Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Mengajak pulang


__ADS_3

" Bro, gue sungguh tidak percaya jika wanita yang selama ini lo cari lo benci adalah Dara yang ini?" Kata Ridho setelah selesai membantu Dara membawa dokumen di ruangannya.


Ridho langsung bertanya tentu dia penasaran sekaligus tak pernah, baru saja tertarik dengan wanita eh sudah langsung patah hati dalam sekejap tanpa perkenalan lebih dulu. Sungguh sangat kejam.


Devan tidak menjawab, dia sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk.


" Devan, kok lo gak jawab sih?" Kesal Ridho karena dicuekin kayak bebek.


" Di kantor bukan tempat untuk bermain-main, Ridho.  Jika lo tidak ada kerjaan mending keluar!" Usir Devan, entah hatinya sangat panas hari ini.


" Ck, santai bro. Kan gue cuma bertanya kok sewot sih kayak cewek aja," gerutu Ridho.


" Eh tapi gak nyangka ya kalau Dara itu rupanya sangat cantik. Kalau gue gak akan menyesal seumur hidup lah apalagi di perkosa wanita cantik begitu yang ada minta tambah," kata Ridho ngasal bicara dia membayangkan body Dara yang bak gitar spanyol dengan pikiran kotor nya.


" Berhentilah berpikir kotor, Ridho!" Devan melempari pulpen ke kepala sahabatnya itu.

__ADS_1


" Berhentilah memikirkan wanita itu," sambungnya tegas. Sontak Ridho melihat arahnya dengan tatapan serius.


" Lo suka sama Dara?" Tanya Ridho serius. Devan menghentikan kegiatannya lalu mengerutkan kening menatap Ridho.


" Nggak!" Jawabanya kemudian.


" Oh, syukurlah jika begitu. Kalau gak suka tolong jangan membenci dia terlalu dalam. Kasihan wanita itu terlalu cantik untuk dibenci." Katanya memberi tahu Devan.


" Toh kejadian itu sudah sangat lama, lagian lo gak ada yang ruginya. Yang ada malah dia yang rugi karena keperawanannya hilang," sambungnya bijak, sedangkan Devan menyipitkan matanya curiga pasti ada udang dibalik bakwan. Di sangat hapal sahabatnya itu.


" Lagian sepertinya dia sudah melupakan semuanya tentang lo, dan gue yakin tentang perasaannya terhadap lo dulu juga hilang. Dan lo juga gak ada perasaan apa-apa sama dia, jadi biarlah gur yang bertindak, sayang kan cewek secantik dia di anggurin." 


Devan mengepal tangannya mendengar ucapan sahabatnya itu, dengan wajah marah dia berdiri lalu mencengkram baju Ridho kuat menatap tajam.


" Jangan coba-coba lo mendekati wanita itu, masalah gue dengan dia masih belum selesai. Paham lo!" Setelah mengatakan Devan kembali duduk di kursi nya. 

__ADS_1


Ridho tidak mengerti, tetapi dia tidak berbicara lagi melihat raut wajah Devan yang berubah marah. Dia yakin pasti ada hubungannya dengan Dara, jika itu benar Ridho sebagai sahabat yang baik akan membantu, tetapi jika Devan memiliki niat jahat terhadap Dara maka dia akan melawan dan siap bermusuhan dengan sahabatnya itu karena jujur saja dia sudah sangat tertarik dengan wanita yang baru saja dia jumpai tersebut.


Hari mulai larut, Devan sedari tadi masih betah di kantor akibat pekerjaan yang banyak dn gangguan sahabatnya sehingga pekerjaan jadi tertunda. Dia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sudah waktunya dia pulang karena kalau tidak mamahnya itu akan berteriak memanggil pulang. 


Devan keluar dari ruangannya, dia tak senga menoleh ke arah ruang sekretaris nya yang ternyata masih menyala lampu nya dan itu berarti masih ada orang didalamnya. Devan sejenak lupa akan keberadaan Dara akibat fokus bekerja tadi, dia melihat di balik pintu ternyata wanita itu masih bekerja. 


Devan melihat sekitar sudah sangat sepi, lampu-lampu yang tadinya terang kini mulai redup. Tentu saja karena para karyawan sudah pulang sejak sore tadi mungkin hanya beberapa saja yang lembur, dan tinggal para OB digian sip malam yang bekerja membersihkan kantor nya. 


Cukup lama Devan berdiam diri di depan ruang Dara, tetapi wanita itu masih belum keluar juga padahal hari sudah sangat larut. Ada rasa bersalah tentu di hatinya, dia sendiri yang meminta semua dokumen itu selesai malam ini juga sehingga mau tak mau wanita itu lembur untuk menyelesaikan nya. 


Clerek … Dara yang tengah fokus kini mendongak melihat siapa yang membuka pintu, dan alangkah terkejutnya dia melihat Devan yang ternyata masuk keruangan nya. Dara berusaha tenah lalu berdiri sambil membungkukkan sedikit badan nya.


" Selamat malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Kata Dara sopan. Devan mengepal kan kembali tangannya lalu berjalan mendekati Dara.


" Mau sampai kapan kamu di sini? Ayo pulang!" Ajaknya dengan nada dingin dan datar. 

__ADS_1


__ADS_2