Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Episode 103


__ADS_3

Angga dan Sera sudah berada di rumah ibu Endang, setelah berkumpul Angga pun langsung menceritakan pertemuannya dengan Wisnu mengenai berada Keyra. Setelah mengatakan hal itu, sepasang suami istri itu menginap di rumah ibu Endang. Sesaat Sera ingin mengambil minum di dapur, ia bertemu dengan Leo yang sedang makan seorang diri duduk di meja makan.


"Le, kamu makan?" tanya Sera, jelas sudah melihat, tapi tetep saja masih bertanya.


"Iya, kamu sendiri?" tanya balik Leo.


Sera memperlihatkan teko kosong yang ia bawa, lalu berjalan menuju tempat air minum dan menuangkannya sampai benar-benar penuh.


"Apa aku boleh duduk?" tanya Sera, ada satu hal yang ingin ia bicarakan.


"Tidak ada tulisan di larang, bukan?" canda Leo, Sera pun terkekeh kecil lalu duduk di sampingnya.


"Apa ini baik? Aku takut nanti papah bakalan mengamuk karena cemburu, kau tau sendiri bagaimana posesifnya lelaki tua itu," lanjut Leo mengingatkan.


"Itulah papah mu, bahkan sama anak sendiri di cemburuin." Sera tersenyum mengingat sifat cemburu suaminya.


Leo diam, ia kembali memakan makanannya.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?" tanya Leo dapat menebak.


Sera mengangguk, lalu menatap Leo dengan tatapan sulit di artikan.

__ADS_1


"Apa kamu gak ada niat mau balik lagi sama Keyra, Le?"


Pertanyaan Sera membuat Leo menghentikan makannya, pertanyaan itu seolah terlarang baginya.


"Kenapa? Apa kamu memintaku untuk kembali padanya?" selidik Leo menatap Sera.


"Bukan begitu, hanya saja sekarang kan kalian sudah memiliki anak. Dan Keyra juga sudah menyadari kesalahannya, maksudku kenapa gak mau mencoba menerimanya kembali, dan melupakan masa lalu, dan membuka lembaran baru dengannya bersama anak kalian. Apa kamu tidak ingin mempertimbangkannya, demi masa depan anak kamu juga."


Sera berucap serius tanpa keraguan sama sekali. Leo tersenyum miris, ia sampai tak lagi memakan makanannya lalu menatap Sera dalam.


"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Leo, membuat Sera mengerutkan keningnya bingung.


"Maksudnya?"


"Bagaimana kalau aku meminta mu kembali padaku, melupakan papah dan kembali menerimaku dengan ikhlas, apa kau mau?" pertanyaan Leo membuat Sera terkejut.


"Tidak bisa, 'kan? Seandainya aku memperkosa mu lalu terpaksa kau menikah denganku, kau hamil anakku, dan aku bahagia. Lalu bagaimana denganmu? Apa kau bahagia? Tidak, kan. Aku meminta maaf dari kesalahanku dan kau sudah memaafkan, tapi apa kau akan tetep menerimaku dan cintai ku lagi?" tanya Leo, kemudian menghela nafasnya panjang melihat raut wajah Sera yang nampak terkejut.


"Kita menikah menjalankan rumah tangga layaknya pasangan bahagia bahkan ada anak di tengah-tengah kita. Lalu bagaimana dengan hatimu, apa kau bisa melupakan masa lalu dan ikhlas menerimaku dalam hidupmu?" Leo menatap manik Sera serius, ia kembali bertanya yang membuat Sera bungkam tak tau harus menjawab apa.


"Katakan Sera, apa kau ikhlas menerima cintaku kembali?" sentak Leo memaksa.

__ADS_1


Sera tersentak, ia tertunduk sekarang tak tau harus menjawab apa. Nyatanya cinta tidak bisa di paksa, menerima seseorang yang sudah menghancurkan masa depan tak semudah seperti apa yang diucapkan.


"Aku bukan malaikat, Sera. Mengikhlaskan cinta tidaklah selulit saat menerima cinta yang benar-benar tidak bisa di terima dalam hati. Sekeras apa mencoba tetep tidak bisa di paksa, walau dia sudah berubah, bahkan menjadi lebih baik dari apapun. Tetapi, menerima sesuatu yang tak di inginkan dalam kehidupan itu sangatlah menyakitkan, Sera. Apalagi hati bukan sebaik seperti hati malaikat yang mampu menerima semuanya dengan ikhlas." Leo mencurahkan isi hatinya. Dan Sera hanya diam dan menjadi pendengar yang baik.


"Orang -orang pasti berpikir kan, jika aku ini adalah lelaki kejam dan egois, mengabaikannya saat sendang hamil bahkan mencampakkan nya ketika masih dalam keadaan hamil. Tapi apa mereka mengerti perasaanku? Dari awal aku tidak menginginkannya, bahkan anak di dalam kandungannya. Apa aku egois? Mencoba melupakan masa lalu dengan cara memaafkannya, apa itu tidak cukup? Mencoba menembus kesalahan dengan bertanggung jawab membesarkan anak dan menafkahinya sampai dewasa tanpa harus kembali bersama dengan ibunya, apa itu tidak cukup?" Leo menghentikan ucapannya, memejamkan mata mencoba menahan air matanya yang hendak keluar dari kelopak.


"Apa aku salah ingin mencari kebahagiaanku sendiri, tanpa bayangan -bayangan dari masa lalu yang sangat menyakitkan? Bukan munafik, tapi kenangan buruk tidak akan pernah terlupakan seumur hidup, dan akan selalu membekas dalam hati walau sudah memaafkan. Hati orang berbeda-beda, dan aku bukan tipe yang mudah untuk melupakan, bahkan termasuk dirimu yang akan selalu aku ingat dalam hidupku. Walau sudah ikhlas, tetapi kenangan indah itu tak akan pernah terlupakan, begitu juga kenangan buruk. Mungkin satu dari 10 orang yang benar-benar bisa lupa akan masa lalu yang menyakitkan, tapi tidak denganku."


Leo bangkit dari duduknya, lalu beranjak meninggalkan Sera diam mematung seorang diri. Sera meneteskan air matanya, mendengar curahan hati Leo yang sebenarnya. Melupakan masa lalu memang tak semudah ucapan, nyatanya ia sendiri mengingat bagaimana kesuciannya direnggut oleh Angga, ia juga tidak bisa melupakan kejadian itu.


Sesaat Sera masih larut dalam lamunannya, tanpa sadar jika Angga sudah berdiri di belakang dan memeluknya.


"Mas..." Sera menghapus jejak air matanya, Angga tersenyum mengecup air mata yang masih tersisa itu.


Sera menatap heran, kenapa suaminya tidak bertanya dengan dirinya yang mengeluarkan air mata. Apa Angga mendengar semuanya, sebab itulah lelaki itu tak lagi bertanya, mengapa.


"Mas, tadi..."


"Kita ke kamar yuk, ini sudah larut malam tidak baik untuk kesehatan kamu dan bayi kita. Aku sudah tau semuanya, aku mendengar Leo bercerita tadi," potong Angga menjelaskan, Sera mengangguk lalu memeluk suaminya erat.


"Lalu bagaimana dengan Keyra? Aku kasihan sama dia, Mas. Aku tau bagaimana perasaannya saat suami tidak peduli, pada lagi dengan keadaan hamil. Dan bahkan setelah lahir, dia malah berjuang sendirian. Tapi aku juga tidak bisa menyalakan Leo, sejujurnya aku bangga sama dia karena sudah mau bertanggung jawab yang bukan dari kesalahannya, dan mau memaafkannya. Bahkan mau menerima anak yang tak ia inginkannya. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Mas?"

__ADS_1


Angga menghembuskan nafasnya, ia mengelus punggung Sera lembut." Jangan terlalu di pikirkan Sayang, mereka sudah sama-sama dewasa, aku yakin takdir kebahagiaan akan datang sendiri pada mereka. Kita hanya bisa mengawasi dan menasihati, tanpa ikut campur urusan mereka."


Sera mengangguk, sejujurnya ia berharap Leo dan Keyra kembali bersama. Namun, ia jga tidak ingin di antara salah satu dari mereka ada yang tersakiti. Ia berharap hanya kebahagiaan yang datang. Siapapun nanti, apapun takdir mereka kelak, ia hanya berharap satu, ya itu bahagia sama seperti yang ia rasakan sekarang, bahagia bersama suaminya...


__ADS_2