sesekali kembali melirik Yura.
"Tapi kamu juga harus fokus kan? Kalau kenapa-napa gimana? Ngeliatin aku kan visa nanti-nanti, gak kemana-mana ini," ujar Yura mengingatkan, tak mau kejadian kecelakaan pada Adam waktu itu terulang lagi.
"Hehehe, maaf." Adam pun kembali fokus, yang di ucapkan oleh kekasihnya itu benar. Keselamatan adalah nomor satu, jika sudah kecelakaan mungkin kesempatan kedua untuk seperti waktu utu atau selamat belum tentu terjadi dua kali.
Yura tersenyum lega, walau genggaman tangan itu masih belum di lepas, setidaknya Adam sudah mau fokus mengemudi.
Sesampai di depan restoran. Adan turun lebih dulu dari mobil dan ia bergegas mengitari mobil hanya untuk membukakan pintu mobil untuk Yura, wanita yang ia cintai itu.
"Silahkan tuan putri," ucap Adam sembari mengeluarkan tangannya.
Yura tersenyum, perlahan ia mengangkat tangannya, menerima uluran tangan Adam dan perlahan keluar dari mobil dengan sebelah tangan Adam yang satunya lagi menutupi kepala Yura supaya tidak terhantuk di ubin mobil ketika hendak keluar.
"Terima kasih."
"Sama-sama sayang. Ayo masuk!" Adam mengajak Yura masuk ke restoran mewah di mana mereka akan makan malam romantis berdua malam ini.
__ADS_1
"Wah, kamu serius kita makan di sini?" kaget Yura tak percaya jika Adam akan membawanya ke restoran bintang 5. Dimana makanan yang terkenal mahal-mahal di restoran tersebut.
"Aku tau, tapi untuk sesekali gak apa-apa," ucap Adam yang sudah menebak apa yang di pikirkan oleh kekasihnya itu.
"Tapi kan...."
"Udah, gak apa-apa. Lagian aku udah lama ngumpulin duit, sayang kalau gak du gunain. Mending buat membahagiakan kamu, lebih berguna. Nanti nabung lagi yang banyak untuk melamar kamu," ucap Adam.
Yura hanya terdiam dengan mata terus memandang arah Adam.
"Jangan melihatku seprti itu. Aku tau ini pemborosan, lain kali kita akan makan dj tempat biasa, jadi kumohon kali ini aja, boleh kan aku ingin menyenangkan calon istriku?" ucap Adam sembari mengecup tangan Yura yang masih belum lepas dari genggaman nya.
Yura menarik nafasnya, bukannya gak suka. Hanya saja terlalu boros karena makanan di tempat biasa pun tak kalah enak di bandingkan makan di restoran mahal, yang satu porsi bisa 500rb sekali makan, belum menu lainnya. Mending duit nya di tabung buat naik haji. Pikir Yura.
"Tapi janji ya untuk kali ini aja, aku gak mau nanti kamu lama buat ngelamar aku gara-gara duit belum cukup," ucap Yura bercanda.
"Aku tau, tapi percayalah. Aku akan membuat kamu bahagia, dan akan memenuhi semua kebutuhan mu. Aku akan berusaha untuk terus bekerja keras supaya masa depan kita dan anak-anak kita kelak terpenuhi," ucap Adam tulus.
"Tapi untuk sekarang-sekarang ini. Aku masih belum bisa membawa kamu ke KUA, walau sebenarnya ingin. Tetapi mengingat kerjaan aku yang masih baru, lebih baik kita sama kumpulkan dulu ya, biar ke depan nya enak," lanjutnya.
Yura mengangguk penuh pengertian. Keduanya pun menyantap makanan yang sudah datang dengan makan bersama sembari menikmati indah lantunan lagu yang di nyanyikan oleh anak band restoran tersebut yang di undang khusus oleh pemilik restoran sengaja supaya makan mereka jauh lebih nyaman dan santai.
*****
Tiga bulan kemudian. Di mana Sherly mulai merasakan sakit pada pinggang dan pangkal paha. Bahkan rada ada mules-mules nya.
__ADS_1
"Aduh, mules lagi," keluh Sherly mengigit bibir bawahnya sembari mengelus perut sambil menikmati sakit seketika di bagian pinggang. Sherly mulai merasakan kontraksi.
"Mas. Mas," panggil Sherly.
"Iya sayang." Dengan sigap Alex menghampiri.
"Mules," adu Sherly.
"Kalau mules yang di buang dong sayang, masa gitu doang pake bilang sih? Gak mungkin minta aku buat nabung kan?" ujar Alex. Dan spontan saja mendapatkan cubitan di kuping nya. Orang lagi serius malah di ajak bercanda.
"Mules bukan mau buang hajat Mas. Tapi mau melahirkan," kesel Sherly. Bisa-bisa anaknya brojol sekarang juga gara-gara suaminya yang gak peka itu.
"Oooooh, mau lahiran. Bilang dong, kan kalau gitu enak, gak perlu pake tebak-tebakan. Emangnya aku ini pada normal yang bisa tau segalanya yang kamu pikiran," ucap Alex panjang lebar. Padahal istrinya semakin kesakitan di buatnya.
"Mas!" panggil Sherly lagi.
"Apa lagi sayang?" tanya Alex malah berucap santai.
"Astagfirullah, ya Allah gustiiii. Punya laki yo kok s sableng nya kelewatan." Sherly menepuk keningnya.
"Mau lahiran ini loh Mas." lanjutnya gregetan.
"Apa? Mau lahiran! Aduh gimana nie, aku harus apa? Apa yang harus aku lakukan?" Alex panik, dia malah mondar-mandir kayak setrikaan di depan Sherly yang yg tengah kesakitan. Sudah sakit liat suami begitu malah makin tambah sakit.
"Mas, bawa ke rumah sakit Mas, Astagfirullah." S heels mengelus dadanya sabar.
__ADS_1
"Oh iya ya, bilang dong dari tadi, kan gitu enak." Alex pun bergegas pergi secepat mungkin seraya menentang tas yang sudah di sediakan jauh-jauh hari untuk persiapan lahiran nanti. Di dalam tasnya sudah lengkap baju bayi, peralatan bay dan baju ganti Sherly.
"Loh, loh. Kok malah aku nya yang di tinggal sih? Mas, Mas Alex. Woy , Mas ...."