Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, orang yang sama, tapi beda.


__ADS_3

"Kamu masih ingat aku? Aku Adam yang tempo hari yang sudah menyelamatkan kamu," ucap Adam.


"Kesempatan, itu artinya mereka belum pacaran. Akan ku buat dia menyukaiku daripada Yura," batin Yuri sembari menyeringai.


"Ah, tentu saja. Dan sekarang aku senang bertemu dengan mu lagi." Yuri langsung tersenyum senang dan spontan langsung merangkul lengan Adam seperti sudah sangat akrab.


Adam heran, ia merasakan perubahan Yura. Sangat berbeda seperti yang ia temui waktu itu. Pendiam tapi auranya sangat menawan.


"Kamu mau beli apa? Aku bantuin ya, lagian punya aku udah selesai," ucap Yuri menawarkan diri.


Adam hanya diam saja. Ia berjalan menuju sayuran yang di suruh beli oleh Keyra.


"Kamu mau beli sayuran?" tanya Yuri.


"Bisa tolong lepas? Gak baik seperti ini, kita tidak memiliki hubungan apa-apa," ucap Adam berusaha melepaskan tangan Yura. Ia merasa risih di buatnya.


"Ups, sorry." Yuri segera melepaskan tangannya dengan berat hati sambil mengerucutkan bibir.


Adam hanya diam saja sambil memilih sayuran dengan sangat telaten. Yuri sangat kagum. Tidak hanya tampan, dan juga sangat penurut.


"Aju menginginkan laki-laki ini._ batinnya tersenyum licik.


"Oh iya Adam. Bagiamana kalau kita keluar malam ini? Makan malam bersama," tawar Yuri berharap dengan mata binar.


"Maaf, tapi aku gak bisa. Keluarga aku mau pada datang ke rumah jadi gak mungkin aku keluar sedangkan mereka ingin makan malam bersama di rumah," jawab Adam bohong.


Entah mengapa ia menjadi tidak suka dengan Yura yang sekarang. Risih dan sangat tidak nyaman. Apa yang salah. Wajah sama tubuh sama, tapi sifat yang berbeda. Apa mungkin ia salah menilai waktu itu? Atau Yura memiliki kepribadian ganda?


"Yura, kamu sebenarnya orangnya yang seperti apa?" batin Adam. Padahal sangat senang bisa bertemu lagi dengan Yura. Tapi sikap agresif dan manjanya membuat dirinya merasa tidak nyaman.


"Aku duluan," pamit Adam setelah membayar belanjaannya.


Yuri mengejar dan rela meletakan kerajaan belanjaannya begitu saja yang belum di bayar. Tanpa malu di lihat orang-orang.


"Adam Tunggu!" teriak Yuri.


Adam menghentikan langkahnya, lalu berbalik.


"Ada apa?" tanya Adam datar.


"Hem ... anu. Apa boleh aku minta nomor kamu?" ucap Yuri malu-malu.


"Maaf, aku gak bawa hp. Dan aku lupa nomor telpon ku berapa. Maaf ya aku harus pulang karena sudah di tungguin," ucap Adam. Lagi-lagi ia berbohong.


Lidahnya seolah tidak ingin jujur pada gadis yang ingin ia kenal itu. Hatinya pun sama. Sebenarnya ada masalah apa? Adam terus memikirkan itu di sepanjang jalan.

__ADS_1


"Eh, bukanya itu Yura?" Adam melihat seorang gadis yang baru saja masuk ke taksi online di depan kompleks. Ia yakin itu Yura. Tapi kenapa bajunya berbeda, dan kenapa juga bisa secepat itu berada di sana. Adam semakin penasaran, ia pun segera mengikuti mobil tersebut.


"Aku yakin itu adalah Yura. Dan di supermarket tadi adalah Yura. Bagaimana bisa orang secepat itu berpindah tempat, dan berganti baju dengan singkat. Kecuali jika ada dua orang yang sama!"


Adam terus memikirkan akan hal ini. Ia semakin penasaran di buatnya.


"Yura!" panggil Adam dan buru-buru keluar dari mobilnya menghampiri Yura.


Yura menatap Adam sambil mengingat.


"Kamu Adam kan? Yang waktu itu menyelamatkan aku dari motor?" tanya Yura.


"Dia bertanya soal waktu itu, bukan yang tadi! Apa mereka benaran orang yang beda?" tanya Adam dalam hatinya benar-benar membuatnya bingung.


"Hey." Yura melambaikan tangan menyadarkan lamunan Adam.


"Ah, sorry. Iya aku yang waktu itu." Adam pun menjadi salah tingkah, ia bahkan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Yura tertawa kecil. Adam terkesima melihatnya. Tawa yang begitu hangat, perasaan yang sangat nyaman bahkan tak ingin berpisah secapanya. Berbeda sekali dengan Yura yang ia temui tadi.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Yura.


"Oh, aku hanya kebetulan lewat. Kamu sendiri mau ngapain? Dan mau kemana?" tanya Adam balik.


"Aku mau ketemuan sama teman aku," jawab Yura.


Yura menyipitkan matanya menatap Adam.


"Eh, em. Lupakan saja," imbuh Adam baru menyadari jika ia bersikap seolah seperti pacarannya saja.


Yura tersenyum." Aku ketemuan sama kedua sahabatku, dua-duanya perempuan," ucap Yura.


Adam pun menghela lega, ia tersenyum malu sambil garuk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


"Kamu mau ikut gabung?" tawar Yura. Tentu saja membuat Adam sangat senang.


"Boleh," jawabannya cepat.


"Ya udah kita tunggu di dalam yuk. Mereka kayaknya belum datang!" ajak Yura. Adam mengangguk lalu mereka beriringan berjalan memasuki cafe tersebut.


"Oh iya Yur. Boleh aku bertanya?" tanya Adam. Ia ingin menanyakan apakah Yura memiliki saudara kembar.


"Hem, tanya apa?" tanya Yura balik.


"Apa kamu punya ...." Belum sempat melanjutkan ucapan. Hp Adam berdering.

__ADS_1


"Ho kamu bunyi, angkat aja siapa tau penting," ujar Yura. Adam berdecak lalu merogoh kantongnya dan mengambil hp.


"Halo Mah. Ada apa?" Dengan entengnya Adam bertanya.


"Kamu ini sebenarnya beli sayur sawi di mana sih? Gak mungkin di Hongkong kan?" Suara yang begitu nyaring itu sampai membuat Adam harus menjauhkan hp dari kupingnya.


"Nyasar Mah," jawab Adam santai.


Yura pun terkekeh kecil. Dan suaranya terdengar oleh Keyra.


"Dasar anak gak ada akhlak. Rang nungguin sayuran dari tadi, tali kamu malah enak-enakan pergi pacarannya ya. Pulang sekarang," terik Keyra. Dan lagi-lagi Adam harus menjauhkan hp nya.


"Nanti aja deh, gimana kalau satu jam lagi," tawar Adam.


"Oh, satu jam lagi ya. Baiklah, tapi malam ini gak ada makan buat kamu, gak ada duit, gak ada hp. Semuanya Mamah sita!" ucap Keyra.


"Ya-ya jangan dong. Mana bisa Adam hidup tanpa hp," kata Adam sambil melirik Yura yang terus terkekeh merasa lucu antara ibu dan anak itu.


"Mau pulang gak?" Keyra memberi pilihan. Ah Mamah, kau sungguh tidak memiliki perasaan. Gak tau apa anaknya sedang berjuang, huuuh.


"Iya-iya Adam pulang," ucap Adam sebel sambil melirik Yura lagi. Ia pun langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Oh jadi kamu habis beli sayuran?" ledek Yura sembari menahan senyumnya. Jarang-jarang ada cowok yang mau membeli sesuatu yang sangat memalukan bagi kaum Adam.


"Hehehe, iya." Wajah merah karena malu, ini semua gara-gara mamah.


"Maaf ya kayaknya aku gak bisa gabung. Padahal mau banget," sesal Adam.


"gak apa-apa, kan masih bisa lain kali."


Adam langsung senang, ia mengubah ekspresi nya sama seperti hewan yang paling imut sehingga Yura ingin sekali mengusap kepalanya karena gemes.


" Em, boleh minta nomor telepon?" ucap Adam malu-malu kucing. Yura tersenyum. Ia pun memberikan nomor teleponnya.


"Terima kasih."


Yura mengangguk. Adam berpamitan lalu masuk ke mobil. Sebelum menjalankan mobilnya, lelaki itu terus memandang arah Yura yang sudah masuk ke cafe.


Sebuah mobil berhenti di depan cafe. Dan turunlah seorang gadis. Adam sepertinya pernah melihat gadis itu, tapi di mana? Ia pun mengingat-ingat.


"Ah benar, dia gadis yang tahu tentang sapu tangan itu."


Kening Adam mengerut seketika gadis itu keluar bersama Yura.


"Mereka saling kenal? Apa itu salah satu sahabat yang di bicarakan Yura tadi? Jika benar, berarti sapu tangan ini milik salah satu dari mereka. Entah itu Yura, atau temannya yang satu lagi?"

__ADS_1


Adam harus segera mengetahui ini. Karena ini sangat penting dalam hidupnya. Ia semakin penasaran dengan Yura, belum mengetahui orang yang memiliki wajah sama sepertinya. Dan kini ia juga mengetahui fakta jika pemilik sapu tangan itu hampir mendekati. Adam sangat berharap itu adalah milik Yura.


__ADS_2