
Pagi hari datang menyapa. Sherly yang sudah siap dengan seragam sekolahnya menatap heran pada sang mamah. Ada apa dengannya? Wajah lelah, latih, lesu. Nampak seperti kurang tidur terlihat kantong hitam di bawah kelopak. Kusuk pula.
"Mamah kenapa? Kurang tidur?" tanya Sherly saat Sera sedang menyiapkan sarapan pagi.
"Hem, ini semua gara-gara papah kamu," jawab Sera geram.
"Papah, kenapa nama Papah di bawa-bawa?" Angga yang baru turun daru tangga menyahuti mendengar namanya di sebut-sebut.
"Iyalah, gara-gara kamu aku gak tidur semalam. Dasar menyebalkan," rajuk Sera menatap sinis suaminya.
"Hehehehe, salah sendiri kenapa kamu begitu menggemaskan. Gundul mana tahan melihatnya saja," jawab Angga santai.
"Memangnya Mamah sama Papah abis ngapain?Kok sampai gak tidur," tanya Sherly menyela. Sera yang di tanya lebih memilih kabur ke dapur karena tak mungkin menjawab pertanyaan anaknya itu.
"Bikin adek buat Lily lah, ngapain lagi?" jawab Angga santai.
" Bikin adek kok gak ngajak-ngajak? Kan Lily mau ikutan gimana sih? Kalian jahat." Sherly cemberut, ia memanyunkan bibirnya dengan tangan terlipat di dada memalingkan wajah karena malas menatap Angga.
"Kalau kamu itukan ya bikin adeknya gak gak bakalan jadi dong. Katanya mau punya adik. Sebab dari itu biarin Papah dan si gundul yang berusaha, jadi kamu gak usah ikutan nanti tinggal tunggu aja hasilnya," jawab Angga asal ceplas-ceplos tidak tahu jika Sherlly yang kebingungan.
"Gundul, gundul itu siapa? Kenapa dia boleh ikut sedangkan Lily nggak?"
Angga tersadar, ia melotkan matanya menatap Sherly.
"Em, anu ... ah sudahlah, kamu gak akan mengerti. Karena yang punya si gundul itu hanya laki-laki saja, jadi kamu gak perlu tau. Dan jika tidak ada si gundul, proses pembuatan anak tidak akan jadi, paham."
Sherly semakin cemberut, sampai-sampau sarapan pun tetep cemberut. Sera yang melihat hanya diam saja, jika ia bertanya pasti bakalan di tanya balik oleh anaknya sehingga dirinya membatu tak dapat menjawab.
******
Sampai di sekolahan TK. Sherly mencari teman laki-laki nya, ia melihat Nando sedang duduk santai seorang diri. Sherly pun menghampiri.
"Nando, aku mau tanya dong," ucap Sherly duduk di sebelah Nando.
"Tanya apa?" tanya Nando.
"Kamu punya si gundul?" tanya Sherly membuat Nando bingung.
"Gundul itu apa? Kepala botak maksudnya?" tanya Nando tak mengerti.
"Is kamu ini, masa gak tau. Kata Papah aku gundul itu hanya di miliki laki-laki saja, kamu laki-laki kan? Sebab itulah aku bertanya, malah tanya balik," komentar Sherly sebel karena tak dapat jawaban.
__ADS_1
"Tapi aku beneran gak tau gundul itu apa?"
"Ah sudahlah, kamu memang gak pernah tau apa-apa. Hanya tau makan saja, ck."
"Hey, kau yang bertanya kenapa pula kau yang marah." teriak Nando yang sudah di tinggal oleh Sherly.
" Menang perempuan aneh, pantas saja Papi slalu bilang, perempuan itu selalu benar."
******
Malam harinya, Sherly masih merajuk pada Angga. Jika lelaki tua itu bertanya ia malas menjawab dan memalingkan mukanya yang sedang manyun.
"Hey anaknya Papah yang cantik sejagat raya, kenapa masih merajuk aja nie?" rayu Angga.
"Papah pembohong, kata Papah setiap laki-laki pasti punya si gundul, tapi kenapa saat Lily tanya teman laki-laki Lily dia gak tau tuh."
Angga menggaruk alisnya, sepertinya ia sudah salah bicara. Kenapa anaknya itu selalu ingin tahu, apalagi masalah seperti ini bagaimana cara menjelaskan nya. Angga jadi bingung sendiri.
Keluarga Leo datang, Angga terselamatkan dari pertanyaan anaknya itu.
"Hey adik Abang yang cantik, kenapa wajahnya masam aja, merajuk?" tanya Leo yang baru datang melihat wajah masam adiknya.
"Oh gara-gara papah, ah itu mah sudah biasa. Bukan hanya kamu aja Abang juga kadang kesel sama pak tua itu," ucap Leo duduk di samping Sherly.
"Memang nya Lily kesel kenapa sama pak tua itu?" lanjut Leo bertanya.
"Huf, Lily sebel. Masa papah gak ajak Lily saat membuat adik, kan Lily juga mau ikutan. Terus papah jawab hanya papah dan si gundul yang bisa membuat adiknya. Sebel kan, terus saat Lily tanya gundul itu siapa papah cuma jawab, hanya laki-laki yang punya, jadi perempuan gak boleh tau. Sebel deh," cerita Sherly dengan wajah serius dengan nada sewotnya.
Leo yang mendengarkan pun menggaruk-garuk kepalanya. Patut saja papahnya tidak menjawab, bahkan ia sendiri juga tidak akan menjawab.
"Abang punya si gundul juga?" sambung Sherly bertanya.
"Punya, tapi namanya bukan gundul melainkan botak."
"Oh, kayak upin, ipin aja gundul dan botak. Kalau Adam apa?" tanya Sherly lagi menunjuk Adam. Lelaki kecil itu acuh.
"Kalau Adam mah anak burung pipit," jawab Leo.
"Loh kok beda? Kenapa?" heran Sherly.
"Karena punya Adam masih kecil, bulu-bulu nya aja belum punya," jawab Leo terkekeh.
__ADS_1
Sherly tidak mengerti hanya garuk-garuk kepala bingung.
"Kenapa perempuan gak punya?" tanya Sherly kembali.
"Karena perempuan memilik sangkarnya."
"Oh ya, dimana nya. Kok Lily gak tau?"
"Ah nanti saja kamu tau kalau udah besar, jangan pikirkan itu lagi, belajar aja sana."
"Is Abang nie, menyebalkan. Semua laki-laki sama saja," celetuk Sherly sewot lalu beranjak, lebih baik berkumpul pada geng perempuan dari pada geng nya laki-laki yang menyebalkan menurutnya.
Leo menganga dengan ucapan adiknya.
"Dia kenapa bisa berkata begitu?" tanya Leo pada Angga.
"Tauk, kebanyakan nonton drama bareng mamahnya kali," jawab Angga.
"Tapi heran deh, kenapa Lily kepo banget dengan ritual orang d dewasa? Untung Adam gak kayak gitu, selamat dari pertanyaan maut anak kecil," ucap Leo memandang Sherly yang duduk bersama istri serta mamahnya.
"Adam mungkin kayak mamahnya, Lah Lily sama kayak kamu dulu. Menyebalkan, setiap hari bertanya soal anak kenapa bisa masuk dalam perut, mana mamah kamu suruh Papah yang ngejawab pula," ketus Angga menjawab dan mendapatkan tawa dari Leo.
"Jadi orang tua itu gak mudah ya Pah, harus berhati-hati banget saat bicara. Beda sama Leo dan Papah kalau udah gede, asal ceplas -ceplos gak masalah."
"Iya, sangking gak masalah jadi kurang ajar," ejek Angga.
"Kan Papah yang ngajarin,' jawab Leo santai, Angga pun langsung menoyor kepala anaknya.
"Kalau mereka bertemu selalu begitu, wajar saja Lily dan Adam ikutan." Sera geleng-geleng melihat tingkah anak dan ayah itu yang sedang main smackdown-smackdownan.
"Apalagi kalau ada opah Bobby, udah heboh satu kampung. Cocok banget dah mereka kalau lagi kumpul, tapi seru ngeliatnya kayak anak kecil yang lagi kurang bahagia," ucap Keyra mengingat juka Bobby juga hadir di tengah-tengah Angga dan Leo. Pasti lebih heboh lagi.
" Mereka makin tua bukanya makin insyaf, tapi malah makin menjadi, manja iya, mesum iya. Heran dah padahal dah pada bangkotan tua, umur saja sudah 50 lebih. Kalau Leo masih maklum baru 30. Lah Angga dan Papah?" Sera geleng-geleng, di usia suami dan papahnya bukan lagi muda, namun tingkah keduanya masih kekanak-kanakan. Sedangkan dirinya dan Keyra masih berusia 25 tahun.
Keyra tertawa, Sera geleng-geleng. Sedang Sherly diam tak mengerti. Sementara Leo dan Angga masih main smackdown-smackdownan dengan adu mulut tak tinggal diam.
15 tahun kemudian ....
*****
Next up selanjutnya season ke 2 cerita Lily remaja ya. Bukan lagi kisah tentang Serangga atau LeKeyra mungkin sesekali mereka masih ikut dalam peran. Kisah season kedua ini masih di judul yang sama. Ya itu PENGANTIN YANG TERUKAR 2 . Hanya saja perannya yang berganti dan alur yang berbeda.
__ADS_1