
Selepas mengantar Sera kembali pulang ke rumah setelah mengantar Sherly tadi. Angga bukan langsung pergi ke rumah sakit, melainkan kembali putar arah ke sekolahan anaknya. Ia penasaran bagaimana keadaan Lily di lingkungannya yang baru. Apalagi tanpa dirinya.
Sementara itu, di dalam kelas seorang guru sedang memperlihatkan sesuatu di tangannya.
"Anak-anak, ada yang tau ini apa?" tanyanya.
"Permen," jawab semuanya dengan suara lantang. Termaksud Lily.
"Betul, pada pintar murid Ibu," puji bu guru Maya.
"Ada yang mau?" lanjutnya kembali menawarkan permen tersebut.
"Mau," jawab semuanya lagi dengan semangat lalu hendak menghampiri bu Maya.
"Eit ... no-no,' ujar bu Maya menggoyangkan jari telunjuknya membuatnya para murid mendesah kecewa.
"Kenapa? Tadi Bu Maya menawari?" tanya mereka.
"Benar, namun ingat baik-baik pesan Ibu guru. Kalau ada orang tidak di kenal atau orang asing yang hendak memberikan permen atau sesuatu yang kalian sukai, jangan di ambil, tolak mentah-mentah dan segeralah berlari ke tempat orang ramai," ucap bu Maya.
"Kenapa? Kan orang itu baik?" tanya salah satu murid.
"Tidak semuanya baik, orang yang di kenal maupun tidak di kenal. Jadi untuk kalian jangan coba -coba mengambil tawaran dari orang asing tersebut. BERBAHAYA! Kita tidak tau maksud tujuan mereka yang menawari permen, siapa tau orang itu orang jahat, dan mau menculik kalian, apa kalian mau di culik?"
__ADS_1
"Tidak," jawab semaunya takut.
"Betul Bu, Mamah pun berkata seperti itu pada Lily, dan jika ada orang asing bertanya atau cari alamat, kita harus lari secepatnya untuk menghindari. Karena orang dewasa tidak mungkin menanyakan alamat pada anak-anak," ujar Lily mengangkat tangannya saat berbicara. Ia menerangkan apa yang sudah di ajarkan oleh Sera padanya.
"Betul tuh, jadi kita harus waspada terhadap orang asing. Jangan ambil atau mau berbicara dengan orang asing. Paham!"
"Paham, Bu guru ...."
"Pintar, baiklah waktunya kita istirahat. Ayo kita main."
"Hore ...," teriak semuanya kemudian berlarian ke luar kelas.
Dan ternyata seseorang sedang mengintai di semak-semak. Ia mencari sosok malaikat kecil nya yang tak nampak di taman bermain.
"Di mana putri kecil kesayangan Papah?" ucap Angga, dan ternyata yang sedang mengintai itu adalah dirinya.
"Dek, adek," panggil Angga. Anak kecil itu menoleh.
"Om panggil aku?" ucapnya menunjuk dirinya sendiri. Angga mengangguk lalu melambaikan tangan agar anak lelaki itu sedikit mendekat arahnya.
"Apa kamu tau anak perempuan yang cantik, manis, imut yang bernama Lily ... bukan-bukan, Sherly maksud nya," ucap Angga bertanya keberadaan Sherly.
"Emang Om siapanya Sherly?" hanya anak laki-laki itu?
__ADS_1
"Saya Papahnya, apa kamu tau?"
Belum sempat anak laki-laki itu menjawab, Sherly keburu datang menghampiri. Ia melihat papahnya sedang berbicara pada teman sekelas nya.
"Nando, kan bu Maya barusan bilang. Jangan berbicara pada orang yang tidak di kenal." Sherly memperingati temannya itu dengan tegas.
"Tapi dia bukan orang yang tidak di kenal, dia papah kamu, kan?" jawab anak Nando menunjuk Angga.
"Om tua ini memang papah aku, tapi kamu tidak kenal dia, kan? Jadi ... jangan pernah berbicara pada orang asing lagi," jawab Sherly tegas mengingatkan.
"Apa?Anak kesayangan ku memanggilku om tua?" pekik Angga menangkup kedua pipinya tak percaya. Suara Angga menjadi pusat perhatian anak-anak di taman TK.tersebut dan berkumpul untuk melihat.
"Papah buat apa di sini?" tanya Sherly heran menatap tajam papahnya. Ia malu pada teman-temannya.
"Oh, em ... anu. Papah cuma ingin melihat kamu aja." Angga menyengir kuda sambil garuk-garuk kepalanya, dan membuat Sherly menghela.
"Oh iya anak-anak. Om ada permen, apa kalian mau?" tawar Angga mengeluarkan beberapa bungkus permen di saku jasnya.
"Aaahk, permen? Lariiiiiii, ada penculikan?" teriak Nando panik seketika mengingat nasehat bu Maya yang mengatakan untuk tidak mengambil permen dari orang tak di kenal.
"Aaahhhhkkk, mamah tolong aku, aku takut?" teriak yang lainnya ikutan berlari panik mengitari taman tersebut.
Sherly menepuk keningnya, lalu menatap papahnya tajam.
__ADS_1
"Is-is Papah nie, jadi kacau kan?Pulang sana, ganggu aja."
Angga pun membatu lalu retak kemudian tumbang karena di usir oleh anaknya sendiri. ( ibaratnya itu ya.)