Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Episode 108


__ADS_3

Abian masuk, ia mengerutkan keningnya melihat baby Adam yang masih menangis. Bukankah ia keluar sudah satu jam lebih. Seharusnya anak ini sudah tidur jika sudah kenyang, kan? Abian meletakan barang bawaannya berupa makanan di atas nakas samping brankar. Ia menghampiri Keyra yang berusaha menenangkan baby Adam.


"Biar aku yang gendong. Kamu makan aja dulu!" perintah Abian lalu mengambil baby Adam di gendongan Keyra.


" Aku mana bisa makan, Mas. Sedangkan Adam masih nangis begini," ucap Keyra lesu.


Abian tersenyum lembut." Kamu belum makan, kalau kamu nya aja gak makan lalu Adam nanti makan apa kalau ASI yang ia minum hanya kosong. Biar Adam sama aku, kamu makan gih."


Keyra terdiam menatap Abian sangat perhatian padanya. Ia memandang ke arah bungkus yang di bawa Abian tadi. Namun, Keyra hanya memandangi nya saja tanpa menyentuh.


"Mbak, tolong bantu bujuk Keyra. Dia hanya makan sarpan pagi aja tadi, aku tau ibu menyusui mudah sekali lapar. Tolong ya, Mbak."


Saat Abian meminta tolong pada Sera, Angga dan Leo sudah masuk ke ruangan. Kedua lelaki itu terus memperhatikan Abian yang sangat perhatian pada Keyra. Bahkan sekarang juga sedang menenangkan adam yang masih menangis.


Sera mengangguk, ia membujuk Keyra dan mengajaknya makan. Keyra pun pada akhirnya patuh dan mulai memakan makanan yang di pesan oleh Abian untuknya. Tak lupa juga dengan buah -buahan.


Abian tersenyum melihatnya, kemudian ia melangkah sedikit menjauh ke pojok ruangan. Ia mengucapkan sholawat pada Adam sehingga bayi mungil itu mulai tenang dalam gendongnya. Namun, sesaat beby adam mulai memejamkan mata. Tiba-tiba Leo datang dan merebut Adam dari gendong Abian paksa.


"Astaghfirullah, Mas. Apa yang kamu lakukan?" kagetnya.


"Leo, apa yang kamu lakukan?" bentak ibu Endang tak habis pikir. Ia sudah lega saat Adam mulai tenang di gendong Abian. Namun bayi itu kembali menangis akibat ulah Leo.


"Ini anakku, aku yang berhak menggendong nya," ucap Leo menatap sinis Abian. Ia tidak suka anaknya di sentuh orang lain.


"Saya tau, tapi Adam baru saja mau tidur. Apa kamu gak kasihan padanya?"

__ADS_1


Leo tak bergeming, ia menatap anaknya lalu menimangnya.


"Ssttt, ini Papah sayang. Diem ya, anak pinter."


Leo terus menimang, namun baby Adam tetep menangis bahkan lebih kencang sekarang.


Keyra menghentikan makannya, ia menangis menatap sang anak yang menangis. Ibu mana yang tega melihat anaknya menangis walau di dalam gendong ayah kandungnya sendiri.


"Leo, udah. Adam gak suka kamu paksa seperti itu. Kenapa kamu begitu egois?" Sera juga tak tega," Mas ...," ucapnya memanggil suaminya.


Angga menghela, ia menghampiri Leo.


"Le, bayi ini masih berusia 3 hari. Jika dia terus menangis dalam jangka lama. Nafasnya tidak akan kuat menahan. Apa kamu mau membiarkannya terbunuh?" ucap Angga mantap tajam anaknya.


Abian geram, ia tak tahan melihat Adam masih terus menangis. Abian melangkah cepat lalu merebut kembali Adam ke. tangannya.


Abian membaca sholawat dengan alunan merdu. Benar saja, bayi mungil itu dalam hitungan detik kembali tenang walau masih ada sisa -sisa tangisan kecil namun sudah lebih baik sekarang sehingga membuat semuanya bernafas lega.


"Leo-Leo. Seharusnya kamu harus jauh lebih sabar lagi, perasaan bayi dan orang dewasa itu berbeda, Le. Harus sabar." Nasehat ibu Endang. Leo hanya bungkam dengan pandangan mengarah ke Abian.


Keyra menghapus air matanya, nafsu makannya sudah tak berselera. Ia hanya fokus pada Adam di gendongan Abian, setidaknya ia bersyukur ada Abian di sisinya. Andai lelaki itu tidak ada, ia tidak tau harus berbuat apa dengan kedatangan keluarga mantan suaminya terutama Leo.


"Udah tidur?" tanya Angga pelan pada Abian.


Abian mengangguk, ia menidurkan Adam di boxnya perlahan agar tak kembali bangun. Leo hanya diam memperhatikan dengan dengus tak suka di wajah.

__ADS_1


"Sepertinya Adam sangat menyukai mu? Apa aku sudah memiliki anak, sehingga tau cara menenangkan anak menangis?" tanya ibu Endang.


Abian tersenyum, ia menatap wajah damai Adam yang sudah terlelap. Baru menatap ibu Endang.


"Saya belum menikah, apa lagi mempunyai anak. Bahkan pengalaman saja tidak ada, ini baru pertama kalinya saya menggendong Adam saat ia baru lahir, sejak saat itu, kami merasa sudah terikat," jawab Abian. Ibu Endang mengangguk, perhatiannya pada Adam sangat tulus sebab itulah perasaan seorang anak memilihnya dari pada ayahnya sendiri.


Abian menatap makanan di atas nakas masih utuh, ia menatap Keyra yang juga menatapnya dengan senyuman, senyumnya paksa.


"Kenapa gak di makan? Nanti Adam bangun minta ASI, dan kamu masih belum makan? Mana ada tenaga saat memberinya ASI nanti."


Abian mengambil piring lalu berinisiatif menyuapi Keyra.


" Makan dulu, buka mulut kamu." Tak peduli banyak tatapan mata melihat arahnya. Yang penting Keyra harus makan sekarang, itu tegasnya.


"Di makan Key, yang di ucapkan Abian benar loh. Kalau Abian pulang dan kamu masih belum makan di saat itu pula Adam bangun. Kamu bisa kelaparan nanti karena gak ada yang gantian gendong Adam saat kamu mau makan," ujar Sera.


Keyra menghela nafasnya panjang, lalu membuka mulutnya lebar dan menerima suapan dari Abian.


"Kamu baik sekali, umur berapa?" tanya ibu Endang pada Abian.


"Sudah 29 tahun, Bu," jawabnya kembali menyuapi Keyra.


"Ow, lebih dewasa ya dari pada Leo. Apa kamu bakalan menjadi ayah sambung Adam?"


Keyra langsung tersedak mendengar pertanyaan ibu Endang. Abian langsung menyerahkan air minum sembari mengusap punggung Keyra.

__ADS_1


"Amin ...," ucap Abian melirik arah Leo yang acuh sembari menatap Adam yang terlelap dalam mimpinya. Keyra langsung menatapnya Abian dalam yang tersenyum lembut padanya.


__ADS_2