
Di daerah yang lumayan jauh, seseorang tengah berjalan di pagi hari tanpa alas sendal. Wanita itu mengelilingi taman dengan beban berat yang ia bawa. Berjalan pelan sambil mengusap perutnya yang buncit, ia tersenyum ceria menatapnya.
"Jadilah anak yang pinter ya Nak. Jangan seperti Mamah!" ucapnya lembut.
Beberapa saat setelah lelah berjalan, wanita itu tiba-tiba meringis, ia memegangi perutnya yang terasa sakit. Sesuatu mengalir di kedua pahanya..
"Ya Allah, apa aku akan melahirkan?" ucapnya panik, apa lagi tak ada orang di taman itu.
"Tolong...!" ia berteriak, duduk di pinggir jalan menyelonjorkan kedua kakinya berharap seseorang datang dan menolong dirinya.
"Ya Allah, tolong aku ... aakh, sakit. Mamah... " Wanita itu merintih sembari teriak dengan suara lemah.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti, dan seseorang di dalamnya turun lalu menghampiri dirinya.
" Mbak, kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan suara cemas.
"Tolong, tolong aku. Sepertinya aku mau melahirkan," ucapnya lirih dengan nada lemah.
"Ya Allah, ayo kita ke rumah sakit. Saya bantu ya Mbak."
Wanita itu menganggukkan, ia berjalan pelan saat di papah oleh seorang lelaki yang sedang menolongnya itu. Perlahan masuk kedalam mobil dan berusaha tenang di sana.
"Yang sabar ya Mbak, secepatnya saya akan membawa kamu ke rumah sakit." Lelaki itu langsung mengemudi cepat namun hati -hati. Sesekali ia melirik kearah wanita tersebut.
"Ugh, sakit..." keluh wanita itu.
"Tahan ya Mbak, sebentar lagi kita sampai." Tak tega melihat seorang wanita yang sedang kesakitan, lelaki itu mengelus lembut perut wanita itu perlahan sambil terus fokus mengemudi.
"Di mana suamimu, cepat hubungi dia," ucapnya pada wanita itu. Namun tak ada jawaban sehingga lelaki itu tak ingin lagi bertanya.
Sesampainya mereka di rumah sakit, perlahan lelaki itu membawa masuk ke dalam rumah sakit sambil berteriak memanggil dokter dan suster agar segera memberikan penanganan.
"Cepatlah, dia mau melahirkan sekarang," teriaknya cemas.
"Baik, bapak silahkan ikut kami masuk ke dalam ruangan," ujar salah satu suster tersebut.
"Saya, kenapa?" tanya nya kebingungan.
Suster menatapnya curiga dengan tatapan sini." Anda ini gimana sih? Istri mau melahirkan malah mau di telantarkan, suami macam apa kamu!" ucapnya dengan nada membentak hingga banyak pengunjung menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Apa! Tapi saya..."
"Dasar lelaki laknat, istri mau melahirkan malah gak mau temani di dalam, dasar suami durhaka, mau enaknya aja dia," cibir salah satu wanita paruh baya yang tak lain pengunjung rumah sakit menatap sinis pada lelaki itu.
"Iya betul, kalau itu suamiku sudah ku patahkan otongnya, mau enaknya aja giliran istri melahirkan malah gak mau menemani," jawab yang lainnya.
Lelaki itu menggaruk-garuk kepalanya tak gatal, semakin ia mengelak maka semakin pula lontaran pedas untuknya.
"Pak, apa Anda masih tidak mau masuk?" tanya sekali lagi suster itu galak.
"B-baiklah..." pada akhirnya mengalah, lebih baik menurut dari pada kena masalah oleh para emak -emak pengunjung rumah sakit tersebut.
Sementara wanita hamil itu sudah terbaring lemah di ranjang pasien, peluh bercucuran membasahi keningnya. Lelaki itu mendekati walaupun tak tau harus berbuat apa. Ia terjebak sekarang dan hanya mengikuti apa yang di perintah oleh suster tersebut.
Wanita itu membuka matanya terkejut melihat seorang lelaki di sampingnya, ingin bertanya namun tak ada tenaga lagi sehingga membiarkan saja apa yang di lakukan oleh lelaki tak di kenal tersebut.
"Apa yang harus saya lakukan?" lelaki itu bertanya kebingungan tak mengerti apa yang harus ia perbuatan, baru pertama kalinya melihat seseorang yang akan melahirkan.
"Kau suaminya, ya beri dukungan pada istrimu agar lebih semangat lagi saat melahirkan anakmu!" sahut suster itu galak.
"A-apa! Tapi saya bukan..."
Lelaki itu menghentikan ucapannya saat mendengar suara rintihan kesakitan dari wanita tersebut. Ia merasa iba, sesakit itulah melahirkan? Tangannya refleks menyentuh lembut pucuk kepalanya dan mengusap pelan.
"Terima kasih," jawabnya lirih berusaha tersenyum.
Setelah satu jam berjuang, sang bayi lahir dengan selamat. Ada rasa senang di hati lelaki itu melihat dengan mata kepalanya sendiri proses kelahiran seorang malaikat kecil yang baru lahir ke dunia. Matanya menatap binar dengan sosok bayi mungil di bawa oleh suster tersebut untuk di bersihkan dengan suara tangisan menggema.
"Kamu wanita yang hebat, selamat atas kelahiran putramu," ucapnya bangga pada wanita itu, dan hanya di balas dengan senyuman karena tak ada lagi tenaga sekarang hingga kesadaran mulai menghilang.
"D-dia kenapa?" panik lelaki itu bertanya pada dokter.
"Tidak apa-apa, istri anda sedang istirahat. Biarkan dia istirahat sebentar. Orang habis melahirkan butuh tenaga untuk pulih kembali," jawab doker tersebut, dan lelaki itu mengangguk mengerti.
"Pak, ini bayi anda. Silahkan di azan kan!" ucap suster menyerahkan bayi mungil berjenis kelamin lelaki tersebut padanya.
"A-apa! Kenapa harus aku lagi?" protes nya, dan lagi-lagi dapat tatapan sinis dari suster tersebut.
"Aduh, aku bukan suaminya, mana bisa aku mengazani bayi orang," gumamnya bingung, sesaat bayi mungil itu sudah ada di tangannya. Lalu pandangan nya menatap kearah bayi tersebut.
__ADS_1
"Tapi kamu ganteng banget. Ayah kamu kemana sih? Keluarga Ibu kamu juga kemana? Om gak bisa menghubungi meraka karena Ibu kamu gak ada handphone," ucapnya pada bayi mungil tersebut.
Lelaki itu tak bisa menghubungi salah satu keluarga wanita itu, saat bertemu dengan wanita itu tidak membawa handphone atau identitas diri.
"Ah apa boleh buat." Ia pun terpaksa memberi azan pada bayi laki-laki tersebut. Lalu mengecup lembut keningnya yang halus.
"Lucu banget sih, kalau aku udah menikah dan punya anak mungkin bahagia banget ya, sekarang aja aku merasa bahagia melihatnya." batin lelaki itu tersenyum lembut menatap bayi mungil tersebut.
________
Sementara itu di kota yang lain. Seorang wanita hamil sedang berada di luar rumah bersama seseorang wanita.
"Kamu yakin udah pamitan?" tanya sang sahabat menatap curiga.
"Udah kok beneran, nih kalau gak percaya."
"Kamu pamit setelah kita berada di sini, Sera." Nadira tak habis pikir pada sahabatnya, ia takut jika suami sahabatnya itu mengamuk nantinya.
"Hehehe tenang aja sih, Mas Angga udah jawab kok. Katanya boleh asal aku hati-hati," jawabnya sembari menyegir.
Sera keluar rumah bersama Nadira atas permintaannya, sudah pasti tanpa pamit saat pergi. Dan setelah sampai di tempat tujuan, barulah Sera mengirim pesan pada suaminya. Mau tak mau Angga tak dapat melarang istrinya itu karena sudah berada di luar rumah. Sera tau jika berpamitan secara langsung mana mungkin dapat izin, sedangkan diri sangat merasa bosan lagi -lagi terkurung dalam rumah.
"Kau makin gemuk kan ya, makan terus sih?" ucap Nadira terkekeh melihat perubahan badan Sera.
"Dasar oon, ya jelaslah 'kan aku lagi hamil. Kerjaan aku makan tidur doang tau gak!" jawab cemberut. Nadira pun semakin terkekeh.
"Eh ngomong-ngomong anak kamu cewek apa cowok?"
"Entahlah, belum di periksa. Rencana minggu depan sih. Tapi cowok maupun cewek aku dan Mas Angga tak masalah, yang penting dia sehat," jawab Sera, Nadira mengangguk.
"Eh, ngomong -ngomong gimana ya kabar Keyra? Apa kamu udah tau di mana dia sekarang?" tanya Nadira.
"Entahlah, mengingat kehamilan aku yang sudah 6 bulan seharusnya dia sudah lahiran. Ya semoga saja Keyra dan anaknya baik-baik saja. Aku berharap dia kembali ke sini sekarang, bagaimana pun juga dia tetep sahabat aku."
Nadira tersenyum sembari mengusap lengan Sera. Ia juga berharap semoga wanita itu baik-baik saja sekarang.
Saat kedua sahabat itu lagi asik makan siang bersama, tiba-tiba tiga orang gadis datang menghampiri mereka.
"Nadira, wanita mana lagi tuh lo deketin. Jangan bilang lo mau merusak rumah tangga orang lagi ya, seperti Leo dan istrinya. Ck dasar pelakor!" tuduh perempuan itu kepada Nadira yang tak lain teman satu kantor nya.
__ADS_1
Nama Nadira benar-benar jelek sekarang sejak perceraian Leo dan Keyra. Dan dirinya lah yang di tuduh sebagai perusak nya.
"Maksud kalian apa?" tanya Sera tak mengerti, apa lagi nama Leo dan Keyra di bawa-bawa.