
Detik-detik pintu ruangan operasi di buka. Yang sedang menunggu deg-degan menanti kabar baik dari dokter. Sesaat pintunya di buka lebar dan keluar lah seorang laki-laki berpakaian ala operasi dan masker masih menempel di wajah serta kelapa yang masih tertutup. Dokter itu keluar lalu menutup pintunya kembali dan membuka maskernya.
Dengan langkah cepat Yuda dan Andin menghampiri. Begitu juga dengan Adam dan Sherly di belakang mereka dengan tak sabaran.
"Dok bagiamana dengan keadaan anak saya?" tanya Yuda dengan tak sabaran. Dan di angguki oleh Andin.
Dokter menghela nafasnya, lalu tersenyum.
"Alhamdulillah, Operasi nya berjalan lancar. Sekarang anak Bapak dan Ibu masih belum sadarkan diri akibat terkena obat bius. Setelah siuman tahap pengobat lainnya akan di lakukan setelah keadaannya sudah membaik," jelas sang Dokter.
Lemas, ingin pingsan rasanya sangking leganya mendengar kabar baik ini. Hati lega pikiran pun menjadi tenang. Sungguh keajaiban sang maha kuasa tak ada duanya di dunia. Bahkan Andin sampai menangis sangking bahagianya.
"Syukurlah, syukurlah ya Allah." Andin terisak di dalam pelukan Yuda.
"Terima kasih banyak Dok," ucap Yuda.
"Kami hanya melakukan yang terbaik Pak, semuanya atas izin dari Allah," jawab dokter Faisal.
__ADS_1
Yuda mengangguk sembari mengusap lengan istrinya. Dalam hati mengucapkan terima kasih pada Allah.
Begitu juga dengan Sherly dan Adam. Keduanya saling pandang dengan wajah senang. Wajah Sherly sudah di banjiri oleh air mata, ia juga merasakan hal yang sama seperti Andin. Bahagia atas kelancaran operasi Yura, sahabatnya.
"Alhamdulillah," ucap Adam pelan. Berusaha untuk tidak meneteskan air mata bahagianya. Malu dong, walau perasaan hati senang, tetep laki-laki harus tahan supaya tidak di anggap cengeng.
*****
Beberapa hari kemudian. Yura sudah sadarkan diri. Tetapi ia masih terbaring lemah di brankar pasien dengan kepala yang di perban.
Adam terkekeh, ia kembali memandangi tunangan lebih lekat lagi.
"Berhentilah, Adam," ucap Yura kembali, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan Marasa malu.
"Kenapa? Kamu cantik kok. Kalau di tutupi seperti ini gimana aku bisa melihat wajah tunangan aku," goda Adam sembari melepaskan tangan Yura dari wajahnya.
"Cantik dari mana, dari Hongkong? Jelek begini di bilang cantik, udah pucat, gak ada rambutnya pula," ucap Yura dengan mengerucutkan bibirnya Karena tau jika Adam berbohong.
__ADS_1
Lagi-lagi Adam terkekeh lalu mengelus pipi Yura dengan lembut.
"Kamu tetep cantik di mata aku walau wajah kamu sangat pucat. Kamu masih terlihat cantik dalam hati aku Walau tak ada rambut sehelai pun. Jadi jangan pernah merasa tidak percaya diri," ucap Adam tulus.
Mata Yura berkaca-kaca. Ia sangat terharu dengan ucapan Adam. Ia dapat melihat ketulusan di sana dari pancaran matanya, Yura benar-benar sangat semangat ingin sembuh supaya bisa bersama lelaki yang begitu mencintainya dirinya ini.
"Terima kasih, kamu begitu baik Adam. Seharusnya kamu mencari wanita lain yang jauh lebih sempurna, dan lebih sehat di bandingkan aku yang sakit-sakitan seperti ini," lirih Yura.
Adam menggeleng cepat." Hanya kamu wanita yang aku inginkan. Sebab dari itu berjuang lah untuk sembuh supaya selamanya kita terus bersama. Kamu mau kan hidup bersama dengan ku sampai akhir hayat?"
Yura menetes air matanya lalu mengangguk senang.
"Terima kasih sayang. Setelah kamu sembuh total, dan aku juga sudah mendapatkan pekerjaan tetap di rumah sakit ini. Aku berjanji akan secepatnya melamar kamu," ucapnya bersungguh-sungguh.
Adam sebenarnya ingin saat ini juga membawa Yura ke KUA jika tak mengingatkan pekerjaan yang masih menjadi dokter magang. Ia juga ingat jika Yura harus fokus pada kesembuhannya. Jadi ia harus bersabar sampai waktunya tiba.
Adam mengecup lembut kening Yura. Yura hanya tersenyum senang sembari memejamkan kedua matanya merasakan kehangatan bibir lembut itu menempel di keningnya.
__ADS_1