Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Bab 11


__ADS_3

Kayla masuk ke dalam Villa, dia menghampiri putranya yang kini sedang duduk bersama yang lainnya di ruangan luas yang mana di sana terdapat TV besar.


Mereka bercengkrama sambil menikmati serial drama Korea. Semua wanita yang ada di sana merupakan pecinta drama Korea, sementara itu para suami hanya bisa mengikuti keinginan para istri.


"Raju, ikut mama sebentar," bisik Kayla di telinga putrinya.


Di villa itu belum ada tanda-tanda akad nikah akan dilangsungkan, sesuai dengan permintaan Raffa dan Kayla karena mereka ingin mengadakan pernikahan itu secara mendadak agar Raja tidak bisa menolak lagi pernikahan yang sudah mereka rencanakan.


Raju berdiri, dia melangkah mengikuti langkah mamanya yang kini mengarah keluar villa.


Kanaya memperhatikan gerak gerik Raju, dia terlihat sedih karena sang suami tidak berkata apa-apa sebelum pergi.


Ada rasa kecewa yang terbesit di hati Kanaya dengan perilaku Raju yang masih saja cuek terhadap dirinya.


Hingga saat ini Kanaya masih mengira bahwa Raju adalah pria yang disukainya.


"Raju! Di mana Raja?" tanya Raffa pada putranya.


Raju kaget mendapat pertanyaan dari papanya.


"A-aku tidak tahu, Pa." Raju bingung harus menjawab apa.


"Kamu jangan bohong, papa yakin kamu dan Raja merencanakan sesuatu, kan?" Raffa langsung menuduh Raju dan Raja bersekongkol untuk kabur.


Kayla memegang tangan Raffa, dia mengelus lembut lengan dan suami.


Seolah Kayla memberi isyarat pada suaminya untuk tetap bisa mengontrol emosi.


"Raju, coba kamu cari tahu keberadaan Raja saat ini," pinta Kayla pada putranya dengan nada lirih.


Raju sedikit kecewa mendengarkan ucapan papanya, dia tidak menyangka papanya berprasangka buruk terhadap dirinya.


"Baik, Ma," lirih Raju menunduk.


Tak berapa lama setelah itu terlihat Raja baru saja melangkah masuk ke dalam kawasan Villa.


Mereka memperhatikan sosok Raja yang terlihat kusut dan kacau.


Raju dapat merasakan apa yang kini tengah dirasakan oleh saudara kembarnya, karena itu Raju tidak bisa bersikap baik pada istrinya.


"Raja, kamu dari mana aja? sejak tadi apa hubungi ponselmu tidak aktif," ujar Raffa.


Raffa mulai tenang, seketika rasa panik yang tadi sempat menyelimuti pikirannya hilang begitu saja.


Dia pun kini merasa bersalah terhadap putranya karena sudah berprasangka buruk terhadap mereka.


"Maaf, Pa, tadi aku cari angin keliling pantai," jawab Raja jujur.

__ADS_1


"Ya sudah, Kalau begitu kamu bersiaplah sebentar lagi acara pernikahanmu akan dilangsungkan," ujar Raffa dengan tegas.


"A-apa?" Raja kaget mendengar ucapan dari papanya.


Dia tidak pernah berpikir bahwa kedatangan mereka ke Jogjakarta untuk melangsungkan pernikahan dirinya.


"Iya, hari ini kamu akan menikah dengan putri Om Reza dan Tante Lisa," jawab Raffa tegas.


Dalam rasa kecewa, Raja tidak bisa membantah apa yang sudah diputuskan oleh kedua orang tuanya.


"Baiklah, Pa. Aku akan bersiap," lirih Raja.


Raja melangkah masuk ke dalam kamarnya dia, tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Raju hendak mengikuti langkah Raja, tapi Kayla menahan lengannya.


"Sayang, Mama minta kamu tidak marah dengan apa yang dikatakan apa kamu tadi, mungkin papa hanya lagi panik. Mama harap kamu dapat memahami keadaan papamu," pinta Kayla pada putranya.


Kayla sadar saat ini putranya sedih mendengarkan kata-kata dari sang suami.


"Iya, Ma." Raju mengangguk.


Sebagai seorang kepala keluarga, Raffa hanya diam dan berharap putranya mau memaafkan dirinya yang sudah berprasangka buruk terhadap Raja dan Raju.


"Raju, temani istrimu," pinta Kayla pada putranya sebelum dia melepaskan lengan putranya.


"Sayang, lain kali jangan langsung main tuduh seperti itu. Tadi, kamu yang nyuruh aku tenang sekarang kamu malah menuduh Raja dan Raju akan melakukan hal yang aneh, padahal Raja sendiri tidak tahu bahwa dirinya akan dinikahkan," ujar Kayla menasehati suaminya.


Di saat suami khilaf, di saat itulah sosok seorang istri dibutuhkan untuk mengingatkan sang suami dalam kesalahan yang sudah dilakukannya.


Raffa menatap wanita yang umurnya tak lagi muda, hijab biru langit membuat wajah anggun istrinya itu tampak semakin cantik di matanya meskipun sudah tidak muda lagi.


"Iya, Sayang. Maafkan aku," lirih Raffa.


"Ya sudah, sebentar lagi pernikahan raja dan Kania akan dilangsungkan, aku akan mempersiapkan pakaian untuk Raja, sekaligus aku akan membawakan makanan untuknya dia pasti belum sarapan," ujar Kayla sebelum meninggalkan suaminya yang masih berdiri di depan teras Villa.


Kayla masuk ke dapur, dia mengambil makanan untuk putranya lalu membawa makanan tersebut ke dalam kamar yang ditempati oleh Raja.


Tok tok tok.


Raja yang baru saja masuk ke dalam kamar langsung membalikkan tubuhnya, dia dia kembali melangkah mendekati pintu dan membuka pintu tersebut.


"Sayang, kamu pasti belum makan, kamu makan dulu ya, Sayang," ujar Kayla mengulurkan nampan yang berisi makanan kepada putranya.


Raja hanya diam saja, dia menerima nampan yang diberikan oleh ibunya.


Raja meletakkan nampan itu di atas nakas yang ada di samping tempat tidur.

__ADS_1


Setelah itu raja duduk di atas tempat tidur diikuti oleh Kayla.


"Sayang, maafkan mama dan papa, ya," ucap Kayla.


Sebagai seorang ibu dia tahu saat ini apa yang dirasakan oleh putranya.


"Ini semua mama dan papa lakukan demi kebaikanmu. Mama dan Papa tidak ingin kalian terjerumus ke dalam perbuatan dosa," ujar Kayla lagi memberikan alasan dari keputusan yang telah mereka ambil.


"Tapi, Ma. kenapa semua ini dilakukan secara mendadak dan diam-diam?" tanya Raja meminta penjelasan.


"Mama dan papa sengaja melakukan hal ini agar kalian tidak bisa membantah atau menolak dengan keputusan yang sudah kami ambil, jadi saat ini kalian tinggal menjalani pernikahan yang sudah ada di hadapan kalian," nasehat Kayla pada Raja.


"Baiklah, Ma. Kami akan berusaha menjalani apa yang sudah kalian putuskan," lirih Raja.


Kali ini Raja tidak bisa membantah, Raja tidak ingin wanita yang paling berharga di dalam hidupnya itu kecewa karena sikapnya yang menolak atas keputusan yang sudah mereka ambil.


Luka yang paling dalam di hidupnya adalah melihat sang mama bersedih.


Mau tak mau Raja harus menuruti apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya.


"Mama dan Papa yakin kalian tidak akan kecewa dengan wanita yang sudah kami pilihkan karena Mama dan Papa sudah mengetahui bagaimana karakter wanita yang akan mendampingi kalian nantinya," ujar Kayla berharap Raja dapat memakluminya.


Raja mengangguk.


"Terima kasih, Ma. Kami tahu mama dan papa melakukan hal ini demi kebaikan kami," lirih Raja.


Kayla tersenyum.


Tak berapa lama Ranisa mengetuk pintu kamar Raja.


Kayla langsung berdiri dan melangkah menuju pintu, dia membuka pintu.


"Ma, ini pakaian Bang Raja yang Mama minta tadi," ujar Ranisa.


"Oh, iya, Sayang. Terima kasih, ya," ucap Kayla.


"Ayo, Rani, masuk." Kayla mengajak Ranisa masuk ke dalam kamar putranya.


Ranisa pun mengikuti langkah mamanya, dia masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Sayang, makanlah dulu, setelah itu bersiaplah ini pakaian yang harus kamu pakai nanti. Sebentar lagi penghulu akan datang," ujar Kayla.


Kayla menunggui Raja di sana, ada sedikit rasa waspada yang harus dilakukannya saat ini.


Tak banyak yang bisa dilakukan Raja, dia hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh mamanya.


"Ya Allah, siapa yang akan menjadi istriku nanti," gumam Raja di dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2