Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, akhir dari segalanya.


__ADS_3

"Gimana? Gimana hah, hah? Bagus kan, keren kan. Iya dong, ya iyalah. Gue gitu loh," ujar Angga menyombongkan diri.


"Nama itu terlalu bule Angga. Mula muka hawa begitu mana cocok sama nama bule. Yang lebih cocok nya itu adalah, Setyo Agung Suryo Saputro. Gimana? Bagus kan," ujar Bagas bangga.


"Terlalu masuk mas jawa Bang. Sekarang udah gak jaman nya pakek nama-nama jamet begitu," jawab Angga menolak keras.


"Tau nie, bagus dan juga nama pemberian dari gue dong. Bima Sakti Saputra Pratama Alexsa Anggara Bagas prayoga Bobby Aditama!" ucapnya.


"Gimana? Bagus kan nama-nama pemberian dari gue? Nama lo ada, lo juga ada, gue juga ada. Keren kan?" sambungnya sombong.


"Kepanjangan, Bobby! Astagfirullah." Heran Angga.


" Sekalian aja lo bikin rel kereta api. Lo pikir dengan nama panjang begitu bakalan mudah di ingat dan ketika di bikin akte dan di masukin ke kk. Pikir dong, astaga." Begitu juga dengan Bagas tak kalah herannya.


"Tapi tadi Angga juga panjang, gak masalah tuh." Bobby tak mau mengalah.


"Ya kan nama yang gue sebetutin cuma 5 doang, masih mending kan dari pada lo? Udah panjang seabat, jelek pula, gak nyambung malah," jawab Angga mengejek.


"Suka-suka doang, mau ape lo? Berantem hah? Sini, ayo tak ladeni." Bobby sudah pasang kuda-kuda.


"Ayo, lo pikir gue takut?" Angga tak mau kalah."Hiiiiiaaaaat!"


Ketiga para istri mereka geleng-geleng kepala mendengar nya. Sedangkan Leo hendak bangkit dari tempat duduknya ingin nimbrung. Tetapi di jaga ketat oleh Keyra yang sudah melotot dengan tangan yang sudah berkacak pinggang agar tidak malu-malu kan dirinya, sudah cukup trio wek-Wek itu saja yang bikin kepala pusing. Jangan tambah satu orang lagi, bisa roboh rumah sakit ini nantinya.


"Mau gabung pun tak boleh," gerutu Leo bergumam dengan bibir mengerucut.


"Kalian ini apa-apaan sih? Kami yang punya anak kenapa kalian yang heboh?" sinis Alex membuka suara. Nama anaknya di kasih aneh-aneh oleh para kakek-Kakek tua itu. Padahal sudah pasti dirinya dan Sherly sudah mempunyai nama untuk anak mereka sendiri.


"Makasih ya Omah, opah-olah dan olah buyut atas saran namanya. Tapi kami sudah menyiapkan nama sendiri kok untuk beby ganteng," ujar Sherly juga ikut membuka suara.


"Namanya siapa Ly?" tanya Keyra tak sabaran. Dan di angguki oleh semuanya


Sherly dan Alex saling pandang dan tersenyum." Namnya Muhamad Kendra Al-Fatih," ucap keduanya kompak.


Angga dan Bagas manggut-manggut setuju. Sedangkan Bobby berpikir keras.


"Oke, lumayanlah. Bisa di panggil Ken," ujar Bobby setuju.


Alex dan Sherly kembali tersenyum sambil memandang arah sang bayi yang masih tidur terlelap tanpa terganggu sama sekali dari kebisingan orang-orang di sekitar.


" Gantian dong, gue juga mau gendong nie," pinta Angga.


"Nanti aja deh Pah, Alex masih belum puas," tolak Alex.


"Nanti kan lo bisa gendong lagi. Gantian napa," paksa Angga.


"Kan Alex belum pernah gendong bayi seumur-umur. Kalau Papah kan udah. Besok-besok aja deh," tolak Alex lagi.


"Tapi kan itu cucu gue!" Kekehnya terus memaksa.


"Dan ini juga anaknya Alex. Alex yang menyentak nya, jadi Alex yang hak atasnya, paham!" Alex pun tak mau mengalah.


"Sssstttt, sudah jangan berantem di depan bayi. Nanti Ken nya bangun," tegur Dewi.


"Alex yang mulai," adu Angga seperti anak kecil.


"Dih, nyalahin orang. Dah sana jauh-jauh. Alex masih mau bersama anak dan istrinya Alex, weeek."


"Ih, kau ... dasar menantu kurang ajar. Durhaka, awas lo ntar," ujar Angga mengancam. Dan Alex acuh.


"Sudah-sudah, dah pada tua juga masih aja kayak bocah. Nanti kan bisa," bujuk Sera pada suaminya.


"Kan pengen gendong, kita bikin anak lagi aja yuk!" rengek nya meminta dengan manja.


"Mas ...." Sera pun mencubit perutnya dengan pelototan. Dan yang lainnya pun tertawa.


"Ck, dasar tua bangkotan. Gak sadar umur," ejek Bobby.


"Biarin, yang penting masih kuat. Bahkan 3 ronde, emangnya elu, paling juga 5 menit dah sakit pinggang," balas Angga.


Pintu di buka, semuanya pun menoleh bahkan termasuk 2 lelaki yang kumat lagi itu.


"Bapak, ibu. Mohon minta waktu privasinya, soalnya si dedek sudah waktunya meminum susu," ujar sang suster. Secara tidak langsung mengusir semuanya.Dan Alex senang akan hal itu.


"Kenapa harus pergi? Kan saya bapaknya!" jawab Angga.


"Betul, saya juga kakeknya!" sahut Bobby.


"Betul banget, saya juga mertu ...."


"Dah, jangan banyak omong. Ayo keluar." Para istri pun menyeret suaminya masing-masing keluar dari ruangan dan memberi waktu untuk keluarga kecil yang sedang berbahagia itu.


"Mari Mbak, saya bantu lagi," ucap suster mengambil bayi mungil itu dari tangan Alex dan menyerahkan pada Sherly lalu membantunya memberikan asi yang kesekian kalinya.


"Terima kasih Sus."


"Iya Mbak, sama-sama. Kalau saya tinggal Mbak sudah bisa sendiri?"


"Bisa kok Sus, lagian ada suami saya nanti dia yang bantu kalau saya kesulitan."


"Baiklah kalau begitu. Saya tinggal ya." Sebelum pergi suster itu memberi tahu pada Alex cara membantu Sherly untuk memberikan Asi pada sang bayi. Setelah mengerti sang suster pun berlalu meninggalkan ketinganya.


"Wew, sarang milik Papah sudah bukan milik Papah lagi ya," ucap Alex sambil memperhatikan anaknya yang sedang menyedot dengan lahap. Sherly hanya tersenyum.


"Hey, Boy. Jangan sampai rusak ya benda kesayangan Papah itu,kamu cuma memiliki nya hanya 2 tahun saja, selebihnya itu milik Papah lagi, paham kamu," lanjutnya sembari mengusap pelan pipi gembul sang anak.


"Ini milik aku ya, sejak kapan sudah menjadi hak milik kamu?" ledek Sherly.

__ADS_1


"Semua yang ada pada diri kamu itu adalah milik ku sayang, bahkan termasuk hati dan jiwamu. Jadi, jangan pernah coba-coba untuk memberikan pada orang lain."


Alex mengecup kening Sherly.


"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu, mencintai anak kita dan mencintai keluarga kecil kita."


*****


Waktu terus berlalu. Minggu ke minggu, bulan ke bulan. Dan tahun ke tahun berjalan sangat cepat. Hingga tanpa terasa sudah 5 tahun berlalu. Kebahagian tak pernah ada habisnya bagi keluarga mereka.


Di suatu pagi yang cerah.


"Kita mau ke rumah Eyang Pah." Tanya si gadis kecil yang imut-imut dengan ucapnya cadel nya yang bikin gemes itu.


"Nanti ya, kita sarapan dulu. Setelah itu baru kita pergi ke rumah eyang," ujar Alex sembari mengusap lembut kepala anaknya tersebut.


"Anak-anak, kalian mau makan apa sayang?" tanya Sherly berteriak dari arah dapur.


"Emmm, yang enak jawab keduanya."


Sherly dan Alex sudah memilik anak lagi ya itu Clara. Usianya bahkan sudah 3 tahun tak jauh beda dengan Ken yang kini sudah 5 tahun.


"Kalian tunggu sini ya." Alex bangkit, lalu menghampiri istrinya.


"Aju gak di tawarin, hem?" Alex datang dan langsung memeluk nya dari belakang.


"Gak perlu di tanya. Aku udah tau kok makanan kesukaan kamu," sahut Sherly.


"Emangnya tau makanan kesukaan aku apa?" Alex menggoda, ia bahkan mencium ceruk leher Sherly.


"Mas, aku lagi mau masak ini loh."


"Masak ya tinggal masak," jawab Alex gak peduli.


"Mas, katanya mau minta yang spesial?" Sherly berusaha membujuk supaya suaminya itu mau melepaskan dirinya.


"Aku mau yabg lebih Spesial lagi sayang. Ya itu sarapan pagi dengan bercinta." Jangan Alex sudah masuk ke mana-mana.


"Mas, nanti di liat sama anak-anak!" kaget Sherly karena Alex melakukan hal tak senonoh di dapur. Kalau dulu tak jadi masalah karena anak belum ada.


"Biarkan saja, mereka sudah besar sayang. Pasti mengerti," sahut Alex tak peduli.


"Mas, tapi mereka mau makan." Nafas Sherly sudah tak beraturan akibat ulah suaminya.


"Mereka tidak akan mati kelaparan sayang. Ayo kita bikin sarapan yang enak dulu di kamar." Alex pun menggendong istrinya.


"Mas!" teriak Sherly kaget apa lagi sang suami menggendong nya layaknya karung beras yang sedang di pukul.


"Mamah sama Papah mau kemana?" tanya Clara." Kok di gendong?"


"Main game aja, gak usah tanya dan lihat. Pura-pura aja gak denger," jawab Ken datar.


****


Setelah melewati pagi yang panjang. Kini keluarga kecil Alex sudah berada di depan rumah Bagas dan Ratna untuk berkunjung.


"Assalamualaikum, Eyang." Panggil Clara.


"Waalaikumsalam, eh cucu-cucu Eyang datang." Ratna pun langsung memeluk keduanya.


"Pah, Pah liat deh siapa yang datang," teriak Ratna memanggil suaminya.


"Siapa Mah yang minta pisang?" tanya Bagas seketika keluar dari kamar.


"Siapa yang minta pisang?" tanya ulang Ratna.


"Eh, ada cucu Eyang datang. Kok gak bilang sih kalau cucu kita datang," ujarnya.


"Kan tadi udah di teriakin," sahut Ratna berusaha sabar.


"Assalamualaikum Pah." Alex hendak mencium tangan Bagas.


"Dasar bocah tengil, datang-datang itu ngucap salam. Bukan malah minta ayam." omel bagas pada Alex.


"Assalamualaikum, Papah. Bukan minta ayam," teriak Alex.


"Jangan teriak-teriak. Gue gak budek!" omel nya lagi.


"Gak budek tapi gak denger, astagfirullah." Alex mengelus dadanya.


"Siapa yang lo bilang budek?" tanya Bagas sinis.


"Gak ada!" Kesel Alex." Udah makan belum?" tanyanya kembali.


"Dasar anak kurang ajar, masih sehat gini lo malah nyuruh gue gali makam. Lo mau nyumpahin gue mati hah?" Lagi-lagi Alex kena omel.


"Astagfirullah, siapa yang minta gali makam sih? Alex tanya udah makan apa belum? Ya Allah gusti."


"Dasar ya, punya anak benar-benar. Bukanya tanya orang tua udah makan apa belum. Malah di suruh gali makan. Dan sekrang malah suruh beli kain kafan. Emang anak kurang ajar, dah lah gue mau main sama cucu aja, males sama lo yang gak ada akhlaknya," ujar Bagas.


"Hahaha, Eyang lucu," ujar Clara seraya tertawa. Sedangkan Ken acuh dengan gamenya di hp.


"Ayo anak-anak. Kita main di taman belakang."


Bagas pergi mengajak kedua cucunya dan meninggalkan Alex yang mematung.


"Yang sabar ya Mas, sekarang tau sendiri malau pendengar papah kurang sehat," ucap Sherly menghibur suaminya.

__ADS_1


"Astagfirullah." Alex pun mengelus dadanya mencoba sabar, inilah mengapa dirinya sangat malas untuk berkunjung ke rumah orangtuanya. Bikin darah tinggi.


"Oh iya Mas, nanti aku tinggal ke rumah Yura ya. Kamu di sini aja dulu sama anak-anak," ucap Sherly.


"Mau ngapain ke sana?" tanya Alex.


Sherly memutar bola matanya menatap sang suami." Kan Yura da. Adam seminggu lagi mau nikah, gimana sih? Jangan bilang lupa! Aku ke sana mau bantu-bantu lah."


"Oh, oke lah kalau begitu," jawab Alex mengalah.


Sherly tersenyum. Ia pun memberikan kecupan di pipi suaminya.


"Sayang, jangan menggodaku," bisik Alex.


Sherly spontan mencubit perut suaminya itu." Jangan macem-macem ya, ini di rumah Mamah!"


"Kamu sendiri yang menyalakan api nya sayang," sahut Alex mengerucut.


"Udah deh, kan tadi pagi udah 2 ronde. Ya udah aku jalan dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, ya di tinggal pergi deh. Bete banget." Alex pun menyadarkan tubuhnya di shopa sambil main hp.


Sementara itu, Sherly sedang dalam perjalan menuju rumah Yura menaiki taxsi. Tiba-tiba hp nya berdering." Nomor tak di kenal?" batin Sherly.


"Halo!"


"Halo, hay Ly. Apa kabar?"


Sherly menutup mulut nya tak percaya. Seorang yang sangat ia rindu-rindukan akhiran menelpon dirinya.


"Dara!" ucapnya terbata.


"Iya, ini aku. Kita ketemuan yuk? Aku udah di Indo nie," ucapnya.


Dengan senang hati Sherly pun mengiyakan. Dan keduanya berjanjian untuk bertemu di cafe.


"Lo jahat banget tau gak! Sekalian aja gak usah pulang, nyebelin," omel Sherly sambil menangis seketika memeluk sahabat lamanya yang kini datang kembali.


"Maafkan aku. Sekarang gimana kabar kamu sama Om Alex? Baik-baik aja kan? Kalau Yura gimana?" tanya Dara.


"Sekarang baru tanya? Nyebelin banget sih." Sherly memukul lengan Dara masih kesal. Dan Dara pun terkekeh.


"Ya kan udah bilang maaf," ucapnya.


Sherly menghela nafasnya." Gue dan mas Alex baik, dan sekarang malah udah punya 2 anak," cerita Sherly.


"Bener kah? Wah kalau gitu selamat ya ..." Dara memeluk Sherly turut bahagia.


"Kalau Yura?" tanyanya lagi, karena hanya Sherly yang baru ia kasih kabar jika dirinya sudah kembali.


"Minggu depan Yura dan Adam ma menikah, pasti dia seneng banget kalau kamu datang," ucap Sherly.


"Alhamdulillah."


"Lo sendiri, udah nikah?" tanya Sherly. Dara tersenyum sambil mengeleng.


"Aku belum menikah, tapi sudah punya anak," jawabnya.


"Hah? Anak! Anaknya siapa?" Kaget Sherly.


Dan Dara hanya tersenyum saja.


*****


Acara pernikahan Yuda dan Adam telah terlaksana. Pesta pernikahan cukup meriah. Banyak tamu datang begitu juga dengan Alex dan Sherly yang turut bahagia. Apa lagi seketika melihat Yura yang nampak bahagia di hari pernikahannya, di tambah lagi dengan kejutan kedatangan sahabat. Semakin menambah kebagian bagi Yura.


Akan tetapi, Sherly masih sangat penasaran. Anak kecil bersama Dara itu sebenarnya anaknya siapa? Dara tidak mau bercerita, sudah pasti membuat Sherly sangat penasaran.


"Tapi kayak pernah liat mukanya, tapi di mana ya." gumam Sherly seketika memperhatikan anaknya Dara.


"Mom, Chiko mau ambil minum dulu ya," ucap anak kecil berusia kurang lebih 5 tahun itu pada Dara.


"Iya sayang, di meja sebelah sana ada minuman, Chiko hati-hati ya ambilnya," ucap Dara.


"Oke Mom." Dengan langkah kecil Chiko berlari menuju meja untuk mengambil air minuman.


"Uh, susah banget sih. Terlalu tinggi," ucap Chiko seketika tidak sampai saat hendak meraih segelas minuman tersebut.


"Hey adik kecil, mau ambil minuman ini?" ucap seseorang laki-laki berjongkok dan memberikan gelas berisi minuman tersebut pada Chiko.


"Terima kasih Om," ucap nya, dan itu membuat di lelaki itu gemes.


"Di mana kedua orang tua kamu? Aku anter nya," tawar lelaki itu yang beranggapan jika Chiko tersesat.


"Chiko hanya punya Mami," jawabnya singkat.


"Ups, sorry. Emangnya di mana Papi Chiko?" tanyanya.


"Kata Mami, Papi gak suka sama Mami. Jadi, untuk apa punya Papi," jawab anak kecil itu dan berhasil membuat si pria itu mengerutkan keningnya.


"Udah ya Om, nanti mami mencari Chiko. Dah ...." Chika berlari kecil menuju di mana Dara berada. Seketika lelaki itu ingin memandang nya sampai bertemu orangtuanya. Tetapi pandangan n ya teralih seketika seseorang memanggil namanya.


"Devan! Ayo."


"Ah, oke Mah." Lelaki itu adalah Devan, sesaat ia menoleh lagi arab Chiko. Tetapi anak kecil yang mengemas kan itu sudah hilang dari pandangannya.


"Kenapa perasaan ku tak karuan ya melihat anak kecil tadi," gumamnya sambil menyentuh dada.

__ADS_1


-Sekian-


***


__ADS_2