Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, berangkat ke Jepang


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba, dari pagi-pagi buta Sherly sudah bangun dan menyiapkan segala keperluan dirinya dan juga suaminya selama di Jepang nanti. Alex masih tidur terlelap mungkin saja lelaki itu sangat lelah, dan Sherly tak mau jika sampai tidur sang suami terganggu. Sebab itulah ia pelan-pelan dan hati-hati saat berkemas memasukkan baju-baju ke dalam koper.


"Ah, apa lagi ya yang mesti di bawa?" Sherly berpikir sambil mengingat-ingat apa saja yang masih terlupakan sambil mata mencari baju


"Ah benar, jaket bulu. Kan di sana dingin, gak boleh ketinggalan ini mah." Sherly kembali memasukkan jaket-jaket ke dalam koper.


" Selesai, gak sabar nya. Pasti Yura dan Dara iri deh, hihihi." Sherly tertawa kecil membayangkan wajah cemburu kedua sahabatnya atas kepergian dirinya ke Jepang.


Sherly menatap suaminya yang masih tidur pulas, wanita itu tersenyum lalu menghampiri.


"Mas, ayo bangun. Sekarang udah siang loh." Sherly membangunkan sambil menggoyang-goyangkan lengan suaminya.


"Emmmm, masih ngantuk," jawab Alex malas tanpa membuka mata.


"Eh gak boleh kayak gitu, Kam kita mesti ke bandara jam 10 nanti. Ntar ketinggalan pesawat loh," ujar Sherly paksa sambil menarik-narik tangan suaminya itu.


"Memangnya sekarang jam berapa?" tanya Alex dengan suara seraknya yang kini menarik tangan Sherly hingga wanita itu terbaring di sampingnya.


"Sudah jam 7 Mas, udah siang loh. Ayo bangun," ucap Sherly.


Alex langsung memeluknya erat." Masih pagi sayang, mending kita lanjut bobo lagi aja," ujar Alex kembali memejamkan matanya sambil memeluk istrinya tersebut.


"Mana boleh, kita harus bengun mandi dan siap-siap." Sherly berontak.


"Ssstttt, di sebentar sampai kantuk aku hilang. Nanti kita mandi bareng aja biar hemat waktu, lagi pula masih jam 7, waktunya masih panjang. Mending kelonan aja dulu," ucap Alex dengan nada tegas.


"Maaaaaas ...."


"Lima menit lagi, oke!"


Sherly menghela nafasnya pasrah, ia membenamkan wajahnya ke dada Alex yang bidang itu sambil lengannya ia jadikan bantal. Memang sangat nyaman, Sherly akui itu. Berpelukan di pagi hari, rasanya tak ingin lagi bangkit dari tempat tidur jika sudah berduaan seperti ini. Rasanya pengen aja terus nempel-nempel melebihi perangko.


Ternyata pacaran setelah nikah itu itu jauh lebih wah, mau ngapain aja boleh tanpa ada rasa takut dosa. Pegang sana, pengan sini, pokoknya suka-suka lah, tak ada yang ngelarang. Indah bangat lah pokoknya tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata, jika mau coba saja sendiri hehehe.


Lima belas menit kemudian, Alex tak ada tanda-tanda mau bangkit sama sekali. Padahal katanya tadi hanya lima menit saja, namun nyatanya nambah lagi.


Sherly tidak mau berangkat dengan terburu-buru nantinya, sebab itulah ia lebih baik bersiap-siap di jam-jam sebelum waktunya, apalagi berdandan cukup lama mana mungkin ia berangkat naik pesawat ke negara orang apa lagi di luar Negeri dengan wajah pucat. Bukan gaya Sherly banget itu mah. Kalau cowok mah simpel, mandi pakai celana, baju minyak rambut, semprot-semprot udah beres.


"Mas udahan geh. Ayo bangun mandi abis itu sarapan. Gak mau loh kalau sampai terburu-buru." Sherly mulai geram.


"Iya-iya, cerewet nya nyonya Alex ini. Kalau gak bangun gak akan berhenti ngomelnya," ledek Alex sambil mencubit pipi Sherly gemes.


"Lagian gak bangun-bangun, udah ayo mandi," ajak Sherly. Dengan senang hati Alex menuruti nya dengan patuh.


"Sayang, liat deh," ujar Alex sambil menunjuk si Ucok yang sudah melambai-lambai pertanda sudah bangun berdiri tegak melihat si Baba yang mempesona.


"Gak ada waktu, sabar napa. Setelah di Jepang nanti terserah deh mau melambai, jungkir balik terserah," kata Sherly acuh. Yang ada nanti justru gak jadi berangkat nya. Mana waktu tak cukup banyak karena jam sudah menunjukkan pukul 8, belum sarapan dan Belum lagi perjalanan, mending kalau gak macet.


Setelah selesai mandi, Alex memakai baju yang sudah di siapkan oleh Sherly. Ia nampak terkejut melihat koper berjejer di samping pintu kamarnya.


"Sayang, ini semua buat apa?" tanya Alex, Sherly yang sedang mengeringkan rambut hanya melirik dari pantulan kaca.


"Di bawa lah Mas, masa ia di buang. Aneh-aneh aja," jawab Sherly santai.


"Iya tapi ya gak banyak sampai segitunya juga kali. Sampai 20 koper loh? Entah dari mana kamu mendapatkan koper sebanyak itu," heran Alex, ternyata istrinya itu menyiapkan barang bawaan mereka begitu banyak. Padahal hanya satu minggu saja, bukan pindahan.


"Tapi itu penting semua sayang, harus di bawa lah," ujar Sherly. Alex menggeleng, lalu ia membuka salah satu koper dan melihat isinya.


"Ini gak penting sayang, buat apaan coba?" Alex menjejerkan selimut tebal dari koper," Dan ini, ini lagi. Semuanya gak penting sayang."


Ada barang-barang tak penting sama sekali yang di akan di bawa oleh Sherly, Alex sampai terheran-heran di buatnya.


"Ya kali aja butuh nantinya. Kan lebih baik sedia payung sebelum hujan," jawab Sherly.


"Ya tapi gak bawa payung benaran juga kan?"

__ADS_1


Astaga, entah apa yang ada di pikiran istrinya itu.


"Ya kali aja nanti di sana ada hujan salju, kan kita bisa payungan," jawab Sherly. Alex hanya bisa menghela sambil mengelus dadanya sabar.


"Bawa baju dikit aja, di sana nanti kita beli kok," ucap Alex lembut. Lagian di sana nantinya Alex hanya ingin di kamar saja, bulan madu, bikin adonan jadi untuk apa bawa baju banyak-banyak. Toh lebih enak jika istrinya itu gak pernah memakai apa-apa, biar tinggal tancap gas ....


Setelah selesai bersiap-siap, bahkan udah sarapan juga. Sherly dan Alex hendak berangkat.


"Supir yang mengantar kita ke bandara sudah datang Mas?" tanya Sherly.


"Apa iya udah datang?" Alex malah tanya balik.


"Mana tau, kan aku tanya gimana sih?"


"Hehehe, canda. Tapi aku gak tau sih udah datang apa belum, aku gak liat hp soalnya," jawab Alex.


"Kalau misalnya belum datang, kita naik taksi aja ya. Gak ada waktu juga kan menunggu nya datang," saran Sherly. Alex mengangguk.


Keduanya sudah keluar dari apartemen mereka sambil menarik koper masing-masing satu. Sedangkan tangan yang satunya mereka gunakan untuk bergandeng tangan, berjalan beriringan terlihat nampak sangat serasi sekali, banyak mata memandang arah mereka dengan kagum.


"Lily, Alex sebelah sini." panggil seseorang dari dalam mobil dengan pintu kaca terbuka. Alex dan Sherly menoleh arah sumber suara.


"Itu bukannya Mamah ya?" ujar Sherly menunjuk arah mobil.


"Iya, itu mamah sama papah. Tapi ngapain mereka datang kesini?" heran Alex. Sherly mengangkat kedua bahunya lalu menghampiri mobil tersebut.


"Lama banget, dari tadi nie orang nungguin. Keburu jamuran tau gak?" ujar Bagas sewot. Alex dan Sherly hanya saling pandang kebingungan.


"Set dah nie bocah, malah bengong. Ayo buruan naik, mau berapa lama lagi kalian dia berdiri di situ," lanjut Bagas mengomeli.


" Dia ini sebenarnya kenapa sih? Gak dapat jatah semalam?" gumam Alex sebal.


"Eh, siapa yang nyuruh kamu duduk di belakang? Sana duduk di depan, temani papah kamu itu," ujar Ratna mengusir Alex yang hendak duduk di kursi penumpang belakang bersama istrinya.


"Jangan banyak komentar, kami mau mengantar menantu, bukan kamu," jawab Ratna acuh, Alex berdecak sebel.


"Lagian tuh supir kemana sih? Sis suruh kerja malah enak-enakan libur, awas aja," batin Alex.


Haaaaaacu ... sang supir pun tiba-tiba bersin.


"Pak Sarmin lagi sakit?" tanya Suijah pembantu rumah Bagas.


"Nggak, mungkin ada yang kangen," jawab supir tersebut.


"Oaaalaaaa."


Di dalam perjalanan, Alex memasang wajah masam. Ia menoleh ke belakang memperhatikan mamahnya yang lagi mengeluarkan botol alumunium dari papee-bag nya.


"Mamah bawa apa? Kok bau nya gitu," tanya Alex penasaran.


"Ini jamu untuk istri kamu, biar sehat dan meningkatkan kesuburan. Sangat baik di minum apa lagi sesudah masa haid, di jamin sekali cetak langsung jadi," ujar Ratna menjelaskan.


"Di minum sayang," peeintahnya sambil menyodorkan jamu yang sudah di tuang ke gelas.


Sherly terpaksa meminumnya, mana mungkin menolak. Ia harus menghargai kerja keras ibu mertuanya itu yang sudah berbaik hati supaya rahimnya subur agar buah cinta mereka kela akan secapnya hadir dalam kehidupan mereka.


"Alex jangan loyo-loyo amat ya, jangan sampai Lily mencari pengganti Butu ijo baru kau ngerengek-rengek minta kembali," ucap Ratna memperingati.


Sherly menyemburkan minuman dari dalam mulutnya hendak tertawa.


"Butu ijo? Kenapa Mamah memberi namanya sama kayak jin Mam, di kira adiknya apa?" kesel Alex, si ^di ganti nama oleh orang tuanya, bahkan lebih menyeramkan kali ini.


"Setidaknya Butu ijo bertahan lama, liat aja warna ijo nya lama kan. Lah situ? Leyo, payah banget," ejek Ratna. Alex membatu atasan apa yang di ucapkan oleh ibunya tersebut.


"Pasti ini upahmu pak tua? Dasar ember," geram Alex menatap tajam Bagas, siapa lagi yang membocorkan rahasia kalau bukan pak tua di sampingnya ini. Kemaren-maren mertuanya yang tau, sekarang mamahnya, lalu besok-besok siapa lagi?

__ADS_1


"Aku ... kenapa?" tanyanya seraya tanpa berdosa. Alex ingin mencekik orang saat ini.


Wajah Sherly sudah merah layaknya tomat. Perbincangan macam apa di dalam mobil ini, sangat memalukan. Ingin rasanya bersembunyi di dalam gue.


"Kamu bawa jamu dari Papah kan?" tanya Bagas.


"Iya, bawa 7," jawab Alex.


"Kenapa dikit banget, emangnya satu kali satu malam gitu? Kalau Papah mah mana bisa," ucap Bagas.


"Satu aja lemesnya lama Pah, dah lah jangan mengajari Alex yang tidak sehat. Sherly juga manusia, bisa lemes luruh badannya ntar," ujar Alex, Bagas pun tertawa. Ratna dan Sherly hanya geleng-geleng kepala saja.


"Padahal tadinya Mamah mau kasih kamu ramuan alami, tapi kalian ingin bulan madu jadi nanti malam nanti saja, soalnya bikin nya agak ribet dan gak mungkin juga bawa bumbu dapurnya ke Jepang," ujar Ratna.


"Lagian udah ada yang praksis ngapain mesti repot-repot lagi bikin, tinggal sedu terus langsung minum, gampang kan?" ucapnya.


"Tapi gak baik buat kesehatan jika di konsumsi setiap saat, ini karena mau ke Jepang aja Mama kasih izin Alex meminumnya."


Ratna tidak suka jamu-jamu seperti itu, pasti ada efek sampingnya. Masih mending yang alami saja, terbuat dari rempah-rempah masakkan dan sangat mudah di dapatkan. Bisa menghasilkan kuat dan tahan lama tanpa efek samping, tentunya sehat.


"Jangan salahkan jamu nya, salahkan saja anak kamu yang payah itu. Memalukan generasi para lelaki saja, dari kakek, kakek, kakek buyut mu gak ada yang kayak kamu, durasi 3 menit, CK."


Bagas mengejek anaknya habis-habisan, Alex hanya mendengus." Memangnya aku ini di ciptakan dari cairan putih yang kental milik siapa? Papah, bukan? Jadi terima saja lah jika ada penerus mu yang hanya Oreo, di putar, di jilat, di celup," balas Alex.


"Itu mah karena elu nya aja yang karatan, kelamaan menjadi bujang lapuk sih," ejek Bagas tak mau mengalah.


Alex bungkam, jika ia jawab tidak akan kelar-kelar sampai ayam jago bertelur.


"Nah, kalau diem begini kan enak. Tenang sedikit pendengaran," imbuh Ratna mengejek.


Sesampai di bandara, Keempatnya turun dari mobil. Ratna dan Bagas mengantar keduanya sampai depan pintu masuk.


" Mah, Pah kami berangkat dulu ya," pamit Alex sambil mencium pucuk punggung tangan kedua orangtuanya. Begitu pula dengan Sherly.


"Hati-hati kalian di sana ya, Alex! Jaga istri kamu baik-baik," ucap Bagas mengingatkan.


"Iya Pah, pasti," sahut Alex yakin.


"Hati-hati di sana ya sayang, jangan kemana-mana kalau gak sama Alex, nanti kamu nyasar dan gak bisa pulang lagi. Mamah gak mau kehilangan kamu, Mamah sudah terlanjur sayang sama kamu," ucap Ratna hendak menangis.


"Iya Mah, Lily minta doa nya semoga Lily dan Mas Alex baik-baik saja. Dan doakan selama dalam perjalanan semoga tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan." Sherly meminta doa restu, Karena hanya doa seorang ibu yang selalu di dengar dan di kabulkan.


"Pasti Nak, cepatlah kembali. Kami akan menunggu kabar baik dari kalian."


"Insyaallah!"


Alex dan Sherly melambaikan tangan lalu berjalan memasuki pintu masuk bandara.


"Alex, Lily. Nanti pulangnya jangan lupa oleh-oleh nya cucu ya buat Mamah dan Papah ... Alex, berjuanglah lebih keras lagi!" Teriak Ratan saat anak dan mantunya sudah menjauh.


"Astaga, Mak tua itu. Apa dia gak bisa tutup mulut sedikit," gerutu Alex. Ia tak mau menoleh, pura-pura saja tidak kenal.


Sedangkan Sherly, jangan tanya lagi. Wajahnya sudah merah melebihi kepiting rebus. Di bandara ini bukan hanya mereka saja yang ada di sana, tapi ada banyak nyawa dan pastinya semua nya pada dengar dan mengerti maksud dari ucapan mamah mertuanya itu. Sungguh sangat malu dirinya.


Sementara itu ....


TIN TONG ... bel apartemen Alex berbunyi.


"Alex, Lily. Apa kalian di dalam?" teriak seseorang sambil terus menekan bell.


"Mungkin Alex nya sudah ke kantor kali Pah, dan Lily sudah berangkat kuliah," ujar istrinya karena tak ada jawaban sama sekali dari dalam.


"CK, ya sudahlah nanti malam kita ke sini lagi."


Oh no ... sepertinya Alex dan Sherly melupakan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2