Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, hendak USG


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu. Yura sudah mulai kembali melalui terapi dan pengobatan lainnya. Dan tentunya di temani oleh Adam yang selalu setia berada di sampingnya tampa kenal lelah, apa lagi mengeluh.


Kedua orangtuanya Yura sangat senang dan bersyukur. Adam adalah laki-laki yang baik, merasa bersyukur ada Adam yang selalu memberikan semangat untuk anaknya. Selalu memberikan surpot dan dukungan hingga membuat Yura bangkit dan tekad ingin sembuh ada dalam hatinya.


"Sayang, lihat deh. Rambut kamu mulai tumbuh," ujar sang mamah seketika mengelapi kepala Yura yang baru saja selesai mandi.


"Em, Mah. Apa Yura masih terlihat cantik kalau gak ada rambutnya?" tanya Yura. Ia masih tidak percaya diri dengan kepala yang tanpa rambut panjangnya.


Yura terus menatap pantulan dirinya dari cermin. Apa benar dirinya masih cantik seperti yang di ucapkan Adam?


Andin tersenyum, lalu ia mengusap kembali kepala anaknya yang ada bekas jahitan sisa operasi.


"Kamu adalah wanita yang cantik sayang. Kecantikan kamu tidak bisa di ukur oleh apapun karena cantik kamu itu dari sini."


Andin menunjuk dada Yura. Yura menunduk melihat arah yang di tunjuk oleh ibunya.


"Kamu cantik dari hati, seberubah apapun penampilan kamu. Sejelek apapun kamu sekarang, namun kecantikan kamu akan tetep terlihat jika perilaku dan hati kku tidak berubah. Akan tetep cantik, bahkan melebihi bidadari," lanjutnya sembari mengusap pipi anaknya lembut.


"Mamah yakin, jika Adam mencintai kamu bukan karena fisik kamu. Tapi melainkan hati kamu. Buktinya, Adam tidak goyah ketika Yuri berpura-pura menjadi dirimu, Adam justru tau padahal wajah kalian serupa. Itu artinya Adam memang sangat mencintai kamu dari hati. Jadi ... jangan pernah merasa jika diri kamu itu tidak lah cantik lagi," lanjutnya.


Yura pun tersenyum mendengar ucapan sang ibu yang membuat hati dan pikirannya menjadi lega yang selama ini selalu menganggu.


Mendengar nama Adam. Ia pun menjadi rindu pada tunangannya itu, Adam sudah 3 hari tidak datang berkunjung ke rumahnya karena ada seminar di rumah sakit tempat lelaki itu magang.


"Lagi apa ya dia di sana? Ah, aku benar-benar merindukannya." batin Yura melamun sembari menatap layar hpnya berharap Adam menelpon atau mengirim pesan singkat.


*******


Sementara itu. Sherly masuk ke rumah dengan wajah lesu tak bersemangat.


"Assalamualaikum," ucapnya dengan senyuman yang di paksa.


"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya sembari tersenyum menyambut kedatangan Sherly.


"Sini, duduk sini," ucap omah Dewi sembari menepuk shopa di sebelahnya.


"Iya Omah," jawabnya tak bersemangat. Lalu Sherly duduk di sebelah Dewi yang kini tengah mengerutkan keningnya memandangi dirinya.


"Loh kok lesu gitu? Apa ada yang sakit?" tanya Dewi cemas.

__ADS_1


"Apa? Cucuku sakit!" pekik Bobby, ia pun langsung menghampiri Sherly dengan wajah paniknya.


"Mana yang sakit? Perut, atau badan kamu? Atau kakinya, sini biar Opah yang periksa," lanjut Bobby dengan panik yang sedang memeriksa anggota tubuh Sherry.


"Lily gak kenapa-kenapa Opah. Lily oke," ujar Sherly malas.


"Yang benar? Tapi kamu lesu gitu kayak orang tak punya semangat hidup," ucap Bobby.


Dewi pun langsung menjewer kuping suaminya sembari mata melotot karena tak menjaga ucapannya.


"Sekali lagi kamu ngomong tak plitas mulut kamu," bisiknya mengancam.


"CK, selalu saja salah," gumamnya menggerutu, ia pun kembali lagi duduk ke tempatnya semula.


Dewi mengusap Surai hitam milik Sherly lembut.


"Kenapa, ada masalah, hem?" tanya Dewi pelan.


"Nggak kok, cuma Lily gak semangat karena mas Alex gak nemenin Lily kali ini ke rumah sakit," ucapnya.


"Oh, kirain ada masalah apa. Bikin panik aja," ucap Dewi lega.


"Memang Alex gak bisa nemenin istrinya periksa? Ini kan gak setiap hari terjadi loh," sahut Angga yabg baru saja bergabung di ruang keluarga rumahnya sendiri.


Sherly datang seorang diri ke rumah orangtuanya karena Alex sibuk dalam kerjaannya di kantor.


"Sesibuk-sibuknya kerjaan. Tapi masalah istri mau periksa kandungan harusnya gak boleh di abaikan. Gimana kalau pas jauh dari keluarga, apa sampai segitunya membiarkan istri pergi seorang diri ke rumah sakit dalam keadaan mendung?" ketus Angga. Ia tak suka dengan cara Alex yang mementingkan pekerjaan.


"Namanya juga sibuk Ngga. Lagian kan kita bisa yang menggantikan Alex menemani Lily. Makanya Alex tidak perlu khawatir dan fokus dalam kerjaannya," sahut Bobby. Angga pun mendengus.


"Gue sibuk, tapi masih bisa tuh temani bini gue periksa kandungan," jawabnya sinis.


"Ya itu kan elu, beda dengan Alex. Lagi pula kerjaan lo dan dia kan beda, lo dokter dia direktur. Ya jelas sibukan dia lah," jawabnya membela.


"Kok lo jadi bela Alex sih? Gak setia banget jadi kawan. Lagian ya, Alex itu direktur di perusahaannya. Seharusnya dia itu bebas kan bisa keluar masuk kapan aja sesuka hati," kesel Angga.


"Kalau begitu lama-lama gulung tikar dong tuh perusahaan. Direktur yang aja begitu gimana mau memimpin karyawannya?. Lagi pula, tugas direktur itu jauh lebih berat tau gak lo. Ah, lo kalau gak tau masalah perusahaan mending gak usah komen deh, pusing tau gak menjelaskan nya. Intinya kalau perusahaan lagi ada masalah, direktur utama yang harus turun tangan, paham!" ucap Bobby panjang lebar menjelaskan.


"Mana tau, kan gue bukan kerja di kantor. Tapi di rumah sakit," jawab Angga sewot.

__ADS_1


"Makanya kalau gitu gak usah komen yang nggak-nggak," ejek Bobby. Angga pun mendengus kesal.


"Sudah-sudah, kok malah pada berantem sih? Nie mending minum kopi dulu biar adem."


Sera baru datang sembari membawa minuman dan makanan.


Keduanya sama-sama saling membuang muka. Dewi, Sherly dan Sera hanya menggeleng-geleng.


"Ngapain lo pagi-pagi dah datang ke sini?" sinis Angga sembari meminum kopinya.


"Kenapa emangnya? Ini rumah, rumah anak gue, mau ape lo?" sahut Bobby menantang.


"CK, merusak pemandangan saja." Angga bergumam malas.


"Kan Lily mau USG, Mamah sama Papah mau ikut melihat juga kesehatan cicit di dalam perut Lily," sahut Dewi menyela.


"Ah, jadi tak sabar ingin menimang bayi lagi. Mudah-mudahan jagoan," ucap Bobby tak sabar.


"Nggak bisa! Gue maunya Princess, lebih unyu-unyu," sahut Angga.


"Enak aja, enakkan juga jagoan. Kan lebih enak kalau di ajak mancing kayak Nicko sama Ricko dulu, seru tau gak. Ah, gue jadi gak sabaran," ucap Bobby.


"Seru apanya. Pulang-pulang seluruh badan anak gue dah kayak kebo, penuh lumpur semuanya," sahut Angga.


"Iye, kan memang mandi lumpur. Tapi seru tau. Elu nya aja yang gak ikutan. Pokoknya anak Lily nanti harus jagoan," kata Bobby tegas.


"No! Pokoknya Princess, titik!" sahut Angga tidak mau mengalah pokoknya.


"Jagoan, jagoan, jagoan. Mau apa lo?" jawab Bobby tak mau kalah.


Keduanya beradu pandang saling melotot dengan kening yang saling beradu.


Dewi, Sherly dan Sera kembali geleng-geleng kepala sembari menepuk kening mereka.


"Bayi nya aja masih berumur 3 bulan. Bentuknya aja pun belum sempurna, dan kalian sudah berantem masalah jenis kelamin. Mau di sentil mulutnya, hah?" ucap Dewi sangar membuat Bobby dan Angga berpelukan sembari menyengir ketakutan dengan tubuh gemetar. Wanita itu kalau sudah mengeluarkan tanduk sangat berbahaya, bisa-bisa isi di rumah ini melayang olehnya.


"Hehehe, kami hanya bercanda aja kok sayang. Gak berantem." Bobby mencubit pinggang Angga.


"I-iya Mah," jawab Angga yang masih mempertahankan cengiran lebarnya.

__ADS_1


Sera dan Sherly hanya terkekeh. Jika kedua berulah lagi memang mamah Dewi musuhnya baru keduanya menciut.


****


__ADS_2